
Rama berlari ke dalam kamarnya, mengabaikan perkataan supir Pak Ergi. Dia sudah tidak sabar melihat istri dan bayinya. Tampak di dalam kamar, Nita mendongak saat duduk di lantai dengan bayi masing-masing di keranjang yang berayun sendiri.
Rama langsung berlutut setelah Nita bergeser dan memberikan ruang padanya. Dia meraih putrinya di tangan kiri karena mata mungil tajam indah itu menatap ke arahnya. Dikecup pipi dan bibir mungil itu. "Mah, dia terus melihatku."
Nita tersenyum semeringah saat mendapati mata Rama berkaca-kaca, itu begitu menyentuh jiwanya yang terdalam. "Ya, dia merindukanmu .... Sangat merindukan papahnya."
Rama menatap Nita sejenak dan mendekatkan pipinya hingga sang istri mengecupnya. "Aku mau menggendong dua-duanya."
Nita mengambil bayi dengan tanda lahir di lengan kanan dari keranjang dan menaruh bayi itu di lengan kanan suaminya. Rama menunduk dan mengecup bayi keduanya yang tertidur.
"Ah bikin iri aja. Akhirnya, cucuku bertemu papahnya," gumam Sergey di garis pintu kamar. Dia mengelap embun bening yang menggenang di pelupuk mata. Sergey terkejut karena Devan sudah di samping.
"Kenapa tidak masuk?" Tanya Devan dengan penuh curiga, tetapi mencoba terlihat wajar.
Sergey terkekeh lalu memberikan jarak, tetapi Devan tak bergegas masuk. "Anda mau masuk?"
"Tidak. Biar mereka menghabiskan waktu bersama. Kasian Nita."
"Iya kasihan, Atha .... "
Devan menoleh tajam dan menghadap sang supir yang terkejut. "Kau tadi panggil apa?" Devan mengerutkan kening makin curiga.
"Maksud saya kasihan Nyonya Nita."
"Oppa, Oppa, ayo main lagi!" Musa menarik tangan Devan sambil memegang pedang-pedangan.
"Itu papa dah pulang. Musa nggak ingin ketemu papa?" tanya Devan dengan sedikit membungkuk.
Musa melongok ke dalam kamar dan melihat punggung papa, lantas anak berusia tiga tahun itu berlari ke dalam dengan riang. "Papa! Papa Rama!"
Rama merasakan pelukan di leher dari tangan mungil anak pertama. "Musa .... "
"Papa, Musa punya adek dua. Papa, Musa juga mau digendong." Musa dengan sedikit merengek dan sedikit melompat-lompat.
"Sini Mas, aku mau susuuin putri kita dulu."
"Kita beri nama dia Bunga," ucap Rama pada Nita dengan memandang bayi yang terdapat tanda lahir.
"Akhirnya, Mas udah nentuin dan nggak bingung lagi." Nita tersenyum sambil menaruh Baby Bunga di keranjang bayi yang masih bergoyang.
"Dedek Bunga!" ujar Musa mengintip dari balik bahu papa.
"Ini, putriku Helen Ramalia Abimanyu," ucap Rama sambil menatap putri di gendongan dan anak itu tersenyum sangat indah. "Mashallah, dia mengerti. Dia suka namanya."
Rama melihat Nita yang mengangguk-angguk. "Helen, warna matamu seperti Papa dan Kakak Musa."
"Sama seperti Musa, Pah," celetuk Musa dengan cekikikan. Dia Kamin memeluk leher itu sampai Papa Rama batuk-batuk.
"Bunga Ramalia Abimanyu," lirih Nita dengan tersenyum memandangi anak yang di keranjang.
Sepuluh nama telah disiapkan Rama dua bulan lalu. Kini sang suami telah memilih dua nama dari sepuluh. "Hellen dan Bunga."
...****************...
Devan mengikuti Ergi karena curiga Ergi tadi menyebut nama Atha. Nama masa kecil Nita yang diketahui hanya oleh orang tertentu.
Terlihat Ergi masuk ke kamar Sergey. Devan masih suka bingung kenapa belakangan ini Ergi sering masuk ke kamar Sergey, juga sering mencium bau parfum milik Sergey..
Dulu Sergey tak pernah menceritakan soal Ergi. Jangan-jangan Ergi hanya musuh Sergey yang masuk menelusup menjadi bagian keluarga ini, tetapi apa tujuannya?
Devan menuruni tangga dan mendapati Intania datang dengan dua pelayan membawa dua koper. Segera Devan menyapa Intania. Wanita itu tak sabar pergi ke kamar Nita. Adik perempuan Rama lalu mencium tangannya dan langsung menyusul Intania.
"Om, lihat suami saya?"
Devan memutar badan dan melihat Lana yang tengah hamil tiga bulan, muncul dari dapur dengan membawa sepiring nasi goreng. Dia bingung apa harus menceritakan bahwa Ergi ke kamar Sergey.
"Tidak tahu, tadi si dari kamar Nita." Devan berbohong.
"Rama sudah pulang?" Lana dengan mata berbinar karena anggukan Devan. "Aku mau menemuinya dulu."
"Itu, nasi goreng buat siapa? Buat Om saja sini." Devan meneguk liur sendiri, bikin lapar saja karena tampilan estetik.
"Ini pesenan suami saya, Om. Nanti Lana bikin lagi buat Om. Ini ada udangnya. Om kan nggak mau udang. Bentar ya, Lana mau bertemu Rama."
Devan menyunggingkan senyuman. Geleng-geleng kepala kepada pengantin baru itu. Suka berselisih, tetapi berselisihnya lucu, seolah sama-sama jaim antara Lana dan Ergi.
Di kamar Nita yang besar, Lena duduk dengan memegang nasi goreng dan ikut hanyut dalam keseruan obrolan Intania karena kehilangan pasport, tetapi lalu ditemukan jatuh di bawah kursi di sisi lain pesawat.
Lana mengelus perutnya. Entahlah, membingungkan dengan sikap Ergi. Dia bahkan belum tahu keluarga Ergi. Lana tersenyum pada Nita yang menggelayut ke Rama.
"Tante, Musa mau nasi goreng." Musa memegangi piring yang dipegangi Lana.
"Ini pedes, Tante buatin lagi, ya?" Lana tersenyum karena anak laki-laki itu mengangguk.
"Biar Mama yang buatin, ya?" Nita menawarkan pada sang putra.
"Mau buatan Tante, Mah." Musa merengek sambil memegangi mainan pedang-pedangan.
"Sudah, aku saja yang buat. Aku cari Mas Ergi dulu," ucap Lana sambil beranjak dari kursi, lantas meninggalkan kamar Nita.
