
Sergey memandangi si sulung yang dulu mungil dalam gendongan, kini bayi itu telah dewasa dan pintar. Saking pintarnya sampai kekasih sang papah pun diambil.
Rama terpaku pada bibir papa yang gemetar dan semakin terkatub. Pandangan mata biru papa itu seolah penuh keterkejutan. Dia siap mengambil semua yang terberat demi Nita, sekalipun papa takkan mengakuinya sebagai anak.
Suara tamparan keras menggema di ruangan hingga Rama tersungkur di lantai. Rama mengelus pipinya yang panas dan perih. Lantai marmer putih itu ternoda lingkaran darah merah hati, yang baru menetes dari mulut Rama. Baru kali ini papahnya menamparnya dan ini sangat keras.
"Kau lihat Nita itu siapa! Calon istri Papah. Lancang sekali!" Sergey berteriak, kakinya terus menendang punggung Rama, tak mempedulikan raungan Rama.
"Tapi, dia telah menjadi istri Rama. Jadi, Papa tak berhak menyalahkan Rama! Papah yang selama ini memaksa Nita agar mau menjadi istri Papah!"
"Kau yang telah memperko*sa Nita! Baji*ngan! Mengapa aku memiliki anak seperti mu!"
Intania yang baru masuk ke dalam kamar dan melihat keterkejutan di wajah Nita dan Patrick. Dia juga sempat berhenti. Apa Rama memperkosa Nita?
Bagai disambar petir, Nita menelaah kalimat Sergey. Kakinya melangkah seperti zombie. "Apa maksudnya?" Tangan Nita meraih kertas dari tangan Sergey. Dia membaca sendiri kertasnya.
Langkah Intania dipercepat, mengabaikan kakinya yang sempat keseleo. Dilindungi punggung Rama dari hantaman kaki Sergey. "Cukup, Mas! Dia putra kita. Jangan hanya demi perempuan kau menyakitinya. Aku ibunya tidak terima!"
"Mamah minggir, Mamah bisa kena!" Rama mendorong mamahnya karena hantaman kaki Sergey tak kunjung berhenti. Dia sempat menangkap mamanya tersungkur ke lantai. Rama bangkit membungkuk dan terjerembab lagi karena hantaman dari Papah.
"Berhenti Sergey! Kau bisa membuatnya gagar otak!" teriakan Axel menggema. Dia menatap tajam Baron dan Patrick. "Kalian cuma diam saja! Tolong Rama!"
Baron dan Patrick yang sudah di dekat Sergey. Dari tadi mereka mau melerai, tetapi menunggu perintah Axel. Guncangan tak terkendali dari rontaan Sergey, berusaha ditahan para asisten yang kelimpungan karena tenaga Sergey Yangs seperti Hulk.
Wajah Sergey telah merah padam dengan otot yang menonjol. Dia melirik Nita dan pandangannya meredup saat melihat mata emas Nita yang berkaca-kaca dan embun bening terus berjatuhan melewati bibir yang terkatub rapat dan gemetar, seolah menahan amarah yang begitu besar dari cara memandang Rama. Kertas hasil tes DNA itu dicengkeram tangan mungil Nita.
Nita maju selangkah demi langkah yang terasa berat. Dia melirik kertas di tangannya dan dilepaskan hingga jatuh di atas wajah Rama yang lebam merah ungu. "Tak kusangka, Mas," geram Nita.
"Nita, ini pasti salah paham." Wajah Rama menjadi begitu suram. Atmosfer malapetaka seperti akan menimpanya.
"Salah paham?" Alis Nita turun-naik. Bibirnya terasa linu karena banyak memendam umpatan sumpah serapah. Hati terluka yang sempat disembuhkan oleh keberadaan Rama kini justru hancur tak berbentuk menjadi bubur yang dipenuhi nanah. Perih. Mengapa harus Rama? Mengapa harus lelaki yang dipilihnya, justru memberikan trauma mendalam padanya. Ternyata pelakunya selama ini ada di depan mata.
"Kita harus bicara ini baik-baik, kan?" tanya Intania. Dia yang duduk, lalu merangkak untuk menolong putranya.
Tangan Nita terayun dan terkepal kuat di depan perut. Kakinya yan kini dipeluk Rama, kian gemetar karena marah.
"Kamu tak boleh melakukan ini, putraku! Bangun! Jangan merendahkan diri seperti ini, bukan begini caranya!" Mata Intan memanas dan embun bening melesat tanpa permisi begitu melihat wajah pucat pasi Rama yang berlinang air mata. Air mata Rama bahkan membasahi kaki Nita yang terdapat sedikit angus hitam. Rama malah menguselkan wajah ke pergelangan kaki Nita sebelah kanan yang diperban.
