
Suara berderit dari pintu kamar terbuka membuat Nita yang mengeluarkan celana panjang milik Rama dari dalam lemari lantas menoleh ke arah pintu. Diletakkan celana panjang itu di atas tempat tidur. “Assalamualaikum, Mas Rama?”
“Walaikumsalam, Dik.” Rama mendekati sang istri lalu dipandangi mata emas jernih dan meneduhkan. Dia tersenyum gemas ditengah tubuhnya yang lemas.
“Mas, badannya panas sekali!” Katanya, seusai mencium punggung tangan Rama yang begitu menyengat kening. Hanya berdiri di dekat Rama dia bisa merasakan suhu panas dari badan Rama
“Iya kok jadi meriang, ya. Jadi, kuminta tolong pegawai nutup esto sendirian, habis Mas nggak kuat.” Rama menarik pinggang mungil hingga pinggul mereka saling menempel dan Nita memeluknya sebentar. “Kamu mau balurin minyak kayu putih ke punggung Mas?”
Nita mengangguk sambil memperhatikan wajah Rama yang pucat. Dia mundur selangkah , tangannya menaikkan kaos hitam Rama. “Apa badan Mas mau diseka air hangat dulu?”
“Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kamu buruan buatkan jahe madu dulu dan Mas mau cuci muka. Nanti pijatin Mas, ya?” Rama melepas kancing celana jeans deep blue.
“Iya, Mas.“ Nita berjongkok dan memelorotkan celana jeans lalu menaruh celana itu di bahu sendiri. “Enggak makan dulu?”
“Nggaklah, tadi sudah makan di resto.”
Rama menunggu Nita keluar kamar,kemudian kakinya melangkah ke kamar mandi. Perlahan Rama membasuh muka dan poni di westafel, kepalanya pun diguyur air hangat. Mendongak, Rama meneliti wajah pada pantulan cermin. Hidung mancung, kening lebar yang semua mirip Sergey.
Rama jadi termenung kenapa pikiran jahatnya selalu menghakimi diri sendiri setiap waktu, memang apa salahnya pada papah. Hatinya menjadi rentan, mungkin karena impian dari kecil untuk membahagiakan papah justru terealisasikan dengan sebaliknya, yaitu menyakiti papah.
Maafkan Rama, Pah. Maaf! Belum sempat Rama berbakti kepada papah. Belum sempat Rama meneruskan usaha Papa di NASA, seperti keinginan Papa dulu, tetapi NASA dan Starlight justru sudah berpindah tangan dengan atas nama Jefri.
Jika Papa bilang kebahagiaan adalah ketika semua keluarga berkumpul. Sekarang? Dia sebagai kepala keluarga, sebagai suami dan juga anak berbakti, dia harus kuat di luar. Jangan sampai Musa melihatnya dalam keadaan lemah. Jangan sampai Nita, Mama dan adik perempuannya kehilangan kebahagiaan karena terlalu memikirkannya. Dia harus menjadi penyemangat untuk mereka.
Tangan berotot mencengkeram pinggiran westafel hingga buku-buku jari memutih. “Mengapa takdir harus memisahkan kita dengan cara seperti ini, Pah? Papah mencintai Nita dan berusaha melindungi Nita. Apakah aku bisa mencintai Nita seperti Papa mencintainya?”
Rama menarik napas dalam-dalam dan kelopak mata terpejam dengan getir. Embun bening yang hangat jatuhmelewati pipi. Dia ingat setiap malam masih menunggu dan berharap mendiang papa datang untuk menemani Rama menonton film horor, yang sebenarnya papah tidak suka genre itu. Seperti orang bodoh, Rama terus menunggu mendiang papa sampai larut malam, karena dia pikir papanya selalu pulang jam 2 pagi, seperti dulu. Akan tetapi sampai pagi papa memang tidak kembali, papa tidak menelpon atau benar memang … tidak akan kembali lagi. YA BENAR. Pemakaman itu benar. Kematian papa itu benar. Dia menjadi anak yatim itu benar. Dia menjadi penyebab kematian ayahnya itu benar.
“TAPI MENGAPA HARUS DENGAN SEPERTI ITU, PAH! KALAULAH PAPAH YANG ADALAH TELADAN RAMA SAJA PAPAH TIDAKLAH KUAT, LALU BAGAIMANA RAMA?
Papah bisakan memilih menjauhkan Nita dari Rama, memisahkan kami! Rama kecewa pada Papa! Papa pengecut! Papa yang pengecut bukan Rama!”
