
Dua dekade berlalu .... Rama keluar dari rumah Jefri di Indonesia setelah terus dipaksa menjadi talent dibawah kekuasaan Jefri. Dia terus menatap lekat-lekat akte perusahaan NASA yang kini menjadi miliknya.
Pada awalnya selalu saja Jefri bilang ini dua tahun terakhir, nyatanya setiap kontrak itu berakhir, selalu janji itu yang kembali digaungkan Jefri.
Terhitung ini kontrak yang 10 dan Jefri sudah menyerah! Setelah dia marah apa harus habis waktunya, tanpa memiliki kesempatan berada di sisi anak-anaknya, seperti yang dilakukan Jefri pada Nathan. Walaupun Jefri sempat membela diri bahwa pria itu tak tahu memiliki seorang putra yang ternyata sudah besar, tetapi akhirnya Jefri menyetujui semua ini karena alasan itu. Demi anak-anak.
Rama berlari di halaman dengan menggoyangkan map dengan wajah berbinar ke arah Nita yang terlihat baru mondar-mandir di dekat mobil.
Nita berlari dan memeluk, menggoyangkan bahu Rama dengan tangan gemetar disertai tangisan haru. Dari sini Nita melihat saat Nathan keluar dari rumah dengan anak istri. Nathan yang berusia 50 tahun kini justru semakin tampan.
"Aku terbebas dan akan membayar waktuku yang hilang setelah sibuk syuting selama dua dekade," suara Rama bergetar dengan penuh kegirangan membawa Nita lebih erat dalam pelukannya sampai tangannya gemetar dan mencengkeram bahu mungil itu dengan gemas.
"Ayo, Mas, kita hampir terlambat untuk kelulusan Musa." Nita dengan tidak sabar. "Jangan sampai Musa mengira kamu tidak datang." Nita terpejam saat Rama mengecupi kedua matanya. "Ada Kak Nathan, Mas, nanti saja."
"Biarin. Kamu menggemaskan, aku kangen sayang," bisik Rama di depan wajah Nita hingga wanita itu tersipu malu.
"Selamat Rama, kau sudah bebas dari papaku." Nathan menjabat tangan Rama dengan senyum ketulusan.
"Semoga, stroke papamu lekas pulih dalam beberapa hari ini." Rama kasihan karena Nathan khawatir pada kesehatan Jefri setelah mengalami stroke sementara pada mulutnya yang sempat tidak bisa berbicara saat dua hari lalu.
"Terimakasih, selamat liburan. Berapa lama kamu di Antartika? Kabari jika sudah pulang, aku dan istriku akan main ketempat kalian." Nathan merangkul istrinya, saat sang istri menggendong si bungsu yang berusia tiga tahun.
"Dua bulan aku diujung bumi selatan. Tolong doakan keselamatan untuk kami sampai di rumah sini dalam kondisi sehat." Rama dengan tawa kecil disambut anggukan Nathan.
Nita dan Rama pamit pulang pada tuan rumah. Rama ingin berteriak merasakan kebebasannya. Dia melihat dua anak perempuannya di jok belakang. Si kembar sibuk dengan gadget dan membahas tempat tujuan liburan di Antartika. Sedangkan Nita masih asik teleponan dengan pemasok bunga yang mengalami keterlambatan.
Rama tersenyum haru. Banyak hal yang membuat manusia merasa begitu lelah, tetapi semua itu terbayar, pasti, seriring dengan berjalannya waktu.
Setelah dia terus hanya bisa bersabar dan sabar dengan segala upaya pada hidupnya dan beberapa gangguan. Sekarang, semua itu kini seperti pelajaran hidup yang sangat berharga. Hidup memang tempatnya masalah, tetapi kita bisa membuatnya indah.
Dukungan semua anggota keluarganya untuk menggapai mimpi keluarganya sangat berdampak besar padanya. Nita yang sering mengalah saat Rama marah. Anak-anaknya yang selalu memberi selamat dan Mama Intan yang menjaga kestabilan dan keharmonisan keluarganya. Semua itu adalah team sempura bagi Rama. Support system yang sangat disyukurinya, walau kadang dia seringkali kehilangan kontrol.
Nita mengernyitkan kening pada suaminya yang senyum-senyum sendiri. Rama yang berusia 46 tahun tetapi masih berkarisma, ditunjang perawatan mahal dari perusahaan dibawah naungan Jefri, suaminya itu makin menggoda saja. "Pa.... "
"Hmm?" Rama mengedipkan mata dengan genit.
"Aku cinta kamu," bisik Nita dengan wajah memerah tanpa mendekat.
"Mamih!" Helen melirik ke depan pada dua orangtuanya yang kode-kodean dengan lirikan mereka. "Jangan mesra-mesraan di depan kami, dong. Geli!"
"iuh, Mami lupa dengan janji Mami," timpal Bunga , kalau memeluk leher Nita dari belakang sampai membuat Nita minta ampun. Mereka lalu tertawa lepas.
"Mami lupa, belum nukar dollar?" Helen membuka isi tas Nita.
"Uh, sampai kelupaan!" Nita dengan wajah pucat pasi langsung mengambil ponsel dan menghubungi Lana, sahabatnya yang punya satu usaha penukaran uang asing.
