
🏘️Rumah Jefri🏘️
"Ini peringatanmu, Atha. Jangan macam-macam denganku." Jefri tertawa sembari mengarahkan senjata ke arah Devan. Suara letusan menggema disertai kilatan api pecah di ujung senjata. "Devan menjadi selanjutnya."
Mual dialami Nita, ingin rasanya pergi dari tempat penuh tekanan ini. Melihat papah ketakutan, bantal berlubang akibat tembakan, tangisan Musa, ma*yat dokter yang terbujur kaku dan bau amis darah membuat dia ingin berteriak. "Aku tidak akan main-main, Tuan Jefri."
Jefri menyunggingkan senyuman dengan puas. Dia condong ke wajah Devan hingga tersisa satu kilan. "Kau lihat, putrimu sudah tidak manja lagi, hahaha."
"Tak perlu sefrontal ini, kan? Aku akan memberitahu. Biarkan Nita pergi dulu," kata Devan dengan nada lemah pada Jefri.
"Ti-dak, Pah." Nita menggigit bibir bawah dan kepalannya geleng-geleng. "Aku tidak akan pergi kecuali bersama papah!"
Nathan lebih was-was karena Jefri menurunkan senjata. Gerakan Jefri itu sulit dibaca dan tak terduga. "Ayo, Nita, keluar dari sini."
Nita mengelus kepala mungil dan berusaha menenangkan tangisan Musa. "Tapi, Kak, aku mau bersama papah."
"Keluar Atha, tidak perlu mengkhawatirkan Papa. Dia akan membutuhkan Papah dan takkan bisa menyakiti Papa," tegas Devan meskipun dengan nada lemah.
Jefri meludah ke kanan. "Cih! Percaya diri sekali. Aku bisa menghabisimu detik ini juga."
"Ayo, Nita." Nathan menarik lengan Nita dengan paksa untuk keluar dari ruang perawatan.
Nita terus melihat ke arah belakang, Jefri tampak berbicara dengan Devan. Hati Nita mengkerut, pandangannya jatuh ke arah ma*yat di samping kakinya, dia melompat hampir saja menginjak darah. Tatapan kosong ma*yat itu membuatnya semakin berkeringat dingin. Dia menggelengkan kepala, jangan sampai papanya dalam posisi itu. Apa aku bisa melaporkan pembunu*han ini?
⚓
🏘️ Kediaman Sergey Aiman Abimasa🏘️
Ketika Nita baru masuk kamar, Rama langsung menarik Mbak Jum ke dapur. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres pada wajah kusut Nita barusan. "Mbak Jum, beritahu apa yang terjadi di dalam rumah besar itu? Apa yang dialami Ibu Tiri, apa mereka menyakitinya?"
Mata mbak Jum membesar. Den Rama kenapa bisa tahu bila dia dan nyonya habis dibawa dari rumah besar. "Saya tidak tahu apa-apa karena saya disuruh menunggu di ruang tamu."
"Ceritakan saja yang Mbak Jum tahu." Rama menghela napas kasar dengan tidak tenang dan digerogoti penasaran.
"Orang-orang itu merebut Musa dari saya dan memberikan ke nyonya. Mereka menyuruh nyonya jalan di depan mereka. Kalau tidak salah ada enam pengawal dan semuanya membawa senjata api laras panjang kaya di fIlm-film.
"Lalu sekitar satu jam, wajah nyonya begitu pucat dan habis menangis saat keluar dari dalam. Begitu juga Musa yang masih sesenggukan dalam gendongan nyonya. Lalu saya mengambil alih Musa. Tidak berselang lama muncul Jonathan Pradipta -actor yang naik daun itu, lalu mengantar kami kembali ke Mall."
"Apa kau melaporkan ini ke Papah?"
"Mereka mengancam agar kami merahasiakan ini dari siapapun termasuk dari Tuan Sergey." Mbak Jum masih menunduk dan tubuhnya gemetar tak berani melihat wajah seram pemuda yang pasti umurnya di atasnya sedikit.