"Kau tidak cemburu, nanti anakmu lebih deketan dengan Lana?" tanya Intan sambil menepuk bokoong Baby Helen di gendongan.
"Nita dan Rama senang kok, dengan adanya Lana dan Pak Ergi. Jadi, rame."
"Iya. Lagipula Rama masih sering ke luar kota. Kasihan Nita kalau sendirian tanpa Lana." Rama mengimbuhi ucapan sang istri.
"Tapi, Mamah yang cemburu." Intan dengan nada jaim. "Biasanya, Musa langsung meluk Mama. Ini malah Mama dicuekin."
"Aku juga cemburu, Kak! Musa sudah lupain tantenya," ucap Vira ikut menimpali sang mamah.
"Omma jangan pulang, bobo sama Musa. Musa tidak mau bobo sama Oppa Devan. Maunya sama Omma," ucap Musa, lalu duduk di pangkuan Rama.
"Nah, Musa kangen tidur sama Mama, loh?" sindir Rama pada Mama Intan dan mamanya langsung senyum-senyum.
...****************...
Ketika Sergey kembali ke dapur, dia mencari Lana. Perutnya sudah begitu lapar. Ternyata masakan Lana tidak kalah sama Nita, justru dia jadi belakangan ini terbiasa masakan Lana dan mulai menyukai rasanya.
"Mas, aku cariin ke kebun nggak ada. Tahunya di sini." Lana menaruh piring di meja dapur. Napasnya ngos-ngosan karena kehamilan membuat dia lelah.
"Aku yang cari kamu," ucap Sergey dingin dan duduk di kursi yang baru ditarik Lana. "Kamu sudah makan ..... Em maksudku, kamu perlu makan untuk bayiku."
Lana menggelengkan kepala.
"Kamu belum sarapan? Ini sudah siang!" Sergey menatap tajam Lana.
"Ingin makan mangga muda, tapi lagi nggak musim. Di pasar nggak ada." Lana memutar mata dan wajahnya menghangat. Dia tidak mau dibilang manja, padahal ingin diperhatikan, tetapi dia cukup tahu diri kalau hanya ada Nita di dalam pikiran Ergi.
"Karena itu kamu jadi tidak makan?" Tanya Sergey dengan mengernyitkan kening dan Lana mengangguk ragu.
"Damn ! Menyusahkan saja," umpat Sergey di dalam hati. Dia takut bayinya kekurangan nutrisi.
"Pindah duduk sini." Sergey mengayunkan pandangan ke kursi di samping dan menunggu Lana pindah.
"Makan, ini untuk bayiku. Bukan untuk kamu, karena aku tegaskan jangan sampai kamu menaruh harapan padaku," kata Sergey sambil menyendokkan sendokan pertama ke bibir Lana. Wanita itu cuma mengangguk dan mulai melahap makanannya.
"Kok, jadi aku yang habisin, Mas? Aku sudah kenyang." Lana menggelengkan kepala karena enggan mengunyah lagi.Dua per tiga nasi goreng justru dia yang makan.
"Nanti aku carikan mangga." Sergey duduk dengan benar setelah tadi menghadap Lana. Kini dia menghabiskan sisa nasi goreng. Sergey sadar sedang dipandangi. "Jangan melihatku. Kau harus tahu batasanmu."
Lana mengangguk dan kembali menunduk. Dia cuma bingung kenapa pria itu makan dengan sendok yang sama. "Mas itu mau cari mangga dimana?"
"Belum tahu." Sergey kembali melahap makanan dan bingung musti cari mangga muda kemana. Sergey termenung karena ingat ke tiga bulan lalu.
Ketika Rama pergi mengajak Nita dinner. Nita sangat elegan dalam balutan gaun merah tanpa lengan. Cucunya juga memakai jas dengan bentuk yang sama dengan Rama. Bahkan Rama tidak mau diantar, katanya mau mengemudi sendiri.
Jadi, Sergey frustasi dan tidak tenang.
Ketika kembali ke kamar Sergey muak melihat Lana yang baru selesai mandi dalam balutan lilitan handuk. Meski muak, dia adalah lelaki yang sudah berapa tahun tidak menyentuh perempuan, Selain mamanya Rama.
"Kemari .... " Sergey dengan nada dingin, membuat Lana yang masih terkejut lalu melangkah dengan terburu-buru.
"Aku tidak tahu ada Mas di kamar. Jangan marah." Lana dengan nada gemetar.
"Buka." Sergey dengan nada berat dan cepat.
"Apa yang dibuka?"
"Handukmu, buka." Sergey mendapati gelengan kepala Lana. "Buka atau suamimuyang akan membuka ini?"
Sergey geram karena wanita itu masih tak mau menurutinya. Dia mendekati Lana yang terus mundur sampai tersudut di tempat tidur.
"Mas, Lana belum siap. Lana belum bisa. Lana masih -"
"Masih memikirkan mantanmu?" Sergey memegang dagu Lana.
"Lana masih datang bulan dan baru dua hari lagi baru bersih."
Sergey berdecih dan melepaskan dagu Lana lantas beranjak keluar dari kamar. Dia memilih mengungsi ke kamarnya sendiri. Mengunci diri di kamar yang dulu ditempati Nita.
Ketika malam yang dikatakan Lana bahwa malam itu bersih. Sergey masuk ke dalam kamar dan mematikan lampu. "Kau belum tidurkan? Layani aku."
"Mas," suara Lana gemetar dan terasa bangun dari tidur.
Sergey merasakan sentuhan tangan Lana di permukaan kasur dan menyenggol pinggangnya."Jangan bersuara sedikitpun dan lakukan saja."
Sergey mengarahkan Lana dalam kegelapan. Dia tak mau illfeel saat mendengar suara Lana. Meski demikian dia tidak sampai berani membayangkan Nita. Dia lebih baik mati bila sampai melakukan pikiran dosa itu, yang adalah penyakit. Tidak mau menjadi menjijikan lalu dada dipenuhi rasa sesak dan bersalah ataupun ketagihan.
Namun, tak bisa dipungkiri untuk membuatnya merasakan keinginan, Sergey membayangkan seseorang yang pernah dekat. Mau tak mau membayangkan sedang bersama Intan.
"Kau masih perawan?" Sergey mencoba memancing tubuh perempuan itu dengan sentuhan. Pertanyaan itu tidak dijawab, dia tak tahu jawabannya karena gelap.
Setelah pelepasan, Sergey merasakan Lana tidur memunggungi, dan merasakan tubuh itu bergetar menahan Isak. Entah apa yang ditangisi? Dia adalah seorang suami dan berhak mendapatkan ini. Sergey rasa jika Lana tahu tugasnya.
