Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 68 : EKSEKUSI


__ADS_3

Mobil melaju kencang membelah jalan ramai. Nita yang duduk di sisi kanan, merasakan mobil melambat hingga dia dapat melihat empat orang berpakaian safety di pinggir jalan. Nita melihat ke belakang. Tampak petugas itu menutup jalan lagi dengan plang tulisan yang artinya jalan sedang dalam perbaikan. Kalau sedang ada perbaikan kenapa dia dibawa kemari atau ini semacam eksekusi? Tapi ini bukan jalan ke rumah papah. Wanita itu menunduk karena ingat betul orang-orang tadi menunduk seakan wajah mereka ketakutan saat tersorot lampu kuning jalanan.


Nita melihat ke depan, matanya mendelik karena sudah tak melihat mobil yang ditumpangi suaminya. Wanita itu memikirkan kemungkinan terburuk jika dia tak dapat melihat Musa, suaminya dan papah lagi. “Apa anda benar-benar akan menghilangkan nyawa kami?” Nita dengan alis terangkat tinggi dan suara nervous yang ditanggapi tawa Jefri seakan pria itu mendengar sesuatu yang lucu.


“Kau tak ingat dokter yang memeriksa Devan saat siuman, juga dokter keluarga suamimu barusan? Kau ingin melihat foto jenasaah dua orang itu bersimbah darah? Biar aku tunjukan?” Jefri tersenyum miring, senang karen Nita menolak dengan wajah ketakutan.


“Ta-tapi mereka tidak bersalah, dimana hati nurani anda? Itu nyawa manusia dan anda tak berhak mengambilnya! Mereka mungkin kepala keluarga yang menghidupi banyak orang, anak dan-


Jefri menunduk dan menoleh ke arah Nita. “Ssst! SSST! Diam! Akan kuberikan waktu untukmu berpidato nanti di menit-menit terakhirmu. Biar kuberi kau plot khusus dan bagus di tengah malam.” Jefri menekan kepala Nita ke depan dengan kasar. “Lihatlah keluar jendela, di sana pada bulan purnama indah.”


Nita menahan diri untuk tidak lemah. Bulan purnama yang indah di atas sungai besar, di tempat yang sepi. Inilah akhir riwayat hidupnya. Takkan ada yang bisa menolong seluruh keluarganya dari orang gila ini.


Tuhan tolong bantu kami. Mama Carissa bantu aku, Mam. (Nita)


“Bukankah aku perhatian padamu dan menyiapkan segala sesuatu ini untukmu, Atha? Hitung-hitung penghormatanku pada temanku


Hahah aku akan mengirimmu ke tempat dimn Sergey berada dan dia pasti masih menunggumu,” kata Jefri lalu tertawa geli sampai punggungnya menekuk ke depan dengan tangan menahan perut. “Kamu lucu sekali, Atha. Padahal kau sendiri secara tidak langsung juga mengambil nyawa Sergey. Kau justru menceramahiku karena nyawa mereka yang tak kau kenal.”


Sang supir merasakan hawa dingin sejak mendengar tawa tuannya yang menyeramkan. Tawa persis seperti orang gila dan saat itu terjadi dia hafal sang tuan berubah dalam mode psikopat. Jika tuannya sudah bilang akan membunuh mereka semua, maka terjadi seperti itu. Jangankan pada mereka yang orang luar, pada Sergey atau keluarga sendiri, tuannya saja tak segan-segan menembak bila dirasa perlu. Sang supir merasakan aura mencekam di sepanjang jalan di tepi sungai yang sudah disterilisasi untuk mengeksekusi seluruh keluarga Sergey dan Devan akibat kekecewaan mendalam sang tuan yang dipendam-pendam sejak kematian Sergey.


Supir itu mengelus tengkuknya yang merinding, teringat di malam kabar kematian Sergey, tuannya itu hanya mengurung diri di kamar. Kemudian di hari pemakaman, jam 8 pagi, tuannya memandang kosong ke kuburan dari jarak tertentu. Ketika Sergey dimakamkan dan orang-orang bubar, barulah tuannya ke makam Sergey, dan duduk di sana sampai hari gelap. Para anak buah tidak ada yang berani mengganggu. Hanya sekertaris perempuan Jefri, yang mau memberanikan diri meminta tuannya pulang itupun menunggu dulu sampai jam 7 malam baru tuannya mau beranjak dan dipapah si sekertaris perempuan ke mobil. Sekertaris perempuan itu memiliki kemampuan khusus jadi untuk memapah Jefri bukanlah hal sulit. Sopir itu pun tersadar dari lamunan karena suara bentakan tuannya.


“Kenapa diam, Atha! Coba kembalikan Sergey kepadaku?” Jefri merangkul bahu Nita yang gemetar. “Kalau kau tidak bisa, kau jadi persembahan utama ya, kan? Apa aku perlu mendadanimu? Ck! Kau mau dengar apa yang dikatakan Sergey saat dia masih hidup? kau tidak didandani saja sudah cantik, bagai bidadari, itunlah katanya.” Jefri tertawa sedih, lalu menyingkirkan perlahan rambut hitam Nita yang menutupi wajah ke belakang telinga.


