Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
KECEMBURUAN SERGEY


__ADS_3

Rama Bingung bukan kepalang Kenapa lehernya disentuh-sentuh, apa Nita sedang mulai menggodanya. dia reflek semakin membungkuk. "Nita, aku ... "


Nita menyipitkan mata, dia menahan dada bidang Rama, deguban jantung Rama begitu terasa di telapak tangannya. Nita seolah-olah di bawah hipnotis mata biru. Dia terjebak oleh harum bau tubuh Rama, dan justru makin menyalakan api amarah di dalam dadanya. Dia terus menjerit dalam pikiran sambil menahan nafas.


Rama merasakan cengkraman Nita pada dadanya, Rama sendiri meletakkan tangan kekar di belakang pinggang Nita yang ramping dengan penuh kehati-hatian. Dia memimpin di sepanjang punggung Nita membawa wanita itu lebih dekat ke arahnya. Wanita itu menutup kelopak mata, dan berusaha menjauh ke samping. Rama bergerak tajam, dan sekarang dia hanya berjarak beberapa senti dari bibir mungil yang semerah kelopak mawar.


‘Nita, Apa yang kamu lakukan? Berlari!’ pikiran waras Nita meneriaki dirinya sendiri. “Berhenti, Ram!” Sambil menahan nafas, tiba-tiba Nita berdiri. Dia bergegas menuju pintu dengan tergesa-gesa. Sebuah telapak tangan hangat menahan perutnya lalu perlahan menariknya hingga punggungnya menyentuh dada kokoh yang hangat. Mata hazel melebar saat merasakan dua tangan kekar itu perlahan melingkari pinggangnya.


“Rama, singkirkan tanganmu! Bocah nakal, aku ini ibu tirimu!”


“Ibu tiri? Kamu yakin?” Rama menyindir Nita


Otak Nita mati, Bahkan dia tak pernah melakukan ini dengan Sergey. Pria itu dengan tangannya, semakin erat menandakan lidah ke dada yang kini terasa mulai panas rasa pendahuluan dari sesuatu yang sangat ganas yang membuat isi perut Nita menyusut, lalu mulai mual.


“Bukankah, anda sedang ingin dicium?” Rama dengan percaya diri dan penuh seringai licik. Mendadak potongan kecil-potongan kecil muncul dalam gambaran di pikirannya. Dia makin mengusap perut Nita dan saat itu muncul wanita cupu dalam pikirannya dan tidak diketahui dengan jelas secara keseluruhan fitur wajah cupu. Padahal, dia ingin tahu wajah mungil itu yang tampak buram dan terselimuti kabut gelap, tetapi semakin dia berusaha mengingatnya, maka dia akan kesulitan mengingat gambaran wajah si cupu.


Pikiran Nita berantakan dengan kata-kata kotor dari Rama. Dia merasa pria itu serius dengan kata-katanya. Begitulah penampilan Rama yang selalu misterius dan pemuda itu seperti hewan buas yang lapar dan tak terkendali. Namun, pemuda itu ceria, penuh antusiasme, memiliki aura casanova tertentu. Mengapa semua omong kosong ini ada di kepalaku? Dia hanya anak tiri, lalu omong kosong ini.


“Jika kita melakukannya diam-diam. Papa tidak akan tahu.Dan kita tidak akan melakukan pelanggaran hukum.”


“Melakukan apa? Kata-katamu itu penuh ambigu. Aku tak peduli dengan apapun yang kamu lakukan selama kau tak menggangguku, tetapi jika kau berpikiran melenceng ….. Rama, Mari kita kembali ke tempat semula.


Saya yakin di luar sana, anda akan menemukan banyak yang mau denganmu, tetapi kau takkan bisa melakukan perbuatan bodoh padaku. Entah apa yang ada di kepalamu. Apa kamu tidak memiliki akal dan cuma dikendarai oleh nap*sumu? Mungkin hewan saja tidak sampai sekotor pikiranmu."


Nita dengan sombong, kata-katanya dingin dan jahat. Dia memang sengaja membuat Rama agar membencinya. Namun, lelaki itu hanya tertawa pelan seakan tak mendengarkan kata-katanya. Dia begidik dan berusaha melepas jari-jari kuat dari pinggangnya.

__ADS_1


“Kita di rumah, tidak ada siapa-siapapun di ruangan ini.” Rama mendekat dan memeriksa hingga hidungnya nyaris menyentuh telinga Nita , mengendus dan mengendus aroma vanilla yang menenangkan. Sepertinya, harum yang membuat hidungnya ketagihan untuk terus menghirup adalah asli bau tubuh Nita. Rama dapat mendengar nafas berat Nita. “Kau takut?”