Ketika hari telah pagi, Sergey tidak melihat keberadaan Lana. Ketika dia meraih baju miliknya yang kusut, dia melihat noda merah di sprei putih, di tempat bekas tidurnya. Pandangan Sergey meredup, apa yang dilakukannya salah dengan mengambil kesuciaan sang istri?
Lamunan panjang Sergey terbuyar saat Lana mual-mual. Wanita itu muntah ke westafel. Astaga, makanan yang baru dimakan keluar semua. Sergey memijat tengkuk Lana, merasa iba karena ingat pada Intania saat dulu mengandung Vira.
"Kak Lana- muntah?"
Sergey berpaling ke belakang dengan mendelik. Matanya seketika berkaca-kaca melihat putrinya yang kini berusia 18 tahun.
"Vira," celetuk Sergey tanpa disadari. Vira bingung dan berjalan mendekat ke arahnya dengan tatapan tak dimengerti. Sial, semoga Vira tidak mengenali.
"Kak Lana sakit? Perlu ke dokter?" Vira beralih ke Lana yang baru selesai muntah-muntah. Dia melirik ke lelaki yang entah kenapa memandanginya dengan cara aneh.
"Ugh, aku hanya mual." Lana menerima uluran tisu dari suaminya. Dia dipapah oleh pria yang selalu dingin padanya.
"Kakak beristirahat dulu saja. Biar aku yang buat nasi goreng untuk Musa." Vira terpaku pada pergelangan pria itu yang memegangi lengan Lana. Tatto itu mirip milik papa. M
Ketika Vira selesai membuat nasi goreng, sopir itu kembali masuk ke dapur. Vira memindahkan nasi goreng ke piring plastik sambil terus melirik ke belakang ke pergelangan tangan kekar. "Tatto yang bagus, Pak ...."
"Ergi. Namaku Ergi." Sergey tidak berani menoleh. Dia sangat takut bila Vura curiga lalu menyadari sesuatu yang janggal. "Ini tatto pasaran."
Sergey terkejut karena Vira mendekatinya dan melirik ke arah pergelangan tangannya.
"Itu, tidak pasaran. Mendiang papahku juga punya." Vira memelintir bibir dengan getir. Air matanya melesak keluar dan menggenang di pelupuk mata. "Aku jadi kangen Papah. Setiap papa mengelus lenganku, mataku terus tertuju pada tato seperti itu."
Sergey menarik napas dalam dan berusaha tegar. Sial, putrinya ini bisa membuat kedoknya itu terbuka karena susah sekali dia menahan emosional kerinduan.
Sergey memutar sendok perlahan di air panas minuman jahe instan saat sang putri melihat ke arahnya.
"Apa anda memiliki seorang putri?"
Pertanyaan Vira membuat Sergey tersentak hingga sendok itu terayun, dan air panas memercik ke tangan Vira
"Sorry, Non!" Sergey langsung melihat dua tangan putih yang memerah dan dikibas-kibaskan. Sergey menarik dua tangan mungil itu ke westafel.
__ADS_1
"Hehehe. Pak Ergi aku tidak apa-apa." Vira terkikih karena reaksi berlebihan sopir itu.
"Ini panas, kok dibilang berlebihan, kan bisa meninggalkan luka."
"Vira, kamu kenapa?" Intania menurunkan Musa dari gendongan di pintu dapur. Dia langsung menarik tangan putrinya setelah menyentak tangan lelaki yang sembarangan memegang Vira. Sesaat hidung Intan berkedut dan mengendus-ngendus, bau parfum mantan suami.
Tengkuk Intania merinding. Dia melirik bekas kemerahan di tangan putrinya. "Kamu kenapa, sih? Ini tangan bisa merah."
"Maaf, itu karena saya." Sergey terus memandangi Intan yang kini makin menua.
"Kamu, siapa kamu?" Tanya Intan penasaran dan tidak jadi marah. Dia melihat seragam sopir.
"Pak Ergi, Mah. Juga suami Kak Lana." Vira menimpali, karena pria itu menunduk, dia yakin sopir itu takut pada wajah mamah yang galak.
"Oh, sopir? Tolong, lain kali jangan sampai menyentuh putri saya, walaupun ujung rambutnya."
Sergey mengangguk dengan terus menunduk. Dia memikirkan cara untuk membuat kesan menyebalkan yang harus dirasakan Intania. "Baik, Omma."
"Omma? Apa aku sudah tua!" Intania berteriak.
"Mamah?" Vira meringis heran. "Mama masih muda kok."
"Maaf, biasanya saya mendengar Den Musa memanggil anda 'Omma'" Sergey menahan tawa, senang sekali membuat Intania marah.
"Hanya cucuku yang boleh panggil Omma. Kamu tetap panggil saya Nyonya Intan." Intan mendecih lalu meninggalkan dapur. "Mana nasi goreng untuk Musa? Cepat bawa Vira," suara Intan berubah lembut pada putrinya.
"Iya, Mah." Vira berjalan ke dekat sopir. "Pak Ergi, maafin mamah saya. Jangan diambil hati. Pasti Pak Ergi punya anak perempuan, yah?"
"Iya, dia sangat cantik, seperti Non." Sergey tersenyum semeringah.
"Memang berapa usia anak Bapak?"
"18 tahun, Non."
"Sama kaya usia aku dong Pak Ergi! Kapan-kapan bawa main ke sini dong, biar aku ajak main dia."
Sergey tertawa menyengir. Bodoh sekali kenapa dia enteng sekali menjawab. Sergey mengiyakan saja ajakan putrinya.
Teh jahe dibawa, melewati halaman paviliun. Sekarang dia menempati rumah yang dulunya untuk pembantu. Dia yang meminta Lana agar mengutarakan itu pada Nita. Kalau masih satu atap, dia takut bila pembicaraannya dengan Lana didengar oleh Rama ataupun Nita.
Sergey masuk ke kamar, dan menjumpai Lana baru keluar dari toilet dengan mulut basah. "Muntah lagi?"
"Aku akan mencari mangga sendiri. Sepertinya, ini akan reda kalau sudah makan itu," ucap Lana dengan tubuh lemas.
"Biar aku yang cari, kamu istirahat saja."
"Mas, bolehkah Lana ikut? Lana sudah ingin memakannya."
Sergey memutar mata malas, kalau bukan untuk bayinya, dia ogah. "Ya sudah, pakai jaketmu. Aku ijin Tuan Rama dulu."
