
Dari siang, Nita berada di tempat Lana. Dia memeluk Musa yang masih tidur. Sesekali dibelainya kening sang putra yang terdapat bulir-bulir keringat, padahal sudah pakai AC. Lama-lama matanya sangat berat dan mulai tertutup.
Di depan resto, Lana yang baru pulang, melihat mobil Nita, lalu lekas naik ke atas. Sahabatnya itu kok nggak ngabari mau datang. Kalau ngabarin, kan, dia bisa pulang lebih awal.
Baru saja Lana melewati kasir, lalu terdengar suara motor Ducatti berhenti di depan resto. Suara motor mahal itu mampu mengalihkan perhatian para pengunjung. Para pembeli itu lalu tampak terkesima begitu melihat Rama turun dari motor. Beberapa gadis mulai memfoto diam-diam, dan tergila-gila saat Rama membuka helm dengan penuh pancaran yang memikat mata dan hati.
Rama cipika-cipiki dengan Lana, dan itu pun ada yang masih mengambil gambar. Lana yang sadar segera menarik tangan Rama ke lantai dua di ruang pertemuan. Dia tak mau Nita mendengarnya.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Lana dengan tidak tenang. Tadi Rama menelpon Lana untuk melakukan pertemuan, tetapi Lana tak mengira bahwa Nita juga datang ke tempatnya.
"Kamu bisa membantuku menggagalkan pernikahan Nita dan papahku?"
"Pernikahan maksudmu apa? Mereka telah menikah kontrak." Lana terdiam pada wajah serius Rama. Pria itu menjelaskan pelan-pelan berita yang langsung mengejutkannya.
Berusaha tenang, Lana lalu menyimak rencana Rama untuk menggagalkan pernikahan Nita. Tentu saja, Lana langsung setuju karena dia yakin Nita tidak nyaman ketika bersama Sergey. Perbincangan mereka berakhir ketika Rama mendapat telepon dari Sergey yang menyuruh Rama pulang.
"Kau tidak bertemu dengan Nita dulu?" Lana yang merasa sedikit iba pada perjuangan Rama yang masih memperhatikan kebahagiaan Nita.
"Tidak usah. Dia pasti tidak mau bertemu denganku. Tolong jaga dia." Rama mengecup pipi Lana yang sudah dianggap satu kubunya.
"Hati-hati." Lana mengelap pipinya. Jijik juga cipika-cipiki dengan laki-laki, walau yang dimaksud itu hubungan dengan dalam arti 'persahabatan/persaudaraan' "Sungguh aneh, sejak kapan aku dan Rama dekat. Kalau bukan karena Nita, males lah kenal-kenal anak motor."
Handle pintu ditekan, Lana mendorong pintu dan masuk ke dalam kamar. Pintu ditutup lagi, Lana langsung membersihkan diri. Begitu keluar, dia mendengar suara yang ternyata igauan Nita.
"Jangan tinggalin Atha, Mah. Lalu Atha sama siapa?" Suara igauan Nita yang masih terpejam. Lana duduk di samping Nita, dengan rambut masih berselimut handuk.
Wajah Nita begitu terlihat merah padam, dan otot-otot hijau menonjol di kening yang telah berkeringat. Tampak bulir air mata terus mengalir ke pelipis yang kini berkerut karena tampak penuh amarah dan kesedihan. Lana mengelus rambut Nita, dan mendengarkan tangisan Nita yang begitu menggigit hati Lana, di relung jiwa yang terdalam.
"Kumohon, Mah, Atha tak sanggup sendirian .... Bilang Papah, kenapa Papah tak menemani Atha? Mengapa Atha harus menghadapi semua ini sendirian ...."
Air mata Lana mendesak keluar dari sudut mata dan jatuh, menggelitik pipinya. Dia tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa menemani Nita menangis. Setidaknya, Nita tidak menangis sendirian dan dia juga membiarkan Nita menangis pilu di dalam mimpi.
Dia berharap Nita melepas semua emosi yang menyesakkan yang disembunyikan Nita sendiri, di alam mimpi. Karena di dunia nyata, dia tak tahu apa Nita bisa menangis dengan lepas, seperti itu atau tidak. Namun, tangisan Nita yang menyayat hati itu membuat Lana lama-lama tidak kuat juga.
"Semoga kamu kuat, Nit. Semoga Tuhan memberikanmu jalan yang mudah dan kekuatan mental yang banyak. Aku takut kamu banyak pikiran sendiri, lalu tidak kuat.
