
"Keponakanmu itu benar-benar tidak punya otak!" seru Axel dengan nafas tersengal pada si bungsu yang baru datang ke rumah Sergey.
"Memangnya ada apa," balas saudara perempuan Sergey yang berusia 47 tahun, sambil menaruh tas Prada di atas sofa. "Ayah, siapa yang tidak punya otak, Rama atau Andien?"
"Rama! Cucuku selingkuh dengan menantuku!"
Raisha yang memiliki mata besar, semakin membulat. Kakinya memutari sofa sambil berpikir pada kata 'selingkuh'. Dia memang sering mendengar curhatan dari Intania dua tahun lalu, tentang Rama yang playboy. Akan tetapi, keterlaluan bila Rama melakukannya pada istri sambung Kak Sergey. Itu sangat memalukan.
Raisha mengelus lengan ayahnya, karena melihat dada ayahnya yang naik-turun dengan napas tak terkendali dan wajah keriput yang telah merah padam. "Ayah, mungkin kita perlu tanya langsung pada yang bersangkutan, bagaimana bila itu tidak benar."
"Baca! Baca itu tes DNA Rama dan Musa!" Axel dengan suara menggelegar sambil menunjuk bola kertas yang teronggok di lantai. "Tak kusangka aku bisa memiliki cucu seperti binatang. Pasti itu menurun dari Intan!"
"Ayah, jangan menuduh Kak Intan terus .... "
"Jika Intan pandai mengurus Sergey dan anaknya, aku takkn sering mendapat malu! Untuk apa gunanya wanita cuma bisanya dandan dan foya-foya. Anak tak diurus malah sibuk dengan kaum sosialita. Apa yang dia dapat? Seperti itulah!" Axel seakan ingin menumpahkan timah panas dengan tatapannya pada bola kertas yang kini diambil Raisha.
"Kan, salah Kak Sergey sendiri. Dia yang nakal, kenapa Ayah, malah nuduh Kak Intan." Raisha dengan tidak terima, soalnya dia tahu sendiri bila iparnya itu minta cerai karena lelah dengan skandal yang terus dibuat Kak Sergey dengan para perempuan.
...----------------...
Trombosit dalam darah Musa terus meningkat, napsu makan telah kembali dan kondisi Musa dinyatakan telah membaik. Jadi, dokter mengijinkannya pulang hari ini, di hari ke 7 Musa dirawat. Sergey dan Nita menyambut dengan penuh suka cita. Mereka tak sabar keluar dari rumah sakit, karena Musa sudah mulai ingin berjalan dan bermain di lantai.
Sergey tengah duduk di ranjang pasien, tangan kekar itu mengayunkan sendok ke udara, ke atas-bawah disekitar Musa yang mata biru itu berbinar. Mulut mungil mengunyah sambil bersemangat ingin menggapai tangan Sergey. Sergey membuat gerakan ala pesawat terbang membuat anak kecil itu mulai cekikikan. Begitu mulut itu kosong, Musa tertantang untuk melahap apa yang diulurkan Sergey dan Musa tersenyum menang saat Sergey memasang raut wajah kalah.
Melihat Musa tertawa adalah suatu hal paling indah di dunia ini bagi Nita. Namun, senyum Nita langsung memudar pada saat Sergey menoleh ke arahnya. Ini artinya waktu dengan Sergey semakin dekat untuk mengikat janji suci. Mendadak perut Nita mual karena stress bukan main.
Bayangkan saja menikah tanpa ada perasaan, seperti apa rasanya? Takut dan ngeri, berada di dekat Sergey saja selalu membuatnya bergidik.
Ketampanan dan maskulinitas yang ada pada seorang lelaki bukan jaminan untuk dapat meluluhkan hati seorang perempuan. Seperti Nita, reaksi yang ada tubuhnya selalu menolak keberadaan Sergey. Padahal itu bukan kemauannya secara sadar.
Sergey lelaki yang sempurna menurutnya, tetapi tidak ada gereget, dia justru merasa seperti jalan dengan ayahnya. Lalu bagaimana aku bisa menjalankan kewajibanmu nanti?
Hari makin siang, Musa sedang bermain di atas ranjang, dengan Mbak Jum. Nita melirik Mbak Jum yang lima meter darinya, hingga takkan mampu mendengar bisikan Sergey di telinganya. Nita jadi tak bebas menjauhkan diri dari Sergey karena ada Mbak Jum. Sepertinya, Sergey mencuri kesempatan untuk duduk bersebelahan.