Sergey melangkah keluar, lelah rasanya menjadi babu di rumah sendiri. Kenapa nasib hidupnya jadi sangat buruk. Ini gara-gara Pedro, tapi kalau tidak ada Pedro, dia bisa mati. Lalu bisa melihat kedua cuci kembarnya yang sangat lucu.
...****************...
Ketika Sergey kembali, dia melihat Intania sedang bermain hp. Sergey melirik sekitar dan menjumpai cicak. Dengan sigap dia memegangi cicak. Hewan itu memutuskan ekor karena berusaha melindungi diri. Dia kemudian melemparkan cicak itu ke kepala Intania.
"Ah! Apa ini! Ahh Ahhh!" Intania langsung berdiri dan menggetarkan seluruh tubuh karena geli pada sesuatu yang jatuh ke rambut dan masuk ke dalam baju.
"Apa, Mah, teriak-teriak?" Vira lari keluar dari kamar Nita dengan memegangi popok..Dia mendekati mama yang mengibaskan tangan ke permukaan dada dan punggung.
"Itu, Nyonya sepertinya kejatuhan sesuatu," ucap Sergey dengan nada dibuat serius. Dalam hati tertawa jahat. Ini sangat lucu.
"Ya ampun, sayang geli ih, ada cicak tadi- ah itu!" Intania loncat ke kiri hingga tak sadar menyenggol sopir. Dia meneplak sopir itu. "Cepat tangkap cicaknya dan buang jauh-jauh!"
"Mana bisa ditangkap, Nyonya?" kata Sergey dengan nada dibuat mengeluh dan berusaha menangkap cicak itu dan berhasil. "Yah ketangkap! Cuma cicak kecil ini, Nyonya!"
"Ah!Jauhkan itu dariku! Kau-kau!" Intania merasakan jantungnya berdebar kencang dan takut saat melihat cicak yang tidak terlalu besar. Mata cicak itu mengerikan. Dia bergidik. "Rama tolongin Mamah!"
"Apa, Mah?" Rama lari ngos-ngosan. "Pak Ergi!" Rama merebut cicak itu dari tangan supirnya. "Kenapa anda menyodorkan itu didepan mama yang takut cicak!"
Sergey mengembus napas kesal. Kenapa dia diomelin putranya sendiri. Bikin hati jadi tidak nyaman.
"Kau! Kau, sopir tidak tahu aturan!" Intan kesal dan berlari ke kamar mandi untuk mandi. "Vera, ambilin daster Mama!"
"Iya, Mah." Vera mendekati Pak Ergi yang tampak melamun. "Anda sangat keterlaluan. Mamah saya takut dan anda benar-benar keterlaluan. Mamah saya memiliki trauma dengan cicak dan anda sungguh keterlaluan! Apa anda belum pernah merasakan ketakutan?" Vera menggelengkan kepala dengan tatapan kecewa lantas melewati sopir, yang dia lihat sempat tersenyum saat mamahnya ketakutan sebelum kedatangan Rama.
"Ya, dia marah. Kan spot jantung bagus untuk jantungnya, biar nggak lemahkan? apa aku kelewatan?" batin Sergey jadi tidak nyaman sendiri.
Ketika Sergey berbalik, Rama menatapnya dengan tajam. Dia mengikuti Rama ke ruang kerja. Dia kini duduk di depan Rama. Putranya itu kini benar-benar dewasa! Dia jadi bangga.
"Pak Ergi, Mamah saya sangat takut dengan cicak, ular, kaki seribu, tikus, kecoa. Segala hewan yang kulitnya licin-bergerigi-tebal, Mama saya takut dengan itu. Saya minta tolong, ya Pak, mulai sekarang jika anda melihat itu, bantu Mama saya menjauh. Jangan sampai mamaku melihatnya."
"Baik, Tuan. Mungkin saya tadi salah. Saya bingung kenapa Nyonya Intan berteriak, tadi saya belum tahu. Kedepan, saya akan lebih memperhatikan itu." Sergey merendahkan diri karena di sini dia supir. Terlihat Rama beneran marah.
"Tuan, saya mau ijin karena istri saya sedang ingin makan mangga muda. Jadi, saya mau keluar sekitar dua jam. Begitu dapat saya akan kembali. Kalau tidak dapat dalam dua jam saya akan kembali."
"Mangga?" Rama membulatkan mata, jadi teringat Nita saat hamil. Dia meraih secarik kertas dan mencatat sebuah alamat. "Coba ke sini, sepertinya ada."
Sergey meraih kertas dari tangan Rama. "Terimakasih, Tuan untuk kebaikan Anda. Saya permisi."
Satu jam kemudian, Sergey telah sampai di pinggiran kota. Dia melongok ke halaman dengan pohon mangga yang masih terdapat gerantilan beberapa buah mangga tersisa, tetapi sangat tinggi.
"Mas, kalau tidak bisa, nggak usah," kata Lana dengan pikiran tidak mungkin bisa mendapatkan buah di tempat tinggi.
Sergey menatap Lana lalu tersenyum, sampai Lana tak bisa berkata-kata karena senyuman itu. Pertama kali, meski tidak ada orang lain, lelaki itu tersenyum padanya.
"Tunggu, jangan panggil aku Ergi, kalau aku tidak bisa memenuhi keinginan anakku."
Lana tersenyum kagum, speechless, inikah sosok lain dibalik sikap Ergi yang selalu dingin selama ini?
Perempuan itu mengerutkan kening saat Ergi kembali ke mobil dan meraih ponsel lalu menelpon seseorang. Sementara Lana mengucapkan salam pada pemilik rumah. Lalu mengutarakan niat ke seorang nenek berhijab.
"Mas, mas telepon siapa?" Lana gatal karena terus diam saja. Biasanya, dia tidak berani menanyakan apapun karena itu memang larangan dari suaminya.
"Bantuan."
Mobil pemadam kebakaran menepi di belakang mobil milik Rama. Lana dibuat terbengong-bengong saat Ergi memanjat di tangga katrol, yang diarahkan ke dahan pohon mangga, yang tingginya ada 10 meter.
Pria itu memetik mangga dan memperlihatkan ke arah Lana." Aku dapat, kan? Hahaha!" Sergey dengan bangga, dia selalu menuruti semua kemauan anak-anaknya. Untuk apa hidup ini kalau bukan membuat anak-anak bahagia.
Lana tersenyum haru dan menganggukkan kepala melihat Sergey senang bukan kepalang, hampir semua mangga dijangkau dengan tangga mobil pemadam kebakaran. Meski Lana meminta Sergey turun setelah memetik empat buah, tetapi pria itu bilang akan memetik semuanya.