“Apa kau sudah pernah tidur dengannya?” bisik Jefri sembari meniup telinga Nita hingga wanita itu makin tertunduk dimana air mata Nita terlihat jatuh ke pangkuan. “Belum, kan? Bagaimana kalau aku mengirimmu tanpa busana padanya?”


“Diam! Anda benar-benar gila! Mas Sergey tidak pernah berpikir serendah itu!” teriak Nita dengan histeris. Detak jantungnya begitu kencang dan dia makin tertunduk dengan perasaan ngeri karena elusan kasar di pucuk kepalanya.


“Jika aku gila, kau sudah mati sejak malam kematian Sergey, kan?” Jefri beringsut duduk menjauh dan melihat ke luar jendela karena laju mobil melambat.


Mobil berhenti tepat di depan puluhan pasukan. Seorang anak buah membukakan pintu dan Jefri keluar melihat mereka semua yang berbaris dalam 5 kelompok. Itu artinya ada 50 orang dan mereka menunduk memberi hormat begitu Jefri menghadap mereka. Jefri menganggukkan kepala dan mereka pun berdiri tegak kembali.


Jefri berjalan ke ujung pagar tepi laut dan merasakan angin beraroma asin di wajahnya. Dia menikmati malam yang cerah ini dan tersenyum pada bulatnya bulan purnama. Seorang anak buah mengulurkan cerutu ke mulutnya lalu diikuti nyala korek api. Dia berbalik dan berjalan sejauh lima meter, lalu duduk di kursi yang sudah disiapkan secara dadakan oleh anak buah. “Lempar dia ke laut,” perintah Jefri gatal, karena merindukan jeritan ketakutan Atha yang membuat hatinya gereget.


Jefri menghirup asap ke dalam mulut, sambil mendengar laporan empat asistennya yang berbicara secara bergantian soal penangkapan Devan. Sementara di depannya, ada sepuluh orang yang akan mengurus tawanan. Di kanannya, 50 anak buahnya yang masih dalam barisan, berjaga-jaga bila ada penyerangan maka dia akan melarikan diri lebih dulu.


Dua orang dengan rambut gondrong menarik Nita dari dalam mobil, wanita itu tidak melawan seolah sudah pasrah. Begitu tubuh Nita diangkat ke arah tepi laut, wanita itu langsung menjerit dan Jefri menyunggingkan senyum.Dua pengawal melompati pagar dan siap membantu dia pengawal lain yang akan melempar tubuh.


"Anda mau berbuat apa! Hentikan, tolong ini dalam dalam!" Nita memekik karena tak tahu apa ada ada pusaran air di sungai besar itu, yang bisa menelan tubuhnya sewaktu-waktu. "Aku akan melakukan apa saja, Tuan Jefri! Jangan lakukan ini padaku," teriaknya begitu keras.


“Tahan,” perintah Jefri dengan menahan sabar. Luar biasa dia bisa menahan sabar saat keinginannya untuk menyiksa sudah tak dapat dibendung lagi.


Sabar Sergey, kau akan bertemu Nita tengah malam. Sebelumnya, aku ingin mendengarnya menangis terus-menerus. Hitung-hitungan salam perpisahan dariku, agar ada yang diceritakan padamu, ya, kan? (Jefri)


Di ujung jalan terlihat ada sorot cahaya mobil. Sementara Nita kini diturunkan dari gendongan. Dua pengawal itu mencekal lengan Nita, di tepi sungai besar yang berombak.


Tiga mobil MPV berhenti di belakang mobil Jefri. Mobil pertama, pengawal menurunkan Devan dengan kasar, diikuti si pemuda tampan yang turun sendiri. Dia memang melarang anak buahnya menjegal Nathan. Matanya berbinar saat Nathan berjalan ke arahnya. Nathan terlihat sudah sangat ingin berbicara dengannya.


“Papah!” panggil Nita pada papahnya yang ditarik ke arah Jefri.


“Papah tidak apa-apa, Sayang!" kata Devan dengan meringis karena cekalan dua orang tinggi besar yang menyakitkan. Dia berjalan dengan terseret karena langkah cepat si pengawal.


“Mas,” isak Nita yang melihat Rama juga dicekal dan diseret di belakang papah. Rama dikeluarkan dari mobil kedua. Sementara dari mobil ketiga, Dhita dan Mama Intan, baru diturunkan dan dibawa ke arahnya. Mengapa para perempuan kini ditahan di pinggir sungai diluar pagar.


Nita melirik kaki mama mertua yang hampir terjengkang ke sungai karena berusaha memberontak. Berkat pengawal yang menahan tangan mama Intan, Intan selamat, tetapi baju mertuanya basah karena air sungai yang tingginya hampir sama tinggi daratan, pasti sungai sedang pasang.


“Dimana Musa, Mah?” tanya Nita khawatir.


“Musa tadi kan satu mobil sama kakak, tetapi mana Musa,” jawab Dhita dengan suara bergetar karena takut. “Kakak Rama mau diapain!”


Nita menoleh ke arah Rama yang duduk berlutut, kepala Rama tertunduk tak berdaya di depan Jefri dan wajah suaminya bengkak-lebam. Satu orang tetap memegangi lengan Rama agar Rama tetap dalam posisi duduk.


“Hai, Nak, rupanya kamu di negara ini juga," sapa Jefri dengan lembut pada Nathan. Bibir Jefri melengkung ke atas. Dia pikir takkan mendapati Nathan bersama Devan. "Baguslah."


