Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
Bab 49 : TOLONG JANGAN LEPASKAN AKU SAMPAI TUA, SAYANG


__ADS_3

"Eh, Rama?" Sergey melangkah tertatih dan melirik Nita yang sedang mencuci gelas.


"Papah." Rama menatap sang papah yang tampak berpikir, semoga bukan karena curiga. Dia bergegas pergi ke bak cucian ke dua dan berdiri di samping Nita dengan jarak setengah meter. Dia mengguyur tangannya yang terbakar sambil melirik Nita yang tak tenang.


Papa nggak tahu kan, ya? (Rama)


Nita menaruh cangkir. Mulai menjauh dari Rama. "Kenapa kakinya, Mas?"


"Ada yang naruh besi tirai sembarangan dan aku menyenggolnya."


"Mas nggak liat-liat jalan?" Nita mengelapi tangan yang basah menggunakan serbet yang tergantung.


"Soalnya, Mas dengar suara kamu sedang menjerit, kupikir ada apa-apa. Siapa yang matiin lampu, aku jadi kepaduk." Sergey pura-pura kesulitan berjalan.


"Perlu bantuan, Pah?" Rama menyangga tangan papa. "Biar Rama bantu."


Sh*it! Kupikir Nita akan peka dan memapahku.(Sergey)


Papah, ganggu aja, nih. (Rama)


"Kamu ngapain? Ambil kopi tapi nggak pake cangkir. Banyak pikiran?" tanya Sergey.


"Rama ada tawaran kerja di perusahaan temen Rama." Rama menceritakan tawaran temannya.


"Kenapa tak ke kantor papah saja?" Sergey meraih satu sendok dari meja dapur. Dia kemari mau mengambil sendok untuk makan es krim supaya pikirannya dingin. Tak tahunya Nita di sini juga.


"Enggaklah."


"Padahal Papa ingin kamu di NASA lalu papa bisa ke luar negeri lama-lama." Sergey mulai menaiki tangga. Matanya melirik Nita yang sudah di lantai dua.


"Kamu tidak mau ucapin selamat? Papahmu mau melepas masa lajang, loh?" Sergey mengacak-ngacak rambut putranya dengan gemas karena tampak kesal.


Maaf, Pah. Rama ingin pergi dari Papa saja. (Rama)


...----------------...


MUA telah menyelesaikan tugas. Nita menatap dirinya di cermin. Fix, Jefri tidak memberitahu Sergey bahwa papahnya telah siuman. Dia keluar dari ruang make up dengan dikawal dua perempuan berbadan tinggi. Bagaimana dia bisa kabur kalau pengawalnya penuh waspada seperti ini.


Dia melewati deretan orang yang kata Sergey tak lebih dari 50. Nita melihat Sergey dalam balutan jas yang senada dengan gaunnya, biru terang. Tampak Musa dalam gendongan Rama. Rama tak berkedip menatap kearahnya, membuat Nita gugup setengah mati dan beralih menatap Sergey yang tampak begitu berseri-seri.


Baru Nita duduk di samping Sergey, seseorang dari arah sudut gedung mengalihkan perhatian. Siapa lagi kalau bukan Jefri dengan pakaian sangat rapih, jam tangan mewah, yang paling menonjol 12 pengawal pria.


Si Jefri auranya begitu menonjol, mengalahkan Sergey. Orang pasti mengira raja pestanya adalah Jefri, bila Sergey tak memakai pakaian yang berbeda. Apalagi pengawalnya Jefri jauh lebih banyak di dalam gedung.


Sergey berdiri dan menyuruh Nita berdiri. Sergey memeluk Jefri. "Terimakasih, Bang, menyempatkan diri," bisik Jefri dengan suka cita.


"Hahaha kupikir kau bercanda. Okelah, bila ini keputusanmu. Akan ku terima." Jefri mengelus punggung Sergey. Walau nadanya ramah pada Sergey, tetapi Jefri menatap Nita yang dibelakang Sergey, dengan pandangan penuh peringatan.