"Mas, dekorasi itu terlalu meriah, apalagi digunakan beberapa jam, itu pemborosan," lirih Nita. Nita menggelengkan kepala karena otak nakalnya justru menampilkan gambaran dia bersanding dengan Rama di sana.
"Ini penting untuk kita, Atha." Sergey kesulitan menyembunyikan kesenangan hingga dia tersenyum nakal. "Aku ingin melakukan yang terbaik." Sergey mengulurkan tangan kekar ke arah Nita yang memegangi tablet.
"Ah, aku ingin pipis, Mas." Nita menahan napas saat menjauh sebelum tangan Sergey menyentuhnya. Dia menjadi peka dan waspada pada setiap gerakan Sergey. Tablet ditaruhnya dan tampak kekecewaan di mata Sergey. Maaf, Mas aku perlu waktu.
Sergey menghempaskan punggung ke sofa dan matanya terpejam. Dia mencoba positif thinking. Tenang, Sergey. Nita tidak akan kemana-mana dan hanya kamu yang akan cocok berdiri di samping Nita.
...----------------...
Ketika Musa sembuh, Sergey membawa Nita pulang ke rumah Sergey, karena tidak mau membuat Axel dan Raisha curiga. Nita jadi capek sendiri pindah sana-pindah sini. Masalahnya, barang kesukaan Musa harus dibawa, kalau nggak anak itu rewel.
Bagi Nita ini pertemuan ke tiga dengan Axel, tetap saja tidak bisa memuaskan rasa penasarannya pada Axel yang terlihat dingin dan misterius. Sepanjang makan siang, Nita merasa tidak nyaman, karena merasa adik dari Sergey itu terus melirik ke arahnya dengan tatapan tidak suka.
Rama yang datang telat, langsung duduk di samping kanan Nita, seketika, Nita semakin mendapat tatapan tajam dari Axel dan Raisha yang duduk di depannya. Padahal, sikap Sergey tampak biasa saja.
"Kakek, besok aku yang antarkan kakek control, ya?" tanya Rama memecah keheningan sambil mengambil nasi, rebusan daun singkong, dan ayam bakar ke dalam piringnya.
"Tidak perlu. Kenapa kamu tidak kembali ke Australia? Restomu tidak kau awasi?"
"Kan ada manager, apa fungsinya menggaji mereka, kalau mereka tidak bekerja." Tanpa sengaja sikutnya bersentuhan dengan lengan Nita. Dia menoleh dan bersitatap dengan Nita yang juga terkejut.
Rama tersenyum jaim pada Nita, lalu kembali memegangi garpu di tangan kiri. Rama jadi salah tingkah, lalu memindahkan pisau ke tangan kanan. Senyuman menawan mengembang di bibir Rama saat mulai mengiris paha ayam.
Melihat sikap cucu dan menantu, membuat Axel nyaris naik pitam. Untung putrinya mengelus pinggang belakangnya, seolah menyuruhnya sabar. Jelas sekali, dia menduga mereka selingkuh dan sama-sama mau.
Nafsu makannya jadi hilang saat Axel menaruh sendok. Bibirnya terus berkedut. Dia dapat membaca ada api ga*irah dalam tatapan mereka. Hal itu yang dulu dilihatnya pada Tuan David dan Nona Lena saat awal-awal bertemu, jaim tapi ujung-ujungnya mau. Namun, cucunya benar-benar tak tahu malu.
"Kenapa tidak membuka di Senayan? Untuk kesibukanmu. Sudah waktunya kamu belajar dewasa. Juga mulailah mencari calon istri dan mengenalkannya kepada kami semua." Sergey menatap putranya dengan pandangan kasih sayang. Tak mau bila putranya terus keblinger dan main-main dengan perempuan.
__ADS_1
Mata Nita langsung redup bagai tak bercahaya. Bayangan dia bersanding dengan Rama di tengah dekorasi yang telah dipilih Sergey justru menghantui pikirannya. Nita menggelengkan kepala. Kenapa sih, pikiranku sulit di kontrol. Ya, benar, Ram, cepat cari istri! Aku tak mau terus dihantui olehmu!
Ho, wanita muda itu tidak terima dengan kalimat Kak Sergey. Pasti kamu mau memonopoli Rama untuk kamu sendiri! Rakus. Batin Raisha sambil melirik dengan jijik pada Nita.
"Cari wanita BAIK-BAIK. JANGAN YANG MURAHAN," sindir Kakek Axel sambil melirik tak berkedip ke Nita yang melirik ke arahnya.