“Kumohon, anda lepaskan mereka semua. Tidak ada untungnya mengganggu mereka, kan?” Nathan dengan nada dingin. Dia begitu kasihan pada Rama dan darah terus menetes dari hidung Rama. “Tolong hentikan pendarahannnya,” suara Nathan meninggi, penuh permohonan pada Jefri yang begitu menikmati cerutu dan tatapan psikopat yang dia benci.


"Kita akan temukan mamahmu,” kata Jefri lembut mengabaikan permintaan putranya. Kesedihannya tentang Sergey, berubah drastis menjadi keharuan dan antusias memperhatikan Nathan.


Nathan terdiam, dia ingat betul mamahnya selalu menghindari berbicara soal Jefri. “Apa anda mau menyakiti mamiku?”


Jefri berdecak kesal lalu tertawa. “Kau berpikir aku seperti itu? Aku takkan menyakiti mamimu. Coba bayangkan keluarga kita berkumpul, Nathan, putraku sayang?”


Bahu Nathan tersentak, dia langsung menoleh ke belakang pada Devan yang juga terkejut, karena Jefri sudah tahu bahwa dia adalah anak kandung Jefri. Mata Nathan berkaca-kaca, rahasianya telah terbongkar. Kemungkinan dia tak bisa hidup bebas lagi sekarang di dalam pengaturan Jefri. Dia menoleh ke sisi kanan pada Nita yang terus melihat ke arahnya, dia tahu betul tatapan penuh harap itu.


“Dimana Musa?” tanya Nathan sambil menatap Jefri. Dia bingung saat turun di sini, melihat Rama yang juga baru diturunkan dari mobil dalam keadaan babak belur.


“Devan,” panggil Jefri sambil membuang cerutunya ke depan Rama. Kini Devan ditarik anak buahnya. Devanpun berlutut di samping Rama. “Di mana Stef, Dev?" tanya Jefri sambil menggerakkan telunjuk mengundang pengawal di belakangnya. "Aku akan memenggal salah satu kepala kalian dan dipertontonkan pada perempuan di pinggir sana . Bagus, kan?"


Semua tawanan melihat ke arah pengawal yang ditunjuk Jefri. Satu menit kemudian dari mobil box muncul seseorang yang membawa sebuah mesin yang adalah gergaji kayu. Intania dan Dhita berteriak memanggil Rama dengan debaran jantung pada kecepatan maksimal karena seseorang menyalakan gergaji mesin itu hingga menimbulkan suara berisik dan membuat para perempuan berpikiran buruk. Nita mengguncang-guncangan tangan dengan tangis histeris, tetapi pengawal begitu kuat.


Kakek, tolong. Batin Rama karena mendengar suara jeritan perempuan-perempuan penting dalam hidupnya. Dia tak memiliki tenaga walau mengangkat kepala, dia ingin tahu apa yang terjadi. Rama berusaha mengumpulkan tenaga dan kesadaran. Hidungnya merasakan aliran hangat, yang berhenti di bibir, hingga lidah itu merasakan daraah dan bau amis.


“Apa yang kau lakukan!” Nathan berteriak karena melihat seseorang dengan mesin gergaji menyala, yang berdiri di belakang Sean dan Devan.


Devan di tengah kebingunga, tak mungkin mengorbankan keluarganya hanya demi melindungi Stef. “Nathan! Katakan dimana mamimu! Lindungi keluarga papa, tolong Nathan!”


Nathan pusing bukan main karena tatapan keputusasaan Devan. Kakinya tertekuk dengan lemah satu persatu dan jatuh terduduk dengan tangan gemetar menyentuh kaki Jefri. “Hentikan, aku akan beritahu dimana mami."


Jefri memiringkan kepala dengan seringai dan mengangguk-anggukan kepala untuk menimbang. “Dimana dia?”


“Ghuangzhou,” kata Nathan tak bertenaga dan menatap wajah ayahnya yang mendadak pucat.


“What …. “ Jefri tak percaya, dari sekian banyak tempat kenapa harus Ghuangzhou yang dikuasai sekelompok orang kuat dan juga masih dibawah kekuasaan Tuan Benjamin. Pusing seketika mendera kepala karena wilayah itu juga dilindungi bosnya. Bos Larry melarangnya membuat masalah di sana demi menghormati Tuan Satria Benjamin.

__ADS_1


Jefri mengelus dagu dan berpikir keras. Dia mengusap alis dengan nervous. Dia mengundang asisten di belakang lalu berbisik pada anak buahnya dan anak buahnya menyuruh si pemegang gergaji agar mematikan mesin. Tampak kelegaan terpancar di wajah Nathan dan Devan karena mesin penebang pohon itu telah diamatikan.


“Pergi, ikuti anak buah Papah,” perintah Jefri. otaknya mendadak kisut, memikirkan cara membawa Stefnie keluar dari Guangzhou tanpa sepengetahuan penguasa setempat.


“Aku tidak akan pergi sebelum mereka kembali ke rumah mereka,” jawab Nathan.


“Tidak ada penawaran Nathan,” tegas Jefri. “Atau aku memberimu hadiah dengan kepala mereka.”


Nathan menggigit bibir bawah. “Bisakah anda berjanji takkan melukai mereka?”