"Biar nanti habis dari kampus langsung ke tempat Lana saja. Biasanya dia sedia di rumah juga." Rama dengan tetap tenang, mengarahkan mobil memasuki jalan tol dalam kota dan menambah kecepatan. Dia tak mau Musa marah padanya, setelah selama Ini seringkali syuting di luar negeri dan harus sering jauh-jauh dari keluarganya.
...****************...
Acara kelulusan Musa semakin ramai karena kehadiran Rama Abimasa, actor terkenal yang belakangan sering membintangi film action dengan actor mancanegara. Para gadis kalang-kabut bersorak-sorai histeris melihat pesona Rama yang lebih bersinar dan membuat hati mereka meleleh.
Lana-sahabat Nita, juga mendatangi acara wisuda Stevan-putranya. Stevan yang otaknya pintar, mungkin ketularan Sergey dan lulus tepat waktu, beda dengan Musa yang agak tertinggal. Uh, Musa terkenal nakal dan terkenal jadi pembully sampai Nita berulangkali dipanggil ke kampus. Kenakalan Musa mirip Rama saat muda.
Lana tersenyum saat Rama naik panggung. Dia ingat betul saat Rama belum menikah dengan Nita, ketika datang ke restorannya dan turun dari motor. Begitu membuka helm, pelanggannya langsung histeris dan memfoto Rama diam-diam.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Rama memiliki aura bintang sepertimu, Mas," gumam Lana pada earpiece. Di kemejanya ada cctv kecil dimana Sergey bisa melihat acara kelulusan itu walau di luar negeri.
"Tentu dong. Memangnya kamu tidak ingin bila Stevan terjun ke dunia hiburan? Dia setampan aku loh," ucap Sergey di balik earpiece.
"Tidak, aku tidak mau. Dia akan melanjutkan sekolah di London dan kamu harus menyetujui," gerutu Lana, ah, sebentar lagi pasti dia berdebat dengan Sergey.
"Tidak, ya tidak! Di sana banyak orang mengerikan!" Sergey memperingatkan Lana.
Lana menggerutu dan kembali melihat ke panggung. Dia tidak mengerti kenapa Sergey melarang Stevan tinggal di London atau daratan Eropa lain karena Sergey hanya bilang demi keselamatan.
Rama menyumbangkan sebuah lagu di panggung wisuda itu, menyanyikan lagu Afgan dan mulai menuruni anak tangga untuk menjemput Nita dengan menyalami para gadis yang minta salaman, untung dia bukan tipe mata keranjang. Imannya kuat menghindari setiap rayuan para gadis selama ini. Selain itu karena memang, baginya yang tercantik hanyalah Nita.
"Ketika kau lewati bumi tempat ku berdiri
Kedua mata ini tak berkedip menatapi,
Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku
Tak henti membayangkan mu, terganggu oleh cantik."
Walau sudah berusia 44 tahun, Nita kesulitan menahan debaran jantungnya di depan Rama. Suaminya yang berlutut dan mencium punggung tangannya di depan banyak pasang mata dan teriakan histeris seisi gedung. Tatapan Rama yang lembut dan mendebarkan jiwanya.
Shelina dari sudut gedung menatap iri pada Nita, yang baginya, seharusnya itu adalah posisinya. Berapa kali dia menjelek-jelekan Nita di dunia maya lewat orang suruhannya, tetapi tetap dia tak bisa membuat para fans setia Nita membenci Nita.
Shelina semakin geram melihat Rama menarik si kembar dan Musa ikut bersama Nita, untuk ikut ke atas panggung. Memangnya ini acara apaan, bikin bete saja. Gara-gara Nita, Rama keluar dari dunia motor. Gara -gara itu aku tak memiliki kesempatan mendekati Rama.
Tepukan tangan riuh dan sorak menggema saat Rama naik panggung. Semua orang terdiam begitu Rama bernyanyi dengan suara yang sangat merdu, membuat para gadis ingin menjadi istri atau anak Rama, asalkan bisa merasakan pelukan dan rangkulan Rama seperti apa yang terjadi sekarang di kiri Rama, ada sikembar -yang mereka kenal sebagai selebgram dengan bayaran selangit. Lalu di sisi kanannya, istri Rama yang memiliki perusahaan Athalia Flower yang terkenal dengan buket-buket mahal yang menjadi langganan kalangan atas. Lalu Musa, seisi kampus siapa yang tidak kenal dengan Musa. Bad Boy! Yang banyak dilirik para anak gadis.
Semua audience bernyanyi saat Rama mengacungkan mic ke arah audience.
Rama kesulitan keluar dari gedung saat acara selesai karena banyak yang minta foto bareng, sampai empat pengawal berbadan besar itu kebingungan menghalangi masa.
Rama terus menjaga Nita tetap di depannya, walau suasana susah diatur, dia sebisa mungkin menyelamatkan Nita tak mau istrinya tersentuh terutama oleh pria. Empat pengawal wanita yang baru datang karena panggilan mendadak, berusaha membuka jalan di depan Nita di tengah suhu panas karena berdesakan.
