
Nita mengintip Rama di dapur yang sedang memasak daun kelor. Dia mengendap-ngendap ke kamar papah. Langsung duduk di tepi tempat tidur dan memeluk lengan papah. "Papah, aku mau nikah!"
Devan melirik ke kiri. Kenapa putrinya menyebut nikah dengan nada enteng. "Putriku, menjalani pernikahan harus belajar banyak dan tak semudah kelihatannya. Ada banyak masalah yang harus dihadapi bersama dengan kepala dingin, padahal masalah itu selalu membakar pikiran panas."
"Papah, Atha mau nikah .... Kok, Papah jadi ceramah?"
"Ingat nggak dengan tetangga samping rumah? Yang tidak pernah mau menerima bantuan kita? Mereka justru mengira kita menghina mereka. Padahal nenek itu sempat mau menerima bantuan, tetapi kakek itu malah menolak mentah-mentah. Begitupun saat kakek itu masuk rumah sakit. Nenek itu malah minta bantuan ke orang lain, lalu tetangga menjelek-jelekkan kita, padahal mereka yang tidak mau dibantu."
"Terus apa hubungannya tetangga kita?"
"Kakek itu dulu ditinggal istri pertamanya, setelah bertengkar saling berteriak sampai semua tetangga, pak RT kumpul, tetangga sampai keberisikan oleh teriakan mereka. Papah yang jadi tetangganya justru malu sendiri."
"Papah, lalu hubungannya sama Nita apa?" Nita melepaskan pelukan dan naik tempat tidur. Dia menarik jarit yang menggubet Musa, karena anaknya mainan jarit hingga kegubet sendiri.
"Kamu jangan seperti itu. Harus pilih-pilih."
"Nita udah punya calon, dia tak pernah marah-marah sama Nita." Nita mengerutkan kening, pernah sih saat dia memunduri motor Rama. Ah, kenapa dia jadi kangen Rama, padahal sudah satu rumah bersama. "Pokoknya Nita udah ngebet," kata Nita dengan mengebu-gebu. "Hatiku udah mantap betul, pokonya kalau ngga sama itu, Nita lebih baik nggak nikah."
"Bukan Rama, kan?" celetuk Devan dengan asal, tetapi putrinya justru mengangguk dengan cepat. Devan terkejut sampai pantaatnya mundur ke belakang.
" Mas Rama, Pah ... " Nita meremas jemari di pangkuan. "Dia sangat baik pada Musa."
"Apa hanya karena itu? Lalu padamu?"
"Dia mengerti Nita dan selalu ada saat Nita terpuruk, justru dia seperti superhero bagi Nita." Lena menggosok matanya, entah air mata jatuh dari mana, mengapa datang tiba-tiba. Dia ingat betul Rama yang menggendongnya sata dia putus asa dari hidupnya karena kebencian pada perme*kosa itu yang telah membuatnya hamil dan karena papahnya yang tak kunjung siuman. Tubuh Nita merinding hebat.
Devan menghitung tetesan embun bening yang melewati mata Nita. "Kalau Nathan gimana?" Devan mendapati tetesan air mata Nita makin berjatuhan saat Nita menggelengkan kepala. "Dia pekerja keras dan bertanggungjawab."
"Rama bertanggungjawab, Papah." Nita menutupkan wajah ke bahu dan mulai terisak. "Kenapa Papa menyebut Kak Nathan. Papah kan mengadopsinya. Emang Papah tega maksa Nita buat suka sama Nathan dan melupakan Rama. Kenapa nggak kak Nathan aja yang jadi anak Papah, biar Papah nggak maksain Nita lagi, tetapi maksain Kak Nathan aja. Jaman Nurbaya sudah lewat, kukira aku cuma baca-baca itu di internet, taunya Papa juga menjodoh-jodohkan aku juga."
Devan mengelus dadanya yang sakit karena tangisan Nita. Matanya mulai berkaca-kaca dan kabur oleh embun bening yang menyebar di mata. Dia mirip sekali Clara, kalau tak sanggup membela diri cuma bisa menangis.
Rama menggigit bibir bawah, kenapa hobinya akhir-akhir ini jadi mengintip dan menguping. Dadanya tersentak karena Nita bisa juga membelanya diam-diam. Rama kembali ke dapur dan menatap nanar sayur bening daun kelor dan sambel terasi mentah dengan lele goreng.
Apa kabar mamah. Apa kabar mamah. Apakah kabar papah. Rama kangen.
Rama tiba-tiba merasa tak bertenaga. Dia tidur meringkuk di dipan dan air matanya meleleh melewati hidung. Bau sambal terasi semakin membuatnya sakit karena ingat buatan mama Intan. Dia melirik ke atap genteng tanpa ternit, dan lampu kuning. Tangannya meneplak dan menggaruk kaki yang gatal karen nyamuk. "Mahh .... "
Bibir Rama terasa pahit. Sudah berapa hari dia tak merokok dan sangat menyebalkan saat-saat seperti ini. Tiba-tiba semua kekesalannya menjadi satu. Mengapa ini terasa sulit. Tidak ada yang mempedulikannya seperti mama dan papah.
