Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 73 : Kerinduan


__ADS_3

Lana melihat sosok tubuh bertelanjang dada dengan tangan berotot yang terdapat tato sepasang sayap di pergelangan tangan. Dia merasa bergidik karena tato di punggung orang itu yang bergambar wajah Nita. Dia mengamati dengan seksama. Atau mungkin itu bukan Nita dan hanyalah orang lain?


Seluruh ruangan dapur, yang ada tv dipandangi. Pria itu berjalan mengitari meja makan di dapur dan cuci tangan di westafel. Ini gimana sih konsepnya apa dia tetangga Rama atau pembantu Rama?


"Atha, Atha kenapa selalu muncul di pikiran Mas?Mana dia mau ngelahirin anak ke dua dan ketiga. Aku masih seperti ini sulit melupakan kamu. Membingungkan."


Suaranya cukup familiar .... ( Lana)


"Keluar kau .... "


Lana tersentak karena suara bariton barusan, dia gemetar dan refleks melangkahkan kaki ke depan.


"Dasar ulet, keluar kau cepat!"


Lana makin ketakutan pada bentakan itu hingga dia refleks maju selangkah dan makin maju.


"Menggangguku makan saja!" ucap pria itu sambil memegang jambu biji yang terbelah, dengan sudut pisau mencongkel bagian tengah. "Ulet buah menjijikan, apa kau mau kumakan hih!"


Meringis, Lana tak mengira yang dimaksud keluar adalah ulat di dalam buah itu, bukan dirinya. Akan tetapi dirinya sudah berjalan beberapa langkah dan berhasil membuat pria itu mengangkat kepala dan kini tangan kekar mengarahkan senjata itu kepadanya dengan cara menyeramkan. Tampak keterkejutan dari mata pria tampan itu saat dia masi coba mundur dua langkah.


"Kamu? Siapa kamu!" Pria itu terkejut sekaligus memelototinya dengan menaruh pisau dan buah di meja. Lana cepat-cepat memutar badan lekas berlari menuju lorong.


Derap langkah dibelakang terdengar semakin cepat walau Lana sudah berlari sekuat tenaga. Kakinya melompati barang-barang kecil di lantai gudang tetapi pria itu bagaikan ceetah yang sangat tangkas hingga dia merasakan aura dan udara di belakangnya yang semakin membuat merinding.


Ketika melihat pintu gudang dari rumah Nita, tangannya berhasil meraih gagang pintu. Kakinya berhenti dan handle diputar, lalu ditarik, berhasil.


Jeglek. Pintu tertutup lagi, terlihat itu ulah tangan kekar yang adalah pelakunya. Udara dibelakang terasa lebih hangat dan dia merasakan betul aura orang dibelakang. Mencoba memberanikan diri dia melihat ke belakang ke arah tatapan mengerikan dan tubuhnya seketika bergetar.


"A-----hp!"Lana berteriak semoga Rama mendengarnya. Namun, bekapan tangan kekar memblokir suaranya.


Lana menggelengkan kepala, meronta-ronta apapun agar dia terbebas. Namun, dia terus diseret sampai ke dapur. Lana mengadu setelah dorongan kasar di punggungnya dan menyebabkan dia terjatuh.


Pria itu mencengkeram kuat rahang hingga Lana kesakitan. "Bagaimana kamu bisa masuk sini?"


"Aku cuma lewat itu." Lana menunjuk lorong. "Aku benar-benar tidak tahu apa-apa."


"Tolong, lepaskan aku!" Lana meringis karena pria itu menarik lengannya hingga dia terpaksa berdiri, terseret melewati beberapa ruangan. Entah, apa yang akan terjadi padanya.


"Katakan siapa namamu wahai gadis kecil?" suara bariton itu tak ramah.


"La-na."


"Lana?" geram pria itu. Sesampai di sebuah ruangan dengan banyak rak buku, sepertinya ruang perpustakaan.