Sebuah botol kaca entah datang darimana mengarah ke arah Nita tetapi Rama yang sempat melihat itu sempat menghalangi kepala Nita hingga itu mengenai tangannya. Suara makin ribut, dengan segala cara akhirnya Nita, Rama dan ketiga anaknya berhasil memasuki mobil MPV mewah.
Di dalam mobil, luka itu dibersihkan Nita dengan begitu khawatir meskipun Rama bilang tidak apa-apa. Sementara dua anak gadis Rama, yang duduk di jok paling belakang langsung mendapat notifikasi dari para pengikutnya yang men- tag akunnya, soal video viral yang berhasil merekam wajah pelaku yang adalah seorang pria paruh baya.
"Sudah-sudah ini hanya lebam, tiga hari juga sembuh." Rama gemas melihat ekspresi khawatir itu, dia mengusap pelan pipi istrinya menggunakan tangan lain yang menganggur.
"Untung tidak mengenai kepala! Siapa si orang itu, masih sempat-sempatnya, duh!" Nita pun selesai mengolesi betadine ke luka Rama dengan Hati-hati.
...****************...
Tiga hari telah berlalu, Rama dan keluarga sudah di atas kapal pesiar, di benua Antartika.
"Uhhh ... Anget." Rama tidak mau beranjak dari kasur. Dia mengendus rambut belakang Nita dan makin merengkuh tubuh sang istri.
"Mah, nambah adik untuk Bunga, ya," bisik Rama. Dia membuat pola rumit di perut Nita yang mulus dengan ujung telunjuk. Rama masih mencoba merayu Nita untuk kesekian kali. "Bunga minta adek!"
"Kita kan sudah tua, bukannya waktunya mulai beristirahat dan menenangkan diri." Untuk kesekian kali Nita mencari alasan menolak hamil lagi.
"Dari dulu, aku tidak ada disampingmu. Sekarang Aku mau 24 jam nungguin kamu, Ma," ucap Rama memelas.
Pria yang baru bangun tidur itu merangkak, memagut bibir manis lembab dan panas dengan penuh hasrat, mengunci tangan Nita ke atas bantal. Semua gelora yang belum tersalurkan selama lebih dari satu bulan seolah menuntut. Kini tidak terganggu ponsel Rama, yang dulu sering berdering karena panggilan syuting.
"Mih, sweater Musa dibawa Mamih, kah?" teriak Musa dari luar pintu setelah mengetuk pintu.
Musa membalas chat temannya dan meminta maaf karena dia sempat kalah balapan motor. Musa memiringkan kepala dan mengetuk pintu lagi. Handle pintu ditekan, tetapi tidak terbuka padahal biasanya tidak pernah dikunci. "Mamih, Papih, kalian masih tidurkah?"
"Kak, mana Mami?" Tanya Helen dengan rambut basah yang digelung handuk. "Ayo, sarapan sekarang aja. Aku laper."
"Tahu itu, Mami belum bangun kali." Musa melewati adiknya dan kembali ke kamar. "Nanti, tanyain sweater yang baru dibeliin papi, Dek. Aku mau pup dulu."
Helen mengangguk lalu mengetuk pintu kamar mamanya. "Mih, aku bawain teh chamomile, nih. Mamih belum, bangun kah? Sudah jam tujuh loh, Mih .... Pih .... " teriak Helen dan kembali mengetuk pintu.
Nita menggigit lengan Rama sembari menahan dorongan pinggul Rama dengan tangan menahan pinggang sang suami. Dia masih tidak terbiasa dengan ukuran Rama, meski telah berpuluh-puluh tahun, tetapi masih ada sensasi nyeri bila Rama menghentak sepenuhnya, dan dia trauma karena pernah merasakan ngilu luar biasa.
"Mereka sudah pergi," bisik Rama dengan senyuman nakal, kembali mengecupi telinga sang istri hingga membuat istrinya bergerak tidak ketulungan.
Kasur terus bergetar dan seprei mencetak noda lebih gelap dengan basah akibat pertarungan sengit. Menit demi menit berlalu, noda basah makin meluas. Beberapa bantal telah jatuh tak beraturan ke lantai bertumpuk dengan pakaian inti mereka.
Sedangkan, di meja makan restoran, Musa terus melihat pertandingan basket di tablet. Si kembar menikmati sarapan.
Musa menggeser bagian atas layar ke arah bawah, sudah dua jam, maminya belum ada tanda-tanda menyusul ke resto. Bila dilihat dari riwayat pesan, jam terakhir kali online orang tuanya semalam. "Apa mami sakit, kok belum bangun?"
"Semalam, aku tidak sengaja lihat mami dan papi habis dari bar." Bunga memberitahu Musa sambil mengunyah croissant rasa nanas.
"Mereka mabuk?" Musa berdiri, akan kembali untuk mengechek maminya.
Bunga mengelengkan kepala dan mengelapi mulut. "Mustahil mamih ngizinin papih minum alkohol."
Musa kembali ke ruang VIP. Kamar paling mahal di kapal pesiar yang di dalamnya terdapat sepuluh kamar. Dia menjumpai wajah merah maminya. "Kaki Mamih sakit, kah?"
