Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 39 PERTEMUAN SERGEY-JEFRI


__ADS_3

Tepukan tangan mungil Musa di pipinya dan dada Musa yang hangat menempel padanya, membuat Rama seolah-olah seperti Musa adalah salah satu bagian dari tubuhnya yang terpisah. Mungkin Musa menempati urutan ke 3, setelah Mama, lalu papa di hatinya. Sayang sekali, Musa bukan putranya, begitulah pikir Rama.


"Kenapa kamu membawa semua itu?" Rama melirik Mba Jum yang memindahkan tumpukan pakaian Musa ke dalam tiga koper besar, termasuk sebagian mainan Musa.


"Katanya Nona Lena, Den Musa akan tinggal di sana beberapa hari."


"Mereka hanya sementara, bukan untuk pindah, kenapa sebanyak itu?"


"Kira-kira inilah arahan nona Lana."


Rama memutar mata, seolah ada yang aneh, tetapi entah itu apa. Mereka hanya sementara pergi, sampai publik mereda, kan? Apa Papa marah denganku, kenapa belum juga mengabariku.


Ponsel Rama terus bergetar di saku dan sengaja diabaikan. Teman-temanya mulai ribut karena berita itu, terutama Shelina yang marah-marah. Rama menuruni tangga, tak menyangka kebodohannya saat itu akan berimbas banyak sampai sejauh ini. Dia menyesal telah bertindak ceroboh dan bertekad harus berubah untuk tidak membuat orang lain kesusahan, apalagi karenanya.


Nita jelas menghindari wartawan, bukan menghindari ku, kan. Buktinya tadi dia masih bicara biasa dan tampak tidak ada marah dari tatapannya. Dia sedang apa si di rumah? Tidak sedang nangis-nangis seperti dulu, kan? (Rama)


Rama mengecupi pipi Musa saat gigi-gigi mungil Musa tampak tertawa dan senang, membuat hati Rama menghangat oleh bahagia. Ya, bahagia hanya karena melihat senyuman anak kecil. Sungguh aneh. Mengapa selama ini mencari kebahagian dengan cara yang salah, kalau yang sederhana ini justru jauh lebih menyenangkan.


Musa membuang mainannya. Rama berjongkok dan duduk di tangga untuk mengambil mainan, lalu diberikan pada Musa. "Enak sekali jadi kamu, boy. Tidak ada beban seperti orang dewasa?"


"Mamah mhama .... " Musa minta turun dari gendongan. Sontak Rama menurunkan ke tangga berlapis kayu, lalu memegangi pergelangan tangan Musa.


Rama dengan sabar menunggu langkah kaki kecil itu menurun sepuluh anak tangga. Pria itu menggendong Musa lagi dan menyerang Musa dengan serbuan kecupan gemas hingga rambut Rama dijambak Musa. Sampai di ruang tamu tampak Lana dan Mama Intan tengah duduk dan berbincang, entah apa yang mereka bicarakan.


Rama berniat mundur beberapa langkah, tetapi suara Musa yang berceloteh, mengalihkan perhatian mamanya. Rama membeku saat mamahnya berdiri, dia jadi penuh waspada. Mana Musa minta turun ke lantai marmer, terpaksa dia menurunkan Musa di lantai dingin itu. "Hehehe, Mamah ...."


"Berikan adikmu itu padanya." Intan dengan suara dingin pada Rama sambil mengayunkan kepala ke arah Lana.


Lana bangkit dari kursi dengan canggung. Adik? Oh, pasti Intania tidak tahu bahwa anak ini bukan anaknya Sergey. Lana berjalan ke arah Musa dan Musa justru mengitari kaki Rama, dan bersembunyi di belakang Rama.


"Ikut Tante, sini Sayang. Main, yuk, sama Tante. Kita liat ikan."


Musa menggelengkan kepala dengan unyu dan justru Musa memeluk kaki Rama. "Mhamamamaa!"


Rama tak rela hati, dia saling bersitatap dengan Lana. "Aku akan ikut mengantarnya."


Musa tak ingin dijauhkan dari satu-satunya orang yang membuat bayi itu merasa nyaman. Bayi itu menangis kesal saat perempuan dewasa itu meraih tubuhnya dari Rama.