Pria itu mendorongnya hingga duduk di kursi. "Apa yang kau ketahui Lana, sejauh ini?"


Mata Lana berkaca-kaca. Dia menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu apa-apa! Kamu siapa? Kenapa ada tato dengan gambar Nita!"


"Oke, aku akan melepaskanmu asal kau menikah denganku?"


"Menikah? Tidak! Yang benar saja, yang sudah lama pacaran aja masih kena tipu, ini apalagi baru kenal. Kenapa juga harus menikahi pria sepertimu," ketus Lana ditengah rasa takutnya.


"Kalau begitu perkenalkan aku Ergi."


"Ergi, lepaskan aku!"


"Sudah kubilang setelah kunikahi kau, baru kulepaskan. Jangan berpikir penyusup seperti kamu bisa lepas setelah masuk tanpa ijin begitu saja?" Pria itu menyeringai.


Lana merasa ada sesuatu tidak beres pada pria itu. Belum apa-apa saja sudah memaksa, untuk menikah. Masih untung dia tak dicelakai. Apa di rumah ini tidak ada siapa-siapa?


"Menikah bukan sesuatu yang main-main! Keluarkan aku dari rumah ini, lelaki gila!"


"Siapa bilang aku main-main?" Pria itu berjalan ke arah pintu, meninggalkannya. Kemudian suara pintu terdengar dikunci dari luar.


Lana berlari ke arah pintu dan memutar-mutar handle sekuat tenaga, tetapi sia-sia usahanya. "Hei, buka atau kulaporkan polisi!" Dia berlari ke sepanjang sisi dinding, memeriksa jendela kaca yang ternyata statis, membuat dia tidak bisa pergi ataupun meminta pertolongan.


*


Sergey menyerok semua apa yang ada di meja dapur, hingga piring, sayur, sendok-garpu terjatuh dari atas meja dan beberapa pecah menjadi serpihan yang tercecer di lantai.


Dia begitu marah, kenapa bisa dia teledor dengan menutup pintu gudang hingga wanita itu bisa masuk ke rumah ini. Dia tak tahu apa yang diketahui wanita itu dan sejak kapan wanita ini tahu soal lorong rahasia. Apa ini bukan yang pertamakali?


Wanita itu adalah sahabat Atha, dia sedikit tahu. Sergey menelpon seseorang dan menanyakan latar belakang Lana. Setelah menunggu lima belas menit, Sergey ke ruang kerja dan mencari tahu siapa itu Lana dari berkas yang dikirim anak buahnya melalui email. Intinya benar, wanita itu belum menikah, tetapi masih punya pacar yang menghilang.


"Sempurna .... Kalau begini, aku bisa menikahi dia dan pura-pura miskin. Aku bisa sering melihat Nita, Rama dan cucuku tanpa takut ketahuan dengan wajah baru ini bila aku dekat Lana."

__ADS_1


Sergey menelpon Pedro agar memanggil penghulu. Dia tak bisa melepas Lana begitu saja, mengingat Lana tahu soal lorong itu, dia juga bingung menjelaskan soal lorong itu pada wanita itu. Lebih menakutkan bila Lana sampai cerita soal itu ke Rama, lalu Rama mencurigainya, meski dia yakin Rama tidak bisa mengenali wajahnya yang makin muda.


.


Lana gemetar ketakutan bila sampai itu adalah orang jahat, apa Nita dan Rama tidak mencarinya? Bagaimana bila dia terbunuh lalu mayatnya tidak akan ditemukan!


Tiba-tiba pintu terbuka dan Lana langsung berdiri melihat pria itu yang maju selangkah demi selangkah dengan percaya diri. Mencoba mencari tahu orang seperti apa di depannya, tetapi mata pria itu misterius.


"Sudah lebih dari dua jam kau mengurungku! Ini namanya penculikan!"


"Diam!" umpat pria itu.