__ADS_1


Jefri merasakan napas Nita yang tak teratur. Walau jaraknya setengah meter dari Nita, dia bisa membaca gerak-gerik Nita yang terasa janggal. Pelukan Sergey dilepaskan, Jefri melihat sekitar sebelum duduk. Semua masih terlihat normal.


Lima belas menit berlalu. Jefri masih memantau kegelisahan di mata Nita. Dia melirik jam tangan pukul 09.30. Penghulu masih belum datang. Jefri melirik ke putra Sergey dan tak sengaja menangkap satu sudut bibir Rama terangkat.


Aku tak salah lihat, senyuman apa itu. (Jefri)


"Mas, mana penghulu belum datang," kata Nita terus melihat sekitar. Sesekali Nita melihat ke arah Rama.


"Mas kemarin bilang jam 9 harus sudah di lokasi, meskipun kita mulainya jam setengah 10," kata Sergey berusaha tenang di depan Nita. Sergey melirik Patrick, lalu menunjuk jam tangan sampai Patrick mengangguk pertanda mengerti.


"Tenang, Sayang. Patrick mungkin akan mengundang penghulu lain." Sergey menenangkan Nita yang gelisah. "Mau kemana?" tanya Sergey pada Nita yang berdiri.


"Mau pipis." Nita menunggu Sergey melepas tangannya, lalu dia berjalan dikawal oleh dua pengawal wanita.


Jefri melihat ponsel dan mengangkat telepon dari bos Richie dan meminta waktu untuk mencari tempat. Jefri ke luar gedung dengan diikuti pengawal.


Sergey berulangkali mengatur napasnya. Perasannya sangat tak tenang. Kenapa penghulu pake acara lambat. Para tamu undangan tampak saling mengobrol. Sergey melirik jam lagi, dan melirik ke arah Rama yang mengikuti Musa di sudut lain gedung.


Nita baru masuk lorong toilet dan melihat petugas kebersihan yang baru lewat yang sengaja menjatuhkan air pel hingga menumpahi salah satu sepatu pengawal. Dia melewati dengan tenang petugas itu yang adalah orang bayaran Nathan.


Tanpa diduga, Nita terpeleset dan ditangkap pengawal satunya yang masih mengikuti. Suara kegaduhan besi bergelendang membuat pengawal lain cepat berlari.


"Ih, kenapa licin, sih?" gerutu Nita. Ini di luar rencana. Sepatunya memang licin, terlebih model gaun ala mermaid, menyusahkan langkahnya.


"Anda tidak apa, Nona?" Pengawal perempuan dengan khawatir sambil menyingkirkan tong sampah besi yang jatuh.


"Tidak apa. Aku bisa berdiri sendiri, perutku mules ... duhhh." Nita menolak dipegang dan ceoat-cepat ke kamar mandi sambil mengelus perut.


Nita masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya. Dia terpejam dan mengatur napas. Aduh, Musa gimana, ya?


.


Rama terus menyunggingkan senyuman di samping gedung. Penghulu tidak akan datang karena Rama. Dengan bantuan Budi, beberapa anak muda jalanan menghalangi penghulu itu hingga tidak akan sampai sini walau sampai sore ditunggin. Dia berencana akan mengajak Nita kabur ke desa terpencil.


Jefri masih terhubung ke panggilan. Dia melirik ke Rama yang bermain dengan Musa di atas rumput. Lalu dia berbalik dan menatap pohon palem, mendengar perintah untuk mengawasi anak tiri Bos Richie yang sedang menjalin hubungan dengan seorang pemuda. Mata Jefri terpaku pada beberapa anak buah Sergey yang berjalan cepat ke arah pintu gerbang.


Di luar gerbang, Intania turun dari mobil sedan BMW dan berjalan ke arah empat pengawal. "Saya mantan istrinya, saya mau lihat ke dalam. Kalian berani melarangku? Mantan suamiku di dalam mau menikah!"


Intan kesal karena selama ini dibohongi oleh Sergey yang kata Sergey sudah menikah. Dia bahkan datang kesini berdandan rapih memakai burkat dan disanggul. Dia ingin merestui Sergey sekaligus memarahinya karena dia tak diundang.