⚓
Bau harum sabun switsal dan shampo beraroma lavender memenuhi ruangan. Nita menurunkan Musa di ranjangnya dan melepas handuk lembab dari tubuh mungil yang masih terdapat bekas bercak hitam yang mulai samar bekas DBD.
Pintu berderit terbuka, Sergey memasuki kamar dan menaruh tas kerja di sofa. Nita melirik sebentar, sambil mengusapkan minyak telon di punggung, leher dan dada Musa. Musa sendiri asik bermain dengan bebek karet warna kuning.
Suara langkah berat di belakang membuat Nita merinding. Terlebih aroma tembakau mulai kentara dan Nita secepatnya memasukan lubang kaos ke kepala Musa, bahkan tanpa sempat memberi bedak. Menit berikutnya sesuatu berat mendarat di bahunya, yang ternyata kepala Sergey.
"Mas! Nita sedang pakein baju Musa," suara Nita meninggi dan kepalanya miring ke kiri menjauh dari pipi Sergey.
"Kenapa pulang sore? Memangnya belanja apa saja, sih?"Sergey menarik diri karena Nita lagi-lagi menghindar. Membuatnya tersinggung saja.
"Belanja seperti biasa, cuma nemenin Mbak Jum, jalan-jalan, kasian di rumah terus pasti bosen."
"Begitu?" Sergey duduk di tepi tempat tidur dan membantu memegangi ketiak Musa saat Nita akan menaikan celana untuk menutupi pantaat mungil Musa yang kemerahan.
"Nita, Musa sepertinya butuh teman kecil. Alangkah bagusnya setelah menikah kita tak perlu menunda untuk memiliki momongan," kata Sergey dengan menahan malu.
Mata hazel melebar dan Nita sempat menghentikan aktifitas dari menaikan celana Musa. "Baik." Nita menelan saliva dengan kasar dan menaikan celana ke pinggang Musa.
"Tapi, aku ingin Mas membawa Papa Devan ke rumah ini, sebelum Nita menjalankan kewajiban sebagai seorang istri." Nita berusaha keras untuk bisa menatap Sergey.
Sergey menekan rahangnya, dia masih belum tahu cara membawa Devan keluar dari rumah Jefri. Namun, asalkan dia telah menikahi Nita lebih dulu, dia yakin nanti akan mendapat jalan keluar. Yang penting meyakinkan Jefri dulu bahwa Nita akan tunduk di bawah kemauan Jefri.
"Aku harus mengunjungi sebuah pertemuan malam. Tolong, siapkan air mandi. Soal Devan, aku takkan mengecewakanmu," ucap Sergey dengan mantap.
Nita mengangguk mengerti. "Terimakasih, Mas." Nita menuju kamar mandi dan menyiapkan air rendaman.
Sepuluh menit berlalu, Nita mengintip dari balik pintu kamar mandi dan Sergey tampak melamun. Sergey tak menyadari Musa turun dari ranjang. Nita melangkah , mendekati Musa yang membuka lemari mainan. Tangan mungil Musa mulai mengeluarkan semua mainan dari dalam.
"Mas, airnya sudah siap." Nita mengingatkan karena tampaknya Sergey banyak pikiran.
Nita jadi kasihan, apa dia akan benar kabur saat sebelum pernikahan. Lalu bagaimana nanti Sergey? Bagaimana bila Jefri melakukan hal yang sama pada Sergey, seperti pada dokter itu, padahal Sergey selama ini telah berlaku baik padanya.
"Okey, makasih, Sayang." Sergey tersenyum tulus dan bangkit dari tempat tidur. Dia melepas sepatu dan menaruhnya di dekat sofa dengan mata tak pernah lepas dari memandangi pemandangan cantik, apalagi melihat Nita mengecup bibir Musa dengan gemas, dia jadi membayangkan di posisi Musa. Luar biasa, begini saja membuatku bahagia. Hahaha.
