
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mereka berakhir dan berkumpul dengan bahagia." Rama tersenyum pada tv.
"Akhir yang bahagia." Nita menjawab datar. Seandainya hidupnya bahagia. Besar harapannya untuk papah sembuh, dia telah memikirkan untuk kabur sejauh-jauhnya. Kemudian membalas dendam pada pria kurang ajar yang telah memper**kos4nya.
Nita kembali ke tempat tidur dan disusul Rama yang menghalangi jalan. Ya, sepertinya kalau menjadi ibu tiri beneran, dia mungkin cocok menjadi ibu tiri Rama. Bagi Nita, Rama ini tak ubahnya seperti anak mami, yang selalu usil untuk mencari perhatian.
"Apalagi, putraku sayang?" Nita dengan penuh penekanan walau nadanya sangat lembut.
"Mungkin besok jika Anda tidak bisa tidur, bisa datang ke ruangan itu lagi. Karena aku selalu di sana setiap pagi. Terimakasih kopinya, 'Ibu Tiri' "
⚓
"Kalian harus cari keberadaan Devano lebih teliti." Sergey berbicara dengan empat anak buahnya. "Waktu kalian hampir habis, aku tak mau tahu. Jika kalian tak menemukan ma**yatnya, aku akan mengh4bisi kalian semua."
Keempat orang yang berdiri tegak itu, terus menundukkan kepala dan sama sekali tak berani menatap ke arahnya. Hari masih pagi, tetapi mereka semua telah membuatnya kesal. Sergey mengepalkan tangan sampai tulang-tulang rawan itu berbunyi gemertuk.
Sergey tahu ma*yat yang dimakamkan itu bukan Devano. Devano yang dia kenal memiliki luka tembak, yang terletak persis di pangkal telunjuk tengah. Luka itu dia tahu betul karena Devano saat itu menolongnya dari serangan geng mafia sewaktu di China.
"Patrick, aku memiliki asisten baru untuk menggantikan posisimu. Jadi, kualihkan kau untuk turun tangan sendiri dan awasi Nita." Jantung Sergey berdebar, tiap teringat wajah putri Devano yang dahulu polos.
Kini mata emas itu seperti kotak Pandora. Penuh pesona dan hal yang mengejutkan. Dia bukan anak kecil yang kukenal dulu, dia telah tumbuh dewasa dan sangat menarik baik segi fisik, dan pemikirannya yang berkembang seolah mengikuti kepintaran Devan.
"Mulai kapan, Tuan?"
"Besok .... " Sergey tersenyum dengan licik. Dia membayangkan apa yang terjadi jika dia mampu memenangkan hati gadis yang baru keluar dari sarang.
⚓
Kran Air yang dipakai Nita bermasalah hingga membuat seluruh badan Nita basah bahkan wajah dan rambutnya. Rama yang baru bangun pagi itu, disuguhkan pemandangan pagi yang mendebarkan. Lelaki itu jadi teringat seperti melihat anak kecil yang dijumpainya saat kecil hingga membuat Rama tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1
Nita yang melihat ke atas ke lantai dua , menyipitkan mata karena kran air tak mau menutup, dan begitu besar tekanan air hingga kini makin basah kuyup. "Rama! Tolong panggil Pak Abie!"
Rama yang tidak tegapun turun ke bawah. Dia pikir bisa menangani itu sendiri dengan mudah. Belum apa-apa dia sudah tersemprot air kencang gara-gara Nita.
"Oh, maaf Rama! Mana Pak Abie!" Nita berusaha memutar-mutar pipa paralon dan Rama berusaha mengambil alih.
"Rama!" Teriak Nita karena semprotan kencang keluar dari sela jari Rama hingga air menyembur ke perut Nita.
"Kamu, menjauhlah!" Rama berteriak karena dirinya yang kini jadi kewalahan dan basah kuyup.
"Hati- Ha-" Mata Nita melotot. "Awas!" Terlambat Nita berusaha memperingatkan, karena terlihat Rama terpeleset dan menimpahi meteran air. Lebih buruknya air mengalir lebih banyak dari belakang punggung Rama. "Oh Tidak!"
Rama bangkit dengan ditarik menggunakan dua tangan Nita, dengan kesusahan. Kini baju milik Rama terlihat bernoda merah. Nita tampak khawatir dan dia melihat ke samping pada Pak Abi-Kepala pelayan, yang baru datang dan langsung melongo.
"Pak Abie! Rama berdarah!" Nita menatap kepala pelayan yang masih melongo.
