
Pandangan Nathan, diedarkan ke segala arah ke pekarangan tanpa cahaya dan sunyi, tangannya terus menggedor pintu. Dia menyipitkan mata saat tahu yang membukakan pintu adalah Rama yang juga terkejut.
Bagi Nathan, Rama hanya seorang pengacau karena dia harus mengatur rencana lagi. Atau dia menyingkirkan Rama dulu, kalau tidak, justru dua-duanya harus disingkirkan.
"Bersiaplah, kita harus pergi sebelum matahari terbit." Nathan melewati Rama , setelah mengunci pintu.
Jantung Rama berdebar. "Apa harus sekarang?"
"Ya, jangan bawa apa-apa, semua telah disiapkan. Bangunkan saja papa dan istrimu, lalu kita berangkat."
Rama terdiam karena nada tidak ramah Nathan. Di melangkah ke kamar, lalu duduk pelan dan tak tega melihat Nita yang baru saja tidur. Dia ingin sekali membahagiakan Nita setelah ini.
Rambut Nita diusap dengan penuh kasih sayang sampai wanita itu terjaga. "Ayo bersiap-siap. Kak Nathan sudah pulang. Pakaikan jaket tebal untuk Musa, aku mengurus papa dulu."
"Iyaaa, Mas. Atha siap-siap." Nita berusaha membuang kantuk. Kemudian keluar dari kamar bersama Rama dan terpisah di ruang tengah. Rama ke kamar Papa, sementara Nita ke dapur.
Ketika melewati dapur, Nita berpapasan dengan Nathan, tetapi tak menyapa dan berusaha jalan normal dan sedikit lebih pelan.
"Kenapa kakimu?" Nathan mengernyitkan kening.
"Keram, Kak."
"Cepat sedikit, keburu terang."
"Iya, Kak."
Nita menutup pintu kamar mandi. Pakaian ditanggalkan, dan mulai mengguyur rambut dan badan dengan air dingin. Badannya yang tadinya terasa linu kini menggigil. Dia merintih saat air mengenai **** ************* yang lecet dan aroma pandan menyeruak dari sisa cairan sang suami yang baru meleleh keluar dari ms.V nya.
"Nita, cepat, apa kau pakai acara mandi segala?"
"Iya, Kak, sebentar." Buru-buru Nita menyabuni badan yang lengket oleh keringat dan liur Rama.
Ketika Nita keluar dari kamar mandi, lagi-lagi Nathan menatapnya dengan galak hingga Nita melewati Nathan, tetapi ditarik lagi oleh tangan Nathan. "Kak .... "
"Kau sudah membuat posisiku dalam bahaya. Untuk apa kau menikah dengannya? Kau tidak memakai otakmu? Kita itu sedang kabur dan kau masih sempat-sempatnya memikirkan dirimu sendiri. Tahu begitu aku tak membawa Rama!"
"Kenapa? Apa yang salah dengan Rama, dia ada di pihak kita, loh? Rama takkan membuat masalah. Dan aku menikah dengan siapa itu hak ku bukan urusan Kakak." Wajah Nita mulai tertekuk, tangannya terkepal dan gemetar.
__ADS_1
Bibir Nathan berkedut begitu kesal. Dia menggeram dengan berusaha sabar. "Tapi, dia bisa membuat kita tertangkap, lalu usahaku sia-sia."
"Justru Rama akan membantu kita. Minggir, aku akan membawa sedikit popok Musa." Nita mengguncang-ngguncangkan tangan Nathan dengan perasaan jengkel karena tanggapan Nathan, tentang suaminya. Handuk yang memerangkap rambut basah Nita sampai terjatuh ke tanah, dan saat itu terjadi, Nathan baru melepaskannya.
Tanpa mengambil handuk, Nita menjauh dari Nathan yang jelas sudah ancang-ancang mau mengatur hidupnya. Sebenarnya, Nita berterimakasih karena berkat Nathan dia gagal menikah dengan Sergey.
⚓
Jam menunjukkan pukul tiga pagi saat Nathan memeriksa ke pekarangan. Mata terpejam dan indera pendengaran dipertajam, tidak ada bunyi bergemerisik daun terinjak dan sangat sunyi.
Nita sudah berjaket tebal, begitupun juga Musa. Dia menggendong Musa dan menentang tas punggung yang berisi kebutuhan pokok Musa. Sementara Rama menggendong Papa Devan. Nathan menutup pintu rumah, lalu mulai memimpin perjalanan ke arah halaman belakang.
Jalan setapak dilalui mereka hingga menempuh jarak 1 km. Nathan berhenti hingga semua orang ikut berhenti dan mengikuti arahan untuk mematikan senter.