Rama meraih apa saja dan menghancukan cermin hingga cermin itu retak. Dia memukul lagi cermin yang masih menampilkan potongan wajahnya, dia jengah melihat wajahnya sendiri yang mirip papah. Tatakan sabun dari keramik itu pecah dan berhasil membuat sebagian cermin itu jatuh berceceran. Nafas Rama tersengal dan jatungnyab berdetak lebih kencang.
Rama terjatuh dengan tak berdaya, untuk duduk saja tak memiliki kekuatan. Punggungnya meluruh dan jatuh terlentang di lantai yang dingin dan basah. Tak peduli bila pecahan kaca mengganjal punggung dan kaki yang tanpa terlapisi kain. Langit-langit kamar mandi terasa beputar karena pusing, dan kabur oleh embun bening yang mengggenang di matanya. Suara kran air masih menyala dan terdengar mulai memenuhi bak westafel.
⚓
Nita mengambil panci dan diisi air sampai sepertiga bagian, lalu ditempatkan di atas kompor listrik. Dia menusuk jahe lalu dibakar sampai bau wangi pedas. Kulit jahe yang menghitam lalu dibersihkan, digeprek dan dicemplungkan ke dalam air mendidih.
Kayu manis, kapulaga, cengkeh juga ditambakan ke rebusan jahe. Semoga dengan ini, suaminya mendingan. Melihat Rama sedih saja, Nita kebingungan, apalagi bila Rama sakit seperti ini
“Sedang bikin apa kamu, Tha?” suara Mama Intan mengalihkan perhatian Nita. “Rama nggak ikut makan?”
“Mas Rama nggak enak badan, Mah. Wajahnya pucat. Nita sudah tawarin makan tapi nggak mau.” Nita dengan suara penuh kekhawatiran.
“Ya sudah, Mama coba lihat.” Wajah Intania berubah panik, lantas naik ke lantai tiga melalui lift.
Diketuk pintu kamar tiga kali, tetapi tak ada jawaban dari dalam. “Rama, ini Mamah, Nak. Mamah masuk, ya?” Intania membuka pintu perlahan, lalu melongok dan tidak mendapati Rama di tempat tidur. Dia mendengar suara kran air menyala, jadi dia masuk, tetapi pintu kamar mandi terbuka.
Mata Intan melotot begitu mendapati Rama hanya memakai celana inti sedang meingkuk dengan punggung sedikit berdarah. Retakan kaca di sekitar tubuh Rama dan air yang berasal dari westafel meluber kemana-mana. Intan beteriak dan melompat untuk mematikan kran air, lubang westafel telah tersumbat pecahan kaca, hingga menandon air.
“Apa yang kau lakukan dengan ini, kenapa tidak kau ceitakan masalahmu pada Mamah?” tangis Intania. Tangannya menyingkirkan pecahan kaca ke samping, lalu berjongkok dan mengusap rambut Rama yang basah kuyup. Mata putranya yang tadi tepejam lalu tebuka sedikit, dan Rama langsung menjatuhkan wajah ke dada Intan dengan sesenggukan dimana Intan memeluk kepala putranya di pangkuan, alhasil pakaian Intan ikut basah karena lantai kamar mandi banjir air.
“Papah, Mah? Tidakkah Papah memikirkan perasaan Rama?”suara Rama tecekik dalam tangisan.
Dada Intania begetar. “Keluarga kita telah hancur, jadi kita harus keluar dari kehancuran itu," katanya lembut. "Papah pasti menyayangi Rama. Jelas bukan? Lalu kita bisa apa lagi sekarang? Menyalahkan keadaan akan membuat kita semakin lelah dan tepuruk.”
Intania bernapas cepat dengan lelehan air mata yang jatuh di kening Rama. Dia terpejam saat kedua tangan Rama semakin memeluknya dengan gemetar. “Saba, Rama. Kita bisa melanjutkan cita-cita papah untuk merasakan kehadirannya. Mama yakin Papa selalu menemani kita dimana dan kapanpun kita berada.”
“Rama lelah, Mah,” isak Rama dan mencoba menatap wajah sang mamah yang sayu di atasnya.
“Mamah tahu, Sayang. Tapi kita bisa memilih melakukan pebuatan positif daripada merusak dan menyakiti. Mamah akan menemanimu, kau tidak sendirian. Ada Mamah, Nita, Dhita, Kakek Axel, Musa ….Kami akan ada untuk kamu-” Intan mengernyitkan kening saat Rama berusaha duduk lalu sang putra mencium kedua kakinya.
