Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 28 : JONATHAN PRADIPTA (KUNCI)


__ADS_3

Hati Nita bagai jatuh ke bumi. Secara mental, dia menangis. Mungkin saja itu bukan kalung milik Rama. Atau meski mungkin itu kalung Rama, tetapi baj1ngan itu bukan Rama. Bukan Rama. Rama tak seperti itu. Namun, jika itu Rama ….. Nita menggelengkan kepala, dia sangat yakin bukan Rama. “Boleh aku meminjam kalungmu?”


Rama tersenyum dengan sendirinya dan refleks melepaskan kalung itu dari lehernya.


Dipasangkan kalung itu ke leher Nita sampai Nita menatapnya sangat tajam, dimana bibir wanita itu saling memelintir dan terus berkedut seolah tengah menebarkan aura beracun.


“Musa, sayangku …. “ Rama mengecup pipi si bocil, saat Musa mengences. Bahkan pipi Rama terkena tangan mungil yang basah karena Musa sempat mengu*lum jari-jari mungil.


Nita mematung, wajah Musa dan wajah Rama, berdampingan seperti pinang dibagi dua.Wanita itu menggelengkan kepala, tak percaya pada pikiran jahatnya. Tidak mungkin, hanya kebetulan mirip!


“Ah, aku temani Papah makan dulu,” suara Rama berubah gentle. Jari telunjuk itu mengggaruk di atas mulut dan mulai menuruni tangga dengan cepat. Meninggalkan Nita yang masih termenung dan Musa yang asik mainan bandul serigala. Bahkan bayi kecil itu menggigiti kalung, hingga Nita harus menarik kalung itu dan cepat-cepat kembali ke kamar.


Sergey sudah habis satu piring nasi dan secentong rendang saat putranya kembali. Tampak tiba-tiba sang putra begitu semangat saat mengambil makan dan memakan dengan lahap. Ada apa?


“Papah! Apa bila aku menyukai seseorang, siapa saja, Papah akan setuju dan mendukungku?” tanya Rama penuh harap pada papahnya yang tengah mengelapi mulut dengan serbet, lalu minum air bening sampai setengah gelas, dan papahnya pun tersenyum menantang.


“Ah, akhirnya kau mau terbuka dengan Papah.” Kepalanya terayun ke depan. “Siapa dia?”


“Janji dulu, Papah akan merestuiku?”


Sergey tertawa geli pada wajah malu-malu sang putra. “Apa dia lebih cantik dari istri Papah?”


Senyuman Rama langsung memudar, matanya memanas, dadanya bergetar. Dia sampai melupakan hubungan papa, senyuman bangga papa atas Nita. Dia tak mengerti, apa karena papanya saking jagonya berakting karena actor kawakan, sampai dia tak percaya bahwa senyum papa sekarang beneran terlihat tulus. “Papa, memang apa yang Papa lihat dari Ibu Tiri?”


“Ayolah, Pah, katakan alasan yang tidak masuk akal, agar aku tak diliputi rasa bersalah,” batin Rama penuh harap.


“Kamu mau tahu?” Sergey tertawa ringan, dia jadi malu. Apakah putranya akan semakin menyetujui hubungan dia dengan Nita, sekalipun itu hubungan kontrak, yang dia yakini suatu saat Nita akan mau bersatu dengannya. Apa dia harus jujur pada Rama supaya putranya bisa membantu agar dia bisa mengambil hati Nita?


“Ya, Pah!” Rama tersenyum dengan dipaksakan. Tenggorokannya makin panas dalam menunggu jawaban papah. Tumitnya terangkat, dan jemari kakinya tertekuk menekan lantai. Tumitnya turun-naik dengan gemetar. “Ayo, Pah. Papah tidak sedang berakting, kan? Katakan dengan jujur pada Rama.”

__ADS_1


“Habiskan makananmu dulu, di luar banyak yang tak bisa makan, atau banyak yang tak bisa makan dengan lauk,” titah Sergey. Jantungnya berdebar, dia seperti anak SMP yang pertama kali mengenal cinta.


Kepala Rama terayun ke kanan dengan kecewa. Garpu sendok diremasnya dan suapan demi suapan dikunyah empat kali, lalu ditelan dengan kasar. Rasanya, dia bagai menelan batu besar bergerigi. Tangannya juga semakin terasa dingin. Di dalam hatinya sedang tertawa pada dirinya sendiri yang seakan tak tahu malu.


Rama sering mendengar cerita seseorang bisa bersaing dengan teman-saudara untuk seorang wanita. Akan tetapi dia belum pernah mendengar, seorang anak merebut kekasih dari sang papah.


Secara mental, Rama marah kepada dirinya sendiri. Keinginan mencabik-cabik dari dalam. Pikiran itu terus meneriaki agar langsung jujur pada papah bahwa dia menyukai Nita, setelah nanti papahnya cerita bahwa hubungan mereka sebatas kontrak.


Lalu, harapannya, sang papah bisa menyudahi hubungan papah dengan Nita.