Mereka bersembunyi di balik pohon dengan jantung berdebar karena bunyi gemerisik daun kering, terinjak, saat suara itu makin dekat. Apalagi pantulan cahaya senter di luar krue mereka, membuat Nathan lebih was-was, terutama saat jarak orang itu tinggal satu meter.
"Ada-ada saja, bikin orang susah," gerutu orang itu dan Nathan langsung memalangkan tongkat, membuat orang itu terjatuh.
"Aku tidak tahu apa-apa, aku tidak tahu!" kata orang itu.
Nathan melepas cengkeraman dari leher orang itu dan mengarahkan senter ke wajah yang diduga Pak Darso dan ternyata memang benar. "Kenapa kamu di sini dan bukannya jaga titik?"
"Para Intel sedang mengawasi rumah Pak Sapto, kita tak bisa ke sana, kalian bersembunyi di rumah, tunggu mereka pergi." Pak Darso berusaha berdiri sambil mengelus lehernya yang sakit. "Kita langsung ke rencana B."
Nathan menelan saliva dengan gugup. "Rencana C."
"Saya kira, situasinya berbeda dan peluang paling bagus Rencana B."
"Apa yang kalian bicarakan rencana B dan C. Apa rencananya, di sini kan ada Papa Devan, minim kalian bisa tanya pendapat Beliau," ujar Nathan.
"Sudah cepat balik dulu, tak ada waktu. Jangan lama-lama di luar berbahaya." Nathan merangkul bahu Nita supaya jalan.
"Apanya yang berbahaya? Kau datang-datang meminta kami keluar dari rumah, dan sekarang kembali lagi."
"Diamlah, Bede*bah. Jangan berlama di luar atau kita , semua ditembak." Ancaman Nathan mampu membuat Rama diam. Mereka semua bergegas kembali ke gubuk dan melarang ada yang keluar dari rumah, meski hanya membuka pintu.
Sampai langit mulai terang Pak Darso dan Nathan bergantian berjaga. Pak Darso mendekati Nathan yang sedang mengintip ke luar. "Seharusnya, anak kecil itu diamankan dulu, Bos. Itu akan menjadi ganjalan."
__ADS_1
"Bagaimana bila dicicil, Musa bersama Rama dan kamu, ketempat saudaramu dulu." Nathan mengawasi setiap pohon, takut bila ada orang datang. "Aku akan tambahkan bayaranmu."
"Jangan bos, nanti keluargaku jdi korban."
*
Hari telah sore, Nathan ke dapur, lalu melirik Pak Darso. Nathan mendapat kode aman, lalu menaburkan obat tidur ke semangkuk sop di atas dipan. Dia berjalan dengan tenang ke ruang tengah dan bersikap seperti tidak ada apa-apa.
Ketika mulai makan, semua tak seperti yang diharapkan Nathan. Karena Nita tidak makan, sedangkan Devan hanya makan dengan sambal dan tempe. Begitu makan selesai Rama pamit tidur karena mata begitu berat. Sementara Pak Darso masuk lebih dulu ke kamar Nathan, lalu Nathan menyusul.
"Bagaimana ini?" tanya Nathan dengan suara pelan. "Aku memaksa Nita dan kau menggendong Papa Devan?"
"Kita bilang saja, ada orang yang akan menjemput Rama. Nita pasti akan percaya."
Nathan mengangguk. "Lain kali, kau harus persiapkan matang-matang dan tidak seperti ini."
Suara teriakan di luar rumah yang makin dekat membuat Nathan dan Pak Darso langsung menuju ruang tamu, dimana terdapat Nita yang mengintip ke luar jendela dengan wajah pucat.
"Massa, Kak." Nita mendelik ketakutan dan memberi ruang pada Nathan.
"Kenapa mereka membawa obor!" Nathan menarik Nita menjauh dari pintu saat para warga akan mendekat ke halaman. Nathan kalang kabut bersama Jefri. Rencananya buyar lagi karena sesuatu tidak terduga akan teriakan masaa.
"Usir mereka!"
"Keluar kalian!"
"Pembawa sial kampung kami!"
"Pasangan keji!"
"Mengotori kampung kami!"
Tetangga-tetangga kampung terus berteriak dengan membunyikan kentongan. Dia masih ingat betul pemandangan mencekam di depan. Yang dipikirkan adalah Musa dan Rama yang tertidur.
Nita semakin takut karena gedoran dari pintu belakang. Dia melirik Nathan yang sudah membawa senapan Laras panjang dan berdiri di belakangnya, di dekat pintu belakang. Nitavmenggelengkan kepala dan gemetar, bagaimana mungkin Nathan bisa memiliki senjata. Senjata darimana. Apa kakak mau membu**nuh orang betulan?
"
__ADS_1