"Berikan, kau membuatnya menangis." Rama menarik tubuh Musa lagi dan menenangkan dalam gendongan. "Aku kan sudah bilang, biar aku yang mengantarkan ke Nita."


"Tidak boleh, Rama. Mamah tak mengijinkanmu menemuinya lagi." Intania dengan tegas dan memasang wajah merah padam. Tangannya terlipat di depan dada. Dia menduga pasti putranya sedang keblinger. "Jangan temui Nita, dia ibu tirimu!"


"Apa kata mamahmu benar, biar aku saja. Nita juga mungkin sedang ingin tak menemui siapa-siapa." Lana merasa sangat sedih karena Musa sesenggukan di bahu Rama, layaknya seorang batita yang menangis di bahu papanya. Kalau saja, papanya Musa ada, mungkin Musa takkan seperti itu pada lelaki lain, pikir Lana.


Tiga pelayan pria dengan satu koper di tangan masing-masing, menuruni tangga. Lana mengelus lengan Musa, saat pelayan sudah berjalan ke halaman. "Ayuk, ikut tante. Kita menyusul Mama Nita."


"Mah, biar kali ini saja. Biarkan Eama mengantar Musa, kasian dia pasti sedih," kata Rama dengan suara memelas dan menatap sang mama dengan penuh harap. "Rama janji tidak akan mabuk-mabukan lagi ...."


"Hanya mengantar dan tak boleh di sana lebih dari 5 menit." Intania menatap tajam sang putra.


"Makasih, Mah." Rama lekas mencium pipi kiri sang mama. "Oke, Rama akan langsung pulang."


Lana memelintir bibir. Mana yang kata Nita, bahwa istri Sergey ramah, buktinya aku kena omelan setengah jam. Mentang-mentang dia lebih tua, kesel deh!



Mobil Pajero yang dikendarai oleh sopir Lana melaju dengan kecepatan sedang. Lana yang duduk di depan, melirik ke belakang ke arah Musa yang duduk memeluk perut Rama. Dia iri pada kedekatan mereka.

__ADS_1


"Ram, kamu kok tenang-tenang saja, sih? Kau tidak lihat media sosial? Mereka mengatakan hal buruk tentang kamu dan Nita."


"Kita bicarakan nanti saat pulang, oke? Nita bilang, aku tak boleh berbicara aneh-aneh di depan Musa. Takut didengar Musa."


"Dia masih kecil."


"Karena dia masih kecil, mungkin dia telah mulai berpikir."


"Lebay deh kamu, dia baru satu tahun lebih. Dan dia juga bukan anak kamu, sok-sok an peduli."


Rama diam dan memilih memandang ke luar jendela. Jalanan gelap di kala senja membuatnya tersenyum getir, dia takut tak memiliki kesempatan seperti dulu dengan Nita.


Setengah jam kemudian, mobil berhenti di depan rumah Nita. Security melarang Rama masuk dan Nita berpindah ke jok belakang meraih tubuh mungil yang terlelap. Sedangkan Rama keluar dari mobil dan dia dihalangi masuk.


"Hahaha. Papa pasti bercanda." Rama meraih ponsel dan melihat mobil Pajero putih memasuki halaman. Kalau saja tadi Musa tidak tidur, pasti dia bisa menggunakan Musa sebagai alasan.


...----------------...


Di tempat lain, Sergey melirik layar ponsel dengan hati panas. Dia tak sanggup berbicara dengan Rama. Mengapa putranya sangat kurang ajar. Seharusnya, waktu itu dia tak menceritakan soal hubungan kontraknya dengan Nita, maka kemungkinan Rama kurang ajar pada Nita takkan terjadi.


Sergey lalu membaca pesan dari Rama, setelah tak kunjung menerima telepon dari Rama. Dia masih tenggelam dalam kubangan kekecewaan perasaannya karena dikhianati oleh sang putra. Tentu saja, hatinya yang telah hancur tak berkeping susah untuk diperbaiki.


