
Sergey duduk bersandar di kepala tempat tidur dan dua tangan digunakan untuk bantalan. Mata biru memandangi langit-langit kamar yang bergaya timur dengan mozambik berwarna biru putih. Pikirannya melayang jauh karena curhatan Intania, dia sudah terbiasa mendengar Rama bergonta-ganti pacar. Namun, mendengar Rama patah hati, rasanya itu sesuatu yang sangat tidak mungkin.
Memang si, anakku juga manusia, tapi gimana bisa putraku tak canggih begitu. Kok, masih lebih berpengalaman aku. Hahaha ... Aku saja tak pernah patah hati meski Intania meninggalkanku!
“Apa aku harus mengajaknya jalan? Tetapi kemana? Bermain golf, menembak atau mendaki? Wah, sudah lama sekali tidak menghabiskan waktu bersama Rama."
Sergey tersenyum, saat Nita baru masuk kamar dengan membawa Musa. Bocah mungil itu diturunkan ke lantai dari gendongan sang mama. Musa langsung berlari dengan langkah mungilnya.
"Putra Papah! Kemari Jagoan!" Sergey membungkuk untuk menangkap dan menggendong Musa, ke atas tempat tidur. Dia tengkurap dan menggelitik perut Musa dengan janggutnya. Sang bocil terus terkikik dan suaranya memenuhi ruangan hingga membuat Nita senyum-senyum sendiri.
“Kamu sudah puas belanja? Mengapa masih sore sudah pulang. Biasanya Intania itu kalau belanja sampai malam. Apa kalian bertengkar?” Sergey melirik Nita yang duduk di tepi tempat tidur seolah wanita itu menjaga jarak.
“Kami baik-baik saja, Mas. Mba Intan sangat baik, aku malah dibeliin tas LV terbaru. Namun, pas lagi asyik-asyiknya, kami memilih sepatu, lalu Mbak Intan kedatangan teman SMP. Jadi, saya dan Rama langsung pulang, Mas.”
“Nita, apa kamu tidak membelikan sesuatu untuk Mas?”
“Nita beli martabak telur kesukaan Mas, yang di perempatan dekat rumah. Mas, mau dimakan di sini atau di bawah? Soalnya Nita mau mandi dulu. Jangan Musa aja yang wangi, Mamanya juga harus wangi dong.” Nita dengan dengan riang saat sang putra memperhatikannya sedang berbicara.
“ Ya sudah, mandi dulu. Martabakku keburu dingin? Jangan berlama-lama. 5 menit saja. Asal kau tahu, sapi tidak mandi saja harganya tetap mahal?”
"5 menit itu untuk apa?” Nita greget, Sergey memang suka menggodanya, tetapi hanya untuk bercanda. Terkadang mengobrol dengan Sergey jauh Lebih menyenangkan dibanding mengobrol dengan teman seusianya. Bahkan dia sering lupa bawa usia Sergey dua kali dari usianya. “Masa Mas, samain aku dengan sapi?”
Sergey terkekeh menatap wajah imut Nita yang sedang tertawa ringan. Dia kembali bermain dengan Musa, dengan pandangan tak beralih dari keanggunan langkah putri dari sahabatnya. Dadanya dipegangi saat lagi-lagi terasa bergetar. Apakah ini gejala serangan jantung?
Sergey menggigit bibir data melihat dalam-dalam pada tumit Nita yang tak beralas kaki. Sebesit keinginan lelaki muncul dalam benak pikirannya dan begitu memabukkan. Bagaimana tidak, dua tahun sudah, dia selalu disuguhi dengan keranuman putri Devan.
Apalagi setelah lama menduda dan terakhir kali berhubungan badan dengan mantan istrinya. Tepatnya setelah ISU perselingkuhan dia dengan seorang istri mafia, yang menggegerkan publik. Tidak ada seorangpun yang mempercayainya sejak saat itu. Entah. Dia pikir ada yang sengaja menjebaknya untuk menjatuhkan pamongnya di depan para mafia yang adalah koleganya.
Ya, termasuk Intania sendiri, sampai tidak percaya padanya. Intania justru menyebutnya peselingkuh. Putranya pun turut membencinya, karena sesuatu yang tidak dia lakukan.
Mentang-mentang dia punya banyak uang, mereka pikir dia akan memainkan para talentnya dan tanpa menghormatinya. Padahal justru para wanita yang mengejarnya saat dia mabuk, dan perilaku mereka membuat namanya di cap jadi kian buruk.