⚓
__ADS_1
Ketika Sergey telah pergi lagi. Nita menuntun Musa menuruni tangga. Di lantai satu di ujung tangga, Rama berdiri mematung dan akan naik tangga. Rama menunggu di bawah, menunggu Musa yang terlihat ingin menuruni tangga lebih cepat sambil tertawa unyu. Bocil itu langsung menghambur ke paha Rama sambil memegangi tangan Rama.
"Kamu di rumah .... " Nita menggaruk tengkuk dan hidung. Jantungnya berdebar begitu mencium aroma musk kesukaannya. Tatapan Rama kini tampak lebih lembut tak seperti biasanya.
Nita mulai menyadari, sepertinya Rama benar-benar tertarik kepadanya. Walau Rama berusaha dingin dan menjaga sikap tetapi mata biru itu tampak berkilauan. Dia sangat tampan dan senyuman itu sangat manis!
"Kamu sedang ada masalah apa, mukamu itu penuh dengan masalah, Tha," tanya Rama dengan antusias. Dia menggendong Musa menuju dapur dan Nita mengikutinya.
"Aku sedang pms," celetuk Nita dan melihat Rama memencet tombol kopi.
"PMS? Sepertinya bukan itu." Rama memegangi ketiak Musa, mendorong ke atas setinggi-tingginya, sampai kaki mungil itu kini sejajar dengan dagu Rama dan Musa tertawa lepas.
Berulangkali Rama mengayunkan Musa ke atas dan kebawah, lalu dia mendekat dan berdiri di samping Nita. Pantaat Rama bertumpu pada meja dapur berbahan marmer. Rama sengaja bersentuhan dengan lengan Nita. "Aku siap mendengarkan masalahmu, mungkin aku bisa membantu."
Musa mengulurkan tangan mungil. Anak itu justru menarik rambut Nita sampai menutupi wajah ayu itu. Rama tertawa menimpali tawa Musa.
"Musa ... " Nita melepas jari mungil dari rambutnya karena jambakan Musa mulai kuat. Kini anak kecil itu tepuk tangan di depan wajah Rama.
"Bulung Kaka uaaaa!" Musa lalu mengecup dagu Rama hingga liur Musa menempel di dagu Rama.
"Ih, encesnya tuh ngenain kaka Ama." Nita berjinjit. Nita mulai mengelap dagu Rama hingga kering.
Sontak Mata Rama meredup dan menahan tangan Rita. Jempol Rama menusuk telapak tangan Nita. "Siapa yang kamu temui di rumah besar itu."
"Kamu mengikutiku?" Nita melirik ke arah lain karena tatapan Rama yang jauh lebih tajam.
"Mama, bulung Kaka Uaaaa," kata Musa menyela orang dewasa itu.
Rama melepaskan tangan Nita, lalu beralih menarik dan menahan tangan Musa yang menutupi mulutnya. "Aku benci kamu yang selalu tertutup, Tha."
"Jefri." Nita sudah tak tahan lagi untuk diam. Dia seperti ingin mengadu pada Rama.
"Siapa Jefri?" Alis Rama terangkat satu. Rama menahan tubuh Musa yang bergoyang ke kanan-ke kiri dan mulai berulah. "Kau tak lapor polisi atau bilang ke papah? Dan apa urusannya denganmu."
"Orang yang kutemui tadi sore, dia orang psiko." Nita menghela napas kasar. Cerita ke Rama seperti percuma saja. "Dia teman papahmu."
Mata Rama berputar, dia banyak mengenal teman papa, tetapi tidak ada yang namanya Jefri. "Dia pasti mengancammu, seperti apa yang pernah Mama Intan alami."
Alis Nita terangkat tinggi. "Memangnya mamahmu mendapat ancaman seperti apa?"
"Dulu saat menjadi istri papah. Mamah selalu dapat ancaman, katanya akan dibu*nuh, katanya papah akan dihabisi, atau ancaman yang merambat kekeluarga mamah bila Mamah tak bisa mempengaruhi keputusan papah."