-Papah, kenapa melarangku masuk ke dalam rumah Nita? Cepat, bilang ke security, ijinkan aku masuk. Masa Lana boleh, dan aku tidak?-


Pintu berderit terbuka. Sergey mendongak dan tak sempat membalas pesan. Dia memasukan ponsel ke dalam saku jas. Dia berdiri dan membungkuk sebentar untuk memberi hormat pada Jefri, yang dulu adalah temannya. Kini Jefri memiliki jabatan penting di dunia Mafia, dan dia sendiri hanya negosiator yang harus tahu aturan.


"Hahaha .... " Jefri menunjuk kursi dengan telunjuk, dia pun juga duduk dengan gaya elegan. Jantung Jefri berdebar saat menatap mata sahabatnya yang tak bercahaya. Ingin dia menghibur, tetapi itu mustahil sekarang.


"Sergey, adikku, apa kau membawa penawaran? Mewakili perusahaan mana lagi?Ah, lupa, kamu sudah pensiun, ya?" Satu alis Jefri terangkat tinggi dan dipenuhi rasa penasaran akan alasan apa Sergey menemuinya dengan membawa sebuah map. Asistennya sudah memaksa untuk memberi tahu apa keperluan Sergey, tetapi Sergey hanya mau berbicara langsung dengannya tanpa perantara.


"Seingat saya, Anda telah memutuskan untuk memutus kontak denganku, sejak Nathan bergabung dengan perusahaan kami?" ujar Jefri sambil melirik anak buahnya. Lalu sang asisten yang tanggap, langsung menyalakan cerutu dan memberikan padanya.


"Istri?" Alis Jefri terangkat tinggi. Cerutu dihisapnya, asap pahit tembakau bercampur menjadi satu dengan liurnya. Dia menghembuskan asap ke udara dan menikmati asap yang perlahan menghilang di udara. Jefri lalu tertawa dengan cara menyeramkan.


"Istri saya, Nita Athalia." Sergey mengernyitkan kening karena Jefri semakin tertawa.


"Apa Musa itu darah dagingmu?"


"Apa maksudmu, Bang?" Sergey berkedip pelan dan perasaan gelisah mulai menyelimutinya. Dia menunggu Jefri menikmati cerutunya selama satu menit.


"Bagaimana jika istrimu kau berikan padaku?" Jefri dengan tatapan dingin.


"Tidak, Bang."


"Kenapa?"


"Dia Istriku, Bang."


"Istri? Hahaha. Dia 24 tahun dibawahmu ...."


"Itu tak masalah."


"Perasaanmu menyimpang. Dia lebih cocok jadi putrimu atau menantumu. Hahaha."


Sergey mengepalkan tangan di atas paha. "Ini bukan lelucon dan sangat tidak lucu, Bang." Sergey dengan pelan, mendorong map berwarna emas hingga bergeser ke ujung meja lain.


"Lalu, apa yang lucu? Putramu tidak setuju dengan hubungan kalian, lalu dia membuat scandal? Hahaha lucu sekali hidupmu itu."

__ADS_1


Jefri melirik map itu waspada dan terdiam. Dia melirik ke arah sang asisten wanita. Asisten cantik membukakan map dan Jefri membaca isinya di dalam hati. Sontak Jefri meraih map dengan tangan kirinya dan sedikit gemetar.


Sergey menarik napas dalam-dalam dan makain waspada. Dia menekan rasa takutnya. "Kenapa Abang menghubungi Nita dibelakangku. Dia istriku, jadi aku berhak tahu."


Jefri menggigit bibir bawah saat matanya terpaku ke tanggal dibuat perjanjian adopsi. "Berhenti berbohong di depanku, bedebah kecil. 'Istri-istri' aku bosan mendengarnya. Kenapa dari sekian banyak perempuan harus Atha?"


"Bang ....".


"Kau tahu dari dulu aku membenci keluarga Devan! Kau sengaja? Kau terus menentangku, menghalangiku untuk menyingkirkan semua hal tentang Devan."


"Lalu, untuk apa sekarang Abang mencari Devan?" Tenggorokan Sergey makin terasa panas. "Apa ini soal perempuan yang Abang cari?"


"Aku tak berurusan dengan perempuan!"


"Termasuk Kak Stefanie Ailiy?" Sergey membeku saat wajah Jefri langsung berubah dingin dan aura mendominasi itu menguar ke seluruh ruangan.