"Maaf, Nyonya. Tanpa membawa undangan, anda dilarang masuk," ucap pengawal dengan lugas. Semua undangan wanita diwajibkan memakai biru, jelas sekali tanpa melihat kartu undangan para pengawal sudah tahu, pasti itu bukan tamu yang diundang.


Intania terus berdebat dengan pengawal yang susah sekali dibilangin. Sampai 5 mobil Pajero hitam berhenti berurutan di tepi kanan-kiri gerbang. Lalu, Intan tersenyum sinis pada mobil Hummer putih yang baru berhenti di depannya.


Seorang paling tinggi besar turun dari mobil Pajero, berjalan mendekat dan berhenti di depan pengawal Sergey. Berikutnya pengawal Kakek Axel yang lain, turun menyusul dan berkelahi dengan pengawal Sergey, karena tak mengijinkan mereka masuk.


Intania yang mendapat celah, langsung membungkuk untuk melewati palang beton dan mulai berjalan menuju gedung. Dia sempat melirik ke arah Mantan Mertuanya yang turun dari Mobil Hummer putih. Para pengawal Sergey, dari dalam gedung mulai serentak keluar menuju ke gerbang. Sepertinya, para pengawal Sergey, fokus ke keributan di gerbang, jadi tak menggubris Intania.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi, Nita menyalakan kran air di westafel kamar mandi. Dia melepas sepatu hak dengan tanpa suara, lalu berjongkok dan meraih cu*tter dan memotong gaunnya di atas paha dengan cepat.


Bagian jendela kaca terlihat dilepas dari luar dengan mudah, lalu tampak kepala seorang pria yang melongok dan mengulurkan tangga tali tambang sampai setinggi closet. Kaki Nita mulai memanjat tangga selebar 30 cm.


Meski sedikit susah, Kepalanya berhasil melongok ke luar jendela. Nita kebingungan, dan pria itu memberitahu agar tangannya berpegangan ke atas tali di dinding luar. Nita mengeluarkan seluruh tubuhnya ke sisi luar dinding. Dia mulai turun tangga dan pria lain langsung menariknya untuk berlari. Sementara pria yang pertama, menarik tali tambang agar tidak meninggalkan jejak.


Halaman belakang sepi, Nita cepat dimasukan ke mobil mini van. Setelah di dalam mini van, Nita menelpon Nathan dan Nathan menyuruhnya tetap tenang karena situasi masih aman. Tak kurang dari 5 menit, seseorang membuka pintu dan mendorong tubuh Rama yang tak sadarkan diri. Musa diserahkan anak buah Nathan ke Nita. Pintu yang telah dimodifikasi dikunci Nita dari dalam.


Nita merasakan mobil van itu mulai jalan. Dia tidak bisa melihat ke luar dan dia mengandalkan cahaya dari ponsel yang telah disediakan Nathan, sementara ponselnya sendiri telah dirampas. Nita langsung menyu*sui Musa agar tak menangis dan dia menekan kepala Musa agar tetap menyu*su. Terutama saat mobil berhenti. Dia yakin security gerbang belakang memeriksa ke dalam van.


Orang luar takkan curiga dengan isi van karena tertutupi aneka sayuran dan bahan masakan. Meski demikian Nita tak bisa bohong, bahwa dirinya takut. Mobil tampak mulai jalan. Nita menghela napas lega. Dia mematikan ponsel dan dalam kegelapan dan pengap, Nita meraba-raba kepala Musa yang terasa basah, lalu dielapi dengan tangannya.


...----------------...


Rama bangun saat merasakan goyangan yang membuat perutnya mual. Matanya terbuka dan tampak di atasnya ada wajah Nita yang tengah tersenyum. Seperti mimpi saja.


"Hallo, anda diculik, Pangeran tidur," ucap Nita dengan tatapan mengejek.