Sulit kah hanya untuk berbagi masalahmu denganku. Aku memang belum tentu bisa memberiku solusi, tetapi aku bisa mendengarkanmu dan berharap itu sedikit melegakan hatimu," ujar Lana dengan hati begitu sakit. Jika Nita sakit, dia jauh lebih sakit.
Nita terbangun dengan perasaan beban yang seakan baru lepas semuanya dari dalam dada. "Mamah Clara Athalia," lirih Nita sambil membuka mata. Dia melihat ke sekitar dan tidak ada Musa. Namun, dia melihat tas Lana yang di atas meja, artinya Lana sudah pulang.
"Ya ampun jam 7 malam." Nita langsung duduk, dia memegangi dadanya, seolah memiliki kekuatan baru. Bibirnya tertekuk dan Nita mulai mewek. Karena Mendiang Mamanya selalu mendatangi mimpinya disaat ujian-ujian terberat dalam hidupnya.
"Ternyata ini juga dikatakan ujian berat, Ya Mah?" tanya Nita seolah sang mamah di depannya. "Ya, berat. Apa Nita harus menikah? Seperti apa rasanya menikah, Mah?" Nita menatap jari-jari yang saling meremas di pangkuan. Tangannya berkeringat. "Aku kangen, Mamah. Peluk aku, Mah. Sebentarrrr saja. Kenapa tak pernah memelukku di alam mimpi? Jahat ...."
Nita mengatur nafas, terpejam sesaat dan menegakkan badan. "Nita Athalia kuat. Anak Mamah Clara Athalia ... kuat. Anak Papa Devano Wijaya ... kuat. Kamu harus kuat, Nita Athalia! Mamanya Musa Devano Wijaya ... harus bisa memerangi dunia."
Nita langsung berdiri setelah bermonolog dengan dirinya sendiri. Dia tidak tahu lagi harus berbicara dengan siapa, selain kepada dirinya sendiri. Dia malu bila seseorang mengetahui masalahnya.
Setelah mandi secepat kilat tidak lebih dari lima menit. Nita bergegas keluar dari kamar. Jangan sampai keputusasaan menenggelamkan jiwa dan membuatnya terlunta-lunta. Dia akan membakar semangat dirinya sendiri. Apalagi mendiang mamah sudah mendatanginya. Jika mama sudah datang ke mimpinya, seakan mamah bilang 'Nita kuat dan bisa melewatinya.' Seperti yang sudah-sudah.
Di tempat kafe Lana, ada area permainan, ternyata Musa sudah mandi dan pipinya penuh dengan bedak, itu pasti ulah sahabatnya. Nita mencium pipi Musa dan menemani putranya main, dia tak enak, pegawai Lana jadi nungguin putranya. Dia tak membawa Mba Jum karena sedang butuh ketenangan.
Nita menunggu kasir sambil memangku Musa, tampak Lana wira-wiri sibuk membantu pegawai. Ini malam minggu, pasti ramai. Sambil menunggu kasir, Nita juga menyuapi Musa dengan bubur.
"Uh, lihat Tantemu udah beliin bubur segala. Tante Lana baik banged, sih," celoteh Nita sambil tersenyum pada putranya.
"Papa Ama, ulung aka uaaa." Musa mendorong sendok dari mulutnya agar menjauh. "Papa Amaa, papa Ama...."
__ADS_1
Nita tersenyum mencoba mencerna bahas Musa yang artinya. 'Papa Rama, Bulung Kaka tua.'
"Kakak Rama sedang pergi. Musa main sama Tante Lana .... "
"Papa Ammma." Musa meringis dengan gemas, menunjukkan gigi-gigi mungilnya yang belum penuh dengan mata membesar. "Papah Ama ..."
Nita menghela napas panjang, jengkel kenapa harus Rama yang harus dicariin terus. Padahal dia baru bisa melupakan .... Ah menyebut namanya saja dia tak mau. Nita ingin menyingkirkan pemuda itu jauh-jauh dari hidupnya, dari pikirannya. Agar dia tetap fokus pada tujuan keluarganya. 'Perusahaan milik Kakek' dan 'Berkumpul dengan Papa Devano'.
Petugas kasir datang dan Nita ijin ke atas. Dia membiarkan Musa main di ruang keluarga di lantai dua. Area ini tertutup dan dikelilingi kaca, maka dirasa aman untuk anak kecil.
Nita akan menelpon kak Nathan, tetapi panggilan Sergey keburu masuk.
"Halo, Mas, malam." Nita dengan gugup. Dia duduk di samping Musa.
"Malam .... Nita, boleh mas video call?"
"Mas, maaf, ada Lana, nggak enak kalau kita video call." Nita memejamkan mata. Mengapa dirinya harus berbohong. Walaupun, dia tak mau video call dengan Sergey, seharusnya dia tak sampai membohongi Sergey.
