Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 58 : SEDERHANA


__ADS_3

Ketika Nita membuka mata, tubuhnya terasa tak bertenaga. Dia meraba wajah dan menemukan handuk mini di kening. Diliriknya jam 8 pagi dan Musa tak terlihat. "Uh, ada apa denganku?"


Nita berusaha duduk, tapi terhempas ke belakang dan  pandanganya berkunang-kunang. Dia miring ke kanan dan meraba pakaiannya, lalu mengintip ke dalam baju. Pakaian intinya telah berubah. Apa Rama yang mengganti semua pakaiannya.


Nita terjaga karena suara keras Musa. Bahkan dia sempat tertidur lagi dan ini sudah jam 9.  Nita mendapati Rama menahan tubuh Musa diantara kaki dan tangan. Suaminya tengah menyuapi Musa, lalu membiarkan Musa melangkah lagi. Musa mencoba berbicara tetapi mulut itu penuh nasi.


Rama mendaratkan pantaaat di tepi tempat tidur dan memegangi kening Nita. "Masih demam, aku sudah memanggil mantri, Sayang."


“Mas, maaf, ngerepotin terus,” suara Nita parau dengan tatapan sayu.


"Jangan dipikirin. Kau lihat ni, Musa makan banyak." Rama memotong telor ceplok jadi kecil.


"Dia suruh makan sendiri saja." Nita masih tidur miring, lalu tangan kirinya melingkar di pinggang Rama. Ketika lelaki itu akan bangun, Nita menahan pinggang Rama dengan manja.


"Ciummm," rengek  Nita lalu bangkit dan dibantu Rama. 


Rama perlahan meletakan piring di  tepi kasur,  di belakangnya. Dua tangannya terbuka dan sang istri menghambur ke dada "Jangan banyak pikiran, dong. Kami sedih jika kamu sakit begini."


Nita mengangguk dan memajukan bibir. "Aku dah sembuh sekarang, Mas," suara Nita lemah, tetapi masih di usahakan kuat. "Aku mau main di luar rumah, setelah Pak Mantri datang."


"Mau temanin aku ambil ranting di pekarangan? Kayu bakarnya mau abis." Rama memiringkan kepala saat wanita itu mengangguk. Dia senang kecupannya mampu membuat Nita tersenyum.



Ranting-ranting kayu dikumpulkan Rama. Nita sangat ingin membantu, tetapi suaminya tak mengijinkan dengan alasan dia harus memulihkan tenaga dulu. Dapat dilihat dengan jelas, bulir keringat bercucuran di wajah dan leher Rama yang baru diseka dengan punggung tangan Rama. Sementara Musa berlarian berputar-putar di pekarangan yang sejuk. Untung kalau siang, nyamuk entah hilang ke mana.


Sampai kapan Rama betah hidup jauh dari kemewahan. Padahal mungkin hidup ke depan akan sangat sulit.  Nita menggosok telinga kirinya yang sangat panas. Orang bilang kalau begini, artinya sedang dibicarakan buruk.


Ya, Allah apa tidak bisa, Nita hidup normal seperti yang lain. Kalau memang tidak bisa, Nita mohon jangan pisahkan Rama, dari Nita dan Musa. Nita baru mencicipi sedikit kedamaian.


Ya Tuhan, Nita juga ingin sekali merasakan kebahagiaan lebih lama tanpa gangguan dan kebencian dari orang-orang. Memang Nita tak bisa membuat semua orang bisa menyukai Nita. Tapi kumohon Tuhan, jangan biarkan mereka menganggu ketenangan keluarga kami.  Aamiin. (Nita)


Nita berdiri dan menghampiri Musa, saat Rama memikul kayu bakar di pundak. Tercetak jelas, kaos Rama yang telah basah kuyup. Nita mengembus napas panjang dari mulut, ingin sekali dirinya menangis saat melihat usaha yang dilakukan Rama dan suaminya itu tak mengeluh.


Sesampai di dapur, Nita mencari korek. Dia mengikuti cara Pak Darso saat menyalakan tungku. Seingat Nita, cara menyalakan api dimulai dari membakar daun kelapa kering. Nita melirik ke arah Musa yang memukul-mukul dipan dengan centang.


