
"Bahkan begini kamu masih membayangiku?" Rama melihat bayangan Nita di kamarnya. Dia mengelus wajah Nita dengan jari-jarinya yang panjang dan mengendus leher Nita yang bau vanila.
Nita membuka mata dan mendapati bibir pria itu di bibirnya. Tatapan biru begitu gelap seolah penuh hasrat. Otak Nita mati, dia mencoba mengenali situasi dan mengumpulkan nyawanya. Informasi mulai terkumpul dan otaknya mulai berkerja saat pria itu menggigit bibirnya. Seketika Nita tersadar dan berteriak. "Rama apa yang-!"
Tangan Nita tertindih, bibirnya terblokir bibir Rama. Dia bergidik dan mual karena kelelakian pria itu menekannya. Sekelebat bayangan ingatan buruk malam itu muncul dalam benaknya. Nita menjerit histeris dan menggerakkan kakinya untuk dapat menyingkirkan paha Rama.
Sergey menemukan kamarnya dalam kondisi terbuka. Dia bergegas berlari, dengan kepala pelayan dan Patric, saat mendapati jeritan memilukan dari dalam kamar. Tanpa pikir panjang, Sergey menarik kemeja lengan pendek di bagian punggung putranya hingga Rama terjengkang ke lantai.
Tinjuan tangan mungil mendarat keras di dada dan wajah Sergey yang akan menenangkan Nita. "Tenang, Nita! Ini aku Sergey." Sergey mencekal kedua tangan Nita sambil memeluknya. Sebenarnya dia enggan sampai seperti ini, tetapi ini situasinya berbeda. "Bawa Rama ke kamar!"
Patrick dan Pak Abie segera membawa Rama yang mabuk, tetapi Rama terus memberontak dengan tenaga kuat. Sampai di kamar yang berselisih satu kamar itu, Patrick kembali terkena bogeman panas di wajah karena Rama. Bukan pertama kali ini putra bosnya berulah, bahkan sejak di SMA, Rama sudah sangat nakal.
Setelah menunggu istrinya tenang, Sergey mengambil segelas air hangat putih dari nampan pelayan perempuan. Tampak Nita menghabiskan minuman itu setelah meminum obat kecemasannya. Nita menjaga jarak dari Sergey. Dia jijik pada semua sentuh4n pria. Dia makin ketakutan setelah pelayan wanita pergi, bantal di raihnya hingga menutupi wajah.
"Pergi!" teriak Nita meninggi. "Kenapa Mas biarkan Rama masuk. Pergi! Aku tidak mau melihat Rama atau Mas lagi! Aku akan pulang ke rumahku sendiri!"
Sergey meringis dan wajahnya terasa panas menahan amarah, tetapi dia tak boleh egois sekarang. "Aku tadi lupa mengunci pintu." Sergey kini berjalan ke arah pintu, lalu menguncinya dari dalam. "Kita bicarakan besok. Aku juga perlu tidur, istri ku." Sergey berjalan ke kamar utama setelah membuat kamar Nita redup kembali.
Nita berjalan ke kamar mandi dengan perasaan dirinya sangat kotor. Kran air di ruang bilas dinyalakan dia menangis tersedu-sedu di bawah guyuran air shower yang sedikit kepanasan.
__ADS_1
Papanya ditemukan penuh luka setelah menghilang tiga hari, dan tak siuman selama setahun. Perusahaan papah terancam hingga dia harus pura-pura menikahi Sergey tanpa sepengetahuan papahnya yang belum siuman. Sebulan lalu pria tidak tahu diri merampas kesuciannya hingga Sergey pun makin memarahinya. Sekarang putra Sergey masuk ke kamarnya dan melakukan hal tak senonoh.
Nita duduk meringkuk dan memeluk lututnya, sambil terus bertanya-tanya mengapa kemalangan terus menimpanya. Mengapa! Bagaimana aku harus membesarkan anak ini tanpa pendamping keluarga. Bagaimana jika Sergey sewaktu-waktu meninggalkanku sebelum kontrak ini berakhir!
Sergey gelisah dan tak bisa diam. 15 menit dia masih bolak-balik di kamarnya, lalu keluar dari kamar utama dan mendapati Nita tidak di atas tempat tidur. Dia berjalan ke pintu keluar, tetapi mendengar suara shower. Dengan langkah perlahan, Sergey fokus pada Indra pendengarannya. Dengan ragu dia mengintip, alangkah terkejutnya Nita sudah terbaring dengan badan tersemprot guyuran shower air panas. "Nita hihh!"
Jantungnya berdebar dan tangannya memalingkan kepala Nita yang terkulai setelah mematikan shower. Dia bergegas menggendong Nita dan membaringkan badan basah itu dan memangil semua jajaran daruratnya lewat tombol darurat di dekat saklar lampu tidur.