Nita yang membuat teh chamomile lantas melangkah dengan berusaha terlihat normal. "Entah, mungkin Mami kena asam urat, ngilu."
"Pagi, Boy."
__ADS_1
"Pagi juga, Papih! Eh mamih sakit tuh," ucap Musa dengan wajah polos yang membuat Rama langsung khawatir dan memegangi kening istrinya yang ternyata tidak panas.
"Kaki Mamih sakit, sampai jalannya terseret gitu." Musa mengadu dengan kekhawatiran.
Sontak Rama ingin tertawa karena begitu dia duduk di samping Nita, pinggangnya mendapat cubitan keras.
"Aku telepon dokter, ya?" tanya Musa karena wajah maminya makin tertekuk.
"Tidak perlu, Mami sudah punya obat." Nita menahan geli karena kelitikan kaki Rama di telapak kakinya.
"Biar Musa ambilkan obat. Obatnya dimana?" tawar Musa tak mau mamanya merasakan sakit.
"Sudahlah, biar Papi nanti yang akan merawat mamimu." Rama tertawa dengan canggung karena putranya mengira Nita sakit beneran.
"Mana adik-adikmu?" Rama meraih cangkir dari tangan Nita, lalu meneguk teh manis dan harum khas bunga Eropa.
"Masih di restoran." Musa menggaruk kening pada gelagat mami yang aneh.
"Mi, sweaterku yang baru dibeli dimana?"
"Ada di kamar Mami, biar Mami yang ambil. Kamu di sini saja." Nita berdiri dengan wajah pucat. Takut putranya melihat sprei kamar yang basah. Dia bergegas melangkah, walau jalannya terseret.
"Coba ceritakan, kamu mau ambil S2 dimana?" tanya Rama pada anaknya yang masih berdiri. Anaknya pun duduk dan mulai berbicara.
...****************...
Ketika kapal menepi, anak-anak sibuk jalan-jalan di kutub selatan bersama Rama. Sedangkan Nita memilih bersantai di kedai menikmati Ramen.
Kebetulan si pemilik kedai orang korea asli. Nita duduk di luar di daratan es dengan bergegas menghabiskan Ramen di panci, di atas kompor mini yang menyala.
Tiba-tiba seseorang duduk di sebelahnya. Nita menengok dan matanya membulat. Dia memeluk pria itu erat-erat. "Papa Mertua, lama sekali Nita dan Rama kangen Papa."
"Aku lebih kangen kalian." Sergey mengelus punggung Nita cukup lama. Asli, ini mah namanya cinta tak lekang oleh waktu.
Nita melepas pelukan dan tersenyum memandangi wajah itu yang mulai terdapat kerutan. "Gimana kabar Papah Sergey." Nita memanggil pria itu seperti nada penuh hormat pada seorang ayah.
"Baik dong." Sergey menggeser kompor itu dan makan bekas makanan Nita. "Jangan beritahu Rama, aku akan memberinya kejutan nanti malam, ah sekaligus cucu-cucuku."
"Iya." Nita tersenyum hangat melihat wajah Sergey merah karena kedinginan. Mantel itu sudah dipenuhi salju, sepertinya Sergey sudah lama di luar ruangan. "Kapan Papa datang, dan dengan siapa?"
"Ada deh." Sergey tersenyum menyengir lalu menyeruput kuah itu sampai habis dan lalu menghadap Nita yang tampak penasaran. "Dengan Lana .... "
"Lanaaaa!" Nita berteriak histeris. "Aku ingin menemuinya. Di mana dia?"
"Aku tidak tahu. Sepertinya dia fans beratku. Sebenarnya, dia mengejar ku kemari."
"Kalian tidak berniat kembali demi Stevan?" Nita menatap Sergey sungguh-sungguh.
"Tak perlu, dia akan mendapatkan lebih baik dariku, yang sudah 71 ini! Astaga Nita, aku susah tua sekali."
"Papa tidak tua." Nita mengerutkan kening lalu tersenyum jenaka. "Hanya rambut memutih."
"Dasar," celetuk Sergey sambil menggosok penutup rambut Nita dan menyingkirkan salju. "Ngomong-ngomong dulu saat semua media mencari tahu soal 'Ergi' hehehe soal aku. Apa yang Jefri tanyakan? Aku tahu setelah kamu dan Rama pulang dari bandara, Jefri lalu mengundangmu."
"Masuk ke dalam, yuk. Dingin." Nita beranjak dan diikuti Sergey. Mereka duduk di dalam ruangan privasi dengan jendela kaca dan tungku menyala di depan mereka, menghangatkan badan mereka dari suhu dingin.
Nita duduk di kursi kayu. Dia memegang cangkir berisi minuman coklat. "Aku lanjutin ceritanya. Lalu aku dan Mas Rama menunggu di ruang tunggu.
Saat Tua Jefri baru datang, Mas Rama bangkit dari duduknya dan meninju lengan Tuan Jefri. Anak buah mereka menghalangi, tetapi mereka kewalahan. Mas Rama bilang, 'Katanya kau berkuasa? Cepat cari papaku! Katanya kau pintar, kenapa papaku hidup selama ini dan kau tak tahu! Katanya kau berkuasa, tetapi kau tidak tahu?' "
"Lalu." Sergey tersenyum penuh arti, dan tertawa kecil. Rama sangat lucu, bagi Sergey.