Hati Intan bergetar, dia menggelengkan kepala dan menarik bahu Rama agar menjauh dari kakinya. Dia merasakan tetesan air mata hangat di kakinya dan kecupan yang terasa panas di telapak kakinya. “Kemari, Nak ….”
“Tolong Maafkan Rama, Mah. Selama ini Rama selalu bersikap kekanak-kanakan dan tak pernah peduli pada perasaan orang lain. Rama sangat egois dan nakal.” Rama merengek dengan kesal.
Intania menarik ingus yang meleleh, dia sedikit menekuk lutut dan mengelus kepala Rama. “Semua itu proses, Nak. Papajh, Mamah juga pernah seperti kamu saat muda, tak mau tahu perasaan orang lain. Semua orang akan ada masanya untuk memahami itu semua. Kemari, Nak.”
__ADS_1
“Maafin Rama, Mah.” Rama mencium punggu kaki Mamah dan mengintip wajah Mamah yang justru terlihat lebih sedih. Dia mendekat saat mama mengulurkan kedua tangan dan memeluk mama erat-erat.
“Mamah telah memaafkanmu. Papah juga pasti memaafkanmu,loh. Kami selalu berharap untuk kamu bisa hidup bahagia dan melakukan apapun yang kamu mau. Syukur-syukur kalau kamu bisa menolong orang sekitar yang membutuhkan pertolongan. Mamah dan Papah selalu bangga memilikimu, kamu putra kami paling hebat."
“Terimakasih, Mah. Rama tidak tahu lagi bila tidak ada Mamah.” Rama terpejam kuat saat Mamah memegangi kedua pipinya lalu menciumi pipi dan keningnya.
“Ayo, bangun. Nanti adik dan istrimu melihatmu seperti ini, lalu mereka sedih.” Intan memapah Rama duduk di pinggiran bathtube dan mengguyur Rama dengan air Shower lalu menyabuni punggung Rama yang kena lantai kamar mandi dengan berusaha menahan air matanya. Dia membilas Rama dengan air shower hingga bersih dari busa-busa sabun, lalu memberikan sang putra handuk. “Mama panggilkan bibi untuk bersihkan pecahan kaca, kamu pakai baju sebelum istrimu datang.”
“Baik, Mah. Maafin Rama.” Rama bediri dengan rasa bersalah saat Mamahnya keluar dan menutup pintu.
Tubuhnya dikeringkan menggunakan handuk, lalu dia melangkah ke walking in closet. Setelah mengenakan baju, Rama membaringkan diri dan terpejam. Tak berselang lama, dia merasakan kecupan sang mamah saat pelayan laki-laki terdengar masuk kamar dan mulai membersihkan kamar mandi. Mungkin terlalu lelah, Rama terbuai oleh kasih sayang tangan Mamah yang memijat kepalanya hingga dia begitu mengantuk.
⚓
Rama terjaga karena mendengar suara orang asing dan mendapati seorang pria tengah menekan sebuah stetoskop di dadanya. Dia melihat ke samping ada Mama dan Nita tampak begitu panik. Dokter itu menanyakan gejalan apa yang dirasakan pada tubuhnya.
“Bagaimana dengan keadaan putra saya, Dok?” tanya Intania ketika sudah di luar kamar, dan terus mengikuti setiap langkah sang dokter.
“Putra ibu hanya kelelahan. Kurangi aktifitas berat dan kurangi stress. Asupan cairannya tolong terus dijaga. Saya akan meresepkan beberapa vitamin untuk Rama.” Dokter duduk di sofa yang terletak di samping kamar Rama lalu menulis resep. “Sebaiknya, Rama menemui seorang psikiater. Lebih cepat, lebih baik.”
Intania mengangguk patuh. Dia tak menyangka Rama yang biasanya terlihat baik-baik saja justru ini paling terpukul dengan kepergian Sergey.
Di dalam kamar, Nita memegangi cangkir dan menyuapi minuman jahe ke mulut Rama. Dia menatap lekat-lekat wajah Rama teringat akan semua yang diceritakan mama mertuanya akan Rama yang memecahkan cermin kamar mandi karena amarah yang terpendam. “Mas, besok restonya libur saja atau panggil koki cadangan.”
“Istirahat sebentar juga sembuh,” suara Rama parau. Dia tersenyum pada sang istri yang terlihat lebih canggung dan penuh kekhawatiran.
“Tapi, Mas demam, loh! Istirahatlah dulu saja.” Nita mengembus napas kesal karena Rama meremehkan sakit yang diderita.