"Ahg!" Sergey meringis dan melirik ke arah kening. Dia memegangi kepala yang pusing, di sekitar ada lebah vespa.
"Mas kenapa?" teriak Lana panik. Tetangga dan anak kecil mengerubuti mobil damkar. Lana tidak tahu sejak kapan orang-orang mulai kumpul.
Petugas damkar berjibaku bekerja, hingga katrol tangga itu mulai ke bawah. Lana menghampiri Sergey yang baru dibantu turun oleh petugas damkar dengan masih memegangi kepala.
"Lebah." Sergey meringis dan duduk saat petugas damkar menyuruh orang-orang memberi ruang untuknya.
"Ini di unyet-unyet pakai kembang kenanga. Ini ampuh. Buruan unyet-unyet ke kening suami kamu," perintah yang punya rumah yang sudah membawa lima kenanga.
Lana menguwes bunga itu dan membubuhkan di kening suami di area yang melentung dan kemerahan.
Sergey meringis saat dua tangan mungil itu memegangi wajahnya. "Eh, mangganya mana, Bang?" tanya Sergey pada petugas damkar.
"Mas, kamu kan lagi sakit, masih sempat-sempatnya ingat mangga." Lana meniup kening Ergi, maksudnya biar kenanga itu cepat kering dan meresap.
"Itu tadi ada yang jatuh. Kan susah-susah saya mengambilnya." Sergey menatap tajam pada Lana. "Apapun asal calon anakku bisa bahagia, yah?"
Lana berkedip terharu dan mengangguk.
"Ini Pak, sudah dikumpulkan mangganya." Petugas damkar menaruh dua kantong mangga muda di atas dipan di belakang wanita hamil.
Sergey melihat bingung pada orang-orang yang menonton. "Apa kalian punya semacam tarian dan pertunjukan untuk anak-anak?" tanya Sergey pada damkar dengan senyuman berharap.
"Kami ada yel-yel penyemangat yang biasa kami lakukan sebelum bertugas."
Sergey berdiri lalu berbisik pada seseorang yang mungkin sibpemimpin operasional. Dia lalu duduk lagi saat petugas damkar membentuk lingkaran dan berunding.
"Istriku, kemari, duduk sini." Sergey menepuk paha. Dia mengerutkan kening karena wajah Lana memerah.
"Mas, malu, banyak orang-" Lana tak meneruskan kata-kata karena perubahan wajah Ergi yang mendadak seperti akan marah. Dia mengangguk dan mengucapkan permisi pada si nenek, tetapi si nenek justru senyum-senyum.
"Suaminya sayang banged, ya," ucap si Nenek dengan senyuman lepas.
"Lihat mereka terhibur, kan, wanita seumuran dia juga ingin ada yang menghiburnya. Jadi, kalahkan egomu sejenak untuk senyuman beliau yang mau memberikan banyak mangganya untuk anak kita," bisik Sergey di telinga Lana yang harum.
"Maaf, Mas." Lana meringis sangat malu, dia tak pernah seperti ini di tempat umum. Ergi benar-benar menyebalkan.
Dia bilang apa, anak kita? Seutas senyuman simpul mengembang tanpa disadari Lana. Dia merinding takut-takut karena hembusan napas Ergi ditengkuk.
Suara yel-yel dan formasi dari delapan pria berseragam oranye menghibur semua orang di situ, terutama anak-anak. Lana meringis canggung saat tangan kekar merayap di perutnya.
"Papa sudah manjat ambil mangga sampai kena lebah, plus pertunjukan buat kamu, Nak. Jadi, kamu harusnya senang. Jangan buat mamahmu mual terus. Memang kamu tidak kasian dengan mamahmu ini."
Malu luar biasa Lana mendengar suara kesungguhan Ergi. Napasnya seperti berhenti. Astaga, bahkan mantan pacarnya tidak pernah membuat dia merasa semalu ini, tetapi menyenangkan. Dia merasa sangat dihargai sebagai perempuan.
Tidak-tidak Lana, kau harus tetap waras. Semua ini hanya karena anak ini, bukan tentang kamu. Karena hanya ada Nita di dalam hidupnya. Batin Lana membersihkan pikirannya yang dianggap terlalu kepedean.
Sergey tepuk tangan diikuti tepukan orang-orang saat pertunjukan damkar mereka selesai. Sergey mengundang anak-anak kecil untuk berkumpul dan membagikan amplop putih.
Lana melongo, entah, apa pria menyiapkan itu semua. Maksudnya segenggam amplop sebanyak itu. Bahkan orang-orang dewasa ikut mengantri dan kebagian semua.
Sergey pamit pulang dan menyodorkan bingkisan handbag hitam ke Nenek. Dia menenteng dua kantong mangga muda dengan wajah bersinar melewati halaman dengan pagar tua yang cat putih itu telah mengelupas dan menampakkan jamur hijau.
Sergey menaruh hasil jerih payahnya ke bagasi mobil. Dia menghampiri petugas damkar dan membuka pintu bagian depan lalu menyodorkan ke paha si petugas sebuah amplop.
"Terimakasih telah membantu kami. Jangan tersinggung. Anggap ini sebagai rasa syukur atas kehamilan istri saya."
Petugas damkar dan sopir saling pandang, ingin mengembalikan tetapi pintu sudah ditutup. Lalu pria itu mengedipkan mata membuat petugas damkar itu kebingungan.
"Katanya untuk syukuran, ya sudah terima saja," ucap sang sopir damkar.
"Tapi-"
"Sudahlah, menolak juga tidak baik." Si sopir damkar meringis karena malu.
Sekepergian pria ramah dengan aura kuat, nenek itu membuka isi Hand Bag dan melongo dengan mata berkaca-kaca saat melihat sebuah amplop coklat yang dibuka adalah segepok uang kertas merah yang bertuliskan BCA Rp.10.000.000,00 dan baunya khas uang baru. Sebagai seorang janda, tentulah uang itu sangat berguna untuk kebutuhan sehari-hari.
...****************...
"Kenapa senyum-senyum?" Sergey dengan nada dingin dan melirik wanita yang terus melihat ke arah luar jendela. Dia kembali fokus ke kemudi.
"Itu, Nenek tadi bahagia sekali."
"Lalu kamu?"
Lana menoleh ke kanan. "Aku kenapa, Mas?"
"Kamu bahagia tidak." Sergey dengan nada semakin dingin. "Kalau kamu bahagia itu bagus, anakku akan tumbuh sehat."
Senyuman Lana memudar. "Iya, aku bahagia banged, Mas."
