Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 51 : RESAH


__ADS_3

Nita mengendus-endus bau sedap masakan saat mimpinya makan es krim mulai pudar. Dia memerjapkan mata dan melihat jendela dengan tirai mini berwarna biru lusuh yang melambai-lambai terkena angin. Nita bangkit dan duduk untuk mengumpulkan nyawa dan memandang kamar, yangmana cat tembok terkelupas dan bau pengap ruangan begitu kentara.


Setelah di cari-carinya, bau masakan itu berasal dari dapur. Nita memakai sandal jepit dan terperangah pada Rama yang membawa piring berisi ikan goreng yang masih tampak panas-panas. Dia meringis saat melihat dapur sederhana itu seperti kapal pecah.


"Nita .... " Rama dengan mata berbinar. "Cepat, sekali bangunnya! Kebetulan aku masakin ini semua untuk kamu!"


"Tadi bilangnya, semua untuk Om, kan?" ujar Devan saat Rama berhenti di depannya.


Nita menatap papahnya dan tersenyum karena papa mulai aktif berbicara lagi. Nita mendekat dan berjongkok di depan papa, dan memegangi lutut papa. Dia menatap papanya dengan penuh rasa syukur, papanya mengenakan celana pendek dan duduk di kursi roda dengan infus yang mau habis. "Memang Papa bisa habisin sendirian?"


"Bisa dong, kamu tidak ingat Papah pernah menghabiskan dua ekor ikan bawal bakar tanpa nasi."


"Atha ingat, Papah."


"Kau ingat juga, nggak? Dulu saat kamu kecil kita pernah main ke tempat Rama, saat Papah masih ada pekerjaan dengan Om Sergey. Kamu main dengan Rama, ingat enggak?" tanya Devan dengan nada lembut.


Nita melirik samping, mencari visual mas kecil dalam memori otaknya. Dia menggelengkan kepala karena visual penuh kabut putih. "Atha tidak ingat, Pah."


"Nita pernah bermain denganku? aku tidak ingat?" Rama jadi menebak-nebak seperti apa wajah Nita saat kecil, mengapa dia juga tak mengingat apapun.


"Mari makan, Om. Aku lapar." Rama menaruh piring bersih di atas dipan kayu, di dapur tradisional tanpa jubin. "Kita makan di sini saja, sepertinya enak."


Nita menekan rasa malu dan jantungnya berdetak makin kencang. Dia mendorong kursi roda ke dekat dipan. Dari dapur, Nita dapat memantau kasur tempat Musa tidur, dibawah kasur dialasi tikar karena jubin hitam terasa dingin.


"Biar aku ambil piring," kata Rama saat melewati Nita. Dia sempat mengedipkan mata genit hingga wanita itu jadi salah tingkah.


"Rama bisa masak, kamu tak perlu capek lagi, Nak." Devan berbisik pada Nita yang baru melepas sandal jepit, putrinya naik ke dipan dan duduk bersila. Dia senang putrinya tertawa seperti dapat mainan baru.


"Dia kan punya resto, Pah. Masakannya pasti enak!" bisik Nita sembari melirik Rama dari kejauhan. Tampak Rama sangat menawan saat mengambil piring


dari rak piring.

__ADS_1


"Bumbunya, seadanya. Ini tidak buruk," ujar Rama saat baru duduk di dipan dan menatap heran pada dua orang itu yang seperti habis tertawa.


Rama begitu merasa tenang asal bisa bersama Nita, walau saat sendirian dia jadi teringat pada papanya. Apa papah akan mencarinya?


"Rama, jangan melamun." Nita menepuk tangan Rama karena pemuda itu hanya melirik ke arah nasi yang baru diambilkan.


"Ini untuk kamu, aku sudah makan tadi." Rama dengan tatapan lembut pada Nita.


"Makan bersama-sama lebih nikmat, apalagi ini hasil pancingan kamu." Nita memperhatikan sang papa


yang sudah menyentuh nasi dan ikan goreng dengan tangan, setelah membasuh tangan pada kobokan air di mangkuk.


"Baiklah." Rama dalam hati tertawa. Ini seperti suami mencari nafkah untuk istrinya! Maka, nikmat Tuhan mana yang aku dustakan ?


"Pah, Rama pinter, bisa dapat ikan besar-besar. Ini kayanya hampir 1 kg." Nita memuji Rama sambil berusaha memisahkan ikan dari duri, menggunakan garpu sendok. Tentu saja Rama menahan malu sembari tersenyum dengan bibir terkatub rapat.


"Dia mirip Sergey pandai memancing. Aku selalu mendapat satu, paling banyak dua ikan. Tapi, Sergey bisa mendapat minimal 5 ekor. Sayang sekali, aku belum sempat bertemu dengannya."


"Rama, kau banyak pikiran? Makanlah dulu. Sebentar lagi Musa bangun." Nita seakan peka pada perubahan ekspresi Rama. Dia belum sempat bercerita dengan papah, apalagi soal pernikahan kontrak dengan Sergey. Entah, nanti apa reaksi papah bila tahu, dia menjaga kondisi papah karena itu saran dokter.