Kontrol diri Rama yang kuat mulai runtuh perlahan. Meski demikian dia segigih mungkin untuk tetap bisa mengkerangkeng nap*sunya. Dia sebetulnya mendekati Nita bukan karena nap*su semata, karena bila itu … dia bisa memacari dan memilih banyak teman wanita Indo atau di Australia. Ternyata Rama merasa jauh lebih serakah dari sekadar nap*su dan ingin menguasai semua hal tentang Nita. Ya, dia ingin memonopoli wanita itu untuk dirinya sendiri.


Nita kian terasa mual, tubuhnya menggigil dan kedinginan. Dia bergidik saat menyentuh kedua tangan Rama untuk disingkirkan. Pernafasannya tersesat, dia tidak nyaman dan ingin menjauh dari Rama tetapi Nita tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Bukan karena Nita terbuai, tetapi dia menjadi begitu ketakutan seolah malam naas itu tengah terulang. Dia menjadi tak mengenali siapa pria di belakangnya, suara serak pria di malam naas, itu terus terngiang-ngiang di kepalanya.


“Baumu enak ibu tiri …. Vanilla”


“Menjauh dariku!” Perlu usaha untuk Nita mengatakan dua kata itu. Dia seperti terkena stroke dan merasa tidak bisa mengontrol pergerakan tubuhnya sendiri. Pria itu terlihat memaksa untuk membalikan tubuhnya dan memakan bibirnya, seperti apa yang pria itu mungkin rencanakan, sebelumnya.


“EUeekkkk!”Nita mengeluarkan cairan kecut hingga mengenai bibir pria itu. Pikirannya lumpuh dan dia gemetar hebat.


“Nita!” Rama yang akan marah karena bibir dan bajunya terkena muntahan kecut itu membeku, saat tubuh Nita merosot seakan kaki Nita tak kuat menyangga. Dia bingung kenapa Nita terus saja pingsan di dekatnya. Apa Nita memiliki semacam penyakit atau terkena epilepsi?


Rama menarik kaos hitamnya yang terkena muntahan Nita, lalu mengelap mulut Nita yang terdapat sedikit butiran muntahan di dagu mungil dengan kaos miliknya.. Kancing piyama milik Nita, dibuka mulai dari bagian di atas tulang selangka. Dia mendengar suara pintu terbuka, tampak papah memandangi dengan mata terkejut hingga membuat Rama sontak menjauhkan tangannya dari Nita.


Papanya Itu berjalan dengan cepat dan wajah itu langsung merah padam saat melihat sedikit buah dada semu-semu merah yang menyembul di atas cup dan menampakan sedikit br*a warna Rose .Sergey yang melihat itu langsung bergerak cepat, lalu meraih selimut dan menutupi tubuh Nita. Tangan bertato dua sayap itu lalu mencengkeram dagu sang putra.


“Lancang sekali kamu, Nak!” Rahang Sergey mengeras, tangannya membanting kepala Rama dengan telapak tangannya hingga meninggalkan rasa begitu panas di tangannya yang kekar. Bahkan Rama sampai terjatuh dari tempat tidur hingga tersungkur di lantai.”Anak tidak tahu sopan-santun!”


“Tunggu, Papa! Papa itu salah paham, lihat dulu Itu bajunya, dia muntah dan aku berniat mem-BU-KANYA.“ Rama baru menyadari bahwa tadi dia refleks dan tak memikirkan aturan. “Maksud Rama, Rama akan mengganti bajunya.”


“Kamu, tidak lihat siapa dia? Dia istri Papa! Tak sepantasnya kamu berlaku tidak sopan walau dia tak sadarkan diri, kau bisa memanggil bibi! Dia istri Papah, kalau kamu tak bisa menghormati dia, setidaknya hormati papah dengan tidak menyentuh istri Papah lagi!” Sergey berkedip cepat dan bernafas seperti banteng yang siap menyeruduk. Ya, dia cemburu!

__ADS_1


Rama terdiam, sebenarnya dia tidak terima karena Nita juga bukan istri sah Papa. Namun, Papanya tidak pernah semarah padanya sebelum ini, hanya demi membela orang lain. Apakah Papanya sudah tidak menyayanginya lagi?


Rama ingin sekali komplain dan berkata. ‘Apa Papa yang akan membuka bajunya?’ Namun dia jadi terpikirkan akan kira-kira jawaban dari papah, yang mungkin akan menjawab ‘Apa urusanmu? Dia pacar Papa, Ibu dari adikmu’. Rama menghela nafas berat, percuma bila dia berdebat.


