Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 52 : KAU MENIPUKU


__ADS_3

Di tempat lain, Sergey dan sahabatnya sedang meeting ketiga untuk mengatur strategi pencarian ke segala sudut kota. Sergey menatap Jefri yang gelisah. Dia sendiri geram kenapa sahabatnya tak memberitahu soal Devan yang siuman.


Kau selalu punya rencana, Atha! Mengesankan, diam-diam menghanyutkan. Kau ternyata selalu mengelabuhiku, kupikir kamu orang baik.


Kenapa kau menyakiti dan menipuku! Lihat saja, Atha, sampai batas mana kau bertahan dengan Devan tanpa uang. Kau pasti akan kembali untuk memperoleh NASA.


Ku yakin dengan kondisi jantung Papahmu, kau takkan bertahan lama bersembunyi.( Sergey)


Jefri melirik ponsel Sergey yang terus berbunyi di atas meja. Dia menarik senja*ta api revolver dari laci dan menarik tuas. Letusan menggema di ruangan dan Sergey langsung tersadar dari lamunan. "Apa aku harus menghancurkan teleponmu?"


"Maaf, Bang. Oh, ini Intania. Dia pasti mau ribut dengan kasus penculikan Rama. Dia marah-marah karena aku mencari calon istri yang adalah seorang penculik."


"Aku sudah bilang! Otakmu bermasalah. Kalau kau tak menghalangi aku mengha*bisi Nita. Pasti putramu masih denganmu!" Jefri bangkit dan membanting kursi roda hingga kaki penyangga kursi mahal itu patah.


Dan aku akan masih bersama Nathan, putraku, lalu aku bisa menukan Stef! (Jefri)


"Maaf, Bang. Tapi, aku yakin, dia dulu memang polos, pendiam, penakut dan ceroboh." Sergey membuat ponsel dalam mode silent. Dia melirik ke arah proyektor yang berulang kali menampilkan rekaman Rama dibius oleh seorang pria bule berambut pirang, lalu Rama digotong ke mobil Van.


Jefri melirik jengah ke potongan gaun pernikahan Nita, di meja panjang, yang ditemukan di kamar mandi. Dia menyeringai dan berpikir akan langsung menjerat leher Devan dan Nita dengan kain itu, atau menggantung mereka di sebuah gua.


Dendam Jefri pada Devan kian menjadi-jadi. Mungkin, sampai keluarga Devan dihabisinya, Jefri juga takkan merasa puas. Padahal dia berencana berbaikan karena Devan telah membesarkan putranya dengan baik.


Sekarang, Jefri meyakini bahwa Nathan telah dicuci otak oleh Devan, karena bisa mengatur rencana dengan begitu matang. Anak buahnya tak bisa mengejar kapal troll itu, yang bahkan belum bisa ditemukan sampai sekarang.


Jefri juga melakukan pencarian data pasien dengan riwayat cedera kepala di seluruh portal data pasien di seluruh Indonesia. Nyatanya, itu belum ada identitas yang mencurigakan yang menjuru ke arah Devan.


Menggigit bibir bawah, Sergey memegangi dada. Dia merindukan Nita dan ingin melihat wajah kalem itu yang menggemaskan. Namun, saat melihat putaran rekaman cctv yang menunjukkan Nita memasuki gedung dengan gaun pernikahan, tampak Nita melihat ke Rama dan si*alnya tatapan Rama membuatnya cemburu karena reaksi Nita.


Bahkan di rekaman cctv sepanjang menunggu penghulu, Nita terus melirik ke arah Rama. Sergey yakin saat inilah Nita gamam dan gelisah karena pasti sudah mencari waktu tepat untuk menculik Rama.


"Aku punya rencana, Bang." Sergey dengan ragu, tak tahan lagi, ingin memaksa Nita menjadi istrinya. Dia menggigit pipi bagian dalam, walau sebetulnya dia memiliki perasaan dalam pada Nita, tetapi dia juga jauh lebih khawatir pada Rama. Dia jelas memilih Rama di atas segalanya, tetapi dia ingin membuat pelajaran untuk Nita, bahwa dia juga bisa melakukan hal yang tidak akan pernah disangka Nita.


"Sudah berapa kali, rencanamu selalu menjengkelkan!" Jefri melempar vas bunga ke arah akuarium berisi lukisan bunga mawar. Akuarium berbentuk kubus dan berbahan kaca bening itu tahan bantingan. Di dalam Aquarium berisi lukisan buatan Stef, yang selaju jadi sasaran luapan kemarahan Jefri.

__ADS_1


"Kita gunakan publik! Syaratnya Abang tak boleh menyentuh Nita."


"Dan Devan menjadi bagianku?" Jefri menatap Sergey dengan nyalang.


"Tapi ... Devan sahabat aku, Bang."


"Aku tak peduli, Bede*bah! Kau pilih Devan? Boleh saja!" Jefri menyeringai. "Tapi kau harus siap, bila aku mengu*liti Nita dan mengawetkan kulit itu, lalu kugunakan itu untuk membuat topi dan aku ingin kau mengenakan topi itu, setiap pertemuan kita."


"Bang, dia calon-" Sergey protes, hatinya sakit mendengar ucapan Jefri yang pasti tak main-main.


"Istri? Istri! Istri! Pergilah! Kau pilih Nita, dan Devan bagianku!" Jefri menekan tombol di meja marmer bekali-kali. Empat anak buahnya datang dan Jefri langsung memakai headphone dan mendengarkan lagu bethoveen saat Sergey masih mengoceh.