"Tuan Jefri awalannya diam sampai Mas Rama akhirnya berhenti berteriak dan duduk menyerah. Lalu Tuan Jefri bertanya padaku dan aku menceritakan semua kebenarannya. Saat itu aku melihat Tuan Jefri semakin terlihat menyeramkan, aku benar-benar tidak berani melihatnya. Lalu kami di suruh pulang, begitu saja! Padahal aku ketakutan setengah mati." Nita dengan penuh emosi dan Sergey tertawa lepas.
"Ya, dia menakutkan!" Sergey bersuara jenaka.
"Sangat!" Nita menggigil. "Kenapa anda tidak takut malah tertawa!"
"Dia tidak semenakutkan itu, Atha." Sergey dengan nada datar.
"Tuan Jefri yang semenyeramkan itu saja, Anda tidak takut! Lalu apa yang anda takutkan?"
"Kamu," jawab Sergey pada detik berikutnya dan Nita tertawa.
"Takut kamu terluka." Sergey berbicara dengan nada serius.
Nita tertawa lepas, dia menyodorkan cangkir. "TOS!"
"TOS!" Sergey menyodorkan cangkir. Gelas berdenting dan mereka menyeruput coklat hangat yang manis dengan saling tatap.
"Apa Tuan Jefri tidak menemui anda? Kurasa tidak mungkin, bila Tuan Jefri tidak tahu tempat anda bersembunyi. Tapi, aku dengar dari Kak Nathan bahwa setelah kematian kakek Axel, Tuan Jefri tidak bisa datang karena sedang menyusul Anda. Di mana Anda saat itu?"
Sergey tertawa getir. "Aku ada di pemakaman ayahku, setelah kalian pergi. Sebenarnya, saat aku pulang dari pemakaman, Jefri berpapasan denganku. Kita saling tatap. Kupikir dia masih belum tahu identitasku, karena dia melewatiku begitu saja.
Aku melihat ke belakang dan dia juga sama melihatku. Aku kembali ke Swiss. Dia memang datang ke toko dimana aku menjual sarapan. Kami seperti orang yang tidak saling kenal. Dia hanya datang memesan minuman dan makanan, duduk lama seperti tidak mengenalku, lalu pergi begitu saja. Itu selama satu bulan.
Dia tidak mengatakan apa-apa, di hari terakhir itu ... Jefri meninggalkan buku yang kuhadiahkan saat pernikahan dia. Baru saat itu aku menarik kesimpulan kalau selama ini Jefri memang sudah tahu bahwa itu aku. Apalagiy di halaman terakhir buku itu, ada tulisan bahasa Rusia yang artinya. PECUNDANG."
Nita meringis. "Sepertinya, Tuan Jefri sangat mencintai anda. Dia tidak mengatakan apapun pada aku dan Mas Rama. Tetapi langsung menyusul anda seperti itu."
"Makannya kubilang, dia tidak semenakutkan itu, Atha. Mungkin keluarga kita selama ini juga mendapat perlindungan khusus darinya. Kau ingat dengan isu hubungan terlarang. Rama yang dicap menyukai sesama jenis, setelah memeluk aku. Komentar jahat mengira aku dan Rama pacaran, dan berita itu hilang sebelum 24 jam."
"Itu gosip yang sangat mengerikan sampai Mama Intan terus memarahiku." Nita meringis masih merasakan kemarahan Mama Intan agar memberitahu apa yang terjadi. Sergey justru tertawa sampai air matanya keluar.
"Mas Rama lalu menjelaskan pada Mama Intan, bahwa itu cuplikan video klip dari iklan selanjutnya. Entah Mas Rama bilang apa pada Tuan Jefri. Sampai Mas Rama dibuatkan iklan dengan cerita mirip di Bandara, soal seorang anak yang melarang papanya pergi. Sejak itu, Mama baru percaya pada Mas Rama." Nita menjelaskan dan Sergey lalu terdiam.
"Ya, Jefri masih terus membantuku. Aku berniat akan menjenguknya setelah dari sini dan melihat wajahnya yang konyol. Apa kamu mau melihatnya, Nita.
Nanti biar aku rekam wajah konyol itu untuk kamu."
"Tidak perlu. Dia sangat baik." Nita tersenyum puas.
"Mas!"
Nita berbalik melihat asal suara. "Lana!"
"Eih, Nita!" Lana tersentak dan membuka tangan dan Nita berdiri memeluknya begitu lama. "Kita ketemu lagi hahaha."
"Kau mengikuti Nita dan minta kubelikan tiket pesawat hih," gerutu Sergey pada Lana.
"Rese deh, jangan beritahu juga," timpal Lana masih memeluk Nita.
Nita duduk di samping Sergey.
Lana mengelus dagu dengan wajah cemberut saat Sergey merangkul bahu Nita.
"Nita, kau tidak sedang berselingkuh dengan papa mertuamu, kan?" Lana menggerutu.