Di dalam hati Nita, terus mengeluh karena tempat ini berbahaya untuk anak kecil. Semua dipegangi Musa terutama rak piring tanpa tutup yang begitu mudah diakses anak kecil. Nita meniup-niup api yang akan mati, dia lebih membungkuk saat menempatkan ke dalam tungku hingga lututnya menyentuh abu hitam. Nita terus melirik ke arah Musa, yang kini mengambili baskom dan duduk di tanah. 

__ADS_1


Di depan rumah, Rama megap-megap. Dia menjemur kayu yang belum kering. "Ternyata hidup sesusah ini. Untuk merebus air saja harus mencari kayu."


Rama tersenyum bangga saat melihat hasil yang telah dia kumpulkan. Berkali-kali disekanya keringat asin di bawah hidung dan di kening. Dia menghiup napas dalam-dalam sambil berjalan lewat samping rumah.


Rama yang akan masuk dapur terhenti, dia melihat pipi Nita comeng hitam. Istrinya batuk-batuk saat terus meniupi daun kelapa kering yang sudah terbakar sampai mau habis. Wanita itu berdiri dan menghentak-hentakkan kaki, tampak kesal karena kayunya mungkin tidak nyala-nyala.


Rama mengatubkan bibir dan menahan tawa. Dia melirik ke arah Musa yang justru sudah duduk di dalam baskom besar dengan satu baskom kecil menutupi sebagian kepala. Rama geleng-geleng kepala, mengapa dua orang itu selalu menghibur dan mewarnai harinya. 


Walau Musa bukan darah dagingnya, tetapi Musa seperti memiliki magnet tersendiri di hatinya. Rama bersembunyi dan mundur perlahan sebelum Nita menoleh ke arahnya, dia ingin menghargai usaha Nita.


Rama tersenyum bahagia dan tersentuh, ternyata sesederhana ini sebuah kebahagiaan bisa didapatkan.


Rama duduk di samping rumah dengan alas daun pisang. Dia menatap kosong pada deretan pakaian orang serumah yang dijemur. Dari pagi ke mantri, menyeka badan  Nita, mencuci pakaian empat orang, mengurus Musa dan Om Devan, sampai membelah kayu lumayan besar. Rasanya bangga walau lelah. Apa begini beratnya kerja keras mama dan papa, saat aku kecil, lalu menitipkan aku dengan Kakek Axel.


"Mas, bantuin aku!" suara teriakan Nita membuat Rama langsung bangkit dari duduk dan masuk dapur. Rama tersenyum simpul, masih saja ... Nita belum berhasil menyalakan tungku.


"Aku mau bikinan Mas teh, tapi air panasnya habis. Juga, aku nggak bisa nyalain. Bantuin." Nita mengulurkan korek api ke tangan Rama lalu berjinjit dan mengecup pipi Rama. Nita tersenyum memelas. "Tolong, Papa Rama."


"Masa cuma masak air, masakin aku telur balado yang biasa kamu buat." Rama membawa mangkok berisi minyak jelantah dan meneteskan sedikit ke kayu dan daun kelapa kering.


"Asalkan rasanya masih telur balado bukan telur kecap." Rama terus tersenyum, apalagi Musa mengikuti mamanya dan mulai merecoki sang mama dengan membuang bahan masakan dari dipan ke tanah.


"Astaga, ya ampun putraku, kamu mau membuat mama marah," celetuk Rama menahan tawa karena ekpresi lelah Nita.


"Ih, Musa mau buat Mamah nangis nih. Ambil, nggak boleh dibuang-buang, nanti bawangnya nangis." Nita berjongkok dan menghalangi Musa, saat Musa bersikeras mau mengambil cabai. "Ini pedes, nggak boleh, Sayang."


Bruk.


Nita melongo satu bakul terong ungu pemberian tetangga sudah berserakan di tanah, setelah ditarik Musa dari dipan. Nita pura-pura merengek, walau sedikit kesal. "Masssssssssss Musaaaa!" suara Lena seperti tercekik.


"Mama, Musa lapar," suara Musa kecil. Tangannya meraih benda berwarna ungu dan akan mencaploknya.


"Itu tak boleh dimakan, Sayang. Belum dimasak." Rama melepaskan terong dari tangan mungil dan menggendongnya.


"Kamu ambilin makan Musa dulu, aku bersihin tangannya," titah Rama dengan lembut sambil menuju kamar mandi dan melepas celana Musa yang hitam karena duduk di tanah. Dia melirik dari kamar mandi, saat Nita mengambilkan makanan ke piring plastik milik Musa.


