Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 34 : BALKON


__ADS_3

Pak Abie berjalan pelan, sambil mengamati sikap Rama. Matanya tak salah, tadi mereka sangat dekat. Pak Abie menghadap nyonya dan mendapat beberapa perintah, lalu kembali ke dalam rumah dengan menjalan perintah baru dari nyonya. Begitu sampai di dapur, Pak Abie melapor pada kakeknya Rama, atas apa yang baru dilihatnya.


Nita mengurung diri di kamar milik Musa sejak jam 7. Dia menghindari Rama sudah sejak di pinggir kolam renang. Sekarang utranya sedang asik bermain dengan karakter capten Amerika di tengah springbed besar. Tempat tidur itu hanya satu lapis, jadi Musa bisa turun naik dengan aman.


Dadanya terus dipegangi, terasa sakit. Orang bilang bila seperti ini, pasti sedang ada yang mengharapkan atau sedang ada yang kangen, tetapi siapa yang kangen dengannya? Sepertinya, Papah Devan.


Pah, besok aku sempatkan datang, ya. Bagaimana, jika aku bawa Musa? Tetapi, aku takut itu memperburuk kondisi Papah. Aku percaya, papah akan siuman. Aku kangen, Papah. Lihat, cucu Papah sangat lucu dan tampan.


Ketukan pintu dari Rama tak dijawabnya. Sang putra menuruni springbed dan berjalan ke pintu, lalu meneplak-neplak pintu kayu sambil menatap Nita, seakan Musa mengenali suara Rama.


"Papha, phapa, ukaaaa .... " Musa menggunakan tangan mungil itu membuat gerakan agar mamanya menghampiri.


Nita mengulurkan tangan dengan gerakan mengundang Musa untuk digendong, dia duduk di pinggir kasur. Akan tetapi, putranya justru menggoyangkan tangan mungil dengan kesal, lalu jatuh duduk dan mulai menggoyangkan kaki mungil.


"Nita, buka .... " Rama makin khawatir dan terus mengetuk makin intens, karena tangisan Musa. Dia yakin mendengar suara langkah kaki orang dewasa, dan merasakan pergerakan dibalik pintu. Akan tetapi perlahan suara tangisan Musa terdengar sedikit menjauh, walau itu makin histeris.


Di serambi balkon, Nita berusaha menenangkan Musa dengan segala cara, tetapi putranya tak mau diam. Dia masuk lagi, mengambil ponsel dan menghubungi nomer Sergey, dan mendengar teriakan Rama dari luar.


"Buka Nita! Kini kamu melarangku bertemu Musa!" bentak Rama sambil menendang pintu, dan seketika tangisan Musa histeris terdengar makin menyayat hati.


Pak Abie berdiri di ujung lorong, mengintip gerak-gerik Rama yang mencurigakan. Dia baru sadar beberapa kali menjumpai Rama yang terlalu dekat dan tak menjaga sikap. Meski dia tahu hubungan sang tuan hanya kontrak, tetapi tuannya sudah menginvestasikan banyak saham untuk menolong perusahaan nyonya dari jerat mengerikan seorang mafia. Dia tak terima bila nyonya sampai salah langkah, lalu menyakiti hati tuan.


Cukup lama sepuluh menitan, Pak Abie baru melihat Den Rama kembali ke kamar sendiri. Dia menghela napas lega karena nyonya masih menjaga diri saat tuan tidak di rumah. Dia pun turun ke lantai bawah.


Tak menyerah, Rama melewati pagar besi balkon, lalu kakinya mulai menapaki penampangan cor selebar 14 sentian. Punggungnya menempel di dinding luar, lantai dua melewati sejauh dua meter dengan mata terus melirik ngeri ke bawah.


Selamat tak jatuh di balkon kamar sebelah, Rama mengatur nafas lagi, lalu kembali menyebrangi pagar besi dan kembali menapaki penampangan cor tanpa pengaman. Jika dia sampai jatuh, pasti langsung masuk rumah sakit.