Nita dan Sergey saling tatap menahan tawa dan saling menempelkan pipi hingga Lana memisahkan mereka dengan wajah tidak terima.
"Lana!" Sergey protes karena memisahkannya dengan Nita dan Nita menahan tawa pada ekpresi cemburu Lana.
"Mata keranjang," bisik Lana di depan telinga pria itu,membuat Sergey langsung melotot tidak terima.
Nita berusaha menahan tawa. Dia berjalan menjauh untuk menghampiri pramusaji dan memesan segelas coklat. Dia melirik Sergey dan Lana dari kejauhan. Tersenyum saat Sergey menarik perut Lana hingga Lana berada di atas pangkuan Sergey. Syukurlah, semoga mereka selalu bahagia dan kembali ke jenjang serius.
"Mas, malu dengan Nita!" gerutu Lana tetapi tangan Sergey begitu kuat melingkari perutnya yang langsing.
"Bagaimana jika kita menikah lagi?" Sergey menatap mata Lana. "Tato di punggungku sudah kutimpa dengan gambar lain. Kamu mau menerima Mas? Atau aku mencari perempuan lain untuk menemani sisa hidupku ini?"
"Mana ada seperti itu, harusnya kamu merayuku, kenapa isinya ancaman begini." Lana kesal dan mencengkeram tangan Sergey.
"Hu, memangnya aku tidak tahu, jika kamu memberi peringatan pada semua perempuan di kedaiku lalu bilang pada mereka agar mereka tidak lagi menggodaku? Dan kamu bilang, aku sudah mempunyai istri?" Sergey menyeringai saat wajah Lana memerah. "Tak usah malu, Beiby. Ternyata begini rasanya dikejar, menyenangkan!"
"Menyebalkan," geram Lana semakin berdebar jantungnya dengan tidak karuan.
"Jadi, mau tidak. Lana maukah kamu menemani Mas di sisa akhir waktu Mas ini?"
"Huuuuuh." Lana menggigit bibir bawah, melirik ke arah Nita yang baru datang dengan senyuman yang seolah memberi dukungan. Lana menatap Sergey dan mengangguk. "Lepas," bisik Lana.
Sergey melepas pegangan dan Lana langsung menjauh dari pangkuannya, lalu wanita itu menarik Nita keluar dari kedai.
"Dasar wanita, membuat pusing saja." Sergey tersenyum penuh arti. Dia menikmati keindahan daratan luas putih salju di luar kedai. Terimakasih Lana.
__ADS_1
...****************...
Ketika acara makan malam, Rama memeriksa di sekitar taman. Lalu menghampiri istrinya yang sangat cantik dan memeluk dari belakang dan memberi kecupan di tengkuk sampai Nita mencium pipinya.
"Siapa yang ulang tahu, kenapa spesial sekali makan malam ini? Piringnya kelebihan dua, Mah." Rama lalu menggigit tengkuk Nita.
"Ada deh .... "
"Ich, ada apaan si, bikin penasaran aja. Apa Mamah hamil!" Rama langsung memasang wajah terkejut dengan dugaannya sendiri."Hamil kembar! Karena piringnya dua."
"Ihg! Bukan itu." Nita memutar badan dan menghadap Rama. "Apapun kejutan itu akan membuat kamu bahagia." Nita dengan nada percaya diri. Dasi kupu-kupu merah itu dirapikan dengan jari-jari mungilnya dan dia terkejut mendapat kecupan di bibir.
Nita terpejam dan gelagapan karena ciuman Rama. Dia membuka mata saat ada pelayan masuk dan menjauh dari Rama sambil mengelap bibirnya. Rama hanya bersiul membuat Nita makin malu.
Musa, Helen, Bunga, serentak menatap orangtuanya karena papa-mama duduk berhadapan dengan mereka, tidak diujung meja seperti biasa.
"Pih? Kenapa ada dua kursi kosong?" Musa bertanya pada sang papa.
"Coba tanyakan Mamimu, ada siapa si?" Rama memasang serbet di pahanya. Lalu dia mengikuti arah pandangan anak-anak. Rama menengok belakang dan langsung berdiri. "Lana, Papah!"
Rama mengelap liurnya yang barusan keluar. Papa Sergey sangat tampan dengan pakaian formal dan menggandeng lengan Lana. Apa mereka akan balikan!
"Hey, tenanglah, Ram." Sergey menahan citra diri tetap elegan di depan cucu-cucunya. Dia melepas tangan Lana sejenak. Lalu mengedipkan satu mata pada Rama yang baru berdiri di depannya. "Jangan mewek, anak-anakmu sudah besar, jangan bikin malu aku di depan Lana, ya," lirih Sergey begitu jaim.
"Sialan," bisik Rama nyaris tak terdengar, tetapi Lana bisa melihatnya lalu menutup mulut, kemudian tertawa kecil. "Aku ingin memeluk Papa setelah dua dekade-"
"Ehem!" Sergey berdeham karena si anak-anak gadis sudah mengapit Rama.
"Papi?" Helen merangkul tangan Rama.
Rama sedikit serong, melihat tiga anaknya yang kebingungan. "Kemari cepat anak-anakku."