“Kembali ke kamarmu!” Sergey menunggu kepergian putranya. Dia sendiri menghubungi Intercom yang adalah saluran khusus untuk pelayan wanita. Kemudian tidak berapa lama, pelayan wanita itu datang. Sergey keluar dari kamar membiarkan pelayan menggantikan baju Nita yang kotor oleh muntahan. Mengapa Rama di kamar bayi bersama Nita?


Sergey sampai memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Nita. Pria berumur 50 yang tampak muda dan justru semakin mempesona, lalu berbaring di sisi lain dengan miring kanan. Dia memandangi Nita dekat-dekat tanpa menyentuh, dia menghormati putri sahabatnya. Dev, putrimu sangat sulit didekati.


Dada Sergey bergemuruh dan sesak, mungkin dia terlalu berpikiran buruk pada putra kesayangannya. Rama mungkin hanya berniat akan membantu Nita. ‘Apa aku harus minta maaf pada putraku? Mungkin perkataan Rama jujur, mengapa aku cemburu buta pada putraku?”


Di dalam kamar mandi pribadinya, Rama membasuh bibir dengan sabun beraroma charcoal, dan menyebarkan busa berwarna gelap ke seluruh area wajah. Sungguh aneh, Mengapa dia yang terbiasa serba bersih, justru tak jijik pada muntahan Nita di bibirnya. Tidak mungkin aku beneran suka, aku yakin ini cuma perasaan main-main.


Malam pergi ke belahan bumi lain. Nita terbangun, lalu terbelalak pada sebagian wajah Sergey yang tampak di balik guling. Ya ampun, kenapa aku tidak tahu mengapa teman papah tidur di sampingku. Apa Sergey berani macam-macam padaku? Nita bergidik dan sontak bangun, memikirkan yang tidak-tidak membuatnya jijik. Nita sontak bangun dan buru-buru menggendong Musa yang mulai menangis. Dia mengajak Musa keluar dari kamar, saat Sergey masih terpejam.


Di ruang bermain bayi, Nita bersantai dan membiarkan Musa untuk bermain dengan banyak mainan. Dia menyusui, lalu memandikan Musa. Nita mencoba mengingat semalam, pada bayangan Rama, lalu kenapa bisa Sergey berada di sampingnya saat bangun.Itu membuatnya gila, dia ingin segera keluar dari rumah ini, sebelum Sergey memaksanya untuk memperpanjang kontrak pura-pura pernikahan.


.


Minggu siang, Shelina dan Ririn cekikian di karpet sofa ruang tamu dengan rebahan. Sedangkan Budi dan Agus sibuk mengirim undangan melalui online ke anak-anak baru untuk mengikuti balapan. Shelina melirik ke arah ibu muda yang berusaha menenangkan tangis seorang batita, dia lantas berdiri dan mendekati Nita, lalu menjatuhkan mainan kecoa tepat di depan kaki Nita. Bukannya takut, Nita kini membungkuk menurunkan Musa, lalu melempar mainan berbahan karet. “Jangan kan cuma kecoa mainan, kecoa betulan pun, aku tak takut. Apa kau mau aku membawakanmu yang hidup?”


Shelina melipat tangan di depan dada. “Tapi, kau takut dengan ular, kan?” Gadis itu langsung berjalan ke arah teman-temannya yang sudah memperhatikan dengan senyuman licik. Dia menarik badan ular sanca putih dengan hati-hati yang sebesar lengan dewasa. Para teman Rama langsung tertawa melihat wajah memucat Nita. Musa kecil justru berjalan cepat ke arah teman Rama.


“Pak Abie! Bi Inem!” Nita dengan takut-takut tetap maju dengan penuh keringat dingin sambil mengundang sang putra. “Musa kemari, Nak!”


Para teman Rama sungguh kelewatan, anak kecil batita itu dibiarkan memegang ular. “Rama! Pak Abie!” Nita berteriak dengan semampunya, justru membuat tubuhnya langsung lemas terutama saat wanita itu menarik tangan mungil ke dekat ular.

__ADS_1


Nita memberanikan diri di sisa tenaganya berniat untuk meraih tangan Musa, tetapi lututnya tak bertenaga hingga dia jatuh dan berusaha merangkak berharap tidak pingsan saat di sekujur tubuhnya mulai berkeringat dingin. Dia ngeri pada kepala ular nyaris menyentuh putranya.


__ADS_2