Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 32 : KETAHUAN LANA


__ADS_3

Lana-sahabat Nita, tersenyum kikuk karena dia mendengar sesuatu yang mungkin tak seharusnya dia dengar.


“Lana?” Nita bergegas berdiri dan berjalan mendekat ke Lana. Masih dia terkejut karena ucapan Rama, ditambah kini Lana mendengar obrolannya dengan Rama.


“Ahg, sorry, Nita! Aku jadi menggangumu.” Lana menarik tangan Nita yang akan meraih pecahan piring. “Jangan Nit, biar Dila saja!” Lana menarik tangan Nita hingga mereka mundur lima langkah.


Dila datang berlari sambil membawa sapu, serok sampah dan lap pel. Nita melirik Rama dengan banyak pertanyaan karena karena tatapan Rama yang kini sangat mendominasi. Tidak ada lagi kecanggungan dari sana. Wanita itu bingung, aturan menjaga image mana yang telah dilanggarnya, hingga Rama behasil menerobos dengan bersikap seperti itu.


"Lan …! ” pekik Nita karena tangannya ditarik Lana. Mereka melewati sekat kayu dan berhenti di ruang perbatasan yang menuju ke tempat tinggal Lana.


“Katakan, Nita! Apa yang kau sembunyikan dariku? Kontrak bisnis dengan Sergey? Apa itu semacam pernikahan setingan, seperti artis-artis lain? Apa karena itu pernikahan kalian tak terbuka dan bahkan kau tak mengundangku yang selama 20 tahun telah menjadi sahabatmu! Aku benar-benar sakit hati sumpah! Kuharap ucapan Rama tadi tidak benar! Karena jika benar, kamu telah mengkhianatiku!”


Lana dengan wajah merah padam dan mendapati tatapan Nita yang makin sayu. “Ceritakan sekarang,” suara Lana berubah lembut. Dia menarik bahu Nita untuk mendekat. Dalam posisi berdiri, mereka berpelukan.


”Mengapa kau banyak berubah semenjak kematian papahmu?” tenggorokan Lana semakin panas saat merasakan tubuh Nita gemetar dalam rengkuhannya. Dia mengelus Nita dan akan melihat ke wajah Nita, tetapi sahabatnya terus menggeleng kepala dan wajah itu makin tersembunyi di bahunya.


"Kau sahabatku, sudah seperti adikku sendiri! Mengapa kamu jadi sangat memperhatikan apa yang kau pakai di luar dengan barang-barang branded? Tetapi di dalam dirimu kau seperti memendam luka sendirian? Dimana Nita yang dulu masa bodo dengan pendapat orang?"


Nita makin sesenggukan dalam pelukan sahabatnya. Dia tak bisa mengatur kenyataan agar sesuai harapannya. Namun, sulit sekali untuk bercerita sedikit saja pada orang lain.


" Jika Sergey mencintaimu seperti apa katamu, seharusnya dia menerima penampilanmu apa adanya.” Amarah dalam diri Lana pecah dalam suaranya yang memenuhi ruangan. Lana tak peduli jika siapapun mendengarnya, karena dia sudah terlanjur kesal. "Selama ini aku diam dan mencoba memberi ruang padamu, karena kupikir seorang Nita benar-benar hidup bahagia!"


“Jadi, apa Musa itu putra Sergey? Katakan Nita jika kau masih menganggap aku sahabatmu! Kau bilang, kau melepas kaca matamu dan berusaha menjadi cantik untuk Sergey, lalu kau berhasil menikah dengannya? Apa sih yang tidak aku ketahui?"


Lana melepas pelukan Nita dengan paksa dan dia menjambak rambut sendiri karena gemas pada Nita yang kini cuma bisa mewek. Tampak mata Nita memerah dan pipi cantik itu kini basah, rintihan itu membuat Lana murka. Dia menggelengkan kepala dan tak tahu lagi menghadapi Nita yang tak lagi dikenalnya.

__ADS_1


“Kamu bisu, Nit!”


Bibir Lana berkedut karena bahu Nita terguncang dan suara isak mulai pecah dari mulut Nita, membuat hati Lana seakan terbelah menjadi dua. “Katakan,”suara Lana hampir tak terdengar.


“Aku capek, Lan!” Nita mulai terisak dan mengelapi ingus yang terus meluncur menggunakan punggung tangan. Rasa asin memenuhi mulutnya karena ingus. “Nggak tahu harus cerita darimana .... aku lelah! Aku sendirian dan tidak tahu harus-”


“Bodoh ya kau? Lalu siapa aku bagimu?” cebik Lana sambil mendorong bahu Nita hingga tubuh itu terguncang ke belakang.


“Itu anak Sergey, kan?” tanya Lana. Dia meringis begitu mendapat gelengan kepala Nita. "Apa maksudmu?"


“Sh*it!” umpat Lana, jadi selama ini dia begitu percaya pada kebohongan Nita. “Itu jelas bukan anak Avian,kan!” Setahu Lana, pacar Nita pergi sebelum kematian Om Devan. Jadi, tak mungkin anak Avian.


“Bukan …. ” Nita menggigit bibir bawah dan duduk tak berdaya di lantai. Api amarah muncul dalam dirinya. “Pemabuk melakukan itu, merenggut -” kata-kata Nita terputus dan berganti tangisan yang memilukan. Nita memukul dadanya sendiri yang teramat sesak.