“Tidak ada janji, dan semakin kau banyak bertanya, maka kau kemungkinan besar akan mendapat hadiah dariku,” tegas Jefri dengan kepalanya terayun ke kanan, menyuruh Nathan pergi.


Nathan memegangi kaki Jefri . “Tolong, Papa Devan tak pantas menerima ini. Beliau sudah membesarkan aku dengan sangat baik dan penuh cinta. Tak sepantasnya anda berbuat buruk padanya, kan,” suara Nathan berubah lembut.


“Dia bukan papahmu! Dan tak pantas di panggil papah!” bentak Jefri dengan dada terbakar api cemburu. Terlihat sekali Nathan lebih memikirkan Devan yang telah memisahkannya dari keluarganya. Bisa-bisanya dengan orang lain Nathan memanggil papa, tetapi denganku hanya memanggil anda !


"Pulangkan putraku, Chen!” geram Jefri


Chen menyuruh dua orang di sampingnya. Jefri mengamati Nathan yang sempat tak mau melepaskan kakinya, dia justru makin murka karena Nathan memeluk erat kakinya hanya demi membela Devan. Nathan pun dimasukkan ke mobil yang tadi ditumpanginya oleh kedua asistennya.


“Ini semua salahku, bukan salah Nathan,” gumam Devan.


“Memang! Kau dan keluargamu harus membayarnya! Tetapi aku penasaran, siapa yang membuatmu kecelakaan? Kau mencurigai seseorang?”


“Kecelakaan itu .... " Devan menggelengkan kepala dengan tidak tahu. "Hanya satu yang tidak menyukaiku, pesaing bisnis sebuah production house yang dulu membuat perusahaan media ayahku bangkrut. Lalu kami tak berhubungan sejak bersitegang terakhir kali kala aku dan Clarissa membangun perusahaan baru. Jadi, tak mungkin dia. Tak mungkin.”


“Ada lagi yang kau curigai?"


"Tidak ada."


"Apa pentingnya perusahaan itu bagimu? Kau tahu, aku membeli perusahaanmu lewat Sergey tanpa sepengetahuan siapapun bahwa itu modalku. Sebenarnya, milikku 50 dan Sergey 50. Aku tak pernah mendapati dia kukuh seperti itu dan meminta bantuanku untuk menyelamatkan perusahaanmu."


“Sergey mengetahui perusahaan itu adalah segala-galanya bagiku. Ayahku terpuruk karena kebangkrutan perusahaan medianya dan membuat ayah terkena serangan jantung hingga tak tertolong saat dibawa ke rumah sakit. Clarisaa- mamahnya Atha, mencetuskan agar aku membuat perusahaan baru dengan modal tabungan dia. Karena keinginan Clarissa untuk membuatku tidak terpuruk lagi setelah kematian Ayah. Kami hanya mampu membangun rumah produksi. Kelak tujuan kami sebenarnya untuk membeli saham media bekas perusahaan papahku yang telah mereka akuisisi, tetapi sebelum semua impian itu terwujud, Clarisaa terlibat kecelakaan karena menghindari paparazi. Istriku sangat membenci kamera. Perusahaan itu banyak menelan korban, keluargaku dan mungkin kecelakaanku ada hubungannya dengan itu. Namun, aku semakin ingin mewujudkan cita-citaku membeli saham perusahaan media mereka, karena itu yang diinginkan mendiang istriku, adiku dan ayahku."


“Pantas, kebodohan Atha menurun padamu. Kau kan bisa melupakan mimpimu! Kau harus sadar kemampuan mu belum sejauh itu!” Jefri mengangkat satu alis dan masih sedikit penasaran karena pernyataan Devan. Apa semua itu ada hubungannya dengan perusahaan media yang kini naik daun dan dinyatakan sebagai orang terkaya nomer satu di Indonesia.


“Andai kau bisa menjaga dirimu sendiri, Sergey pasti takkan terseret ke dalam semua ini. Lalu, aku bisa memintamu bekerja sama dan membalas kebangkrutan ayahmu. Tetapi, aku malah kehilangan Sergey ... Itu adalah kesalahanmu!”


Tendangan kuat dengan kaki kiri, menghantam kepala Devan. Teriakan menggema dari Nita yang menjerit dan memohon agar Jefri tidak menyakiti Devan. Darah di dalam tubuh Jefri terasa mendidih, Jefri menoleh ke belakang karena lelehan air mata. Dia menarik napas dalam di tengah dada yang terasa begitu sesak sembari menghapus air mata kerinduan pada Sergey, yang membuatnya terus-menerus marah dan marah yang tak tertahankan.


Jefri menghadap depan dan menarik napas dalam-dalam. Dia menghembuskan napas panjang, tetapi hatinya semakin terasa nyeri. Jefri menggelengkan kepala sambil menggigit bibir bawah. .


“Bedebah sialan kau pergi ke neraka!” Jefri melayangkan tendangan berkali-kali ke punggung dan kepala Devan, terus menumpahkan kekesalannya dan tak peduli walau Devan tersungkur tak berdaya. "Sadarlah kau! Kau lebih baik tak lahir ke dunia ini!"