Rama tersenyum, itu pemandangan indah. Dia akan meraih wajah Nita, tetapi tangannya tak dapat digerakkan. Di melihat ke bawah, tangannya terikat pada rantai, begitu juga kakinya. "Nita, apa kamu bercanda?" Rama makin menyunggingkan senyuman. "Kau sedang menggodaku?"


Rama mengernyitkan kening saat wajah Nita menyingkir dari atasnya dan pandangan Rama terpaku pada aneka kayu di langi-langit ruangan. Tunggu, itu bukan seperti ruangan. Dia melihat sekitar dan merasakan sedikit goncangan dan suara motor diesel. "Gempa?"


"Gempa?" Nita mengulangi dengan tangan terlipat di depan dada, mengelilingi tempat penyimpanan ikan yang diatasnya untuk menyandera Rama. "Kau di kapal, Sayang?" goda Nita dengan nada tinggi dan penuh sindiran.


"Kapal?" Mata Rama berputar sambil berpikir. Hidungnya mengendus udara pada aroma sedikit amis dan bau asin, ya seperti air laut. Petir menggelegar dan mengejutkan Nita hingga Nita berjongkok dan langsung mendekat kepala ke kepala Rama. Namun , setelah Nita sadar dia lekas menjauh dari Rama dengan berusaha terlihat jahat.


Rama lalu tertawa terbahak-bahak. Lucu sekali Nita. Wanita itu terlihat galak lagi, tetapi saat ada petir ke dua lalu mata hazel berkedip cepat dan bahu mungil itu bergetar seolah takut.


"Diam, Rama. Aku di sini Rajanya," ketus Nita. Seharusnya dia belajar jadi aktris dari Sergey hingga dapat bersandiwara walau dalam keadaan takut.


"Kamu perempuan, Ratu. Bukan Raja. Kamu Ratu dan Aku Raja di tengah laut. Apa kau mencoba mencari tantangan? Atau ini kabur yang kamu maksudkan itu?" Rama tersenyum gemas pada Nita. Bila tangannya tidak dirantai pasti dia akan menggigit telinga Nita sampai wanita itu mengadu.


"Aku serius. Kamu sedang aku culik!"


Rama semakin tertawa. "Mana ada penculik secantik dan seimut kamu. Kalau begitu aku mau diculik kamu. TOLONG JANGAN LEPASKAN AKU SAMPAI TUA, SAYANG.*


"Hihhhh!" Nita melirik samping dengan jijik. Percuma ngomong sama Rama. Dia menghentakkan kaki sambil keluar dari ruangan penyimpanan ikan, dengan wajah semerah tomat. Malu bukan main. Suara tawa Rama makin membuat Nita kesal.


Sekepergian Nita, Rama berusaha duduk tetapi rantai itu memang pas sehingga dia tak bisa duduk dan hanya bisa terlentang. Tak lama berselang datanglah actor terkenal yang dulu bekerja dengan papah. "Wah, dimana kamera tersembunyi? Kalian sedang membuat film bergenre fantasi, atau romance? Bolehkah aku jadi superhero, judul apa ya yang cocok. Pembalap motor diculik bajak laut cantik. Wkwkwkk!"


Nathan menarik napas dalam. Bapaknya sin*ting, anaknya jauh lebih sin*ting. "Kau mau tahu judulnya? Nestapa Cinta Anak Sultan Andara NASA Hahahaha."


Rama berdecak. Sekali aktor ini bersuara, omongannya nusuk ke dalam sampai ke ulu hati. Tau aja cintanya penuh nestapa. Dih, aku belum cinta, tuh! Aku hanya penasaran, suka, ingin menjadi kekasihnya, ingin menjadi ..... s u a m i ?


Suami? CK CK CK. Rama geleng-geleng kepala pada lamunannya. Dia tertawa geli. Suami Nita. Suami Nita. Rama jadi Suami Nita. Nita jadi istri Rama.


"Kau sudah gila, rupanya? Kenapa ini orang ketawa sendiri," gerutu Nathan kesal sendiri. Dia keluar dari ruangan itu, pantas saja Nita kesal bukan main.

__ADS_1


bersambung ....



__ADS_2