Apa aku dianggap murahan? Baru ini ayah Sergey terang-terangan tidak menyukaiku. Jadi, ini sifat aslinya? padahal dulu, diam-diam misterius seperti tak peduli pada hubunganku dengan Sergey. Begitu ngomong, pedes banged. Apa jadinya jika aku jadi menantu Tuan Axel? Bisa-bisa terus jadi sasaran, bikin nggak semangat aja. (Nita)
Sergey melirik ke ayah yang nadanya tidak ramah. Apa hanya perasannya saja bila hari ini ayahnya sangat judes, terutama pada Nita. Sergey mengambilkan ayam bakar dan menaruhnya di piring Nita. "Kamu harus makan yang banyak, Mah."
Axel dan Raisha berpandangan karena melihat perubahan ekpresi Rama barusan yang seolah terkejut pada panggilan Sergey, walau berikutnya Rama menunduk, mereka menyadari Rama yang cemburu karena memotong ayam bakar dengan cara sadis.
"Mau kemana?" tanya Kakek Axel saat Rama menaruh garpu pisau dengan kasar dan berdiri, padahal baru makan 3 suap.
"Aku lupa nge-charge, padahal Budi nungguin aku." Rama berjalan cepat ke arah tangga. Dia merasa sakit saat papahnya memanggil 'Mamah' kepada Nita, walau mungkin itu cuma akting. Apa jadinya jika itu jadi beneran. Bikin geli.
...----------------...
Nita keluar dari rumah untuk membeli susu. Dia harus memakai masker dan topi selama di Mall. Bahkan dia mendapat lirikan curiga saat membayar di kasir karena menggunakan kartu kredit dengan nama Nita Athalia. Dari tatapan kasir itu, sepertinya si kasir tahu bahwa dia istri Sergey yang dicap selingkuh oleh media massa.
Begitu keluar dan memasukan barang belanjaan ke bagasi mobil, seseorang berhenti di depannya. Nita tidak mengerti lelaki itu siapa.
"Athalia ...."
Setelah mencerna selama beberapa detik, barulah Nita sadar akan suara bariton itu. Nita membeku saat lansia itu membuka masker dan semakin jelas aura mengerikan dari goresan di wajah itu. Bibir pria itu begitu tebal ungu membuat Nita kesulitan menyembunyikan rasa takutnya.
"Ikuti saya ...."
"Tidak mau."
"Kau mau lihat papamu?"
Nita melirik ke arah Mall saat mbak Jum yang menggendong Musa sedang menuju kemari. Mbak Jum tadi habis mengganti popok Musa karena bau pup. Nita mengerutkan kening dan menjadi antusias. "Papahku? Dimana Papa Devan?"
"Ikuti saya."Jefri dengan senyum mengerikan. "Bawa putramu."
Lagi-lagi, Rama terhalang akses. Mobil mereka memasuki gerbang, Rama menjalankan motor agak jauh, lalu menitipkan motor setelah meninggalkan uang 50 ribu di toko kelontong. Dia tak mau motornya dicuri lagi.
Seperti biasa, Rama mencoba menyusuri tembok samping. Begitu dia mengintip, seekor anjing menggonggong dengan suara yang membahana dan pasti sudah mencium baunya. Rama langsung turun lagi dengan kaki gemetar, sebelum Anjing itu melihat ke arahnya, lalu membuat para penjaga rumah besar itu curiga. Rama jadi cemas dan berpikir apa perlu memberi tahu papanya, tetapi nanti papa justru curiga karena dia mengikuti Nita.
Dia tidak bisa mengibuli anjing yang masih menggonggong. Rama cepat menjauh dari sana. Anjing tadi adalah anjing penjaga Rottweiler yang terkenal sebagai salah satu ras anjing paling galak di dunia. Siapa mereka, tempat ini misterius mana tadi Nita diikuti oleh dua mobil. Kenapa aku tidak menghafalkan plat nomer mereka!
.
Anak buah Axel melapor ke Kakek Axel bahwa Rama mengikuti Nita sedari Nita pergi, bahkan saat Nita dibawa orang yang mencurigakan.
Di tempat lain Axel melihat sebuah foto yang dijepret dari jauh, tetapi lalu di zoom. Axel tahu itu Jefri, pria yang dulu sempat berhubungan dengan iparnya David.
"Apa hubungannya Nita dengan Jefri. Apa dia berselingkuh dengan Jefri juga?" gumam Axel sambil memandangi ruang kerjanya.