Setelah Musa, Helen, Bunga berdiri berjajar. Rama mencium tangan papanya lalu memeluk Sergey.
Sial, Rama, sudah kubilang jangan memeluk. Ah, kalau begini kan. Sergey tak kuasa menahan dada yang bergetar. Air matanya jatuh tanpa permisi. Dia mengelap sudut matanya dengan sekali gerakan. Sialan, cucuku melihat aku cengeng. Lihat tatapan mereka sekarang padaku!
Rama mengelap air matanya dan tersenyum sambil mengelap dengan telapak tangan. "Tara! Ada kabar baik. Kakek kalian masih hidup! Beliau ini adalah ayahnya Papa. Kakek kalian! Opa Sergey yang selama ini kalian rindukan!"
"Oh, God!" pekik Musa. Perlahan wajahnya yang kaku mulai berbinar.
"Kakek," lirih Helen hanya mengerutkan alis dan tidak percaya karena Oma Intan selalu bilang Kakek sudah meninggal. Orang di depan ini sama sekali tidak mirip dengan foto yang diperlihatkan nenek.
"Opa!" Bunga loncat dan berdiri kegirangan di depan Sergey dan menatap Sergey seperti menatap maha karya seni langka yang indah. "OPA SERGEY?"
"Ya, Opa Sergey." Alis Sergey terangkat satu tinggi.
"Boleh, Bunga peluk Opa?"
"Tentu cucuku." Sergey dengan nada sangat bijaksana dan mengedipkan satu mata pada Bunga. Sontak cucunya dengan tanda lahir di tangan kanan, melompat dan memeluknya.
"Kakek, Musa kok tidak diajak pelukan?" Musa dengan nada ngambek dengan perasaan cemburu.
"Kemari, Boy!" tangan Sergey dengan nada berkharisma.
"Keren!" Musa berjalan pelan lalu memeluk kakeknya dengan penuh cinta.
Sergey mengerutkan kening, melihat Helen. Gadis tomboi itu masih sok jual mahal persis seperti Nita. "Girl, kamu tidak mau peluk?"
Helen ternganga, dia mendongak menatap mama di samping. Lalu melihat Pap Rama yang mengangguk padanya. Berikutnya, Helen terkejut karena Mama Nita mendorong punggungnya. Kepalang apa, Helen dengan malu-malu berdiri di dekat pria tua yang memiliki kesan kuat. Eh, dia ditarik tangan yang belum keriput itu hingga diapun akhirnya memeluk bahu Kakek.
Rama merangkul Nita, dan mencium pipi semu-semu merah, saat Nita terus tersenyum penuh pada Lana dan saling mengangguk.
Malam itu suasana sangat hangat. Sergey memimpin makan malam. Ketika semua baru menghabiskan makanan, Sergey membuka kotak cincin dan semua mata tertuju padanya, terutama para cucu.
Sergey berjalan dengan gugup melewati belakang Rama dan Nita. Lalu berlutut di depan Lana yang masih duduk dengan wajah tersipu.
"Lana, tidak ada yang lain lagi. Andalah terakhir. Maukah Anda menjadi istri saya? Jika Iya, saya harap anda bisa menerima seluruh anggota keluarga saya. Namun, jika kamu tidak mampu, katakan tidak sanggup, agar saya mundur dan tetap menjadi diri saya sendiri."
Lana mengulas seutas senyuman dan melirik Nita yang mengangguk padanya. Dia kembali menatap Sergey dan mengulurkan tangan kanan. "Bersama Mas aku merasa sempurna. Aku hanya butuh Mas dalam hidupku. Apa itu cukup?"
"Yeah!!!" pekik Bunga sambil bertepuk tangan, lalu diikuti tepuk tangan Musa.
Nita menghapus air mata kebahagiaan dengan serbet makanan, karena tidak ada tisu.
"Mereka bikin iri," gumam Rama.
"Kenapa, Pah?" Tanya Nita pada Rama, sambil memandang Sergey yang memasukkan cincin ke jari manis Lana.
"Itu papa bisa melamar Lana dalam keadaan baik seperti ini. Sedangkan, aku saat itu tidak punya apa-apa saat di hutan Kalimantan untuk melamarmu? Bahkan kita langsung nikah?" ucap Rama dengan sedih.
"Itu terbaik, Mas. Kalung W3BE itu menurutku adalah yang terbaik karena itu barang kesayang Mas."
Rama melirik isterinya dengan penuh arti. "Terimakasih, Nita Athalia." Rama mengulurkan bentuk cinta dengan gerakan telunjuk dan ibu jari ala korea. "I Love you."
Kata-kata ajaib itu membuat Nita gemetar. "I love you too."
Mereka berdansa penuh kehangatan. Pertama dansa pasangan.
Lalu Sergey mengambil alih Nita dan mulai berdansa.
"Kuharap Mas kini bahagia." Nita merangkul tangan kokoh Sergey dengan tangan lain saling bertemu telapak tangan.
"Tidak akan sama denganmu," bisik Sergey yang hanya didengar Nita. "Tapi aku akan membuat Lana bahagia dengan ketulusanku, karena dia berarti bagimu, dan aku takkan pernah menyakitinya lagi."