Tenggorokan Jefri memanas, sakit seperti diiris-iris, dia seperti terkena radang tenggorokan karena kekecewaan besar yang tertahan dan tak bisa lepas dari dirinya. Kepalanya begitu pusing dan ingus menetes. Rahang Jefri mengeras dan menarik memutar pergelangan kaki dengan mengumpulkan seluruh tenaga terbesarnya, tendangan melayang begitu kuat dan sesuatu baru saja menyambar kakinya. Jefri merasakan bumi berputar dan wajahnya mendarat keras di kerasnya paving.


Semua orang terkejut dan terutama dua asisten Jefri, yang berikutnya membekuk kedua tangan Rama, tetapi entah Rama kedatangan kekuatan darimana bisa kembali menahan paha bagian dalam Jefri.


“Shiitt! Tahan senjata kalian! Mundur Chen!” hardik Jefri sambil meringis kesakitan. “Kalian bodoh! Mengurus anak kecil saja tak becus!"


“Kau juga diam, Bedebah! Aku bukan anak kecil!" Rama membentak di tengah rasa sakit yang meningkat pada ambang maksimal. Otaknya tak bisa berpikir dengan segala sesuatu yang terjadi tiba-tiba, tetapi tubuhnya refleks melindungi diri.


Rama menahan kaki Jefri yang coba memberontak dan berbicara dengan suara menggebu, ”anda berlagak kehilangan papahku, tetapi begini cara anda memperlakukan keluarganya, yang dia lindungi selama ini! Tidakkah papah pernah bercerita dia akan melindungiku sampai mati! Tapi kau justru mengganggu keluargaku! Memang hanya kau saja yang sedih? Aku juga dihinggapi rasa bersalah yang begitu besar. Ini bukan salah Papah Devan, Nita atau siapapun. Ini murni semua disebakan olehku!" Rama memukul-mukul paha Jefri dengan geram amarah dan air mata yang beruraian seakan emosinya tengah diluapkan semua.


Rama bahkan menggigit celana di pergelangan kaki Jefri sesekali untuk menahan nyeri. "Bunuuh aku saja agar kau puas, lalu bebaskan mereka! Ini salahku, kau dengar? Kalau tidak dengar, apa artinya kau sudah tuli!"


Jefri meninju-ninju pasir. “Shit! Bedebah kau Sergey!” Tangan Jefri terkepal kuat hingga tulang rawan berbunyi gemertuk, dia memegangi keningnya yang sakit. ”Mengapa kau bodoh sekali Sergey!” isaknya, tak peduli pada sikapnya di depan anak buahnya. Dia pun kehabisan kata-kata, karena dia hanya ingin Sergey kembali. ”Mengapa kau bodoh Sergey. Mengapa semua orang bodoh!”


Chen mendengar sesuatu dari earpiece, dan angan dengan jari cacat itu mengelap air matanya karena ikut terhanyut dengan kesedihan Jefri. Matanya melebar setelah mendapat laporan yang tidak disangka-sangka, lalu menatap teman yang gelarnya satu tingkat dibawahnya tetapi sama-sama sebagai asisten. Temannya yang memakai earpiece itu juga mengangguk setuju. “Beri mereka jalan,” kata Chen pada earpiece.


Lima puluh orang dalam barisan sudah berbalik dari tadi saat sudah mendengar bosnya menangis. Mereka menghormati dan menjaga harga diri bosnya dengan cara tidak ada yang berani berbalik untuk melihat bos. Kesetiaan mereka demi menjaga nama baik bosnya, juga dilakukan ke sepuluh orang , yang enam di antaranya tengah memegangi para perempuan. Semua anak buah berpakaian jas hitam menunduk dan beberapa orang ikut menitihkan air mata karena sejak lama mereka mengenal Sergey sebagai orang penting dalam hidup sang bos, sampai mendapat perlindungan khusus walau tanpa disadari Sergey.


Nita kehabisan tenaga setelah terus memberontak, tangan pengawal sangat kuat. Suaranya telah habis dan menatap nanar pada papa yang batuk-batuk dan berusaha duduk tetapi papah akhirnya cuma bisa melumah dengan mengeluarkan darah dari mulut.


Nita menggelengkan kepala dengan takut, papah yang masih membuka mata dengan melihat ke atas dan terkena cahaya lampu kuning. Dia tak terlalu khawatir pada suaminya karena Rama masih memiliki tenaga untuk menangis, menangisi Sergey.


“Kau lihat apa yang kau perbuat, kau datang menghancurkan semuanya!” suara intan parau pada Nita dan Nita yang mendengar itu tak bisa berbuat apa-apa. “Kau menghancurkan kami semua yang mencintai Sergey,” cebik Intania. “Jika sampai terjadi sesuatu pada Rama, aku membuatmu menderita seumur hidup!”


Stefanie Aily wanita berusia 61 tahun dengan sedikit kerutan di kening, turun dari mobil milik Axel. Kaki bersepatu tanpa hak itu melangkah perlahan dan mata hijau terpaku pada sosok yang biasanya menyeramkan dan pernah menjadi suaminya. Kini sosok kuat itu tengah tak berdaya dan sungguh, bagaimana bisa wajah itu terbenam di tangan bertato dengan gambar sepasang sayap di pergelangan tangan, di atas susunan paving. Sepertinya, Jefri belum mengetahui kehadiran dia disini.