“Iya, Sayang. Nanti Mas juga sembuh kok, kamu jangan khawatir, ya.” Rama menyentuh dagu Nita yang lancip dan kulit bening itu memerah karena cemberut. “Di mana Musa?”
“Musa lagi main sama Aunty.” Nita melepas tangan Rama dan menunggu Rama menghabiskan secangkir jahe. Suaminya masih saja berusaha tersenyum padanya membuat Nita jadi merasa bersalah karena sempat membentak Rama.
Apalagi Rama semakin hari semakin kurus dan kelihatan lebih tua dari usia seharusnya. Nita juga tak mengerti kenapa Rama menolak bantuan dari Kakek Axel untuk menambah pegawai. Padahal setiap jam 3 pagi Rama sudah datang di resto menyiapkan semua bahan masakan sendiri. Satu pegawai untuk kasir, satu pramusaji yang merangkap jadi tukang bersih meja. Sementara tukang cuci berasal dari pekerja lepas.
Apalagi setiap hari Rama pulang jam 9 malam dan tak bisa tidur sebelum jam satu. Suaminya itu kesulitan tidur walau badan itu sudah terlihat lelah. Rama justru terus merokok dan melamun di ruang kerja. Tidak ada sosok Rama yang energik seperti dulu seolah jiwa itu terbelenggu sesuatu. Nita jadi berpikir ini semua karenanya. “Mas, Nita ikutan bantu Mas di resto ya, please?”
“Jangan, Dik. Mas bisa sendiri. Lagi pula kamu mengurusi galeri senimu?”
“Janganlah, Dik. Nurut sama Mas. Kasihan Musa kalau kamu ikutan sibuk. Main saja boleh. Ke dapu nggak boleh.” Rama menyeuput wedang jahe sampai habis, lalu memberikan cangkir kosong ke Nita.
“Tapi, Mas. Mas harus pikiin tawaran Kakek Axel. Kalau Mas terlalu sibuk, Mas mengorbankan masa kecil Musa yang hanya sebentar.”
“Yaudah, nanti Mas pikirin lagi.”
“Jangan lama-lama, ich! Tidak ada salahnya Mas mempekerjakan chef, atau tenaga tambahan minimal dualah.”
Rama menangguk pasrah, dia kembali berbaring. “Mas tidur dulu, ya. Kepalanya sakit.”
“Iya, Nita juga mau tanya obat dulu.” Nita mengecup kening, lalu bibir Rama yang terasa panas.
Dengan perasaan bingung, Nita keluar dari kamar dan membiarkan Rama memejamkan mata. Dia membawa ponsel ke luar kamar sambil menelpon sang ayah. Lalu duduk di sofa samping kamar dan bertanya pada sang ayah cara menghibur seorang lelaki. Nita jujur pada papahnya soal sikap Rama yang berubah.
Suara letusan menggema diikuti teriakan Intania dan Dhita dari lantai bawah. Nita berlari dan mengintip ke bawah dari pagar lantai tiga, tetapi tidak terlihat apa-apa. Dia memasang telinga saat terdengar samar suara tangisan Musa yang langsung membuat Nita berlari menuju lift.
Pintu lift terbuka, mata Nita melotot ke arah Jefri dan ponsel yang masih terhubung dengan papah terjatuh dari tangannya. Bagaimana bisa Jefri masuk ke rumah, padahal ada dua keamanan dari perusahaan terkenal yang dibekali senjata api. Kakinya mundur terseret manakala dua orang lelaki yang mungkin anak buah Jefri, keluar dari lift dan langsung mencekal lengannya.
“Aaaaahhhhhhhh! Tolong lepas jangan sakiti kami!” Nita berteriak dengan penuh amarah. Dia memelototi Jefri yang bermantel dan bersarung tangan hitam saat tangan mungilnya sudah diborgol lengkungan besi dingin di belakang.
“Atha, Atha. Kamu terlalu banyak berulah!” Jefri menarik kasar lengan Nita ke arah lift, lalu mengayunkan kepala agar anak buahnya memeriksa semua ruangan. “Lihat usaha kaburmu yang membuat Sergey bunuh diri!”
“Ta-tapi aku tak tak bermaksud seperti itu. Untuk apa anda kemari. Kita sudah tidak ada urusan. Bukankah NASA sudah anda ambil alih, apa masih kurang?”