"Kau tahu kegiatan papa sekarang," ucap Rama dengan putus asa sambil menyerahkan Musa ke Nita karena Musa tak bisa diam dan mulai berulah.
"Ini rahasia keluarga yang hanya aku, papa dan Mama Intan yang tahu. Mungkin bila Kakek tahu ini, entah kemarahan Kakek seperti apa, mungkin akan langsung menjebloskan papa ke penjara," ucap Rama dengan bergidik.
Rama melangkah dengan terseret dan menaruh cangkir di bawah dispenser mesin kopi. Lelaki itu menekan tombol dengan pandangan kosong. Aroma kopi segar menyeruak ke ruangan saat kopi mulai mengucur dan menyadarkan Rama dari ketakutannya.
"Kau selama ini sudah tahu?" tanya Nita dengan mata melebar. Dia tak percaya jika Rama sudah tahu ini dan bersikap seperti biasa. Nita menurunkan Musa ke lantai, dan mulai mengikuti Musa yang membuka pintu lemari berisi wajan.
"Aku hanya tahu sebagian. Tapi aku bisa apa? Papah tak mungkin mau mendengarkanku. Jikapun Papah mau mendengar, dia takkan bisa melawan.
"Mereka terhubung satu sama lain dalam sebuah sistem besar yang saling menjaga. Itu juga alasanku kenapa aku tak suka bila kau dekat papah. Aku tidak mau kau menjadi pion papah seperti mamahku dulu. Lalu mereka membuatmu celaka. Entahlah .... " Rama duduk di lantai di samping Nita, sedangkan Musa sudah bermain dengan wajan dan spatula.
"Kau pernah bilang akan minta bantuan Kakek? Sejauh apa kakek berpengaruh pada keputusan papahmu?"
"Seperti aku yang menyayangi papah, seperti itulah papah menyayangi kakek. Serba sulit, tetapi kemungkinan kecil papa bisa menolak kemauan kakek," ucap Rama sambil menarik tangan Nita ke pangkuan.
Rama mengamati telapak tangan Nita yang merah, tampak peredaran darah itu lancar. "Apa kau mau menemui kakek bersamaku dan bilang padanya bahwa kita memiliki semacam perasaan yang sama."
"Kenapa kau berpikir bila aku menyukaimu. Padahal kenyataan itu bisa sebaliknya?" tanya Nita dengan penasaran.
"Aku bisa mengajarimu untuk bisa mencintaiku." Rama tersenyum tulus dan membawa tangan Nita merambat ke atas, mulai dari perut dan menempel ke dadanya.
"Apa kita harus kawin lari." Nita tertawa ringan. Sejujurnya dia geli pada kata-katanya sendiri. Benar saja, Rama langsung menghadap dan menatapnya berlama-lama.
"Tidak perlu seperti itu, Nita. Papah menyayangiku, aku menyayanginya. Jika kita kabur, itu hanya semakin menyakiti papah. Biar aku bicara baik-baik pada kakek, lalu kakek akan memberitahuku caranya untuk membuat papah mengerti."
"Tapi tinggal dua hari lagi, Rama." Nita menatap Rama gelisah.
"Iya, ya. Aku sepertinya harus berbicara dengan kakek sekarang, tetapi Kakek sedang tidak di rumah. Jadi aku harus menunggunya."
"Bagaimana jika Tuan Axel memarahi kita, khususnya aku?" Nita meringis ngeri. "Bagaimana jika kau tak usah bilang kakek, lalu kita kabur saja. Aku akan pergi sebelum ijab kabul dan Musa harus selalu ditangamu, lalu kamu bawa Musa ke suatu tempat tanpa sepengetahuan mereka dan aku menyusul kamu."
Rama mengerutkan kening ada yang janggal dengan sikap Nita yang biasa menolaknya.
⚓
Dua hari berlalu, malam pernikahan tiba, Nita bolak-balik tak tenang di kamarnya. Dia menatap pintu kamar Sergey dalam semi kegelapan, takut bila Sergey bangun dan mengetahui kegelisahannya.
