
"Akhirnya, kamu patah hati!" Intania menjepit hidung Rama dan tak melepasnya.
"Mamah dadaku sudah sesak, mamah tutupin hidung ku, aku bisa pingsan," suara Rama dengan bindeng. Dia menarik tangan mamah, yang tadi di hidung, lalu di geser untuk menutupi kelopak mata. Rasanya, cahaya yang dirasakan sekarang semakin gelap akibat tangkuban sang mama. Apa begini kegelapan di kuburan. Dia jadi teringat akan kata seorang tetua:
'Berbuat baiklah agar menjadi teman kamu di alam kubur. Sedekah, sholat, baca Al-Qur'an untuk menerangi alam kubur kita kelak. Dunia akan pergi saat kita mati, tetapi kebaikan akan menemani kita sampai hari kiamat.
Lalu hujan akan turun, kita akan tumbuh lagi walau tulang kita sebelumnya telah hancur. Manusia pertama sampai manusia terakhir di seluruh penjuru bumi akan dibangkitkan dari kubur, seperti tumbuhnya kecambah. Saat itu, istrimu dan semua keluargamu .... mereka akan mengurusi diri mereka sendiri, ya, mereka sangat takut pada dosa mereka sendiri sampai tak peduli pada anak yang disayanginya selama di dunia. Takut lah kamu hanya kepada Allah, Nak. Niscaya hatimu dan hidupmu akan selalu dipenuhi kedamaiaan."
__ADS_1
"Kenapa menangis?" Intania menjauhkan telapak tangan sang anak, saat merasakan tangannya basah oleh air mata sang putra. Putranya itu membuka mata dengan kelopak yang bergetar. "Kamu begitu patah hati?"
"Bukan, Mah. Barusan aku teringat kata pemilik panti asuhan soal kematian."
"Hus! Apa ku kamu begitu patah hati?" Intania berasa dihantam dibagian dada, pastinya putranya ini menangis karena perempuan, tetapi mungkin malu mengakuinya. "Jangan berbicara yang seram-seram." Hati ibu mana yang bisa mendengar kata kematian yang terucap langsung dari bibir buah hatinya. Itu hal yang paling tidak ingin didengar dan tak mau diakui, meskipun kita semua akan mati.
"Mah, aku tadi keingat kata Pak Kyai yang di Jakarta Selatan itu, yang biasa mamah datangi. Kenapa aku jadi mikir kegelapan kuburan si Mah? Rama jadi ingat Rama telah banyak berbuat dosa dan tak pernah sholat."
__ADS_1
"Dia mungkin tak melihat Rama. Tetapi Rama selalu mengingat betapa halus dan wanginya rambut dia. Rama pernah menjumpai matanya yang bersinar begitu menggetarkan jiwa Rama, membuat Rima bersemangat kembali setiap berbicara dengannya. Namun, Rama sangat penasaran, dia pernah melukai tubuhnya sendiri, Rama tebak, dibalik senyuman itu, sebenarnya dia menjalani kehidupan berat. Rama ingin sekali mengetahui apa kesusahannya.
Bahkan Rama jauh lebih sakit saat dia terluka. Rama sedih saat dia tak mau berbicara dengan Rama. Jantung Rama selalu berdebar. Sebenarnya, Rama salah tingkah setiap berpapasan dengan dia. Aghh ini gila Mah!"
"Mamah jadi penasaran Dengan perempuan itu!" Seriu Intania ikutan gereget. Wanita mana sih yang berhasil membuat Rama sampai menceritakan perasaannya begitu menggebu-gebu.
⚓
__ADS_1
Intania dini hari menceritakan curhatan Rama pada Sergey, saat dia mendapati Sergey menonton TV. Sergey tampak melamun dan tak percaya.
"Katanya, wanita itu pernah merusakan motor kesayangannya. Putra mu begitu gemas. Siapa si Mas? Cari tahu dong. apa wanita itu dari kalangan keluarga baik-baik dan setara kita. Jangan sampai membuat malu , atau popularitas kita semakin menurun."