Dari pintu samping kanan turun Axel dan melangkah lebih cepat dengan melirik ke deretan punggung pengawal. Para pasukan tak ada yang bergerak. Dia berjalan beriringan dengan Nyonya Stef. Dari sore, Axel mengikuti pergerakan Jefri dari anak buahnya dan langsung membawa Stefanie terbang ke Hong Kong untuk berjaga-jaga. Begitu Axel mendapat sinyal darurat dari cucunya, dia langsung melacak kalung Rama. Untung dia belum terlambat.


Stefanie melihat anak muda yang memukuli kaki Jefri dan menangis batuk-batuk. Pandangannya bergeser ke dua orang yang berdiri di belakang sebuah kursi, dua orang itu menganggukkan kepala seolah memberi hormat.


Bila tidak salah, itu semua asisten yang dari dulu setia dengan Jefri. Dua-duanya terdapat tato sepasang sayap di leher kanan. Stef hafal betul si kumis rapi yang mana kumis itu terlihat berambut lembut, dia pernah tak sengaja melihat orang itu menyisir kumis. Satu orang lainnya, dikenali dari satu jari kelingking putus.


Menarik napas dalam-dalam, Stef mendorong tangan ke depan dan jarinya yang gemetar itu akan menyentuh kepala Jefri sambil berjongkok. Berulang kali jarinya ditekuk, dia menggelengkan kepala, lalu melirik Axel yang berdiri di samping pemuda itu.


Axel menganggukkan kepala dan mencoba meyakinkan Stefanie yang lalu menggaruk alis dan menggigit bibir bawah. "Ayo Nyonya Stef," gumamnya.


Jantung Stefanie berdetak dengan kecepatan maksimal, rasanya ingin kabur, tetapi kasihan keluarga Axel. Sebuah selendang ditarik dari tangannya dan ditutupkan ke punggung kekar yang bergetar. Stef menunggu dengan menoleh ke belakang dan para asisten itu hanya menatapnya tanpa bisa dia ditebak.


Dengan nervous, Stef menjatuhkan lututnya ke paving. Jarinya menyentuh bahu kokoh dan keras yang hangat. Dua belas detik berlalu, lelaki dengan tangisan dalam itu masih tak sadar akan tangkuban tangannya yang gemetar. Stef menusuk lebih keras lengan itu dengan telunjuknya.


Dua asisten itu saling pandang, seakan sepemikiran. Kenapa dari dulu nyonya stef masih saja seperti itu, kurang peka dan selalu menjaga jarak. Chen tak tahan lagi, jadi mulai melangkahkan kaki. Namun, tangannya ditarik dan ditahan asisten dengan jari cacat, tak mengijinkan mengganggu sang bos.


“Mas …. “ Stef dengan napas tertahan karena tiga wanita di pinggir sungai seolah tengah menontonnya. “Mas Jefri,” suara Stef lebih keras, mungkin tadi tak didengar Sergey karena tangisan pemuda itu. Tangannya mulai menyentuh pipi Jefri yang terasa tebal, hangat dan basah, juga licin oleh lelehan ingus. Kepala pria itu pun menoleh seakan menyadari sesuatu dan mata merah Sergey membuat Stef membeku.


Membeku juga dirasakan tubuh Jefri, Jefri terpaku pada mata hijau selama tiga detik, lalu mengelap ingusnya ke lengan kanannya. “Sergey bodoh,” suara Jefri mengecil dan menoleh ke kiri lagi lalu lebih mendongak. Dia mengucek-ngucek matanya yang basah. Ada seorang wanita ... siapa wanita yang berani menyentuhnya. Jefri menelan saliva dari cara tangan itu menangkup tengkuknya, isaknya terhenti. Dia menoleh ke kanan dan menghapus air mata dengan kain berwarna biru. Sejak kapan selendang biru ada dibahunya, dia mengelap pipi dan mata yang basah. Damit! Apa aku menangis di depan Stef! memalukan.


Ketika menyingkirkan kain dari pipi, suara ayahnya Sergey membuat Jefri makin menoleh ke belakang. Kakek Axel duduk dan memeluk kepala Rama. Mata Jefri meredup, ternyata bukan dia saja yang kehilangan Sergey, benar, Rama jauh lebih terluka.


Apa jika aku mati, Nathan akan menangis ku seperti itu? Jangankan itu, apa anak itu bahkan mau menyayangiku sebagai ayahnya. (Jefri)

__ADS_1


Jefri berusaha duduk, dia baru merasakan kakinya sakit juga akibat pukulan-pukulan Rama. Mata hijau dipandanginya, dekat bahunya dan tangan mungil itu memegangi bahu lalu membantunya duduk. Kenapa Stef di sini? Jika dia melihat semua perbuatanku, yang ada dia semakin tak mau dekat-dekat denganku.


Suara kapal menderu dan berhenti di belakang para wanita di pinggir sungai. Padahal, Jefri sudah menyusun segala rencana dengan matang untuk menghukum Devan. Semua ini diluar dugaannya. Bahkan dia seperti patuh saat Stef memintanya duduk di kursi, dan stef sempat membersihkan kotoran dari kakinya dengan tangan putih itu yang masih kencang walau tampak garis-garis penuaan yang samar. 30 tahun lamanya setelah terakhir kali melihat Stef, dia masih bingung dan sering melihat ke wajah Stef yang berusaha tersenyum dengan wajah sedikit kerutan, sekarang tidak ada pancaran ketakutan di mata Stef.