__ADS_1
"Kau tak percaya itu kan, Sayang?" suara Rama parau. Dia pegal terus mendongak, tetapi tatapan Nita sudah seperti bor. "Tolong jangan percaya itu, sebelum Kakek jelaskan. Mengapa Kakek dan Papah menuduhku hanya karena selembar surat, yang bahkan aku tak pernah melakukan tes."
"Tes itu dilakukan saat Musa demam berdarah di rumah sakit, Den Rama. Saya mengambil akar rambut anda dan sikat gigi anda saat anda pergi ke rumah sakit diam-diam." Baron dengan posisi siap, menjelaskan apa yang diketahuinya.
"Aku tidak menyuruhmu bicara!" teriak Rama pada Baron. "Ini akal-akalan kalian untuk memisahkan Rama dan Nita!"
Sergey terduduk lemas dan terlepas dari tangan Baron dan Patrick. Dia mengesot dan merangkak di lantai karena tak berdaya. Ketika tenaga terkumpul dan ada kekuatan langsung digunakan untuk menem*piling kepala Rama dengan tenaga terakhirnya.
Intania melindungi kepala Rama menggunakan lengannya. "Kau apasih, dia putramu, eling!"
"Minggir, Intan!" Sergey mendorong bahu Intan. Namun, Intan bersikeras melindungi Rama.
"Mamah!" Rama terkejut karena tem*pilingan keras kedua mendarat di kepala Intan hingga kepala Intan berdarah.
Nita menjadi panik dan terus berusaha membebaskan kaki karena tangan Rama mengendor. Nita tak siap dan terjengkang ke belakang. Dia berdiri lagi dan bergegas menjauh dengan ketakutan karena melihat tatapan Sergey.
Rama memegangi kepala sang Mamah dengan penuh khawatir. Nita semakin cepat melangkah, dia bergidik karena Sergey mendekatinya. Patrick meraih handuk kecil dari nakas saat Baron memanggil bantuan agar membawa P3K, dokter dan segala macam.
Nita menghindar kejaran Sergey ke arah pintu keluar. Dia begitu ketakutan pada keluarga besar itu. Di dalam jiwanya dipenuhi kebencian. Pelayan-pelayan berlarian ke dalam kamar.
Langkah demi langkah dilalui Sergey tiga meter di belakang Nita. Begitu Nita memasuki lift, lelaki itu berlari dan menekan tombol hingga pintu lift yang sempat tertutup lalu terbuka lagi. Sergey masuk dan melirik lampu LED menyala di kolom lobby. Dia sendiri berada di lantai 24.
Ngilu menyayat hati Sergey, ketika Nita lalu berjongkok dan tersedu-sedu dengan wajah disembunyikan di kedua tangan. Lelaki itu duduk tak berdaya di lantai lift dan menatap kosong angka LED merah di tengah lift yang terus berubah.
Dahulu ... Nita menangis seperti ini, minta dikasihani, agar kontrak pernikahan pura-pura, tidak dibatalkan. Sekarang, dia seperti menebus perih yang diberikan putranya pada Nita, dengan perasannya cintanya pada Nita yang justru mendapat balasan sakit hati, karena ulah sang putra.
Tidak hanya karena perasaan terluka Nita yang Sergey rasakan, tetapi semua mimpi cintanya hancur, karena keduluan Rama. Bahkan Musa yang selama ini dianggap anak tirinya justru adalah cucunya. Sergey terisak dan memegangi dadanya yang seperti ada batu besar tengah menumbuk dengan keras.
"Aku sangat malu padamu dengan hal ini." Sergey menyeka air mata kecewanya dengan telapak tangan. "Aku tak tahu harus mengatakan apa, kau adalah korban. Kami memberikanmu banyak luka dan masalah. Terutama Rama dan aku. Aku ikhlas kau melakukan apa saja padaku dan Rama?"
"Be*debah!" Nita menekan telapak tangannya yang gemetar ke wajah. Dunianya begitu gelap, apa yang paling ingin dia hindari si perme*kosa itu justru menjadi suaminya. Seharusnya dulu dia percaya pada kalung yang ditemukan Sergey di toko roti itu adalah milik pemer*kosa. Mengapa dia jadi tak peka dan malah yakin bukan Rama. Pantas, Intania selalu mengira Musa adalah Rama kecil.
Bagaimana bisa Musa anak Rama! Mengapa aku harus dipertemukan dengan orang biadap itu! (Nita))
Pintu lift berdenting. Nita mendongak dengan wajah basah dan lekas berdiri, mengabaikan Sergey, melewati pintu dan orang-orang yang menatapnya terkejut.
"Dia tukang selingkuh yang lagi viral itu, kan!"
__ADS_1
"Para warga bilang jdi saksi pernikahan mereka."
"Pasti sekarang lagi ribut sama suami sebenarnya."
"Ya ampun poliandri, bapak dan anak dong! Perempuan gila!"
Hati Nita begitu sakit. Dia semakin meringkik karena cacian mereka bahkan cahaya dari kamera hp, mulai menyerotinya. Mereka mulai merekam tanpa ijin.