Rama yang mendengar semua dari awal, mengepalkan tangan dan meninju pahanya sendiri. Jadi, itu luka yang dipendam Nita!


Kelopak Nita bergoyang dengan perlahan. Dia melihat Rama di garis pintu yang berjarak tiga meter. Otak Nita tak sanggup mencerna, dia hanya melihat seolah ada kilatan api amarah di mata Rama, dan tetesan air mata melewati bulu mata hingga jatuh di pipi Rama.


Lagi, Nita mendapat tatapan seperti itu, untuk ke dua kali. Jika itu benar nyata .... Kenapa harus Rama yang mengetahui keadaan dirinya setiap kali terpuruk. Bahkan sedikit keinginan muncul di hati Nita, untuk mendapat pelukan itu lagi.


Pelukan dengan pancaran tinggi empati. Bahwa dia merasakan sebuah ketulusan dari seorang lelaki, yang memperhatikannya dengan cara lain. Bahwa tatapan Rama mampu mengebor tameng kuat yang dia bangun tinggi-tinggi untuk tidak melihat 'Lelaki' dalam masa-masa terberatnya.


Saat ini Nita sulit membedakan angan-angan atau kenyataan. Apa dia mulai behalusinasi karena kini Rama berjalan ke arahnya. Lelaki itu mendorong Lana hingga Lana tak mengguncang bahunya lagi. Bahwa Rama lalu memeluknya.


Kehangatan beraroma manis-musk, yang entah sejak kapan menjadi kesukaannya. Sesuatu kasat mata menggetarkan hati dan merobohkan dinding pembatas yang mengelilingi hatinya, seolah pia itu datang memberi kehangatan ke dalam jiwanya yang teramat lelah.

__ADS_1


Nita melingkarkan dua tangan di pinggang ramping yang hangat. Keinginan dan angan-angan Nita itu terasa sangat nyata. Semakin memeluk, semakin Nita tenggelam dalam pusaran perasaannya yang jujur, dia mengelap ingusnya yang gatal ke kaos tebal saat mulutnya merasakan asin airmatanya.


Rama memelintir bibir, dia merasakan tangan Nita yang gemetar melingkari pinggangnya. Dia merasa menjadi kesatria dari seorang wanita, setiap kali Nita melakukan ini padanya, dia menjadi ingin sekali menghibur wanita ini yang begitu rapuh.


Rama melihat Lana yang sama-sama menangis seperti dirinya, karena ucapan Nita. Baji*ngan mana yang tega memper*kosa Nita. Apa papah juga tahu?


Jiwa Lana entah hilang kemana. Pikiran mengutuki diri sendiri. Dia merasa bersalah karena tak peka saat Nita mengatakan ‘malapetaka’ di hari dimana sahabatnya terguncang karena tahu hamil.


Lana tertegun dan bertanya-tanya pada perlakuan Rama pada Nita, seperti layaknya orang yang sangat dekat. Bahkan Nita menangis dan tenggelam di dada bidang. Itu tidak seperti Nita yang dikenalnya, Nita yang dulu adalah sangat menjaga jarak dari para pria. Nita yang dulu juga tak mau berdandan dan berusaha terlihat buruk di depan umum, karena berlindung untuk tidak muncul ke publik sebagai putri On Devan.


“Siapa yang melakukan pebuatan be*jat itu. Ayo katakan! Biar aku mencari dan menjebloskannya ke penjara,” suara Rama bergetar. Dia lalu merasakan tangan mungil mendorongnya dengan lemah.


“Kau bilang apa?” tanya Nita dalam isak seperti anak kecil. Pikirannya kalut. Dia membenci setiap pertanyaan disaat tak memiliki tenaga, bahkan untuk sekadar mendengarkan seperti ini.


“Siapa yang mempek0s4mu?”


“Darimana ka-u ta-hu?” Nita dengan suara tercekik, tetapi anehnya tidak ada rasa malu pada Rama akan aibnya. Mungkin karena tatapan Rama yang penuh empati. Dia makin bingung darimana Rama tahu bahwa seseorang telah berbuat be*jat kepadanya.


“Kau mengucapkannya sendiri, apa kau bahkan tak sadar dengan semua yang keluar dari mulutmu? Berhentilah berakting di depanku! Jangan membuatku kesal sendirian, Nita!” Rama dengan suara menggelegar.


Rama menarik dan membanting dada Nita ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat hingga Nita kesulitan bernapas. “Aku sayang kamu, Nita! Aku tak mau ada yang mengganggumu lagi!”


Lana memilin kepala dan merasa pusing. Dia tak pernah menjumpai Nita bersikap sedekat ini kala Nita berpacaran dengan Avian. Kenapa ini sulit dicernanya, seolah dia baru bangun dari tidur dan mendapati kenyataan yang berbeda.


Oh, Apa yang kudengar barusan. SAYANG? Sayang yang dimaksud itu soal hubungan asmara, kan? Nita dan putra Sergey! Tapi bagaimana jika publik sampai tahu dan mengatakan hal buruk pada Nita karena ini?

__ADS_1


Apalagi jika sampai menuduh Nita berbuat Z1na dengan anak Sergey. Aaa … Itu tak boleh terjadi!


Aku juga harus mencari siapa pria kurang ajar itu! Apa jejak DNA bisa diperiksa walau sudah beberapa tahun?


__ADS_2