"Mas ingin melihat temanmu." Sergey yang berada di kamarnya sendiri, tak bisa diam, mondar-mandir di depan walking closet. Dia gelisah dan tidak tenang, kalau belum melihat wajah Nita. Apalagi suara ini, suara sedih lagi. Apa yang harus dia lakukan untu bisa membahagiakan Nita, begitulah pikir Sergey kian kebingungan.
"Lain kali aja, ya, Mas? Nggak apa-apa, kan?"
"Kalau begitu aku mau lihat Musa?" Sergey mengalihkan panggilan ke video, tetapi Nita tak kunjung menerima. "Kenapa tidak di terima?"
"Mas, Nita .... Nita sedang, tanganku sedang kotor." Nita gagap, bisa menjalani hari ini saja, dia bersyukur. Nita bertekad untuk mengenali dirinya sendiri, dan sedang tidak mau sedih, apalagi pada semua hal yang dipaksakan. "Ini, ponselnya, Nita jepit pakai telinga dan bahu."
"Hahaha begitu, ya?" Sergey jadi tak enak hati. "Kamu dan Musa sudah makan?"
"Musa ini, sedang makan, makanya aku bilang belepotan." Nita menyuapinya sendokan bubur terakhir. Tangannya tidak belepotan, hanya untuk alasan pada Sergey. Nita mengelap mulut Musa dengan tisu basah.
"Ah, Musa juga kangen, Mas." Nita ingin sekali menyudahi panggilan telepon.
"Apa aku ke tempat Lana sekarang? Aku juga kangen kamu," suara Sergey berat dan mengebu-gebu.
Nita bergidik. Mohon maaf, dia merasa tak nyaman pada pembicaraan itu. Tolong akhiri panggilan ini, Mas. Wanita yang kebingungan itu hanya bisa menguwes-nguwes tisu basah bekas, dengan tidak sabar.
"Mas, tadi aku dan Lana mau janjian nonton drakor. Apa aku harus menundanya? " Nita dengan jurus andalan terakhir. Jika sampai Sergey bilang ....
"Bisakah kali ini kamu membatalkannya?" Sergey menegaskan dengan suara penuh harap.
Ponsel dalam pegangan Nita terjatuh. Dunia seperti kiamat. Mengapa dia takut bertemu Sergey, ya, dia sangat tidak ingin bertemu.
Sergey itu tampan, jauh lebih tampan dan penuh pesona dari Rama. Sama sekali tidak ada kerutan di wajah. Orang mengira pasti Sergey masih 30an, sangat stylish. Akan tetapi, Nita membenci aura mendominasi yang selalu membuatnya tak bisa menolak.
Nita gelagapan meraih ponsel dan mematikan panggilan, mematikan ponselnya. Dia akan beralasan baterainya habis. Ya, begitu. Wanita itu buru-buru menggendong Musa, lalu masuk ke kamar Lana dan men-charge baterai yang masih 73 persen.
Mendadak Nita muak pada dirinya sendiri. Membenarkan kata Rama, bahwa dia pembohong. Tetapi dia hanya ingin dunia tahu bahwa dia tidak ingin menikah.
Apalagi menikah dengan teman Papahnya.
Dia sendiri muak dengan dunia hiburan, itu bukan minatnya. Akan tetapi, keadaan, apapun yang digaungkan papah sudah seperti menjadi impiannya.
Ya, impian papah adalah impiannya.
Impian keluarganya adalah impiannya.
Mengapa dia harus menikah dengan dengan orang yang berkecimpung dengan dunia yang sama dengan papah, yang dia benci. Dia benci kamera. Kamera yang membuat mamahnya kehilangan nyawa.
__ADS_1
Nita mendudukan Musa di lantai dan wajahnya terbenam di kasur. Dia menjerit sekeras-kerasnya dengan ditutupi bantal dari atasnya.
Tolong siapapun jawab, apa aku sudah gila! Tolong siapapun aku harus apa! Tolong, siapapun jawab aku harus minta tolong pada siapa! Paman Pedro, mengapa kau tak mengatakan apapun pada Nita!
Musa meraih tas perempuan di lantai, dia mengeluarkan semua isi tas satu persatu. Musa senang seperti dapat mainan yang bagus. Sampai dia mendapat mainan yang sering dipegang mamanya.
Dengan gemas, Musa menusuk-nusuk mainan itu dengan telunjuk dan sesekali dengan semua jarinya. Sesuatu menyala dan Musa makin tertawa lucu. Ya, dia begitu terhibur. Semakin ditekan, semakin warna-warni biru menarik mata.