"Sekarang saja mewek!"
Berungkali kata-kata keji seperti menggergaji hatinya yang kenapa kian terasa sakit.
"Pergi kalian! Aku akan tuntut kalian!" Sergey hampir membogem deretan puluhan orang yang mencaci Nita. Sebuah botol dan aneka benda terlempar ke arah Nita, anehnya bukannya Nita berlari, wanita itu justru melangkah pelan dengan langkah terseret dan hanya memeluk lengan sendiri dengan bahu bergetar karena ketakutan.
Hati Sergey terluka, dia tak mengira rencananya justru membuat Nita mendapat hinaan ini. Dia memeluk bahu Nita dan menuju lobby.
Ingin rasanya Nita pingsan, tetapi saat-saat dibutuhkan seperti ini, justru dia tak pingsan. Semua kata-kata keji itu tertangkap telinganya. Bolehkah dia berteriak, bahwa di sini dia adalah korban permer*kosaan. Bahwa dia tak ada hubungannya dengan Sergey! Bahwa dia hanya perempuan lemah yang menyangka kuat dan bisa melindungi keluarganya. Nyatanya?
Sekarang, Nita bahkan tak tahu mau kemana. Ini Banjarmasin bukan Jakarta! Tak punya uang! Kakak dan papahnya dimana! Apa dia masih punya keluarga yang tak dikenalnya agar dia bisa meminta bantuan! Ponsel saja tak punya bagaimana bisa dia menelpon Lana?
Nita mengadu dengan perasaan memilukan. Lelahnya sudah pada keadaan maksimal. Dia samasekali tak mau kembali kepada suaminya. Siapa yang mau kembali pada si pemer*kosa. "Pergi jangan sentuh aku!" Nita menggoyangkan kedua tangan dengan marah, agar terlepas dari Sergey.
"Kau mau kemana? Kami keluargamu," Sergey dengan suara rendah di depan loby. Orang-orang menonton dari kaca pembatas dan merekam.
"Keluarga? Keluarga Sia* alan!" teriak Nita, lalu mendesis dengan mata berapi-api. Keningnya berkerut dalam. Dia berbisik di depan Sergey, "aku lelah, Mas! Nita lelah terus di berakting di depan publik dan bukan menjadi diri Nita sendiri. Anak mas, yang adalah pemer*kosa menghancurkan hidup Nita! Dan Nita begitu bodoh mengajak Rama menikah siri, karena Nita pikir Rama bukan si Bede*bah."
Tenggorokan Nita panas seperti terbakar. "Sudah waktunya Mas beritahu semua ke mereka. Aku tak peduli dengan NASA. Ambil semuanya yang Mas mau, ambil Mas. NASA yang Mas inginkan, kan? Bukan karena keinginan membantu papaku dengan tulus. Nita takkan minta sepeserpun, begitu juga papa. Kami sudah rela Mas." Nita berbicara kata demi kata dengan pelan-pelan dan penuh penekanan. Dia tersenyum getir dan merasa berani atau memang tanpa dia sadari, dirinya sudah pada batas ambang kewarasan.
Sergey mengelengkan kepala. Mata biru yang mengandung embun, itu menyipit, embun bening meleleh melewati pipi. Dadanya terasa berdenyut dengan gelombang panas. "Semua itu karena aku menyukaimu dan agar engkau tak pergi dari hidupku, dan menjadi bagian diriku yang kesepian.
"Bukan karena aku ingin menguasai semua itu. Apa aku terlihat miskin sampai harus menguasai milikmu? Sadarlah, Nita dari dulu aku sudah menunjukkan perasaanku. Maaf untuk kesalahanku karena mengenalkan putraku padamu." Sergey dengan tatapan nyalang dan penuh luka. Rahangnya mengeras dan perutnya sakit karena asam lambung meningkat drastis.
"Mas dan .... putra Mas yang adalah suamiku. Nita mohon, mulai sekarang jangan pernah mendatangi Nita dan Musa lagi." Nita mengangkat dua sudut bibirnya dengan paksa hingga membentuk senyum masam.
"Cukup sampai disini. Hentikan langkah Mas di sini. Nita akan minta cerai pada Rama. Mari kita hidup masing-masing. Seperti saat belum mengenal." Nita melepas kalung WEBE, dia menarik tangan Sergey dan menaruh kalung di telapak tangan Sergey. "Diam, jangan ikuti Nita."
"Kau tidak ada siapa-siapa di sini, Nita!" Sergey berteriak. Namun, wanita itu meninggalkannya dan dia yakin Nita menangis saat menuju gerbang pintu keluar hotel. "Ini sudah malam!" Sergey yang mau melangkah justru terhalang oleh orang-orang, dan kenapa ada wartawan mendadak. Ini seperti senjata makan tuan, apa yang dulu menjadi senjata justru menyerang keluarganya sendiri.
__ADS_1