"Memangnya apa yang kau lakukan pada Nathan, sampai dia marah kepadamu? Nathan padahal tak semudah itu marah pada seseorang?" Sergey menatap putra sahabatnya dengan antusias.


"Papah, Nita kan sudah bilang, Rama menabrak mobil Kak Nathan dan Kak Nathan tidak terima lalu menyulik Rama."


"Nabrak?" Rama memotong kata-kata Nita. Dia menyipitkan mata dan Nita menatapnya tajam sembari sesekali mengedipkan mata, mungkin Nita kelilipan.


"Aku tidak-" Rama membela diri.


"Kamu pasti lupa, Rama!" Nita menganggukkan kepala berulangkali saat papahnya menatap Rama. Dia berharap Rama mau bekerjasama, walau harus membohongi papah.


"Sudah selesaikan makanan kalian dulu." Devan makan dan mulai termenung.

__ADS_1


Devan jadi teringat Stef, dia harus segera menemui Stef untuk membicarakan soal rencana perjodohan dengan Nathan. Devan dan Stef sudah saling mengikrarkan janji waktu Nathan di dalam kandungan Stefanie.


Dari sejak mengadopsi Nathan, Devan telah memperhatikan semua kebutuhan Nathan dan membimbingnya dengan sepenuh hati. Dia tak mau Nita-anak satu-satunya yang diperoleh dari hasil bayi tabung, justru berjodoh dengan orang lain yang tidak ketahui tabiat aslinya.


Devan menghela napas panjang teringat dengan percakapan kemarin dengan Nathan. Putra angkatnya tak menjawab akan kesediaan pemuda itu untuk menikahi putrinya yang cantik. Apa karena Musa menjadi penghalang. Dia yakin Nathan bisa menerima anak Nita.


Devan menyesal, seharusnya dia lebih cepat menitipkan Nita dan perusahaannya pada Nathan. Mungkin hal seperti ini tidak terjadi. Baru tiga tahun perusahaan yang dia dirikan dari enol itu ditinggal karena dia KOMA, tetapi siapa sangka putrinya begitu rentan dan perusahannya telah dimiliki orang lain.


...****************...


"Nak, papah pinjam ponsel. Atau kamu suruh teman Nathan untuk membeli hp." Devan dengan gelisah, dia ingin segera menelpon Sergey.


"Pah, Nita tidak punya ponsel, lagipula di sini sulit sinyal, itu kata Kak Nathan." Nita berusaha meyakinkan papahnya.


"Papah ingin tahu siapa pria luar negeri yang membeli perusahaan Papah. Kenapa kamu jual murah?"


"Kak Nathan kan sudah bilang. Nita kehabisan uang dan harus menjual itu dengan harga murah." Nita merasa tertekan. Dia benci karena berbohong pada papanya.


"Padahal, banyak bank yang pasti mau mencairkan pinjaman, tetapi kamu aneh, kenapa justru meminjam ke agen yang mencekik. Jelas kamu dijebak dari awal." Devan mengatubkan bibir dan tangannya mencengkram kursi roda.


Devan jadi marah dengan diri sendiri kenapa dulu melarang Nita bekerja, saat teman Nita sudah mulai berkerja. Kini dia harus iklash kehilangan semuanya dan hidup tanpa punya apa-apa. Sia-sia semua jerih payahnya dan hancur oleh sang putri.


Rasanya seperti mau ma*ti saja, Devan tak betah tinggal di tempat kumuh ini yang banyak nyamuk saat malam. Dia teringat Nathan yang bilang .... uang Nathan yang tersisa hanya cukup untuk menyewa rumah sederhana di pelosok sambil menunggu identitas baru Nita, Musa dan dirinya keluar, lalu pindah ke Brunei.


"Maaf, Pah, saat itu ... semua sulit, sepeninggalan papah dari kantor, para talent tak memperpanjang kontrak dan memilih perusahaan lain. Kata mereka , perusahaan di bawah kepemimpinan Nita itu takkan maju," kata Nita dengan takut-takut.


Nita menggigit bibir bawah. Kakak cantik, 2 detik u menekan tombol like, sangat mengapresiasi buah pikiran OTHOR. Terimakasih 🙏Maaf, Nita bohong lagi. Nita tidak mau kalau sampai papah tahu jika teman papa itu menyukaiku, lalu Papa mungkin menikahkan aku dengan Mas Sergey. Aku yakin, Mas Sergey pasti akan merayu Papa, lalu Papa mungkin memaksa aku.


Rama di ruang tengah, sedang memangku Musa. Dia terus melirik dua orang, yang masih di dapur. Dia dibuat penasaran dengan obrolan mereka. Rama jadi teringat saat Devan membanggakan Nathan dengan cerita berlebihan. Kenapa juga hatiku menjadi resah.


__ADS_1


__ADS_2