Mereka modus, mendekatinya, mempublikasikannya secara diam-diam saat mabuk, lalu mengaku-ngaku sebagai kekasihnya. Yang lebih parah saat mereka menyebarkan statement bahwa dia telah meniduri atau mel3c3kan. Mereka lalu sengaja pansos, sampai asistennya bolak-balik sibuk lapor polisi. Namun, yang aneh, justru makin hari dia kedatangan wanita muda yang cepat-cepat ingin naik daun, terutama talent-talent pendukun, berlomba-lomba menawarinya untuk tidur bersama dengan segalan rayuan maut
Mereka mendekati hanya karena apa yang dikenakannya dari luar, hingga membuat Sergey merasa jengah dan tak mempercayai seorang wanita. Sampai Nita hadir seperti oase di padang pasir. Harinya menjadi berharga, setiap menit di rumah bersama Nita selalu diresapinya.
__ADS_1
.
Sergey mengambil martabak yang tersaji di piring putih, menggunakan garpu dan sendok. Dia mengunyah perlahan dan menikmati betapa gurih martabak kesukaannya sambil tersenyum pada Nita yang sibuk dengan ponsel, di hadapannya.
“Mas, tadi Musa joget-joget di Mall saat dengerin musik dangdut di Mall. Aduh! Belum ada dua jam, lihat nih, videonya udah beredar. Rama kocak banged, dia malah membuat Musa lebih menggoyangkan pinggul.”
Sergey tertawa dengan jujur saat Nita mempertontonkan video Musa. Padahal pengawal sudah berjaga, tetapi mereka masih bisa merekam dengan diam-diam. “Cepat minta Patrcik agar men tack down video itu.”
“Udah, barusan sudah minta tolong dia." Nita tersenyum sangat manis saat satu kotak martabak kornet telah habis. "Mas, sudah makannya? Aku ngantuk mau tidur.” Nita nggak enak, jikalau meninggalkan Sergey sendirian di meja makan. Pasalnya yang punya rumah ini adalah Sergey, dan dia hanya seperti seorang tamu di sini.
⚓
Sergey kembali ke kamar bersama Nita. Lelaki itu merogoh saku, lantas memberikan kalung pada Nita yang sudah terbaring, membuat Nita reflek bangkit dari tidur karena sebuah kalung menggantung di depan mata.
“Nita, Mas belum menemukan pelakunya. Seseorang menemukan kalung ini di TKP. Sepertinya, ini milik si baj1ngan yang ditemukan di samping toko kue.”
Nita menggelengkan kepala sambil menjauh, memeluk lutut. Dia langsung memejamkan mata, bergidik karena bandul kepala serigala dengan permata di bagian mata. Permata biru yang kelap-kelip saat terkena cahaya lampu kamar, walau dilihat dalam 10 detik, dia mampu mengafalkan bentuk bandul itu.
“Mas, tolong simpan itu di laci yang paling bawah. Aku masih butuh waktu dan belum siap untuk melihatnya.” Nita menunjuk nakas di samping tempat tidur dengan gemetar. Dia mendengar berikutnya, suara laci ditarik dan suara berderap seperti kertas, sampai laci itu terdengar seperti terdorong.
Nita membuka mata saat Sergey sudah menuju pintu yang terbuka. Bahkan dia sempat melihat lirikan aneh dari Rama, yang entah sejak kapan berdiri di celah pintu.
⚓
Langkah tiap langkah dipandangi Rama meski seribu kali dia bilang tak tahan di rumah ini. Selalu saja, ujung-ujungnya dia tak bisa meninggalkan rumah ini. Rama merasakan tepukan di bahu saat menuruni tangga.
“Papah sudah malam, nggak tidur?”
”Besok golf, yok! Teman Papah pada sibuk, kalau sendirian jadi nggak enak.” Sergey dengan penuh semangat, dia merindukan moment bersama sang putra.
“Apa Musa ikut juga? Jika adikku ikut, pasti dia berlari-lari.” Senyum getir mengembang di bibir peach Rama. Dia langsung down begitu teringat kecupan lembut papah di kepala Lena. Dia tak bisa merebut kebahagiaan sang papah, saat melihat tatapan penuh arti papa pada Nita. Ini membuatnya sangat frustasi hingga tidak bertenaga. Ya, Tuhan! Aku harus apa!