"Kenapa si tidak diangkat, Mas?" gumam Nita di tengah tangisan histeris Musa. Sang putra bahkan tak mau minum asi. Hanya karena tak boleh menemui Rama, masa putranya sekesal ini. Dia berjalan ke luar balkon dan masih menepuk sang putranya.


Mata Nita mendelik saat melihat Rama melakukan aksi berbahaya. "Ram! Kamu apaan si, Ih. Awas jatuh!" Nita dengan panik menempel di pagar sisi kanan dan putranya juga langsung mengulurkan tangan, seolah minta digendong Rama.


"Tunggu ... "Rama menahan nafas, adrenalinnya meningkat tajam. Tinggal empat langkah lagi, tetapi kakinya gemetar dengan sendirinya.

__ADS_1


"Aduh, aku harus apa, katakan?" tanya Nita pada Rama dengan cemas dan suaranya tercekik. Anehnya, Musa mulai diam dan justru ikut melihat Rama dengan tak berkedip.


Bocah kecil itu dapat merekam wajah mamahnya yang tak baik-baik saja. Akan tapi, dia ingin sekali digendong lelaki dewasa itu. Dia merasa nyaman dalam gendongan pria dewasa yang kini begitu tampak gagah seperti karakter Kapten America yang sering ditontonnya. "Papah Papah endOng..."


Nita menaruh bayinya di lantai, dia berdiri dan meraih telapak tangan Rama yang penuh keringat. Dia sekuat tenaga menahan tubuhnya agar tak tertarik, dia takut bila dirinya yang terlempar keluar pagar dan jatuh dari lantai dua. "Hati-hati, lihat kakimu."


"Huft!" Rama melepas tangan Nita dan memegangi pagar besi dengan gemetar. Dia meloncati pagar besi dan langsung duduk di lantai dengan bersandar di pagar besi. Sang bocil langsung menghampiri dan kini duduk di pahanya, menghambur ke perut Rama.


Rama yang masih gemetaran, menyentuh punggung mungil itu. Dada kecil bayi tengah menempel di perutnya. Sangat nyaman. Mengapa dia merasa gila saat mendengar tangisan Musa. "Pintar, kamu sekarang sudah tidak menangis lagi, boy."


Musa mendongak dan mulai berceloteh dengan suara mungil. "Papah! Papah caten!" Dia mencoba memberitahu pria dewasa itu, bahwa Rama itu seperti capten amerika. Dia senang saat merasakan tangan kekar itu menyangga ketiaknya hingga kini tinggi wajahnya sejajar dengan Rama. Pipi mungil langsung mendapat hujaman kecupan yang menggelikan dari bibir hangat Rama.


Rama melirik Nita yang baru duduk di dekatnya. Dia mendudukkan Musa, dan satu tangannya langsung menyentuh ujung tangan Nita. "Kamu marah, Thalia?"


Nita mengerutkan kening, kenapa Rama jadi memangil nama belakangnya. Bibirnya makin tertekuk. "Kalau kamu jatuh, gimana tadi," suara Nita dengan tidak ramah.


"Jangan salahkan aku, kalau kamu saja, tidak mau membukakan pintu. Kamu tega membiarkan Musa menangis histeris?" Rama membiarkan Musa memeluk perutnya. Dia heran kenapa Musa begitu lengket padanya. Dia menarik sedikit dagu Musa. "Muka lucu ini jadi lesu."


"Kamu jangan seperti itu lagi, Ram," pinta Nita. Wanita itu melirik ke pelataran takut ada yang melihatnya. "Aduh, kamu keluar gih. Kamu bukan muhrim."


Mata Nita menyipit. "Maksudmu?"


"Bagaimana jika aku bilang ke papah, aku ingin menikahimu dan menjadikan istriku?"


Nita tertawa pelan. "Jangan mengatakan hal gila itu padaku, Ram?"