“Bebaskan mereka, Mas.”


“Apa?” Kepala Jefri terayun ke depan saking terkejutnya dengan apa yang didengar barusan.


“Biamereka pulang dan tidur nyenyak mulai dari malam ini dan selamanya tanpa kita perlu mengusiknya,” suara Stef pelan tetapi tegas seperti seorang ibu pada anaknya.


“Kita?”


“Mas, tidak mau tinggal bersamaku dan Nathan dan tiga putraku yang lain, kah?”


“Tiga?” Satu alis Jefri semakin terangkat, pasti Stef sempat menikahi orang lain, bukankah tandanya stef masih istri orang lain, lalu bagaimana bisa menyebut akan tinggal bersamanya.


“Biarkan mereka pulang dulu. Sebelum kamu, Tuan Axel sudah banyak membantuku membersihkan nama baikku dari fitnah perusahaan coklat itu. Apa kamu tega membalas kebaikan Tuan Axel padaku dengan sesuatu yang tidak terpuji.” Stef dengan nada penekanan.


Jefri menghela napas panjang. Dia tahu karena kekejamannya lalu dia ditinggalkan Stef. “Kalau begitu, sekarang kamu temui Nathan. Aku perlu berbicara dengan mereka semua."


“Aku percaya padamu, Mas. Kau takkan melakukan kesalahan untuk ke dua kalinya.” Stef mengelus kedua pipi Jefri dengan tangan kembali gemetar.


Lagi-lagi tatapan ketakutan Stef padanya. Jefri tak pernah berkedip sampai Stefanie pergi ke mobil diantar si kumis-asistennya. Sekarang asistennya tinggal satu, si cacat jari kelingking.


“Beri mereka semua kursi, Chen," perintah Jefri sambil menatap si cacat. Dia biasanya memanggil Chen dengan cacat kalau sedang marah. Asistennya lalu berbicara di earpiece. Tiga kursi diberikan pada Devan, Rama, Axel. Mereka semua duduk di atas kursi.


“Bagaimana dengan para perempuan, Bos?” bisik Chen di telinga sang bos. “Apa anda mengijinkan perempuan masuk ke mobil. Mungkin, nyonya stef akan bertanya soal Atha, apalagi sepertinya, Tuan Muda Nathan peduli pada Atha.”


“Ya, masukan,” ketus Jefri dengan nada rendah.


Sebuah handuk putih lembab hangat diberikan anak buahnya, Jefri mengelap wajahnya. Dia menatap tiga orang itu, dua diantaranya babak belur, tetapi terlihat masih cukup aman karena masih bisa membuka mata dan semua tengah menatapnya.


Jefri yang mau berbicara dengan mereka, lalu terdiam. Chen yang baru mengantar para perempuan ke dalam mobil, lalu berlari kembali dengan ponsel milik Jefri di tangan Chen. Jefri berdiri dan menerima uluran ponsel, lalu menjauh lima meter dan berbicara dengan bos Larry.


“Apa semua aman, Jef? Kau di Hong Kong dan belum melapor?” Tanya Lary tanpa basa-basi karena mendengar ada pertumpahan darah yang melibatkan anak buah kepercayaannya.


Jefri mengepalkan tangan. “Saya baru menemukan mantan istri saya , Bos. Ini tentang keluarga dan putraku yang baru ditemukan. Juga, soal kematian Sergey.”


“Kau ingat pesan istriku tercinta?” suara itu terdengar penuh peringatan bagi Jefri.


“Ya, bos, istri bos bilang jangan ada pertumpahan darah. Sekarang tidak ada yang terluka parah, Bos.”


“Aku diam saat kau menghabisi dokter kirimanku, padahal dokter itu turun berperan baik pada perkembangan Devan sampai lelaki siuman. Jadi, kenapa kau menghabisi dokter ahliku?" suara Larry meninggi. Aku menunggumu, tetapi kau mulai tak terbuka."


“Saya melakukan kesalahan dan akan menanggungnya, Bos,” kata Jefri serius.


“Hari ini kamu membuat ulah, aku sudah jauh-jauh hari memperingatkan kamu untuk menjaga sikapmu di Hongkong. Kau tahu itu wilayah TRIAD, apa kau mau mengurangi pasukanmu dengan sia-sia?”


*TRIAD : sebutan Mafia di daratan China.


“Saya tahu, Bos,” kata Jefri dengan lutut gemetar. “Sekali lagi untuk kali ini, berikan saya waktu, ada anak dan wanita saya yang salah paham denganku selama 30 tahun ini. Sama seperti saat Bos mengorbankan nyawa untuk Nyonya Lala yang anda cintai. Sama seperti anda yang menunggu dan berjuang selama 38 tahun, saya tidak mau penantian 30 tahun saya akan sia-sia sekarang dan saya bingung harus berkata apa pada Stefanie.”


“Aku hanya memberi waktu seminggu untuk kamu di Hong Kong. Kulihat putra Sergey begitu menawan dan pesona ekslusif. Pindahkan tanggung jawab ke anak itu. Aku tak mau dia cacat, kau mengerti?”