Jefri tertawa dengan cara seram. “Tak ada urusan katamu? Coba pikirkan! Aku banyak memberi modal Sergey dengan catatan dia terus bekerjasama denganku. Namun, gara-gara kamu, semua menjadi berantakan. Apa kamu berkompeten untuk menggantikan posisi Sergey? Jauh! Kamu bukan apa-apa! Kau menghilangkan mesin uangku!"
“Aku tidak mau! Aku tidak mau menjual obat-obatan terlarang!”
“Obat-obatan terlarang?” Jefri mengernyitkan kening lalu tertawa terbahak-bahak. “Jadi, kau berpikir bahwa Sergey selama ini seperti itu, jadi kau menolaknya? Bodoh!”
Jefri menekan huruf L pada tombol lift. Dia berdiri menghadap Nita dengan satu tangan masuk celana, memegangi senjata api tetap di saku. Dia berbicara dengan penuh penekanan dan gemas. “Kamu belum mengenal Sergey, tetapi kau anak bau ingusan sudah mengeklaim dia buruk?” Jefri menarik napas dalam-dalam.
__ADS_1
“Kau tidak tahu bila selama ini Sergey mendanai empat rumah sakit penyakit kanker? Kau tahu dia mengumpulkan sumbangan donasi dari rekan-rekan tanpa sepengetahuan publik dan keluarganya? Dari mana kau bisa menyimpulkan dia menjual narkoba?” Jefri mencengkeram senjata di tangannya dan tersenyum jahat. “Kau salah menilai Sergey. Jadi, bagus juga dia mati, lebih baik mati daripada hidup dengan orang bodoh sepertimu.”
Nita berkedip pelan dan hatinya tertampar saat tahu Sergey bukanlah melakukan tindakan ilegal. Tiba-tiba rasa bersalah menyelimuti hatinya lagi. “Lalu apa tujuan Anda kemari?”
“Devano Wijaya. ” Jefri mengamati wajah ayu Nita dengan seringai licik. Bagaimana bisa Sergey termakan kecantikan dari luar seperti ini.
“Papah?”
“Devan sudah menghabiskan kesabaranku. Seharusnya aku sudah memiliki keluarga selama bertahun-tahun.” Jefri memelankan suara.
“Keluarga?” Nita melirik pintu lift yang terbuka, tetapi Jefri terlihat tak segera beranjak keluar.
“Kau tahu Nathan? Dia putraku dan Devan begitu lancang. Tak hanya merahasiakan Nathan yang adalah putraku. Devan juga menyembunyikan Stef selama bertahun-tahun lamanya. Stefanie Ailiy, ibunya Nathan.”
“Papah menyembunyikan Nathan dari anda untuk apa? Jika anda tahu seperti itu kenapa tidak dari dulu Anda menanyakan baik-baik pada Papah?”
Jefri tertawa geram dan begitu sakit hati. Ingin menangis dengan pilu tetapi ditahannya. “Aku sudah dari dulu bertanya kepada Devan! Tetapi mulut Papahmu selalu tertutup rapat! Jika Sergey tak memberitahu soal surat adopsi Nathan, kupikir selamanya aku takkan pernah tahu bawah aku memiliki seorang anak laki-laki yang sudah besar. Shiit!"
Nita melihat wajah keriput Jefri yangmana terdapat bekas luka sayatan dan pipi itu kini telah merah padam. Mata Jefri itu menyeramkan dan tak ada cahaya dari sana. Dia tak mengerti kenapa papahnya merahasiakan keberadaan seorang anak dari bapaknya. Apa papahnya begitu tega melakukan itu?
“Kak Nathan? Aku tidak tahu dimana dia sekarang.” Nita berbohong dan menatap takut pada Jefri “Aku tidak tahu keberadaan Kak Nathan.”
“Pembohong!” Jefri tersenyum miring dengan hati panas. “Aku takkan mendengarkan celotehanmu lagi. Gara-gara kau .... Sergey jadi …. “
Jefri membuang napas kasar, tak sanggup meneruskan kata-katanya. Dengan tatapan seperti iblis, Jefri mencapit dagu Nita dengan tangan kanannya. “Seluruh keluargamu harus menyusulnya!”
“Kenapa kau berencana me llakukan itu pada keluargaku? apa anda iblis!” Nita merasakan lututnya gemetaran.
“Bawa aku pada ayahmu! Katakan dimana Nathan!” bentak Jefri sambil menyeret lengan Nita keluar dari lift lantai satu.
“Musa …. “ Nita meringis ketika Musa menangis dalam gendongan seorang pria kekar, sementara Mama Intan dan Dhita duduk berlutut dengan tangan terikat.