"Lalu sampai kapan, kau meredam kegilaan itu? Tenggelam dalam depresimu karena-"


"Sssssttt." Nita menutup mulut Rama demga. telapak tanganya. "Jangan berkata macam-macam di depan putraku. Otaknya tengah mempelajari banyak kata."


"Mmmmh...." Rama mengangguk mengerti, dia mengendus bau sakura dari tangan Nita.


"Kembali ke kamarmu, ini sudah malam. Tolong mengerti, Ram. Aku ini istri Papahmu."

__ADS_1


"KONTRAK BISNIS." Rama dengan penekanan.


"Apapun kamu keluar sekarang."


"Kenapa aku harus keluar? Kenapa kamu selalu terlihat tak nyaman jika kita dekat-dekat? Biar saja mereka tahu, tak ada yang salah."


"Jelas salah, mereka tahunya aku adalah istri papahmu."


"Kalau begitu kita beritahu mereka."


"Untuk apa?" Tenggorokan Nita terasa makin panas. Dia paling tidak suka dipaksa dan disudutkan. Papah mu harus kau hormati, kau tak boleh seperti itu, Ram. Kau tahu Papahmu memiliki perasaan kepadaku, hargai perasaannya."


"Lalu kamu sendiri? Apa kau menghargai perasaan papah? Menghargai perasaanku? Lalu perasaanmu sendiri seperti apa? Aku juga ingin mengobati hatimu yang mungkin terluka?"


Mata Nita memanas tak bisa berkata apa-apa. Sang putra berdiri meninggalkan Rama dan berpindah memeluk perutnya. Apa Musa bisa merasakan kesedihanku?


Punggung Nita terasa berat, terlalu banyak beban di punggungnya. Dia memegangi wajah sang putra dan mengecup di bibir mungil "Musa Devano Wijaya, anak mamah sayang."


Tenggorokan Nita kian panas, ditatap baik-baik sang putra, hatinya menghangat di tengah perihnya keingintahuannya mengetahui siapa ayah Musa. Dia ingin lebih berjaga-jaga dan takut bila suatu saat Musa dirampas darinya.


Cukup lama Nita terdiam karena mata sang putra kiyip-kiyip, mungkin kelelahan setelah menangis histeris. Nita tak bisa berkutik saat Rama menggusap punggung tangannya, dengan tatapan Rama yang lembut.


Nita hanya tak ingin bila putranya terbangun karena pergeseran tangannya. Dia merasakan getaran aneh di dalam dada yang membuatnya semakin tak nyaman, hingga Nita hanya menggelengkan kepala pelan saat Rama membeelai punggung tangannya. Belaaian itu makin naik ke lengan Nita membuat Nita merinding dan takut.


Gelengan kepala Nita makin kuat, dia berbisik ,"jangan, Ram ....."


Rama berkedip pelan, jarak wajahnya telah satu Kilan dengan Nita, dia berbisik sangat kecil, dengan tangan kiri mengelus lembut punggung Musa bergantian ke tangan Nita. Dia ingin menyentuh dua manusia yang membuatnya gila dalam dua tahun belakangan. "Kalau gitu, aku ingin memelukmu."


Jiwa Nita mengkerut, entah, dia sangat ingin memeluk Rama. Berharap bisa melegakan punggungnya yang terasa kaku. Akan tetapi dia tak bisa menyalahi aturan. "Jangan, Ram."


"Please?"


"Kau bisa memeluk .... siapa ya namanya itu, ah Shelina," bisik Nita dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Rama berkedip pelan, wanita itu bilang tak mau, tetapi bibir itu sedikit terbuka dan beberapa detik meredup, seolah Nita menyembunyikan sebuah keinginan. "Oke, mulai sekarang aku takkan memeluk mu lagi, kalau bukan kamu yang meminta."


Tidak! Jangan katakan itu! Aku butuh pelukanmu, Ram! Hanya pelukan mu yang dapat menenangkan dan menguatkan aku! (Nita)


__ADS_2