...----------------...


Saat di taman belakang, di depan kolam renang, Papahnya tampak memasang raut tegang. Bahkan, sampai papah berdeham berkali-kali, membuat Rama yang tak sabar langsung berpindah duduk di samping papah, dengan badan menghadap ke Papah. Sang papah justru semakin salah tingkah dengan menyibak rambut putih yang berpotongan pendek.


"Jagoanku, begini. Papah dan Nita. Sebenarnya, hubungan bisnis-"


"Ya!" Rama memotong dengan berbinar. "Bisnis." Senyuman mengembang penuh dan Papah justru mengerutkan kening.


Bagai disambar petir, Rama yang tadi senang bukan kepalang, seketika hatinya langsung mengkerut. Sakit tidak terkira. Semua kalimat yang sudah disiapkan dalam pikirannya, seketika menghilang begitu saja.


"Katakan pada Papah. Cara papa merayu Nita, Jagoanku." Sergey merangkul Rama dan menggosok bahu kekar Rama dengan gemas.


Rama membeku seperti es kutub, merasakan kebagiaan papah. Rasanya dia tak berani merusak kebahagiaan itu. "Pah, Rama tidak tahu caranya," katanya tak bertenaga.


"Jiak aku tahu, aku akan melakukannya sendiri. Mendahului papah," batin Rama.


...----------------...


Siang itu Nita menemui seorang aktor bernama Jonathan Pradhita, di tempat umum. Setelah dua tahun Nita bersabar, akhirnya mereka bisa bertemu. "Ka Nathan .... maaf menyita waktu Kakak yang padat." Nita meremas jemari di pangkuan. Dia berbicara dengan tenang dan posisi duduk yang tegak.

__ADS_1


"Tidak masalah, Nita." Jonathan tersenyum, pada putri mantan direktur di agency nya saat pertama memulai karir. "Saya juga mengucapkan berbela sungkawa atas kematian Papah Anda. Saat itu saya datang, tetapi Anda sedang sangat terpukul, hingga saya tak berani bertemu dengan Anda."


"Tidak masalah, Kak. Bolehkah saya langsung bertanya sesuatu?" Nita menarik nafas panjang dan mencoba tenang. "Kakak sekarang, sudah tidak bekerja di perusahaan suami saya."


"Tunggu, apa ini ada hubungannya dengan Tuan Sergey?"


Nita mengerutkan alis saat wajah Nathan langsung pucat. "Sedikit. Kenapa Anda keluar dari sana, setahun lalu? Padahal, perusahaan kami sangat mendangkalkan Anda."


"Bukankah sudah jelas, saya ingin mencari hal baru, jadi saya tak memperpanjang kontrak."


"Tidak, apa anda mengenal Tuan Jefri?"


Nathan menelan Saliva saat nama bosnya di sebut. Dia masih tidak bisa berkutik pada tangan kanan Mafia itu yang terus mengancamnya hingga kini. "Maaf, saya lupa, hari ini saya harus menjemput adik saya." Nathan berdiri dan meraih tas selempang Gucci bermotif kotak-kotak, berwarna krem. Di memakai masker, kacamata dan topinya.


"Apa Anda menghindari saya?" Nita mencengkeram pergelangan tangan Nathan dan menariknya untuk tidak pergi. "Tolong, nama Anda dibesarkan oleh Papah saya." Nita yang matanya berkaca-kaca langsung terkesiap karena barusan melihat pria dipojok yang langsung bersembunyi di buku menu.


"Kak tunggu," panggil Nita sembari menyusul Nathan yang berusia 30 tahun. Dia berusaha berjalan sejajar dengan pria itu, melewati meja Rama.


"Nita, jika kamu mau selamat .... " Nathan membungkuk dan berbisik di teling wanita yang tengah menggigit bibir bawah. "Jauhi keluarga Sergey. Dia berbahaya untukmu dan 'keluargamu' " Nathan berdiri tegak, lalu menoleh ke belakang pada pemuda yang baru keluar dari meja bundar, Nita pun ikut menolah ke belakang.


"Apa maksud kakak? Jangan bermain teka-tekik."


"Kau tahu kenapa kau mengalami hidup seberat ini? Semua berawal dari suamimu karena kecerobohan 'anak tirimu' ."


Nita menelan Saliva, melirik ke kiri pada Rama yang berjalan cepat ke arahnya.


"Jangan bermain dengan Jefri, Sergey pun bukan tandingannya. Selagi kau punya waktu kaburlah bersama Papahmu." Nathan meninggalkan Rama saat Nita ditarik kasar oleh Rama hingga bahu Nita terbanting dada Rama.


"Nathan," geram Rama pada Nathan yang kabur begitu saja.

__ADS_1


Nita masih termenung dan tak sadar bahunya kini dirangkul Rama. Kak Nathan tahu Papahku masih hidup? Apa kak Nathan adalah kunci dan tahu soal kecelakaan itu?


__ADS_2