__ADS_1


Tetua desa yang mengetahui video yang baru diputar sang anak yang baru pulang dari kota, langsung kaget luar biasa. Dua orang yang di foto adalah pendatang yang kemarin baru nikah. Bagaimana bisa seorang perempuan yang adalah istri publik figur justru melakukan perbuatan tak terpuji dengan menikah lagi dengan anak tiri. 


Para perangkat desa langsung melakukan pertemuan, karena mereka menganggap mereka hanya akan membawa kesialan di dalam desa itu. Salah seorang kakak dari Pak Darso juga termasuk perangkat desa yang diam-diam selalu memberi informasi untuk Pak Darso.


Setelah pertemuan, Kakaknya Pak Darso langsung ke rumah sang adik dan menceritakan semua. Pak Darso terkejut sampai bangkit dari duduk dan minta dianterin anaknya ke tempat yang biasa ada sinyal.


Pak Darso akan melaporkan semua permasalahan itu ke Nathan. Namun, dalam perjalanan dia berpapasan dengan seseorang yang seperti preman , sedang naik motor juga. Pak Darso tahu betul itu Intel, polisi yang menyamar karena dia telah mendapat daftar-daftar Intel dari Nathan.


Situasi menjadi mencekam baginya. Pak Darso putar balik, memotong jalan terdekat dan langsung ke rumah Nita. Dia berniat melapor ke Nathan nanti saja, ada yang jauh lebih gawat darurat kalau sampai keluarga Nita- di tangkap polisi.



Intania bangun dari tidur siangnya dengan keringat dingin membasahi pakaian. Jantungnya berdebar-debar, ternyata dia masih di atas kendaraan menuju villa di Cibubur. Dipeganginya jantungnya yang terasa sakit sekali.


"Ibu, ada apa? Ibu sakit?" tanya Pak Supir sambil melirik ke spion tengah, pada ekspresi kebingungan sang majikan.


"Tidak tahu, Pak Didi. Saya kepikiran Rama. Doakan Rama semoga tidak ada apa-apa dengannya, ya Pak Didi dan semoga Polisi bisa menemukan keberadaan anakku."


"Saya selalu mendoakan Den Rama, Ibu dan keluarga semoga selalu diberi perlindungan." 



Kakek Axel telah di atas pesawat  kelas Eksekutif, yang menuju Kalimantan Selatan. Dia ingin menyelesaikan permasalahan ini dengan cepat. Dia tak mengira justru cucunya semakin dekat dengan Nita, membuat kepalanya pusing saja saat melihat video kiriman Baron, soal mereka yang ciu*man. Bahkan Baron tak bisa mencegah karena begitu mendadak soal pernikahan siri cicitnya. Kakek Axel tak bisa tidur semalaman dan pesan tiket pesawat mendadak.


Jari-jari tangan kiri keriput terus mengetuk sandaran kursi hingga menimbulkan berisik. Setiap suara memicu pikirannya untuk terus bergerilya mencari jalan keluar.  Apa harus mengasingkan Nita ke ujung bumi terjauh. Apa menyerahkan Nita ke Jefri. Atau menemui Nita agar menjauhi Rama dan mengancam dengan menggunakan Musa.


Jari keriput berpindah mengelus dagu keriput. Axel  menatap langit-langit kabin pesawat. Dia belum memikirkan putranya yang patah hati, dan apa jadinya .... Sergey mungkin jauh lebih shock soal pernikahan siri Rama-Nita.


Kakek Axel mengelus tengkuk yang merinding. Dia takut putranya menjadi rentan dan melakukan hal gila. Uh kepalanya pusing sekali karena dia tahu semua kebenarannya. Haruskah dia terus menyembunyikan fakta soal Musa, di belakang Rama dan Sergey. 


Axel takut bila merahasiakan justru akan semakin berbahaya ke depannya. Jangan sampai Rama dan Sergey sampai berseteru apalagi salah paham. Kalau dia mampu menghadapi Sergey, pasti dia akan menyampaikan kebenarannya.


Ini sangat sulit, dia bingung menghadapi Sergey yang sangat impulsif. Kakek Axel lebih memilih Rama yang lebih baik terluka daripada Sergey, karena mental Rama bagus, selalu memiliki tekad kuat dan setiap tindakan yang dipilih begitu cerdik. Sedangkan Sergey tak terkendali, bisa seperti orang gila, bahkan tak peduli dengan nyawa sendiri.


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2