__ADS_1
Kakek Axel tidak pulang-pulang ke sini dan Rama belum bertemu Kakek. Nita tak bisa tidur setelah Nathan memberitahu via SMS, bahwa dia besok akan kabur lewat jendela kamar mandi dengan tangga tali. Akan tetapi, dia harus memikirkan cara mengajak Musa.
Di kamar sebelah, Sergey bolak-balik berputar di tempat tidurnya. Dari ujung tempat tidur ke ujung lainnya. Selimut yang menutupi wajahnya ditarik kembali sampai bagian perut.
Tubuh polos Sergey panas-dingin, dia tak pernah merasakan malam pertama karena dia telah melakukan hubungan in*tim dengan Intania sejak pacaran. Namun, dengan Nita, astaga, mendekati saja lebih sulit dari yang dibayangkan. Apa dia harus memberi obat stimulan agar nanti Nita yang akan jadi istrinya -meminta dengan sendirinya, jadi dia takkan bersalah karena Nita yang meminta sendiri. Sepertinya, itu ide bagus.
Sergey menyunggingkan senyuman, lalu tidur
miring. Wajahnya langsung ditutupi selimut karena malu tak tertahankan. selimut digigitnya, ternyata begini rasanya malam pernikahan!
⚓
🏘️ Kediaman Jefri 🏘️
Di tempat lain, Nathan yang baru pulang syuting, turun dari mobil. Dia menahan napas karena anjing galak menatap ke arahnya dengan sangat tajam seolah mau menerkam. Meski moncong anjing itu dipasang pengaman, semacam penutup kawat agar tidak menggigit, tetap saja ngeri bila itu terlepas.
Setelah bebersih diri, Nathan makan malam dengan Jefri dan berusaha tetap santai. Seperti biasa, Jefri tak mengajaknya berbicara. Pria tua itu hanya sesekali meliriknya.
Jefri berdeham beberapa kali. Dia bingung cara mengatakan bahwa ternyata Nathan adalah putranya. Tetapi lalu apa nanti reaksi anak itu. Apa Devan saja yang mengatakannya pada Nathan.
Nathan mendorong gelas hingga menyentuh piring Jefri. "Anda harus minum untuk melegakan tenggorokan Anda."
Jefri dengan gugup meraih gelas dan menenggaknya air bening hingga habis. Dia menatap Nathan yang tatapannya begitu dingin. "Besok saya akan menghadiri pernikahan sahabat saya dan putri Devan. Apa kau mau ikut bersama saya?"
"Saya ingin beristirahat mumpung jadwal saya kosong." Nathan dengan nada dingin. Rencananya telah matang. Kemungkinan kecil untuk gagal.
Jefri mengangguk. "Kupikir kamu mau ikut. Ya sudah, nanti kalau berubah pikiran, kau bisa satu mobil denganku."
Nathan mengangguk pelan. Dia memiliki keyakinan ini adalah malam terakhir kali melihat ayah biologisnya. Lalu akan kembali ke Mami Stef. Dia telah mengikuti perkataan maminya untuk pura-pura tidak tahu dan memperlakukan Jefri hanya sebatas bos yang telah menaunginya di Industri hiburan.
"Apa ada makanan di mulutku?" Jefri meraih serbet dan segera mengelapi mulutnya dengan cepat dan itu justru membuatnya makin gugup.
Jefri lalu terpaku pada senyuman Nathan dan menaruh serbetnya perlahan hingga tak sadar dia menyenggol gelas kosong dan berdenting karena menyentuh sendok yang masih bersih.
Bila diamati, senyuman Nathan itu perpaduan senyuman Stefanie dan dengan senyumannya. Tak sabar rasanya untuk menemukan dimana Stef. Tak peduli bila usia Stef sudah 60an, tetapi dia sangat ingin menghabiskan hari tua dengan perempuan yang sudah mengganggu ketenangan hatinya.
Jefri berencana, setelah dari acara pernikahan sahabatnya, dia akan membawa Devan ke suatu tempat yang hanya diketahui Devan, yang akan mengarah ke tempat tinggal Stefanie.