⚓
Nita langsung memeluk papah erat-erat. "Makasih, Pah .... "
"Loh, tapi kita temu Sergey dulu."
__ADS_1
"Om Sergey pasti setuju, dia kan teman Papah."
"Bukan begitu, Nak. Papah kan sahabat karib, Papah nanti nggak sopan kok ngambil anak orang gak nembung."
"Papah .... Nita udah kebelet."
Devan menggetok kening Nita sampai bunyi. Anak itu mengaduh sambil mengelus kening. "Kalau nggak ada Sergey dan Intania, nggak ada Rama. Masa kamu nggak sopan sama calon mertuamu."
"Pah, kan ini baru siri. Ah, resminya nanti sama mereka." Nita dengan suara seperti anak kecil. Kalau ijin Sergey, apalagi Intania pasti nggak boleh. Apalagi Intania ... Intania yang tahunya dia istri Sergey.
"Ya udah nunggu Nathan."
"Nggak mau, pasti Kak Nathan ngelarang. Kan Rama tawanan Kakak."
"Ya, nanti Papah yang bilang biar Nathan mau."
"Nggak mau, Papah." Nita tiduran di paha Papah dan merengek di perut papah yang kurus. Rengekannya mulai melengking sampai Musa menepuk-nepuk punggung sang mama. Dia merasakan Musa memeluknya dari arah belakang.
"Tuh tidak kasian liat Musa. Dia bingung mamanya kok cengeng. Tidak malu, ih?"
"Biarin, mamanya juga manusia. Udah gede mau dijodoh-jodohin. Masa Papa tidak percaya pada pilihan anak Mama Clara."
"Sudah diam ah." Devan pusing karena ulah Nita. Dia mengelus rambut putrinya dari depan ke belakang. Bulir bening baru jatuh dari mata emas, seperti mata Clara, yang makin membuatnya tak tega. Bibir putrinya yang mengerucut lima senti membuatnya kesal. "Ya udah, biar Papa bicara dengan Rama." Dilihatnya sang putri bangkit dengan hati-hati, Musa langsung memeluk perut mama.
"Tadi Rama masak .... Kita ke belakang, yuk." Nita mengelap pipinya yang lengket oleh air mata dan langsung tersenyum penuh arti. Papanya cuma mengangguk. Nita membantu papa pindah ke kursi roda. Dia menurunkan putranya dari tempat tidur. Nita mendorong kursi roda dan Musa mengikutinya di belakang.
"Mas .... " Nita menepuk paha Rama. "Tidurnya di dalam."
Devan membeku saat Rama membuka mata dimana mata itu merah. Dia baru menyadari tatapan Rama yang syarat akan kesepian. Dia melirik makanan. "Baunya sedap .... Harusnya Atha yang masak. Pamali ada perempuan, yang capek laki-laki."
"Pah ... Kan Mas Rama yang nawarin mau masak. Bukan Nita yang minta." Nita membela diri. Dia melirik Rama yang wajahnya datar tak seperti biasanya.
"Benar kata Atha, Om. Rama memang hobi masak dan saya melarang Atha ke dapur. Soalnya, Rama pikir Nita capek habis renang apalagi seharian menjaga Musa." Rama mengambilkan Lauk untuk Devan setelah Nita mengambilkan Nasi.
"Papah nggak percaya sih," gumam Nita sambil mendudukkan Musa di tepi dipan, dia melepas sandal mini dan putranya melewati celah di belakangnya dan duduk di pangkuan Rama yang bersila.
"Apa kamu berniat menikahi putriku yang adalah satu-satunya?" Devan merasakan lidahnya gatal dan tidak bisa diam.
Rama jelas menanggapi dengan terdiam sejenak, kelopak mata Rama bergetar sampai piring beling yang dipegangnya juga gemetar. Dia menunduk dan mengambil daging dan mendorong bersama nasi ke bibir mungil. Musa suka sekali makan ikan.
"Rama ingin ... Iya, Rama ingin belajar mengarungi kehidupan ini bersama Nita Athalia. Teman hidup dalam susah senang. Jika om mengijinkan, Rama akan cari kyai untuk kami menikah lebih dulu agar tidak menjadi fitnah." Rama terbelalak dengan kata-katanya sendiri. Dia jadi teringat kata-kata Ibu pengurus panti. "Rama ingin menjalani ibadah terlama, menjemput bidadari dunia dan bersama-sama mencari ridho Allah Yang Maha Esa untuk meraih SurgaNya."
Nita dan Devan bersitatap dan masih terbelalak. Hati mereka bergetar karena mereka jauh dari agama, mendengar ini rasanya mereka ingin menangis. Seolah mereka diingatkan akan kuasa Tuhan Yang Maha Esa..
"Wow." Nita terus berkedip dan bibirnya gemetar. Sedangkan Devan tak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
...----------------...
Rama pagi-pagi sekali, begitu sedikit terang, mengayuh sepeda dengan penuh bahagia menuju rumah Mbah Sopia. Dengan bantuan Mbah Sopia Rama pun pergi menempuh setengah kilometer ke rumah Pak Kyai melewati perkebunan kopi. Dia kembali memboncengkan Pak Kyai dan para tetangga yang jaraknya jauh-jauh, sudah berkumpul di eperan rumah, dimana bau masakan sangat tercium harum.
