
Nita masih termangu pada genggaman tangan Rama. Dia melirik ke arah Lana yang berdiri di garis pintu restoran. Tampak Lana masih marah padanya.
Rama melepas genggaman dan membuka pintu sisi kiri, di samping kemudi. "Aku yang bawa mobil, ya?"
Nita mengangguk patuh dan masuk ke dalam mobil. Dia melirik pada Rama yang menutupkan pintu, lalu pria itu mengitari depan mobil dan masuk ke dalam mobil dengan tatapan penuh arti. Rama menyalakan mesin dan Mobil HRV merah mulai jalan.
Nita merasa ada yang salah, tetapi tubuhnya tak bergeming saat Rama memegangi tangannya. Nita melirik ke tengah dan bertekad menarik tangan,tetapi Rama justru membawa tangannya hingga menempel di dada pria itu membuat Nita sedikit melongo.
"Rasakan ini, Nit. Apa perasaan ku terlalu menjijikan?" Rama menoleh sebentar ke kiri pada wajah Nita yang tampak penuh banyak pertanyaan. "Papah menyukai mu dan aku juga sama. Apa aku durhaka pada papah karena ini? Jawab, Nit?"
"Ram, aku tak ada waktu memikirkan soal perasaan kamu, perasaan papahmu atau perasaanku sendiri. Aku tidak memiliki ruang, Bahkan untuk diriku sendiri."
"Kenapa?" Rama menoleh pada Nita yang melihat ke luar jendela. "Apa lelaki keji itu menghentikan semua impianku? Biar aku mencarinya."
"Aku akan fokus membesarkan Musa ke depan dan tak mau tahu soal lelaki itu lagi."
Rama menoleh pada Nita yang kini mulai membersihkan wajah dengan kapas yang diberi cream pembersih. Tampak Nita juga menetesi obat tetesan mata ke kedua mata. "Untuk apa itu?"
__ADS_1
"Agar mataku tak terlalu merah di depan Papahmu." Nita cepat-cepat memakai bedak tipis, ailiner, perona pipi dan lipstik warna pink yang glossy. Terakhir menyemprotkan parfum ke rambutnya yang sempat lecek karena air mata.
Rama dibuat terkesiap karena Nita sama sekali sudah tak terlihat wajah sembab baru menangis. Pintar sekali berbohong. Dan hanya aku yang tahu luar dalamnya hati kamu, kan?
"Kau dulu pake kacamata?" Rama baru ingat saat mendengar obrolan Nita dengan Lana.
"HM ... "
"HM, itu seperti apa? Ya atau tidak?"
Ponsel berdering, Nita tak sempat menjawab pertanyaan Rama, lalu langsung menerima telepon dari Baby sister. "Iya, Mba Jum, sebentar lagi, saya sudah sampai. Ini tinggal .... kira-kira satu km."
Begitu sampai di Rumah, Rama sampai lupa mematikan mesin mobil dan langsung meloncat keluar dan berlari ke dalam. Mau tak mau, Nita berpindah ke jok kemudi. "Uh masih di posisi N ditinggalin. Rama payah, kan ini bahaya."
Nita memastikan kendaraan aman, baru dia berjalan tergesa-gesa. Di pinggir kolam renang, dia mendapati Rama menepuki bo**Kong Musa sambil mengecupi pucuk kepala Musa.
"Ibu, Den Rama canggih, ya? Tangisan Musa yang histeris , langsung mereda tak memakan waktu dua menit setelah di gendong Den Rama," ucap Jum, si Baby Sister.
__ADS_1
"Oh, ya, benar, katamu." Nita sudah tak kaget, karena memang kenyataannya seperti itu. Bahkan sejak Rama pertama bertemu dengan Musa, Musa tak pernah menangis kalau sudah ketemu pelukan pria itu.
Nita menoleh ke kanan dan kiri. "Mas Sergey belum pulang?"
"Pak Abie bilang, tadi Tuan Besar langsung keluar kota dari kantornya. Tuan Patrik yang barusan mengambil perlengkapan Tuan Besar dalam satu koper."
Nita mengangguk mengerti. "Panggilkan Pak Abie dan Bi Inem." Nita melihat kepergian Baby Sister itu, lalu berjalan ke arah Rama. Sang putra langsung minta gendong padanya.
Rama menyunggingkan senyuman dan dengan penuh kasih sayang, memindahkan Musa, sampai tak sadar menekan dada kenyal Nita membuat jiwanya berdesir.
Kerinduan datang tiba-tiba. Rama memutari tubuh Nita dan memeluk Nita dari arah belakang, membuat Nita yang masih menggendong Musa di depan terlonjak.
"Rama, apaan kamu, bisa bikin orang salah paham. Cepat lepas, ada Pak Abie."
"Tidak ada, kamu beralasan. Tadi kamu yang memeluk ku di tempat Lana."
"Aku tak sadar itu. Cepat lepasin, Ram," bisik Nita dengan penuh penekanan. Antara marah dan takut luar biasa. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Pak Abie berdiri di garis pintu , menatap ke arahnya.
__ADS_1
...----------------...