“Jangan. Belakangan suasana sangat panas, takutnya Musa akan kena bola, kan berbahaya.”
“Lapangan kan luas, Papah.” Hanyalah Musa pelipur hati dan sanggup menghangatkan hatinya kembali. Musa seperti teman bagi Rama, daripada sebagai seorang adik.
__ADS_1
Apa hanya aku di dunia ini, yang memiliki perasaan menjijikan dan terlarang seperti ini? Tetapi hati manusia siapa yang biasa mengatur? Apalagi karena manisnya senyuman seorang wanita yang terus menghantui tiap tidur malamnya. Ah aku benar-benar seperti kecoa! Batin Rama, pikirannya terus jalan sendiri, hati nuraninya berteriak, tetapi keinginannya mengkhianati. Dia tak sanggup lagi memikirkan Nita. Jadi, detik ini dia berniat akan melupakan Nita.
“Jangan, besok jadwal Musa pijat di dukun bayi. Kita berdua saja. Kapan terakhir kita golf, ya? Sepertinya, itu sebulan sejak kamu sembuh dari sebuah kecelakaan yang hampir merenggutmu. Ayolah, Boy.” Sergey dengan nada penuh kebijaksanaan, dia tertawa ringan sambil mengacak-acak rambut putranya yang wajah itu seperti kertas kusut.
“Baik, Papah.” Diujung tangga, Rama berbalik untuk naik lagi Dia enggan menonton kalau ada papah. Yang ada, bukannya nonton, papahnya justru berkomentar, 'Ini aktingnya tidak natural lah, ini tidak sesuai lah, Ini aneh lah.'
“Loh, gimana ini anak? Mau ditemani nonton malah pergi.” Sergey melihat punggung dan bahu Rama yang loyo. Benar, putranya itu sedang patah hati.
"Aku lupa, harus telepon Budi," lirih Rama.
“Gadis mana si yang disukai Rama? Bikin penasaran.” Sergey dengan gemas, tetap menuju ke ruang TV.
Rama yang berada di depan pintu kamar Nita, memandangi lekat-lekat pintu coklat.
Wah, pintu sekarang seperti tembus pandang dan terbayangkan Nita yang sedang tidur miring.
"Tidak, Rama! Lupakan, lupakan .... " gumam Rama dengan helaan nafas kasar.
Ingin dia masuk, ingin dia mengundang Nita untuk minum kopi. Asalkan dia dapat berdua dengan Nita tanpa gangguan Papah.
Tiba-tiba pintu handel besi terdengar berputar. Suara berdecit pintu terbuka membuat Rama tak memiliki waktu untuk kabur.
Nita terlonjak dan mundur tiga langkah sambil memegangi dada. "Rama! Kenapa kau di situ, ngagetin saja, ih!"
Rama tersenyum canggung, dia menggaruk tengkuk dengan jantung berdebar sangat cepat. Sebenarnya, dia jauh lebih kaget daripada Nita, hanya saja dia berusaha terlihat keren. "Kamu cantik." Rama langsung menutup mulutnya yang sulit terkontrol.
"Apa?" Suara Nita retak pada tatapan berbinar Rama, membuat jantung Nita mulai terasa tak beres. Mengapa kata-kata 'Kamu cantik' dari mulut Rama itu, sekarang terdengar berbeda maknanya. Membuat malu yang tidak terkira. Dia menarik handle pintu di belakangnya sampai pintu terdengar pintu tertutup.
"Kamu mau nonton?" Rama mengikuti Nita yang terjalan tergesa-gesa, tetapi lalu wanita itu berbelok tajam sebelum tangga, ke kamar bayi.
"Aku mau menemani putraku, yang juga adikmu,
Wahai Anak Tiri." Nita menatap tajam mata biru Rama yang langsung berkedut. Seakan-akan putra tirinya tak terima dengan panggilan itu hingga raut wajah Rama berubah bias.
Rama baru akan berbicara, tepat saat Nita masuk begitu cepat dan pintu itu terbanting. Membuat Rama sakit begitu tidak terkira, apalagi llpintu terdengar dikunci sampai dua kali.Rama langsung mengepalkan kedua tangan, tetapi meninju pintu dengan pelan karena tak mau Nita menilainya sebagai pria pemarah. Dia benar-benar tidak sopan! Tetapi kenapa aku tidak terima! Pokonya aku akan melupakanmu! Masih banyak perempuan yang lebih cantik!
__ADS_1