Pak Kyai bersiap di meja yang telah ditata mendadak di ruang tamu. Semua orang yang memasak berhenti, dan berkumpul memenuhi ruang tamu. Ada yang menggelar tikar dan duduk di serambi.
Nita terus menelan Saliva gugup. Dia meminjam kerudung putih dari tetangga dan dipinjami makeup oleh tetangga yang adalah lipen merah.
Rama menyerahkan kalung emas putihnya 20 gram dan tak menghitung berlian di atas bandul kepala serigala. Akhirnya, ada gunanya juga kalung itu, untung kalung W3be terus dipakainya. Rama sampai meminjam baju koko dan peci milik Pak Kyai.
Devan duduk dengan susah payah di lantai dengan bantuan orang-orang. Dia juga meminjam baju Koko dari Pak Kyai. Devan menjabat tangan Rama dan air matanya tak bisa lagi dibendung dan jatuh ke pangkuan.
Devan menarik nafas panjang dan merasakan tangan Rama gemetar dan basah oleh keringat. Devan menatap mata biru dalam-dalam. "Saya nikahkan engkau ananda Rama Abimas bin Sergey Aiman Abimasa dengan Nita Athalia binti Devano Wijaya dengan mas kawin perhiasan seberat 20 gram karena Allah, dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Nita Athalia binti Devano Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Alhamdulillah," semua tamu muslim mengucap syukur.
Air Mata Nita berjatuhan saat mencium punggung tangan Rama dan Rama yang mencium pucuk kepalanya. Dia berdoa di dalam hati semoga Allah melindunginya dari segala hal buruk, terutama fitnah dunia akhirat.
Rama masih tak percaya bila sampai sini semuanya dilalui dengan mudah. Mengapa sekarang dia jadi takut kehilangan Nita karena ulah papanya. Dia juga jadi memikirkan siapa itu Jefri karena Nita sekarang miliknya seutuhnya, dia bertanggung jawab pada semua tentang isterinya dan Rama siap menghadapi kejamnya opini publik. Dia ingin menjaga Marwah wanita yang kini menjadi istrinya.
Semua tamu diajak Rama mengobrol. Rama senang mengenal tradisi di sini. Bahkan ada yang menawarinya pekerjaan.
Nita masih termenung dan duduk di samping papah. Dia ketakutan bila Nathan pulang lalu memarahinya, jangan sampai Nathan membatalkan rencana keluar negeri. Seharusnya, dia sudah tenang karena Rama sudah menjadi muhrimnya. Keluar negeripun tak masalah.
Semua tamu telah pulang. Papah telah beristirahat jam 7 malam. Begitupun Musa sudah tidur karena sampai sore tadi tamu masih memenuhi rumah. Nita barusan selesai bebersih dan berpapasan dengan Rama di depan kamar mandi. Nita langsung menunduk dengan perasaan malu luar biasa.
Rama memalingkan muka, dia tak bisa bernapas saat di dekat Nita. "Permisi." Rama dengan sopan melewati Nita dan menutup pintu perlahan. Dia mengelus dada berungkali karena berhasil melewati Nita.
Setelah menanggalkan semua pakaian. Rama menciduk air dari ember bundar hitam dan mengguyurkan ke kepala, berulangkali dia mengguyur dalam gerakan cepat. Dia tak tahan dan ingin membuang rasa malunya. Namun, dua ember tanpa terasa habis dan dia lupa sabunan dan shampoan.
Ya Ampun, Rama!!! Bagaimana kamu seceroboh ini!
Setelah melilitkan handuk ke pinggang, Rama keluar dari kamar mandi yang berdinding seng dan pintu kayu dengan sisi bawah lapuk. Dia keluar lagi dari dapur sederhana dan mulai memompa air.
Rama mendorong tuas besi dari atas ke bawah. Mengapa tidak pakai Sanyo, jaman sudah modern, pikirnya. Dia begitu bersemangat Karena harus mandi super wangi agar istrinya terkesan dengan baunya.
Nita berjalan ke dapur dan mendapati pintu dapur terbuka. Dia reflek akan menutup pintu, tetapi suara besi berdecit mengambil perhatiannya. Nita mencari asal suara, dan dia menjerit dan jantungnya hampir copot, lalu berdebar kencang.
Mata emas melebar melihat pantaat orang dan saat orang itu berbalik astaga matanya sudah tak perawan. Nita menutup wajahnya dan mengintip ke siapa gerangan. Ternyata suaminya .
Wkwkwkwk (Author pengen ngakak dulu)
Rama melihat ke bawah dan handuknya telah terinjak-injak, dia melihat lebih ke atas ke pahanya yang polos. Matanya melebar dan langsung menatap sang istri yang mengintip ke arah kelelakiannnya. Rama langsung menutup bagian diantara paha depan menggunakan tangan. "Sayang!! Kamu lihat apa?"
__ADS_1