Jefri memejamkan mata dan yakin pasti anak buahnya menarik Sergey keluar dari rumahnya. Dia bahkan memecat semua orang di kediamannya, karena terpedaya oleh obat tidur yang diberikan Nathan. Bahkan sampai anjing kesayangannya telah ditembak bius dari rekaman cctv. Dia tahu arah pandangan Anjing yang terkejut sebelum tak sadarkan diri, itu mengarah ke kamar Nathan.


*


Nathan menggigit jarinya dan menatap bingkai foto gadis kecil yang selalu tersenyum dalam gendongan Devan. Foto itu diambil dari Instagram milik mendiang ibu angkatnya. Dulu dia selalu iri pada gadis itu, karena selalu mendapat limpahan kasih sayang Devan. Dia mungkin masih membenci Nita hingga kini.


*


"Ehem!" Rama baru dari toilet, lalu duduk di samping Nita. Wanita itu melirik ke arahnya dan pindah ke tembok sisi lain. Rama bergeser duduk lagi dan tangannya dengan cepat memegangi bola benang yang sedang digunakan Nita untuk merajut.


"Jangan ganggu aku." Nita menghela napas gugup. Dia menjauhkan tangan Rama hingga tangan berbahaya itu sudah tak lagi memeganginya.


"Aku suka kamu .... "


Nita melirik kanan pada Rama yang memandangi Musa.


"Aku membayangkan jadi suamimu .... "


"Maaf, kau berbicara denganku?" tanya Nita memastikan karena Rama terus memandangi Musa yang bermain Tayo, di atas tikar.


Rama melirik ke kiri. Jantungnya sudah tak karuan. "Aku ingin jadi papahnya Musa .... dan aku akan belajar."

__ADS_1


"Menikah sirih?" Wajah Nita mulai menghangat. Ya Tuhan, aku jadi merindukan pelukannya!


Mata Rama melebar dengan suara Nita yang begitu tenang. Dia justru terkejut dengan tanggapan Nita. "Apa kamu mau .... denganku?"


Dua sudut bibir Nita terangkat tinggi. Dia panas dingin, apa itu mungkin menikah dengan Rama. Itu jauh dari rencananya. "Kita menikah sirih, lalu meninggalkan negara ini? Apa kau bisa hidup di hutan?"


Rama terperangah pada wajah Nita sekarang yang sangat manis. "Apa aku bisa mempercayakan diriku padamu, soal alamat yang kau tuju?"


Nita mendadak termenung. Dia jadi tak tahu apa Rama akan dibuatkan identitas baru oleh Kak Nathan. "Sebentar, kamu tak harus keluar dari negara ini dan bersusah-susah meninggalkan kehidupan mewahmu."


"Kamu bisa hidup seperti ini, kenapa aku tidak? Tentu aku bisa! Asalkan ada kamu. Aku memiliki skill memasak dan aku bisa membuka kedai makanan di pinggir jalan. Kita bisa menabung, lalu pindah ke Amerika."


"Wow, fantastik!" Nita memandang Rama kagum karena pemikiran itu. "Tapi, kau masih punya keluarga. Mereka mencarimu, terutama Papahmu."


Nita teringat pada semua hal yang diceritakan Sergey soal Rama. Apa karena tiap hari mendengarkan itu, membuat dia seakan mengenal Rama dengan begitu lama dan membuatnya ....


"Kita nikah, lalu setelah itu beritahu papahku." Rama menyunggingkan senyuman, rasanya wow .... dia tak pernah berpikir Nita mau menanggapi perasaannya.


"Itu terdengar gila," Nita tertawa renyah, "dan lucu." Nita membiarkan tangannya untuk mainan Musa, yang tengah menaruh Tayo di atas telapak tangannya. Dia makin tertawa saat Rama menempelkan telapak tangan ke punggung tangan kanannya, dari arah bawah.


Nita merentangkan jari dan jari-jari Rama itu muncul di sela-sela jarinya. Hal berikutnya Musa tertawa dan ikut menempelkan telapak tangan Musa ke telapak tangan Nita. Alhasil tiga tangan berbeda ukuran itu menumpuk.


Rama menyipitkan mata saat Musa menjauhkan tangan itu, tetapi kemudian pantaat mungil mulai menduduki telapak tangan Nita. Sontak Rama menangkap Musa yang terjengkang dan langsung membawa batita itu ke pelukannya.


"Nyaris saja, kamu membuatku jantungan, Musa," kata Rama dengan khawatir. Musa tertawa dan mendongak hingga kepala itu tertahan tangan Rama.


Nita mengecup pelipis Musa, lalu mulai bersuara, "Satu yang membuatku berpikir bahwa jika kita menikah, itu bukanlah hal buruk. Tapi, asal kamu tak menceraikanku sampai Musa berumur 6 tahun."


"Tentu!" Rama refleks mengecup pipi gembul Musa. Dia langsung menatap Nita. "Kau bilang apa? Menikah denganku? Ah, kau mau! Begitu saja? Kau tak menolakku seperti sebelumnya?"


Rentetan pertanyaan Rama, membuat Nita makin tersenyum semeringah. Dia yakin takkan bertemu Sergey ke depannya karena kepindahannya. Dan ini caranya agar Sergey tak mengganggunya lagi suatu waktu. Lagipula Rama seperti lentera dalam kegelapan baginya. "Besok mari kita bilang ke papahku."


__ADS_1


__ADS_2