"Apa yang keluar dari bibirmu tidak selaras dengan kenyataan." Sergey menambah kecepatan mobil. "Tidak ada orang bahagia berbicara dengan suara lemas."
Lana membulatkan mata. Apa Ergi begitu teliti. "Mas, aku sangat bahagia!" Lana tersenyum dengan tulus. "Sungguh. Memiliki suami yang pengertian-" Lana miring ke kanan, dia keceplosan. Jangan-jangan Ergi akan marah.
"Kamu mau bilang apa? Kalau ngomong jangan diputus-putus dong."
Lana menunduk. "Terimakasih sudah pengertian dan berbaik hati memenuhi keinginan Lana, sampai mas kena Lebah."
"Ini sakit loh." Sergey meraba keningnya yang terasa menonjol dan linu. "Aku bangga, anakku juga pasti bangga."
"Maaf, Mas."
"Kenapa minta maaf?"
__ADS_1
"Gara-gara Lana-"
"Kau menyalahkan diri karena serangan tawon . Itu diluar kendalimu. Apa jika pacarmu menipumu, kau juga menyalahkan dirimu sendiri?"
Lana memelintir bibir dan melirik ke samping pada tatapan lurus Ergi ke jalan.
"Dia masih menghubungimu?" Sergey berdecih saat Lana mengangguk.
"Dia minta agar aku mencabut laporan di kantor polisi. Dia bilang takut pada surat panggilan kepolisian yang dilayangkan ke rumah orangtuanya."
"Lalu kamu jawab?" Sergey melirik samping dan Lana menggelengkan kepala.
"Jangan cabut laporan itu. Biar dia menanggung perbuatannya. Dan kau tak usah memikirkan orang itu lagi. Buang-buang energi saja. Kau harusnya itu fokus kepada anak kita-" Sergey membuang napas kasar dan menepikan mobil.
"Mas, kenapa kita berhenti di sini?"
"Dari tadi belum ada yang masuk ke perutmu. Ayo keluar, aku tahu kau suka dengan batagor di sini."
Lana ternganga, apa yang tidak tahu dari Ergi. Dia turun dan berhenti. "Mas ...."
"Kenapa? Ayo kamu pesan."
"Aku tidak mau makan itu."
"Lalu mau makan apa?"
Lana menggaruk lengannya. "Rica-rica basur-"
"Astaga apalagi itu, Lana?" suara Sergey terdengar begitu tertahan.
"Iya itu, semacam mentok, itik."
"Aku tanya .... " Sergey mengatubkan bibir, lalu berbicara lembut dan tersenyum dipaksakan. "Kamu tahu dimana yang jual itu?" Sergey merasakan kepalanya akan mendidih saat Lena menggelengkan kepala dengan tatapan polos itu yang makin membuatnya gedek.
"Sepertinya, di daerah, Mas."
"Daerah!" Sergey berjalan ke mobil dan membuka pintu. "Cepat masuk."
Lana ketakutan bukan main pada wajah Ergi yang menakutkan. Mereka kembali dan perutnya terus berbunyi. Perempuan itu mendengar Ergi yang bolak balik telepon dan menanyakan rica-rica basur. Dia ketakutan karena bentakan Ergi ke lawan panggilan.
Sesampai di rumah, Lana mengambil mangga yang sudah bikin dia ngiler setengah mati, tetapi itu kini berpindah ke tangan Ergi dan lelaki itu menghalangi dari dua kantong mangga.
"Makan dulu, baru makan ini. Perutmu bisa bermasalah, bisa berakibat pada kesehatan calon bayi kita. Aku nggak mau memiliki anak cacat. Jangan sampai."
"Mas, sedikit saja, aku mau makan itu." Lana kesal dan memukuli perut Ergi.
"Nggak boleh yah nggak boleh." Sergey menahan tangan Lana yang memukuli perutnya. Gadis itu malah mewek. Persis seperti Vira kalau lagi mewek. Lucunya. Akan tetapi perlahan membuat dia merasa kasihan.
"Sakit tanganku, Mas!" Lana mendesis dan Ergi melepas tangannya. "Pelit!"
Sergey memiringkan kepala tidak terima dibilang pelit. "Makan dulu, roti tidak apa-apa deh, sambil nunggu rica-rica yang saya pesan datang."
"Aku mau mangga." Lana dengan kesal mencubit Ergi karena menghalanginya. Dia menghentak-hentakan kaki dengan cepat karena kesal lalu menendang kaki Ergi dan meninggalkan pria itu di dapur.
"Lana," geram Sergey ingin rasanya menelan wanita itu utuh-utuh. Tetapi bila ingat ada benihnya di sana, dia jadi tidak tega.
Sergey melihat mangga di tangan, lalu dikupasnya sambil terus membentak anak buah di handsfre. Pesan makanan seperti itu saja sampai satu jam.
Nita yang akan masuk ke dalam dapur, terhenti, saat mendengar bentakan familiar. Dia melangkah perlahan dan melirik buah mangga. Pasti sahabatnya ngidam.
Sebuah kopi dibuat Nita sambil melirik supirnya yang baru mematikan telepon. Seolah sopir itu baru tersadar lalu menganggukkan kepala ke arahnya.
"Pak Ergi Lana masih muntah-muntah?" tanya Nita khawatir. "Saya panggilkan dokter, ya?"
"Tidak perlu, Non. Dia sudah minum anti mual." Sergey kembali memotong mangga seukuran untuk rujak. Pria itu menoleh ke Nita. "Non, tahu resep bumbu rujak?"
Nita terdiam sejenak sambil menaruh dua cangkir kopi yang masih mengepul ke meja dapur. Dia melangkah ke area bumbu. "Biar aku bantu buatkan bumbu kesukaan Lana."
Sergey menyunggingkan senyuman. Lagi enak-enaknya berduaan dengan Nita, Sergey langsung tertunduk saat baru mendapat lirikan tajam Intania yang baru masuk dapur.
"Sedang buat apa, Nita?" Intania melirik ke meja dapur setelah melihat buah mangga. "Untuk Lana, ya?"
"Iya, Mah. Kasian Lana." Nita menaruh cabai, gula jawa, terasi sedikit bawang putih dan akan menguleg.
"Biar, saya saja, Non." Sergey menunggu Nita bergeser. Tangan kekarnya mulai menguleg bumbu.
Mata Intania berkedut dan pandangan meredup. Melihat tatto sayap burung. Dia ingat betul saat Sergey membuat tatto itu, dia menemaninya. Intania melirik rambut tebal sopir itu, postur tubuh, bentuk, celana dan pakaian semua. Bau Sergey kini terendus lagi, diantara bau terasi dan bawag putih.