Berikutnya, masuk beberapa orang ke dalam ruangan. Lana dipaksa menikah sirih dibawah todongan senjata api di depan sepuluh orang yang semua pria-pria sangar. Dunia Lain mendadak gelap ketika dia dibawa ke sebuah kamar oleh pria yang mengaku bernama Ergi.


"Dengar, aku takkan menyentuhmu, tapi kau sekarang istriku. Jadi, sebaiknya kau menurutiku."


"Suami? Kau memaksaku dan kau bilang suami!"


"Diam!" Sergey maju dengan kesal. "Aku akan membantu kau melanjutkan mimpimu untuk melanjutkan pendidikanmu sebagai dokter spesialis, asal kau menurutiku!"


Lana menganga dan berkedip pelan. Itu bukanlah biaya sedikit dan itu cita-citanya. Namun, dia tak bisa asal percaya. Siapa tahu orang ini seperti mantannya yang adalah penipu.


"Gimana?" tanya Sergey, menyembunyikan kegelisahan.


"Kau penipu."


"Ayo besok kita daftar kau kuliah! Sekarang kau diam di kamar ini."


"Kau serius? Ijazah saja dibakar! Bagaimana kau bisa mengurus itu, Ha?"


"Satu lagi yang perlu aku peringatkan. Jangan jadi wanita cerewet. Atau kugunduli rambutmu itu."


"Aku akan melapor ke polisi kalau kamu berani menyakitiku!"


"Lakukan saja kalau kau berani. Sekarang-" Sergey menunjuk meja rias. "Ambil buku di sana, tulis semua daftar anggota keluargamu yang masih hidup dan undang mereka ke acara resepsi kita."


Sergey dengan geli mengucapkan itu semua lalu keluar dari kamar itu. Bagaimana bisa dia sekarang terjebak seperti ini, lalu tak bisa bebas mengamati Nita. Kesedihan seketika melanda hatinya.


Malam mulai larut, Nita duduk termenung di ruang makan sambil melirik jam. "Kemana yah Lana. Kok menghilang."


"Papa, Lana belum pulang." Nita bangkit dari kursi dengan kesusahan dengan raut khawatir.


"Dia juga belum pulang juga?" Mata Devan membulat. "Mungkin dia di rumah tantenya?"


"Aku tidak tahu, Pah. Hpnya mati, aku tidak tahu nomer telepon tantenya."


"Sudah-sudah kamu tidur, biar Papa yang menunggu Lana." Devan menegangi bahu Nita dan mengarahkan ke lift.


"Pah, gimana kalau dia ada apa-apa, atau kesulitan di jalan."


"Dia sudah dewasa, Sayang. Kamu jangan terlalu cemas. Cepat beristirahat sana."


Nita dengan wajah sedih kembali ke kamar, dimana Rama tidur memeluk Musa. Diraih ponsel Rama, dia melihat cctv online hingga satu jam an. Terlihat Lana ke arah dapur dengan membawa peralatan bekas tujuh bulanannya, tetapi tidak terlihat kembali lagi.


"Dia membawa itu ke dapur? Tapi perasaan tidak ada apa-apa di dapur. Apa dia ke gudang? Nggak mungkin. Cobalah tunggu besok."


Nita kira tak mungkin bila Lana ke gudang. Area itu tidak terjangkau cctv, tetapi masih di lorong yang sama dengan dapur. Saking lelahnya, Nita sampai sudah tak kuat beranjak dari kursi dan tidursn di sofa.


*


Di rumah sebelah, Sergey tidak bisa tidur dan beranjak dari kursi dapur. Dia masuk ke lorong lalu menggeser lemari tua di gudang milik rumah sebelah hingga menutupi akses jalan ke rumah ini.


Ketika dia masuk kamarnya, ada seorang perempuan. Mengapa dia geli dan jijik melihat ini, saat wanita itu tidur di tempat tidurnya. Kalau tahu begini, dia lebih suka memilih menikahi Intania. Ah, tapi tidak bisa dengan Intania karena tatonya.