"Tidak ada apa-apa. Saya kagum dan ternyata Anda sangat gagah dan rupawan." Nathan dengan sopan dan tatapan sangat dalam. Hatinya sedikit terluka karena akan berpisah, tetapi dia seperti maminya, enggan hidup dengan orang yang dikelilingi dunia kotor.
...----------------...
Dini hari jam 2, Nita sudah menghabiskan 11 kopi epresso. Otaknya mau gila dan hatinya gelisah. Dia terkejut begitu Rama memasuki dapur.
"Kamu pecandu kopi, bedebaaah," bisik Rama dengan gemas. "Kau mau merusak tubuhmu?" Rama berdiri di depan Nita dengan wajah galak.
"Kenapa kau tidak berbuat apa-apa! Besok papahmu akan menikahiku! Masa kamu tenang-tenang. Dan sekarang justru kau tersenyum. Menurutmu ini lucu?"
"Ssstt." Rama menutup mulut Nita dengan bibirnya dan wanita itu mundur. Aneh, jika Nita ingin kabur bersamanya ... kenapa saat dia menempelkan bibirnya ke bibir Nita, wanita itu justru menjauhinya. "Kau ingin kita kabur? Apa ada tempat yang kau pikirkan?"
Nita menggelengkan kepala.
"Sepertinya, aku punya." Rama tersenyum cerah dan Nita mengangguk-angguk penuh semangat. "Jadi, sekarang, kamu kembali ke kamarmu, tidur yang nyenyak karena besok kita butuh tenaga."
Nita masih mengangguk dengan terkesima. Rama benar berpikiran akan seperti itu? Dia menaruh gelas dan melewati Rama. Malam ini tiba-tiba tampak ada secercah harapan demi sebuah kebebasan, lalu hidup tenang dengan Papah Devan dan Musa. Tubuh Nita tertarik dan mendarat di dada bidang. Nita bergidik saat Rama memeluk dari belakang.
"Ram, lepas ... " Nita menusuk pergelangan tangan Rama, tangan Rama seperti tali yang mengikat perutnya dengan kuat. Dia ngeri bila Sergey atau siapapun muncul di depannya dan berpikir macam-macam, lalu habislah semua harapan indah hidupnya.
"Kamu tidak mau memberikan ciuman untuk upahku besok?"
"Apa-? Bukankah itu gratis." Nita menjauhkan kepala dari kecupan panas Rama di telinganya
"Apa maksudmu gratis? Kau bilang kita akan kawin lari, itu ... bukankah kita akan mengikat janji suci tanpa papahku, artinya seperti itu, kan? Lalu kita akan membuat bayi ...."
Nita langsung tertawa dengan tak terduga. Dia lupa bahwa dunia tak semudah itu digenggamnya. Nita menelan Saliva dan mulai berakting dengan nada suara lembut. "Rama, kau akan mendapatkan ciuman itu, stelah kita kabur dari gedung pernikahan, ya...."
"Bagaimana bila dicicil." Rama mengendus aroma strawberry rambut Nita yang menenangkannya. Dia menggigit telinga Nita.
"Aduh! sakit, Rama." Nita terpejam, gigitan itu benar-benar sakit, tetapi tangannya terkunci. Walau dia berusaha melepaskan diri tetap saja Rama begitu kuat.
Klontang!
Rama melepaskan Nita dan memegangi mesin kopi dengan tangan gemetar. Dia melirik ke belakang pada Nita yang langsung membawa dua gelas kotor ke arah bak cucian. Mereka berdua melihat ke arah pintu pada Sergey yang jalan tertatih membuat mereka merasa dunia seperti akan kiamat.
"Si*Al!" umpat Sergey dan mendongak. Dia mendapati putranya yang menekan mesin kopi, tetapi kopi mengucur ke bawah tanpa ada cangkir di bawahnya.
Rama langsung loncat karena tangan lainnya terkena air kopi panas sambil mengibaskan tangan.
...----------------...
__ADS_1