Jefri berdiri sambil melirik asistennya. Dia membanting cerutu hingga tak sadar mengenai sang asisten cantik yang tampak ketakutan. Sang asisten lalu mengeluarkan senjata api dari saku. Jefri menggelengkan kepala dan sang asisten memasukan senjata api itu ke dalam celana lagi.


"Abang mencarinya?" Sergey menghembuskan nafas lega karena Jefri tak berniat menghabisinya. "Aku jadi berfikir. Apa Nathan adalah putra dari Kak Stef?"


Jefri memilin kening dan kepalanya menjadi sangat pusing. "Katakan apa tujuanmu?"


"Jangan menggangguku Istriku lagi."


"Hanya jika kau resmi menikahinya dan kau memiliki anak darinya. Lalu aku tidak akan mengganggunya? Selama itu jangan kau harap bisa menghalangiku lagi. Jangan coba kau membodohiku." Jefri melirik ke belakang, dari balik bahu. "Jangan campuri urusanku dengan Devan."


"Jadi, Abang yang membawa Devan?"


"Kalau kau berpikiran akan memangfaatkan kedekatan kita, kamu salah." Jefri tertawa getir. "Kau masih saja diperdayai perempuan. Kalau bukan aku yang menjelaskan kesalahpahaman istri mafia yang menggoda mu itu, pasti nyawamu sudah melayang dari tujuh tahun lalu.


Sekarang, kau pun masih diperdayai perempuan. Apalagi oleh seorang gadis, yang bahkanmasih setengah usiahmu? Buka matamu dan menjadilah normal. Kau bukan lagi bujang, Sergey. Dia anak kecil. Kau menjijikan .... Ada yang salah dengan otakmu?"


Sergey langsung menunduk. "24 tahu, dia sudah dewasa, cantik dan ..... " Sergey tak meneruskan ucapannya. Dia .... selalu membuatku gelisah setiap kali dia tak bersamaku.


Seperti dugaan Sergey sedari awal. Hanya dengan cara menikahi Nita. Pasti nyawa Nita aman.


Nita menolakku. Bagaimana cara aku menceritakan kepada Nita agar dia mau menerimaku. Jangan-jangan dia berpikir bahwa itu hanya akal-akalanku ?


Sebuah pesan dari Patrick yang memberitahukan pada Sergey, bahwa dokumen syarat pernikahan telah di daftarkan pada ketua RT dan RW. Sergey tersenyum penuh arti. Dia menghembuskan napas dengan gugup. Pasti Nita perlahan akan menerimanya, apalagi dua tahun telah hidup dibawah satu atap bersama.


...----------------...


Jefri berjalan ke ruang besar, ruang kerjanya. Dia melirik cctv pada Sergey yang masih di ruang pertemuan. Jefri menatap lekat-lekat kertas adopsi yang baru diletakan sang asisten cantik. Dia menghubungi Bos Richie yang tengah berada di Eropa.


Tidak ada jalan lain. Dia harus minta pertolongan bosnya. Sebetulnya, dia masih enggan untuk mengetahui kebenarannya. Apa dia harus menunggu Devan sampai siuman untuk tahu dimana keberadaan Stefanie Ailiy.


Hanya Devan yang tahu, soal kehamilan Stef. Apa itu anak Marcho atau anaknya. Apakah benar, Stef keguguran, sebelum sempat dia melakukan tes DNA, karena saat itu Stef meninggalkannya dan seperti hilang di telan bumi.


...----------------...


Rama lompat dari tembok ke halaman rumah Nita. Dia mengendap dan berhasil menuju kamar Nita yang dulu pernah didatanginya.


Kenapa papa tidak menjawab telepon dan pesanku. Kenapa aku kangen Musa dan mamanya juga. Si*Al kenapa harus papa, sih, yang jadi penghalang ku ?


Rama menekan ke bawah handle pintu. Tampak karena lampu nyala redup. Dia sudah capek-capek menunggu sampai tengah malam. Kini langkahnya sangat hati-hati, dia mengendap takut ketahuan Nita yang ternyata sedang tidur miring dan Musa di sebelah Nita dengan dihalangi bantal guling .....


Bersambung .....

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2