Lana terjaga dan melihat seorang pria tidur di sofa. Dia perlahan bangun dan mengendap ke arah pintu. Pokoknya dia ingin kabur daripada hidup dengan pria yang asal-usulnya tak jelas.


"Pergi saja .... "


Lana memutar badan dengan pasrah. Dia melihat pria itu yang kini menatapnya dengan malas.


"Kalau kamu tidak pergi, aku akan membantumu menangkap pacarmu yang telah menipumu." Sergey terkekeh dengan malas. "Sungguh membuang energiku sih, tapi anggap saja itu setimpal."


"Kenapa kau menikahiku?"


"Atha ...."

__ADS_1


"Atha?"


"Aku ingin .... Sering melihatnya." Sergey dengan ragu dan meraih ponsel dari meja. "Dia orang yang kucinta, namun tak mungkin ku miliki."


"Kamu siapa? Ergi, setahuku, aku belum pernah mendengar nama itu dari Nita. Lagipula Nita sudah menikah."


"Tidak ada hubungannya perasaan seseorang dengan pernikahan seseorang. Cinta tetaplah cinta. Cinta bukanlah nafsun. Cinta dari sini." Sergey menunjuk dadanya sendiri.


"Lalu, apa kamu berniat tidak baik pada Rama dan Nita-"


"Tidak," bantah Sergey.


"Kau sekarang sudah menjadi isteriku, aku akan menjalan semua kewajibanku tanpa kewajiban batin. Aku tidak mengekangmu. Aku mendukung mimpimu. Cuma satu hal, bantu aku untuk berada di sekitar Atha."


"Tidak, kamu orang gila. Aku saja tidak tahu siapa kamu dan mengapa ada lorong itu, ada tatto wajah Nita."


"Berkacalah pada dirimu. Kau menyedihkan. Punya keluarga tapi tak ada yang mempedulikanmu?" Sergey kembali terkekeh.


"Ya, isteriku? Bagaimana bila keluargamu itu tahu kamu sekarang punya suami kaya, apa mereka balik menjilatmu? Biasanya manusia seperti itu. Kau jauh lebih menyedihkan daripadaku." Sergey mengelus dagu. "Anggap saja kebaikanku ini sebagai bentuk kemanusiaan. Sampai kau praktek berapa tahun pun kau takkan akan memiliki kemewahan seperti aku punya."


Tangan Lana terkepal. "Memang kau siapa? Seberapa banyak uang yang kau miliki sampai bisa sesombong ini? Apa kau seorang milyader?


"Penasaran apa penasaran?" Sergey terkekeh.


"Aku tidak akan membantumu di sekitar Nita, dan kau tak bisa memaksaku, Bajinga* Kepara*!" Lana bergidik saat pria itu bangun dengan tatapan seperti iblis. Pria itu mendekatinya dengan tatapan seperti akan membunuhnya. Lalu melewati begitu saja dengan membanting pintu dan menguncinya.


Lagi-lagi menguncinya! Lana berteriak dan mencaci Ergi dengan semua kata binatang, di sela tangisan pecah berisi kekesalan.


Gelap, Sergey mendorong lemari itu lagi, melewati gudang gelap. Dia keluar dari gudang, memasuki rumahnya sendiri dengan mengendap seperti maling. Meskipun, ini rumah sudah berbalik nama Rama.


Melewati dapur, Sergey keluar dari pintu dapur, berjalan pelan ke belakang rumah dan memanjat tangga lewat halaman samping. Dia memasuki tempat jemuran di lantai dua, lalu melewati balkon kamar sebelah, dan berakhir di kamarnya.


Duduk di balkon, Sergey bersandar pada pagar besi. Tak jauh beda dari Lana, mungkin jauh lebih buruk dari Lana. Hidupnya sangat gelap.


Keinginan bercintanya mati, melihat daun muda tidak berselera. Meskipun begitu, dia juga tak pernah terbesit memiliki nafsu pada menantunya. Mungkin, inilah apa yang orang bilang Kekosongan.