Jefri memiringkan kepala ke kanan. Dia melirik ke kanan-kiri, sepertinya sang bos mengirim mata-mata di sekitar sini. “Mengerti,” kata Jefri dengan tidak rela. “Tapi apa maksudnya tanggung jawab?”


“Latih anak itu menjadi actor dan istrinya boleh juga. Aku mau kehidupan mereka dibuat film.”


“Bos .... ” suara Jefri berat dan hatinya bergetar. “Mencangkup Sergey?”


“Semuanya, bolak-balikan opini publik. Aku akan mengirimkan penulis hebat dari sini, malam ini akan kuterbangkan dia ke Hongkong dan kau siapkan semuanya.”


Jefri mengepalkan tangannya, ini seperti dia membuka aib sahabatnya, dia tak bisa. "Apa anda meminta untuk mereka hanya bermain pada satu film, Bos?


"Tergantung, jika mereka bermain maksimal, bukankah aku akan berbaik hati menuruti keinginannya. Tapi, bila mereka membuatku kecewa, aku akan mengontrak Rama seumur hidup."


Jefri menelan Saliva dengan kasar. Dia hafal betul nasib actor-actor tuannya, yang takkan dilepas sampai tuannya puas dan akan terus menjadi ladang mesin perputaran pundi-pundi dollar.


“Jefri? Kau keberatan? Katakan bila kau tak mampu lagi mengemban tugas. Aku tahu dia teman terbaikmu, tetapi bisnis tetaplah bisnis dan jika tidak karena aku, kau takkan mengenal Sergey. Lagipula ini tidak buruk untuk mereka. Kau tahu, film itu akan laku keras, apalagi dibintangi oleh mereka langsung. Aku tidak mau tahu. Kau harus membuat mereka menyetujuinya. Ingat Jef, 7 hari, atau aku menggeser posisi mu.”


Jefri melirik ponsel di layar karena suara tut saat panggilan itu diputuskan oleh sang bos. Jefri berbalik dengan langkah sombong, seolah sepuluh menit lalu tidak ada acara tangis menangis. Dia duduk di kursinya. “Aku akan melepaskan kalian dengan syarat perjanjian. Rama dan Atha akan terjun ke sebuah film, hanya satu film, lalu, bagian 50 persen NASA akan kembali ke tangan Atha.”


“Film apa?” tanya Axel dengan penuh curiga saat Jefri melihat jam tangan.


"Besok datang ke kantorku dan Chen akan menjelaskan semua.” Jefri menatap tajam Axel. “Saya tahu anda memiliki hubungan baik dengan Stefanie, tetapi anda kuberitahu lebih awal, saya takkan goyah karena permintaan Stefanie. Jika anda meminta tolong Stefanie untuk mempengaruhi keputusanku .... sungguh anda membuang waktu.”


“Dimana Musa?” tanya Rama dengan suara parau saat Jefri berdiri. Pandangan Rama sebagian tertutupi kelopak matanya yang bengkak.


“Den Musa sudah tidur dengan sangat nyenyak.” Chen menunjukan foto pada Rama dari ponselnya.


“Aku akan memberikan Musa saat kau dan Nita menandatangani perjanjian besok.” Jefri berjalan cepat meninggalkan mereka, karena menaklukkan Stefanie lebih penting daripada mereka.


.


“Rama dan Devan sudah sampai rumah sakit, Bos. Sementara jenasah dokter itu telah selesai diotopsi di rumah sakit berbeda, kami telah membuat tragedi buatan seakan-akan penembakan itu terjadi di suatu gang sepi. Kami memastikan tempat itu aman dan tiada TRIAD di sekitar lokasi,” jelas Chen sambil mengarahkan mobil ke rumah sang bos di Hong Kong yang baru dibeli satu minggu lalu.


“Kau yakin bersih?” Jefri meraup wajahnya. Dia memiliki kendali yang buruk dan sangat panas bila seseorang membuatnya kesal. "Dokter itu sudah memeriksa Rama, kan? DNA Rama pasti ada di tangan atau baju dokter itu. Lalu, ponsel, siapa yang menghubungi dokter itu.”


“Bos, ponsel sudah kami amankan. Panggilan dari Intania juga sudah kami bersihkan di sistem operator. Mobil dokter itu telah kami amankan ke tempat tertentu dan cctv jalanan yang terhubung jaringan sudah kami acak-acak dengan kami atur sedemikian rupa.”


“Kau tak boleh melakukan kesalahan Chen, dan pastikan agar tidak berurusan dan tanpa sepengetahuan TRIAD. Atau mereka mengacak-ngacak kita bila mereka menemukan kejanggalan. Kau suruh kumis buat perjanjian kontrak itu dan serahkan sebelum jam 1 pagi, aku mau melihat isinya.” Jefri tak bisa membuat jarinya diam. Dia begitu gelisah, karena ini bukan wilayahnya. Sangat berbahaya, bisa-bisa Stefanie dan Nathan diserang kebrutalan TRIAD.


Jefri turun di garasi dengan gelisah. Dia berjalan cepat dan melihat ke sepanjang ruangan yang dilewatinya. Jefri langsung menuju kamarnya, ya, pintar juga asistennya karena menempatkan Stef di kamarnya, tetapi dia jadi canggung dan menatap ragu-ragu pada pintu kamarnya yang akan dibuka.

__ADS_1


__ADS_2