Sungguh wanita yang mengerikan, mirip Shinta, semua didekati, menjijikan. Musa harus diambil dan dikirim terpisah dari orangtuanya, kan. (Axel)
...----------------...
Sore itu, mata Nita berseri-seri. Nita melangkahkan kaki ke dalam ruangan yang lebih dingin. Air mata mengalir di pipi dan membasahi jari mungil Musa yang menempel dipipinya. Dia melewati empat penjaga pria berbadan tinggi dan mendekati sang papa tanpa berkedip.
Jemarinya menyentuh ujung tangan papah yang terasa sedikit hangat, merasakan keriput dan otot yang menonjol, kurus seperti tidak ada daging.
"Papah .... "Nita berkedip sering dan dua sudut bibirnya membentuk senyuman.
Ini adalah hal yang paling disyukurinya, karena papa masih bertahan. Dia tak bisa membayangkan bila hidup tanpa papah yang adalah pijakannya, tujuan hidupnya yang adalah ingin membahagiakan papah. Kalau sudah begini, dia rela melakukan apa saja untuk mewujudkan impian papah, meraih perusahaan media yang dulu didirikan kakek. Dia rela berkorban walau bukan minatnya. Asalkan bisa melihat papa!
Musa didudukan di tepi ranjang. Bayi itu tampak kebingungan saat melihat pria tua yang sedang terbaring. Musa menepuk-nepuk perut yang ditutupi selimut. Anak kecil itu semakin bingung melihat mamanya mencium seluruh wajah pria tua yang terbaring tak bergerak.
__ADS_1
"Papah, aku membawa Musa ... dia anak Nita," bisik Nita di telinga pucat papanya. Tangan kirinya mengelus rambut tipis papa yang layu, kepala itu juga sedikit botak pada bagian atas. Sementara tangan Nita yang lain masih menahan punggung Musa. Anak itu tumben anteng.
Musa memegangi tangan kanan keriput, yang terdapat jepitan oksigen yang dikira mainan, tapi jari-jarinya dijepit tangan itu. Membuat Musa semakin tertarik menggangu tangan keriput itu.
Hal itu diketahui Jefri yang langsung mengerutkan kening karena gerakan jari Devan. Benar ide dari dokter, membawa orang terdekat akan cepat memulihkan kondisi Devan. Apa itu berkat anak kecil itu?
"Panggil dokter .... " titah Jefri dengan wajah menyeramkan dan penjaga langsung keluar dan mulai berlari begitu di luar ruangan.
"Sampai kapan Papah mau seperti ini? Nita lelah. Nita tidak mau menikah, apalagi dengan teman Papah. Nita takut, Pah," bisik Nita di telinga Papah dengan dagu gemetar.
"Nita takuuut, Papah bangunnn. Tolong Nita, Pah, dan bilang ke teman Papah untuk membatalkannya." Tenggorokan Nita terasa panas dan dia meneguk air liur yang sama sekali tak membasahi tenggorokannya yang kering.
.
Nathan yang berada di rumah Jefri, lekas mencari keberadaan Nita yang tadi dilihatnya. Dia melewati anjing penjaga yang galak, yangmana telinga anjing itu berdiri tegak seolah menggambarkan kewaspadaan yang tinggi. Nathan berusaha tidak takut agar anjing itu tidak curiga tetapi jelas anjing itu jelas sedang mempelajarinya dari kejauhan dengan menampakkan taring sepanjang 3 sentian, yang mungkin siap sewaktu-waktu mencaplok pahanya.
Dengan berusaha santai, Nathan menuju kamar yang barusan dimasuki dokter. Dia melewati pintu dan Jefri langsung menatap kearahnya. Nathan berdiri di sini karena Devan pernah merawatnya dan dia pikir Jefri takkan mencurigai niat tersembunyi itu.
Nita tak berkedip memandang papanya yang baru siuman, ponselnya bergetar di dalam tas selempang, tetapi dia abaikan. Nita terus berdoa di dalam hati sambil mengecupi pucuk kepala Musa. Putranya tampak sudah mengantuk. Hatinya terasa begitu bergetar akan keajaiban barusan saat papanya membuka mata.
Nita mendekati dokter yang tengah mengundangnya dan papah melihat sekitar seperti orang yang baru bangun tidur. "Papah," kata Nita tetapi tidak ada suara yang keluar dari bibirnya. Digenggamnya tangan papah yang menekuk, diremasnya.
Dokter perempuan itu menunjuk ke arah Nita. "Apakah anda bisa mengenalinya?"
