Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 11 : PERPUSTAKAAN


__ADS_3

Gedoran pintu membuat Nita kelabakan dan cepat menutup semua dokumen itu. Dia meletakkan di sudut paling dalam dengan ditutupi buku lain. Jantungnya berdebar saat membuka kunci dan pintu terbuka. Tampaklah Rama ....


"Ibu Tiri, apa yang kamu lakukan di sini, malam-malam bawa selimut? Apa papah memgusirmu?" Rama melongok ke dalam, ke kanan dan kiri. "Lalu Anda mencoba tidur di sini?" Rama kembali menatap Nita yang tampak gugup, yang mana pandangan matanya tak fokus.


Nita tertawa ringan. "Tidur di sini yang benar saja? Papahmu tidur lelap kok, hanya saja ... aku sedang ingin mencari suasana baru-" Nita menggigit bibir bawah karena Rama melewatinya dan masuk ke dalam melihat setiap lorong perpustakaan, sampai pria itu berjalan ke arah selimut yang teronggok.


"Mencari suasana baru seperti apa? Terlihat mengasikkan, ya?" Rama membungkuk dan akan meraih selimut, tetapi selimut itu diraih duluan oleh Nita. Wanita itu langsung duduk bersandar pada lemari perpustakaan sambil menyelimuti sampai batas leher. "Seperti itu?"


Nita mengangguk dengan cepat, di belakang pinggang Nita adalah dokumen yang ditutupi buku perpustakaan, yang pasti sedikit tidak rapih.Takut Rama jadi mencurigainya. "Ini sangat nyaman."


"Jadi, buku apa yang Anda baca?" Rama ikut bersandar pada lemari perpustakaan. "Sepertinya kamu berusaha menghindari cctv, maka dari itu Anda di sini." Rama tertawa geli.


"Anu .... " Nita tergagap karena tatapan Rama begitu tajam padanya. Jemarinya langsung meraih satu buku dari rak, di antara mereka.


"Sebenarnya, aku baru duduk, lalu terpejam karena lampu yang tidak terlalu terang, terasa nyaman. Jadi, belum sampai sempat aku membaca buku." Nita melihat dengan seksama sampul buku di tangannya yang berjudul Sangkuriang.

__ADS_1


Kenapa musti ikutan duduk di sini si ? (Nita)


"Sebentar." Rama menghadap Nita yang gugup, dia membungkuk ke arah Nita, jemarinya menyusuri buku satu persatu hingga ke samping pinggang Nita. Dia mengerutkan kening dan menatap Nita yang wajahnya memucat.


"Ibu Tiri, apa anda sakit?" Rama memegangi kening Nita.


"Saya tidak apa-apa!" Nita langsung menghempaskan tangan Rama dari keningnya. Dia terus menahan napas karena Rama terlalu dekat. Kamu harusnya menjaga jarak !


"Tapi wajahmu pucat. Beneran ... tidak apa-apa?" Rama duduk kembali dengan menghadap Nita yang menggelengkan kepala. Bau strawberry pada tubuh Nita memanjakan hidungnya. Dia mengamati Nita yang kini menunduk dan membuka buku Sangkuriang dengan jemari lentik dan terus membuka lembar demi lembar dengan cepat. "Saya yakin Anda tak membacanya-"


"Ini adalah tempat favorit aku, Ibu Tiri. Saat kecil aku kabur dari amarah papa atau mama. Aku menyembunyikan diri di sini. Sampai ... suatu hari ada gadis kecil memasuki tempat ini dan membawa buku kesukaanku." Rama tertawa. "Sebenernya itu hari dimana aku mulai bisa membaca."


"Kamu sedang bernostalgia?" Nita menoleh ke kanan ke wajah Rama memerah dan tersenyum sangat manis. Putra Sergey itu tertawa dengan sangat renyah dan memancarkan aura ketampanannya.


"Sebenarnya, aku ingin sekali mendapatkan buku itu lagi. Buku IPA, aku tak tahu judulnya. Tapi, sebetulnya itu buku yang kuambil di meja guru dan belum aku sempat mengembalikann."

__ADS_1


"Itu seperti mencuri?" Nita mengernyitkan kening.


"Awalnya aku hanya meminjamnya. Aku penasaran dengan buku milik ibu guru .... Ternyata, buku itu hilang, sebelum aku lancar membacanya. Apa itu masih dikatakan- pencurian?"


"Kau mengambilnya tak bilang-bilang, itu namanya mencuri." Nita lalu terdiam dan menatap kosong pada halaman 11. Dia merasakan Rama tengah memandanginya membuat sekujur tubuh jadi merinding walau tertutupi selimut.


"Rama" Nita menahan nafas. Dia merasakan gelombang dingin di sekujur tubuhnya begitu Rama menyandarkan kepala di bahu kanannya. Kepala Rama terasa dari dan berbau aroma mint. Apakah ini masih wajar?


"Bacakan aku halaman 11, Ibu tiri." Rama tanpa terasa terus menghirup udara sekitar dengan aroma strawberry.


"Tapi- kamu duduk dulu." Nita kembali ke halaman 11, setelah dia baru membalik ke halaman 12.


"Aku sudah duduk, apa aku terlihat tidur?" Rama mencoba terpejam karena ini sangat nyaman baginya.


"Nyonya .... " Patrick yang baru melangkah dengan senyap lalu mematung. Tampak Rama langsung duduk tegak dan Nita langsung berdiri sambil meraih selimut.

__ADS_1


__ADS_2