Matanya berkedut saat melihat dokter tadi telah terkapar dengan bersimbah darah di belakang Mamah Nita.
“Mama …. Dhita.” Nita menghela napas kasar dan akan mendekat ke Musa, tetapi lengannya ditarik Jefri hingga Nita hilang keseimbangan dan terjengkang. Nita duduk dan mendadak merasakan besi dingin di kepala bagian belakang, perlahan besi itu merambat turun ke leher.
“Bergeser sedikit saja, kalian takkan bisa melihat hari esok.” Jefri mengancam semua orang.
“Tuan Jefri, jangan seperti ini. Bukankah Sergey teman terdekat anda? Dia pasti akan sedih melihat Anda seperti ini.” Intania dengan suara dan badan gemetar. Dia menatap Nita yang sudah pucat pasi dan masih terpejam karena tekanan pistol.
"Teman?"Jefri tertawa geli, dia menelenyor kepala Nita dengan ujung senjata. “Ya dia temanku. Nyawa temanku. Kalian semua bahkan tak sebanding dengan nyawa Sergey. Kalian harus membayar!"
“Berhenti!” Rama menggerakkan tangannya yang dicengkeram dua orang kekar. Dia keluar dari lift dan menatap tajam Jefri. Matanya berkedut ke arah senjata yang diarahkan ke Nita, seketika nyali Rama menciut. “Apa yang Anda inginkan sampai jauh-jauh menyusul kemari?”
“Dimana Devan?” Jefri menembakkan senjata ke arah Rama dan tubuh Rama tersentak, berikut Intan, Dita dan Nita yang memekik sambil melihat ke seluruh tubuh Rama. Musa makin histeris seakan menyadari sesuatu.
“Aku tidak apa-apa.” Rama dengan jantung berdebar meraba dada dan wajah saat lututnya gemetar. Seluruh tubuhnya utuh dan tidak ada darah. Rama dapat merasakan kedua tangan anak buah Jefri yang juga gemetar sama sepertinya. "Jangan lukai kami.Aku akan menuruti semua maumu .... "
“Katakan saja dimana Devan, Nak!” tangis Intania dengan putus asa.
“Jangan, Mas!” Nita menggelengkan kepala dengan cepat.
“Kau mau membunuh kita semua, Nit!” Intania mengerutkan kening dan melototi Nita yang mulai beruraian air mata.
“Aku akan beritahu dimana Papa Devan.” Rama dengan tenggorokan tercekat dan Jefri menyeringai.
“Mas, dia akan melukai Papah!” Nita l dengan wajah merah padam. Tak percaya Rama akan melakukan itu padanya.
“Cerdas!” Jefri menyeringai dan menarik kasar lengan Nita hingga Nita terbangun dan melangkah dengan terseret. “Bawa mereka semua!”
“Biarkan Musa bersama saya.” Rama menatap Jefri dengan tatapan nanar saat semua adik dan mama ditarik pria pria tinggi besar. Dia memikirkan jalan paling aman untuk saat ini. Rama menggendong Musa setelah Jefri memberi ijin. Sang putra dikecupinya. Rama memeluk Musa di dalam mobil dan berusaha menenangkan tangisan sang putra.
Kalung W3BE yang telah ditanam chip itu terdapat tombol darurat. Tadi sewaktu di kamar dan mendengar teriakan Nita, dia langsung menekan tombolnya. Kakek Axel yang memodifikasi kalung belum lama ini, karena curiga pada gelagat Jefri saat kematian Sergey. Pasti sekarang kakek akan menangkap sinyal darurat ini.
⚓
“Kamu … siapkan kata-kata terakhirmu, karena aku akan membuatmu melihat mereka mati satu-persatu. Itu ditanganmu sendiri.” Jefri tertawa terbahak-bahak seperti orang gila saat di dalam perjalanan. Nita duduk di sampingnya dan supir di depan mengemudi dengan kencang mengikuti mobil di depan yang terdapat Rama.
“Tolong, kita bisa bicara baik-baik, kan?” Nita bergidik, bibirnya terasa keluh dan jantungnya berdebar kencang hingga dia merasa sesak.
__ADS_1
“Kau pikir aku Sergey? Tidak ada tawar-menawar dalam kamusku.” Jefri melirik samping dengan aura psikopat.
Dia sudah sangat jengah membiarkan Devan dan keluarganya hidup selama bertahun-tahun di atas penderitaan dan rasa kesepiannya karena Stefanie.