Hati Nita bergetar hebat. Alisnya mengkerut dengan cemas. Seakan di dalam dirinya ada bola energi meledak saat mata papa melebar, lalu kelopak mata itu bergetar. "Papa Devan."
"Atha."
Nita meringis sambil mengangguk-anggukan kepala dan mata emas yang berbinar. Ini adalah hari paling cerah dalam hidupnya saat melihat Papa berhasil melewati masa kritis dan siuman setelah 3 tahun lamanya.
Perlahan Nita berlutut dengan masih menggendong Musa yang mendusel ke dadanya. Sesekali Musa melihat ke arah Papa Devan dengan kepala bersandar pada dada Nita. "Papa ingat Atha?"
"Putriku," suara Devan bergetar, senyuman mengembang penuh. Tangan keriput dengan gemetar menjepit pipi sang putri, lalu menekan dengan jempol dan mencubit dengan gemas.
Ingin sekali Devan berlama-lama memandangi sang putri kesayangan, setelah mimpi panjangnya yang melelahkan. Matanya langsung melebar saat mendapat tatapan unyu dari seorang anak laki-laki yang setengah mengantuk. "Nita, siapa bayi ini?"
Nita menoleh ke kanan pada Jefri yang menatapnya. Namun, yang mengejutkan ada Nathan. Kenapa Nathan di sini dan seolah hubungan Nathan dan Jefri baik-baik saja. Ataukah Nathan mencoba menipunya. Nita beralih dari Nathan ke papa. Papa yang kini juga menatap Nathan dan mata itu berkedut saat melihat Jefri.
"Devan, akhirnya .... setelah kau membiarkan kami menunggu begitu lama." Jefri dengan suara penuh penekanan, tampaknya itu emosi terpendam dan kini meledak. Pria berpawakan tubuh Asia itu mendekat dengan langkah yang menggambarkan aura mendominasi.
Pupil Jefri membesar. Dia mendapati tatapan penuh kebencian dari mata Devan yang baru siuman. "Lihat putrimu. Wah, dia membawakan hadiah luar biasa berupa cucu! Apa kau ingin membuatku menunggu lagi, Devan?"
Ceklek.
"Cucu ... cucu siapa," gumam Devan sambil menyipitkan mata dengan gelisah. Mata Devan melotot karena Jefri mengeluarkan senjata api dengan cepat, mengokang dan mengarahkan ke arah leher Devan, bahkan menggunakan tangan kiri.
"Jangan, Om ... "
"Apa aku terlihat seperti OM-OM? Si*Al" Jefri menggeser moncong ke kiri hingga mengarah ke punggung Musa.
Nita, Devan dan Nathan, mereka semua langsung berwajah pucat pasi.
"Katakan dimana Stefanie Ailiy. Devan breng*sek! Kau harus membayar semua yang telah kukeluarkan bertahun-tahun untukmu! Bilang cepat dimana Stef!" Suara Jefri menggelegar hingga membuat semua orang disitu merinding, kecuali Devan dan Nathan yang tak gentar.
Bau Pesing menguar, Jefri melirik ke samping dan melihat dokter yang makin tertunduk ke arah celana yang tercetak lebih gelap.
"Bedebah kecil, berani sekali kau mengompol di depanku? Keluar ...." kata Jefri selalu dengan penekanan dan dokter itu langsung berlari.
Suara letusan senjata api menggema dan bunyi gedebuk berasal dari tempat Nathan berdiri. Nita menggigit pipi bagian dalam dan langsung tak bertenaga.
Cairan merah hati, kental, menyebar dilantai putih dan mengelilingi rambut wanita yang terkapar itu. Nita mendelik dan seluruh tubuhnya sudah dipenuhi keringat dingin. Perutnya begitu mual. Telinga yang tadi berdenging, kini tuli.
Nita melihat Musa yang terkejut dan menganga rewel, tetapi telinganya tak dapat mendengar suara apapun. Matanya menangkap Kak Nathan yang berlari ke arahnya dan pada saat yang sama moncong senjata api juga diarahkan oleh Jefri hingga terus mengikuti tubuh Nathan.
__ADS_1
Devan yang lemah berusaha bangkit, tetapi punggungnya sulit digerakkan, bahkan tak bergerak sedikitpun. Dia mendengar tangisan histeris anak kecil, tetapi Nita putrinya tampak begitu shock dan tangan itu tampak tak bertenaga dalam memegang anak laki-laki yang tengah meraung-raung. Pandangan putrinya kosong.
bersambung ....