Nita berkedip kecewa, sulit menyembunyikan kekecewaannya. Dia menari dan terus menatap mata mertuanya.
"Kini kita bisa lebih sering berkumpul dan aku bisa sering melihatmu," imbuh Sergey dengan tatapan dingin tetapi suara lembut. "Aku tidak pernah berpikiran kotor tentangmu, tetapi cintaku ini sangat murni, cukup memastikan kebahagiaanmu. Itulah cinta, yah."
*
Lana merasa gugup. "Bukannya, papamu bisa menjaga dirinya sendiri. Ayahmu terlalu kuat, dan harus yang lebih kuat yang menjaganya," ucap Lana sambil menyeimbangkan langkah Rama.
"Orang itu adalah kamu, kamu lebih kuat dari ayahku." Rama tersenyum penuh hormat pada Lana lalu tertawa kecil. "Ih, apa kau diam-diam menemui papa, tetapi kamu berbohong selama ini?"
"Habis gimana, Ram. Papamu ingin bersembunyi, dan aku cuma bisa mendukungnya."
"Lalu apa kamu benar mencintai papaku?" Rama memutar badan Lana dan menangkapnya kembali, dia menelisik ke dalam mata Lana dan kelopak mata wanita itu berkedip pelan. Meski Lana tidak menjawab, Rama tahu jawabannya. "Terimakasih, Lana. Aku tahu kamu mencintainya."
"Aku mencintainya karena dia spesial. Jadi, jangan berterima kasih. Itu karena keinginanku sendiri, Rama."
Merekapun kembali ke pasangan masing-masing dan melanjutkan dansa dengan penuh suka cita.
...****************...
...Cinta itu :...
...Rumit, bagi Nita. Karena terkadang dia harus memikirkan dua hati....
...Sederhana, bagi Lana. Karena dia hanya perlu mencintai dengan sepenuh hati....
...Luar biasa, bagi Rama karena cinta banyak mengajarinya akan sesuatu....
...Tak lekang oleh waktu, bagi Sergey. Pasrah pada keadaan setelah berbagai usahanya tak kunjung berhasil untuk membebaskan rasa cintanya pada sang menantu....
...Dan tidak dapat dipaksakan, bagi Intan....
...Akan tetapi cinta itu, datangnya dari hati lalu memilih jalannya sendiri di tempat yang dia yakini....
...****************...
...Kita bisa terus mencintai tanpa harus bersamanya.(Sergey)...
...Aku tahu seseorang mencintaiku begitu dalam, bahkan aku tahu setiap kali dia benar-benar memandangku secara langsung. Terkadang aku mendengar darinya setiap pernyataan yang begitu tulus. Tapi aku sebatas cukup tahu. Hatiku terlalu tidak berani berkomentar atau berkhianat, menjaga hati, karena aku memilih Rama. Rama yang membuatku sangat nyaman dan tidak pernah merasa tertekan. Mungkin itulah artinya cinta untukku. Ya, aku mencintai Rama. Aku bisa menjadi diriku sendiri bersama Rama. Suamiku sangat mendukungku dalam segala hal. (Nita)...
...Terkadang selalu muncul dipikiranku. Kenapa dia melamarku. Meski aku mengejarnya, bisa kan dia menolak. Tapi Sergey tidak menolak. Sergey sesuatu berbeda, walau hatiku sendiri terluka, tetapi aku juga ingin mengobati luka yang dirasakan Sergey. Saat kami bersama, kami sering kompak. Sergey adalah tim terbaik untuk mengarungi kehidupan ini. Sesaat bila aku terluka karena mungkin Sergey tak bisa move on, saat itu aku hanya perlu beristirahat dan mengingat semua kebaikan Sergey. Aku bukan orang yang tak tahu diri, karena aku tahu Sergey berusaha keras untuk membuat aku tersenyum dan merasa dicintai sebagai wanita. Mungkin satu kata untuk menggambarkan Sergey 'PENGERTIAN' (Lana)...
...Aku dan Papa sering menemui kecanggungan. Bagaimanapun hubungan kami tidak akan pernah sama lagi. Jika aku mau jujur. Aku ingin tertawa. Seorang anak dan ayahnya mencintai satu perempuan yang sama. Tentu aku percaya ayahku takkan melewati batas. Dia selalu menjadi panutanku. Aku bangga memiliki ayah sepertinya. Terimakasih, sudah mau menyayangiku, Ayah. Dan seluruh pengorbananmu. Kupikir kita semua tahu pengorbanan seorang Sergey pada Rama- Merelakan cintanya tanpa bisa berbuat apa-apa untuk merebutnya setelah tahu siapa ayah dari Musa, bahwa disitulah, Sergey tahu dia tidak bisa melangkah lebih jauh. Meski Papa mungkin sering berperang dengan keinginan sendiri, tetapi sejauh ini Papa bisa dibilang keren! Rama sangat mengidolakan Papa. ( Rama)...
...****************...
...Di sinilah novel berakhir. Terimakasih kepada semua orang yang membaca novel saya!...
...Pendapat dan dukungan Anda sangat penting bagi saya. Salam cinta dari Author ❤️...
__ADS_1
...Salam Legowo...