Intania berbalik dengan memilin kening. Sepertinya, indra penciumannya bermasalah. Mengapa belakangan dia tidak hanya mencium bau parfum, tetapi juga wangi tubuh Sergey.
Sergey melirik ke belakang. Kenapa itu mantan istrinya bersikap aneh. Biasanya marah-marah. Sergey membulatkan mata saat Intania berbalik lagi dan bersitatap. Sergey langsung balik menatap ulegan batu..
"Ini buat Rama, Nit?" Intania mendadak pusing karena kehadiran sopir itu. Kini dia menjadi tidak suka karena keberadaan pria itu yang mengingatkan pada Sergey. Dia meraih nampan berisi kopi sebelum Nita menjawab.
"Iya, Mah," jawab Nita gelagapan. Dia menyusul sang mama mertua dan kepikiran karena pandangan mama pada sopir itu.
"Nita, kok sopir kamu punya tatto yang sama dengan papanya Rama?" tanya Intania saat sudah keluar dari dapur.
"Mas Rama juga bingung, Mah. Tapi kata Pak Ergi, tatto itu pasaran."
"Coba kamu ingat tato milik Tuan Jefri. Sama seperti itu. Masa dia mau memakai yang pasaran? Itu kan tanda anggota anak buah Tuan Jefri. Namun, setahu aku, yang di tangan itu hanya orang khusus dan paling dekat. Kalau bawahan ma cuma di leher. Kau sekarang tahu, kan posisi Mas Sergey sepenting itu bagi Tuan Jefri. Jadi, ya, apa seorang sopir yang Rama bilang miskin tetapi punya jabatan khusus?"
"Mungkin yang dipakai Pak Ergi tiruan."
"Tauhlah pusing." Intania berjalan dengan penuh kebingungan. "Memang dimana papamu menemukan sopir itu?"
"Nita nggak ingat, Mah. Sudah lama. Katanya beliau teman Papa Devan, tetapi juga teman dari Papa Sergey."
"Oh, pantas dia punya tato sama." Kini Intania bernapas lega karena rasa penasarannya sedikit terobati.
...****************...
Sergey keluar dari gerbang dan membentak ke anak buahnya yang kelamaan. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan menuangkan rica-rica ke dalam mangkuk. Sebuah nampan berisi potongan mangga muda, sambal rujak, rica-rica dan nasi, dibawa Sergey ke kamar.
Terlihat di dalam kamar, Lana menutupi keseluruhan tubuh dengan selimut. Ribet deh kalau perempuan sudah ngambek, seperti ini, maunya diperhatikan. Baik Intania dan Lana memiliki kemiripan, kalau sudah ngambek, menyebalkan. Nampan diletakkan di sofa samping kasur.
Sergey naik ke tempat tidur di tengah-tengah, dan mengelus bagian yang dia yakini lengan Lana. "Katanya mau rica-rica apa itu namanya ment-ment ...."
"Mentok!" Lana dengan kesal membuka selimut sampai batas leher dan menatap tajam ke wajah Ergi yang kini begitu santai tanpa rasa bersalah.
"Makan, gih." Sergey duduk di tengah-tengah dan menarik nampan. "Makan baru makan mangga, ini sudah jam dua siang. Perutmu itu terus bunyi minta makan."
Lana duduk dengan memendam kagum, melihat ada bumbu rujak, padahal dia tidak minta. Sekali lagi pria ini membuatnya sulit berkata-kata. "Aku mau mangganya dulu, boleh?"
Sergey menoleh dengan heran. Belum dia menjawab tangan mungil itu sudah meraih mangga dan mencoba sambal.
Sergey mencicipi rasa daging. "Mana dagingnya ini alot kaya sandal. Makanan apa ini. Jangan dimakan." Sergey berniat menaruh piring itu, tetapi sudah ditarik Lana. Wanita itu langsung lahap makan sampai sering terpejam saking menikmatinya.
"Baguslah," batin sergey. Sepiring rica-rica habis dan tersisa tulang. Untuk seumurannya, itu menurutnya alot, tetapi gigi Lana jelas masih kuat.
"Mangganya?" Sergey mengerutkan kening saat Lana turun dari kasur.
"Mas aku kenyang, itu nanti lagi."
"Kamu baru makan satu potong mangga. Saya sudah susah-susah menghaluskan bumbunya, loh? Apa tidak enak?" Sergey menunggu Lama keluar dari kamar mandi. Lalu mengamati gadis itu yang tak menjawab pertanyaan dan malah menaruh nampan itu di atas meja kamar.
"Lana, apa bumbunya tidak enak?"
Lana terdiam, dia canggung setiap di kamar dengan suaminya. Ergi di KTP berusia 30. Pria itu tampak seperti bukan 30, sangat dewasa dan pengertian. Terkadang wawasan yang dimiliki Ergi membuat dia mengira bahwa pria itu seusai ayahnya. Masa kadang film yang dibicarakan Ergin sama seperti film-film yang dibicarakan mendiang ayah.
"Lana?"
Perempuan itu duduk di sisi kanan tempat tidur dan menarik selimutnya, lalu menatap penasaran pada mata Ergi. Jelas, itu mata berpengalaman seakan banyak melewati kehidupan. Siapapun mungkin bisa membedakan mana pria usia 20, 30 40, 50, 60.
Lana terkejut saat Ergi menjatuhkan kepala di pahanya. "Mas?" Jantungnya seperti mau copot. Dia sulit bernapas.
"Kamu budeg?"
"Aku-Kenapa mas tidur di situ? Aku mau tidur."
"Kamu habis makan, tidak boleh tidur, nanti bisa asam lambung."
Lana mengangguk dan duduk lebih tegak untuk menaruh bantal di belakang. Dia memilih terpejam dan melemparkan kepala ke belakang, dia sangat ingin tidur, punggungnya pegal. Namun, dengan adanya Ergi, dia tak nyaman. Lana meringis saat telinga Ergi menempel di perutnya.
"Sambal rujak itu gimana rasanya, enak nggak buatan papamu ini, hai anakku sayang? Kau sehat-sehatlah. Biar Papa temani kamu tidur siang," ucap Sergey dengan kelopak mata terpejam.
"Mas, sambalnya enak. Nanti aku makan lagi." Lana menjawab dengan kantuk tak tertahankan. "Terimakasih banyak."
Sergey menyunggingkan senyuman, bersyukur kalau buatannya terasa enak. Menunggu beberapa waktu, Sergey duduk dan membaringkan Lana.