Jika, dia bisa, ingin dia mencintai perempuan lain. Dia malu, ini aib besar menurutnya. Namun, hatinya tidak bisa bohong, dia cuma ingin melihat Nita dalam kesehariannya. Ingin dia juga berkumpul dengan anak cucunya.


Tiba-tiba lampu menyala, Sergey waspada dan memasang telinga. Seseorang masuk ke dalam kamarnya. Sergey lekas memeriksa jam tangan dan yang dia lihat Devan.


Ingin sekali Sergey mengetuk pintu itu dan berbicara pada sahabatnya. Namun, itu tak mungkin. Orang tahunya, Sergey telah mati, ini adalah hal yang selalu dia benci. Karena dia merindukan kasih sayang orang-orang disekitarnya.


Devan, Jefri, Patrick, yang sangat dirindukannya.


Pintu balkon tiba-tiba di putar kuncinya, Sergey yang baru sadar dari lamunan tak sempat melompat pagar dan justru terpesona pada wajah Devan dibalik kaca transparan. Pintu itu bergeser ....


Devan menatap pria asing dengan bingung. "Siapa kamu?"


"Saya," suara Sergey tertahan dengan bibir gemetar. Dia tak tahu harus mengaku sebagai apa. Jujur atau menyembunyikan identitas. "Saya temannya Sergey." Sergey terperanjat pada kata-kata yang mencelos dari lidahnya.


"Teman?" Devan melirik ke pria itu yang menunjukkan tatto seperti milik Sergey. "Kenapa kau di sini? Tengah malam?"


"Jangan salah paham. Aku hanya merindukannya .... " Sergey gelagapan dan berjalan pelan membuat Devan tampak waspada, tetapi membiarkan dia duduk di depan pintu kaca. "Aku Ergi, dia sering menceritakan soalmu. Katanya, kau mempunyai luka di tanganmu."


Devan melirik luka ditangannya, padahal orang itu belum melihatnya. "Sudah berapa lama kau berteman dengannya?"


"Lebih dari dua dekade."


"Wah ..... " Devan sempat mematung. Dia melirik ke bawah pada lelaki dengan badan yang seharusnya dibilang di atas usia kepala empat, tetapi wajah itu masih cukup muda. Entah, apa dia masih bisa asal percaya begitu saja pada orang.


"Sergey juga pernah bercerita soal perusahaan media yang dulu didirikan Ayah anda," ucap Sergey tanpa melihat Devan. Seharusnya, Devan tak bisa mengenalinya, karena dia telah merubah pita suaranya.


"Oh, ya?" Devan seolah terbius. Hatinya tersentuh. Entah, karena dia berada di kamar Sergey apa karena dia kangen pada temannya, seolah dia merasakan kehadiran Sergey di sini. Devan melihat ke langit yang tanpa berbintang. Mungkin Sergey sedang melihat ke arahnya dari langit sana. "Aku merindukan dia."


Sergey sontak mendongak dan menangkap mata itu berkaca-kaca. Hatinya seketika bergetar. "Dia pasti merindukanmu juga. Boleh aku memelukmu? Anggap saja aku pengganti Sergey?"


Devan tertawa pelan tetapi mengandung kerinduan. Dia duduk dengan susah payah di samping kanan pria itu dengan bantuan pria bernama Ergi. "Lihat, di usia sepertiku ini, aku duduk saja sudah seperti lelaki tua haha."


"Mungkin aku juga nanti seperti itu." Sergey menatap mata Devan yang baru meloloskan air mata. Dia memeluk Devan sebagai Ergi. Entah apa Devan percaya bahwa dia adalah Ergi.


"Hahaha lucu sekali. Aku datang kemari, ke kamar Sergey. Ingin melepas kerinduanku. Tak tahunya temannya juga ada di sini, dan merindukan Sergey juga."


Sergey sedikit terisak dan makin memeluk Devan. Bila dia tak kuat, pasti dia keceplosan akan memanggil sebutan 'Bang' dan membuat Devan curiga.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2