"Iya Nyonya. Tolong keringkan diri Anda, Tuan bisa marah jika melihat itu." Pak Abie membawa Rama ke dalam sambil berbicara di Earpiece.
"Orang ledeng sudah datang, Inem?"
"Belum Nyonya. Air masih membanjiri halaman belakang. Apa Anda mau pergi?"
Nita tersenyum walau dia tahu Inem bersikap ramah. Akan tetapi, dia tetap berhati-hati di rumah ini. "Saya perlu ke tempat Lana."
"Teh jahenya keburu dingin, Nyonya," kata Inem lagi sebelum keluar dari kamar.
Nita membawa teh jahe itu bersamanya. Dia berhenti di depan kamar milik Rama yang selisih satu kamar, tampak kamar itu sedikit terbuka. Perempuan hamil itu mengetuk pintu, karena dia yakin pasti Rama di dalam. "Rama ...."
"Tunggu." Rama yang sudah berpakaian dan mengambil kunci, lalu bersiul tepat saat pintu terbuka. Dia menghirup aroma rempah dan strawberry dari rambut wanita itu. Rama menerima uluran teh.
"Minum ini untuk antiinflamasi .... "
__ADS_1
"Ini hanya luka kecil di atas sikut." Rama menghabiskan teh jahe yang melegakan tenggorokannya. Dia mengamati Nita yang telah membawa tas selempang merk Guci. "Anda mau pergi?"
"Ya, saya mau pergi. Sepertinya .... " Nita melihat rambut Rama rapih dengan potongan model terbaru, lengkap dengan jambang tipis yang bisa menggoda para wanita. Kemeja terbuka dengan dalaman kaos hitam dan jeans panjang, dilengkapi sepatu kets biru, tidak lupa kunci mobil. "Mau pergi juga?"
Nita mendapati anggukan Rama. "Dapatkah saya menumpang? Kau telah menghancurkan mobilku dan kini aku tak memiliki mobil."
"Okey."
"Serius kau mau mengemudi sendiri?" Nita berjalan berdampingan dengan Rama, setelah menerima uluran gelas kosong. Wajah putih Rama kini semu-semu merah, lelaki itu terus tersenyum sendiri.
"Seriuslah. Anda mau kemana?"
"Rumah sakit umum."
"Anda sakit? Perasaan saya yang jatuh, tapi saya baik-baik saja. Kenapa kamu ke rumah sakit atau ada masalah dengan 'bayi'?"
Nita diam begitu lama di lift pada kata-kata 'bayi' yang tampak penuh penekanan. Dia menatap punggung Rama saat jari panjang itu menusuk angka 1. "Teman saya baru pulang shif malam, saya akan menyusulnya di rumah sakit."
"Oh, kirain .... "
Nita mengangguk canggung karena lirikan Rama. "Saya perlu menyegarkan diri dan menghabiskan sisa waktu saya, sebelum besok saya mulai kerja lagi. Jadi l,nsaya akan bersenang-senang dengannya. Kenapa Rama terus tersenyum, apa ada sesuatu yang menyenangkan?"
"Aku mengacaukan pagi ini!"
Nita tersenyum tipis saat Rama menutupi wajah tampan itu yang mulai memerah. "Rama sudah membantu saya. Terimakasih banyak, walau justru semakin parah kebocoran pipanya."
Rama meringis begitu malu, dia membuka tangkuban tangan dan menatap dalam-dalam mata emas. "Ibu Tiri, Anda membuat saya semakin malu. Ijinkan saya menatap anda lima menit agar saya bisa menghancurkan rasa maluku yang luar biasa."
"Benarkah, itu dapat menghancurkan perasaan malumu?" Nita menatap tajam Rama layaknya seorang ibu pada sang putra. Kali ini, dia menganggap Rama seperti putranya. Lagi pula urusan tak berkedip dialah jagonya dari jaman SD.
Nita mendapati wajah Rama semakin merah. Itu semerah tomat. Bunyi lift 'Ting' pintu terbuka, sampai pintu tertutup lagi. "Bagaimana putra tiriku akan tahu ini sudah lima menit atau belum?"
__ADS_1
Rama semakin tersenyum, walau dia makin menguatkan diri. Di dadanya seperti terisi energi dan dia kewalahan dengan energi itu. 'Strawberry' dia sedang berusaha menganggap wanita didepannya adalah buah strawberry. Dia ingin memakannya. Oh Rama! Dia Ibu Tirimu. Jangan Gila !