Sebuah handuk dipakai untuk mengelapi wajah, tangan Nita yang memerah, pasti karena air panas. Tempat tidur pun basah akibat baju tidur Nita. Kakinya melangkah cepat menuju pintu. Kunci diputar, lalu dia berteriak dengan tak sabar.
"Ganti pakaian nyonya dalam 3 menit," katanya pada 8 pelayang wanita yang sudah dilatih secara profesional (mengganti dengan tetap menutupi area tubuh yang bersifat sangat pribadi).
"Dimana dokter?" Sergey mengikat tali jubah tidurnya sambil menatap Patrick yang sedang menghubungi orangnya. Mereka berdiri di depan pintu kamar. Lima menit dokter yang tinggal di rumah yang berbeda itu pun datang dengan peralatannya.
Sampai jam 10 pagi, Nita masih belum terbangun. Sergey yang sudah mandi dan mendapat laporan Rama bangun, langsung bergegas ke ruang kerja di rumahnya. Menunggu Rama sambil memikirkan hukuman tepat untu putra kesayangannya.
"Pah ... Boleh Rama masuk sekarang?" Rama mengetuk pintu beberapa kali, sampai terdengar suara sangat dingin papanya. Dia mendorong pintu dan sedikit mengintip. Tak tahu apa kesalahannya, tetapi dari raut wajah papa yang merah padam dan tatapan maut, Rama mencium ada yang tidak beres.
"Papah, tumben pagi-pagi aku harus menghadap?" Rama tertawa kikuk seiring dengan langkah kakinya yang berat. Bagaimana tidak, semakin dia mendekat, papahnya makin berkedip dengan tidak sabar. Tangan bertato gambar sayap di pergelangan tangan kanan itu tampak urat-urat menonjol saat kepalan papah makin terkepal di atas meja. Dia langsung duduk dengan cepat karena helaan napas tidak sabar Papa.
__ADS_1
"Kau ingat dengan kesalahan yang kau perbuat?" gumam Sergey dengan meredam energinya yang telah terkumpul banyak di dada dan siap meledak. Sang putra menyipitkan mata lalu menggelengkan kepala bingung, lalu tertawa dengan tanpa rasa bersalah.
"Memang kapan Rama pernah melakukan kesalahan?" Alis Rama terangkat satu sangat tinggi. Jantungnya. kian berdegup lebih kencang karena penasaran.
"Kapan? Kau tidak ingat karena puluhan kali kau selalu membuat masalah dengan mabuk-mabukan mu itu?"
"Papa itu sudah biasa. Papa sendiri juga seperti itu jika sedang pusing. Begitupun Rama-" Mata Rama berkedut pada ukiran kaca bening berbentuk buah dada wanita itu melayang ke udara dalam kecepatan tinggi dan mendarat di kayu jati. Mata Rama terpejam ngeri pada bunyi pecahan kaca.
"Kamu bahkan mabuk di malam pertamamu tiba di Starlight! Kau tak sadar wajahmu itu sampai dikencingi security!"
" Apa berani sekali!" Rama berdiri dengan murka. "Security mana, Pah! Dia harus dihajar mengotori wajah tampan ini!" Rama mengebu-gebu dengan meninju meja papah.
"Duduk, kau yang tidak tahu tempat, tak sadarkan diri di tempat gelap. Bukan itu saja. Sebulan lalu kau juga ditemukan ditepi selokan dengan celana tak diresleting! Sungguh memalukan. Kau bahkan pernah, kepalamu terjungkal di selokan berair di depan Starlight. Kau sangat memalukan. Kenapa tidak sekalian seperti itu dikuburan. Sepertinya itu terdengar lebih bagus."
"Papah, apa papah mendoakan aku mati!"
Gebrakan keras dari papa menggetarkan permukaan meja hingga membuat Rama duduk kembali. Dia bergidik pada tangan papa yang kembali terkepal, mata papa yang mendelik adalah suatu pertanda dia mungkin melakukan kesalahan.
"Kau melakukan hal tak senonoh pada istri papah. Pulang kamu ke Australia sebelum Papa memberi hukuman padamu yang lebih berat."
__ADS_1
"Tidak Papah! Aku tidak melakukan apa-apa. Pasti Jal4ng itu-" Rama membeku, wajahnya kian memucat saat papahnya berdiri dengan tangan membetot interkom hingga kabel itu tercabut dan interkom melayang lalu hancur tak berbentuk.
"Memang apa yang aku lakukan? Tidak ada saksi." Rama bersikeras pada pendiriannya. Dia mengerutkan kening begitu dalam karena dia yakin takkan segila itu, bahkan tak pernah terpikirkan.