Musa memekik dan tertawa senang, dia menepuk-nepuk telapak tangan saat melihat wajah pria dewasa yang biasanya menyanyikan lagu kesukaannya.
"Musa? Eh Musa? Lana?" Rama di kamarnya sendiri kebingungan, tetapi dia langsung senang bisa melihat Musa apalagi melihat tawa lucu itu. Rama bernyanyi karena tatapan anak kecil itu yang seolah memintanya bernyanyi.
"Oke, 'Ama bernyanyi, tetapi mana Tante Lana?" Rama mulai bernyanyi dalam posisi masih bingung karena mengira Lana sedang mengerjainya.
"lMusa terkikik dan bertepuk tangan. Anak kecil itu berdiri dan memegang mainan barunya yang ada gambar pria dewasa. Kaki kecilnya berlari, Musa membawa benda yang dianggap sebagai mainan, ke mamanya.
Rama mengerutkan kening, kenapa video panggilannya, gambarnya tak jelas. Apa Musa yang memencet panggilan? pikirnya.
Nita baru sadar pada suara tawa Musa, dia menyingkirkan bantal dari kepala, dan merasakan pelukan Musa dari arah belakang. Bukan itu, dia merasakan benda keras. Nita berbalik dan pada saat yang sama mendengar suara Rama. Nita pikir berhalusinasi. "Loh, ponsel tante ini, kamu apakan, Nak?"
Pandangan Nita beralih ke tas Lana. "Loh, Tante, lupa naruh tas di bawah. Kok, kamu berantakin?" Nita dengan gemas mencium bibir mungil itu.
"Papah 'Ama .... maaa-mamah." Musa tertawa dengan gigi mungil dan berjingkat-jingkat kegirangan. Berusaha memberitahu sang mamah.
"Papah Rama?" Nita menaruh ponsel Lana dan tampaklah wajah Rama. Nita mencoba mencerna, suara Rama tadi? Dia langsung menarik ponsel itu dan melihat layar ponsel Lana. Panggilan Video terhubung 2 menit 30 detik.
"Kamu menangis lagi?" Rama menatap mata merah didepannya, pipi Nita terlihat jejak air mata.
"Tidak ada yang seperti itu. Aku matikan, ini Musa pencet-pencet. Aku minta maaf untuk kenakalan Musa."
Suara Musa yang kegirangan dan berusaha merebut ponsel dari mamanya. Musa terus memanggil Rama, dengan senyuman seperti saat Musa mendapatkan mainan yang disukainya.
"Jangan dimatikan. Jangan egois, kau tidak lihat dia tertawa, jangan membuatnya sedih."
"Dia putraku bukan putramu, aku tak mau berdebat denganmu lagi."
"Ya sudah, nggak usah berdebat. Aku juga tak mau seperti itu. Bicara baik-baik, bisa? Oke, aku mengalah, dan semua yang kamu inginkan, akan kuturuti."
Nita terdiam, mencerna kata-kata Rama. Perasaan tadi malam pria itu marah luar biasa. "Apa benar kata-katamu?" tanya Nita disela celotehan putranya yang memajukan bibir dan merebut layar ponsel.
Ya, putranya mengecup layar ponsel. Seketika terdengar suara Rama yang tertawa terpingkal-pingkal. Putranya justru ikut cekikikan.
Tiba-tiba perasaan buruk di dalam hati Nita, seakan sirna entah kemana. Padahal ini belum lewat sepuluh menit dari dirinya yang tadi seperti dikubur hidup-hidup dalam kegelapan. Aneh, suara tawa Rama dan putranya membuat atmosfer di sekitar sini menjadi terang.
Apa kamu sebuah lentera, yang menerangiku dalam kegelapan, Rama? Nita tersenyum karena beberapa kali Musa mengulang kecupan karena tawa Rama.
...----------------...
Sergey yang berniat akan menyusul Nita karena khawatir bila ada apa-apa dengan Nita. Kenapa panggilan mati tiba-tiba dan nomer itu tidak bisa dihubungi. Pasalnya, tidak biasanya seperti itu.
Ketika Sergey lewat pintu kamar Rama, dia mundur beberapa langkah dan menilik ke celah pintu. Apa putranya ketawa sendirian. Ataukah putranya langsung menjadi gila, setelah tadi siang, dia memarahi Rama karena mengkhianatinya.
Dengan perlahan dan penasaran yang luar biasa, Sergey menajamkan pendengaran dan melangkahkan kaki dengan pelan tanpa suara. Dia melihat punggung Rama, Rama duduk membungkuk. Aduh, jangan-jangan beneran gila
...----------------...
__ADS_1