Ketika Lana terbangun, dia mendapati kepalanya pegal. Yang membuatnya terkejut karena lehernya telah berpindah di lengan kanan Ergi. Dia bangkit perlahan. Jantungnya berdebar kencang. Ulah pria ini belakangan aneh sekali.
Sudah jam setengah empat sore, Lana buang air kecil dan mandi. Saat keluar dia menjumpai Ergi di depan kamar mandinya. Lana bergidik dan melewati Ergi secepatnya. Namun, badannya tertarik ke belakang dan kini dalam dekapan hangat.
"Bisa aku minta?" bisik Sergey di belakang telinga Lana dan Lana terkejut merasakan sesuatu keras di belakang yang menekannya. Setelah tiga bulan, baru kali ini Ergi meminta hak, membuatnya benar-benar tidak percaya karena entah, dia seperti senang mendengar itu.
"Tapi, masih sore, Mas?" lirih Lana saat merasakan kecupan di pucuk kepala.
"Kenapa?" suara Sergey serak. "Jadi, tidak boleh minta sore-sore?" Sergey langsung menjauh dari tubuh Lana.
"Mas .... " Lana dengan ragu canggung malu bingung, mencoba berpikir tetapi tidak mau ditinggalkan Ergi dalam posisi jarang-jarang seperti ini.
Apa kebaikan Ergi belakangan hanya karena suaminya ingin meminta hak. Lana mengejar lelaki itu yang sudah membuka pintu dan akan keluar. Dia memeluk lengan Ergi dan menarik ke dalam kamar.
Tatapan Ergi yang dingin padanya, membuat Lana tak putus asa. Dia mendorong pintu dan menguncinya. Kakinya menjijit dan berniat mengecup bibir itu tetapi pria itu menoleh hingga kecupan mendarat di pipi kanan Ergi. Mendadak, Lana merasakan cekalan kuat di tangannya yang menjauhkan dari badan Ergi.
"Jangan lakukan itu lagi, Lana. Lihat batasanmu. Kau melewati batas. Jangan kau pikir karena bayi ini lalu kau bisa begini ini." Sergey dengan nada rendah penuh kebencian. Dia memutar kunci pintu dan melangkah keluar tanpa melihat gadis itu lagi.
Malamnya, Lana bolak-balik kamar, sudah pukul satu pagi. Ergi tidak kembali ke kamar. Pria itu pasti marah kepadanya. Dia keluar dari paviliun dan mencari keberadaan suaminya, tetapi tidak mendapati dimanapun.
Sergey melihat cctv di ponsel saat Lana mencari ke sana kemari. Ngomong-ngomong soal kamar rahasia ini yang berada di dalam kamar rumah utama, tak bisa dimasuki orang. Orang lain hanya bisa memasuki kamar bagian luar.
Kamar ini begitu rapat, jika dia berbicara dan menyalakan lampu pun, tidak akan ada yang tahu dan mendengar dari luar. Ruang ini memakai pendingin dengan listrik terpisah yang terhubung ke rumah belakang, jadi takkan ada yang curiga.
Sergey frustasi, sepertinya dia harus menceraikan Lana. Agar gadis itu tidak berpikir dia menyukai gadis itu. Ya, sebaiknya begitu setelah anak itu lahir.
Di cctv tampak Intania akan memasuki kamarnya di bagian luar. Sergey mengamati Intania yang masuk dan memandangi meja rias lalu meraih botol parfum. Wanita itu mengendus lalu menyemprotkan parfum itu di leher. Pandangan Sergey meredup saat Intania meraih pomade miliknya dan mencolek sedikit lalu diendus-endus. Dia heran apa yang dilakukan mantan istrinya itu.
Sergey mencoba terpejam setelah lima belas menitan berlalu, Intania justru tertidur di kasur bekas Atha. Ruangan ini dan sebelah, dulu adalah kamar tamu.
Sedangkan kamarnya yang dulu saat menjadi suami Intania ada dilantai tiga.
Setelah melakukan hubungan bisnis dengan Athalia. Dia membeli kasur baru untuk Nita, setelah merubah kamar rahasia ini.
"Apa kamu merindukan aku, Intan? Tapi salahmu itu kamu dulu meninggalkanku dan tidak mempercayaiku. Aku tidak suka penolakan dan ditinggalkan," gumam Sergey dengan mata terpejam. Dia berterimakasih karena ditinggalkan, karena jadi memiliki kesempatan mengenal dunia baru bersama Nita.
Hidupnya sangat aneh. Mengapa Intania selalu berkutat di sekitarnya walau sudah bercerai. Kini dia memiliki isteri muda, dia merasakan bagaimana rasanya dicari saat dulu Intania tak mencarinya setiap di luar rumah.
Bagi Sergey, Lana bukanlah seleranya. Atau mungkin tidak ada tantangan.
Dia masih tarik ulur karena dia tidak menyukai Lana, tetapi Lana adalah istrinya. Dia tak mau terlalu menyakiti Lana, dan membuat sedih, tetapi juga tak mau memberikan harapan.
Karena sumpah demi apa. Dia sudah lelah dengan namanya perasaan. Namun, dia sangat menyukai anak-anak. Lucu. Cucunya, anak di dalam kandungan Lana, bahkan dulu, dia menyukai Nita saat kecil.
Dia lebih menyukai anak-anak, daripada harus berhubungan dengan wanita. Walaupun kebutuhan biologis itu bukanlah sesuatu yang dapat ditolak, karena sebagai manusia kita membutuhkan lawan di atas ranjang untuk tetap waras.
Sergey membuka mata, jadi bertanya-tanya. Lalu bagaimana kebutuhan biologis Lana? Mungkin wanita itu sedang dalam fase besarnya akan sebuah Hasrat.
Namun setiap kali ingat dengan tangisan Lana saat dia mendapat kesucian gadis itu, dia jadi sedikit muak. Bukan muak kepada Lana, tetapi muak pada dirinya sendiri karena merasa tidak diinginkan. Jujur saja dia tersinggung. Banyak gadis di luar banyak menggodanya, tetapi Lana justru seperti menyesal bahwa dia merenggut itu dari Lana.
Bisakah seseorang menginginkannya secara Hasrat di atas ranjang?
Sergey duduk, kepalanya pusing. Intan justru tidur di sebelah, dia jadi tidak bisa keluar kamar. Dengan memaksa ketakutannya, Sergey keluar dengan perlahan setelah merasa yakin. Intania berubah posisi tidur dan Sergey langsung berlutut dan tiarap di lantai. Dia mengintip ke atas, tidur Intan pakai menghadap kemari.
Sergey berdiri perlahan dan ....
"Mas Sergey .... "
__ADS_1
DEG