Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 79 : SERGEY, NATHAN, NITA, PEDRO -1


__ADS_3

Ketika Sergey melihat Nita keluar sambil menuntun Musa. Sergey cepat keluar dari mobil, lalu membukakan pintu. Begitu mobil jalan, Sergey melirik spion tengah dan terlihat Nita melamun.


"Apa perasaan anda sedang tidak baik, Nyonya?"


Nita diam tanpa menoleh, membuat Sergey tersinggung.


"Non? Apa saya berbuat salah?"


Nita menggelengkan kepala.


Di rumah ketika Sergey mengobrol dengan Intania, Sergey bersitatap dengan Nita yang akan masuk dapur, tetapi Nita batal masuk. Hal itu berulangkali, sampai saat dia mengobrol dengan Rama, Nita pun batal ke kolam renang. Sepertinya Nita menghindarinya.


Sergey melangkah ke dapur dan hanya ada Nita yang membuat kopi. "Nyonya, saya merasa anda menghindari saya?"


"Emh .... " Nita melihat pria itu sebentar dengan hati bergetar, lalu kembali membuat kopi. "Hanya perasaan Pak Ergi saja."


Nita gemetar membawa nampan berisi kopi dan langkahnya terhalang pria itu. Nita makin tertunduk dan bergeser lagi.


"Nyonya, anda kenapa?" Sergey bergeser lagi, tetapi perutnya dipukul hingga dia bergeser. Kok Nita jadi seperti itu.


Sergey memeriksa sekitar Lalau mengikuti Nita dan kini dia menatap angka lift yang dinaiki Nita, terus berjalan ke atas. Di angka terakhir itu, kemungkinan besar Nita pergi. Di perpustakaan.


Sergey melirik ke dalam perpustakaan untuk mencari Nita. Aroma kopi kuat pertanda Nita masuk sini. Terlihat dari celah rak buku, Nita duduk di pojok. Seperti dugaannya itu adalah tempat favorit Nita.


Sergey mencoba mengintip, dia tahu Nita sedang membaca dengan ditemani segelas kopi. Sergey ingin tahu lebih detail, tetapi dia kesulitan karena posisi Nita berada di sudut ruangan.


Suara gemerisik dari arah Nita, Sergey bersembunyi di lorong rak. Dia melongok ke kanan dan pada saat yang sama ada teriakan Nita yang juga berdiri melihatnya.


Pandangan Sergey terkunci pada buku yang baru jatuh. Buku hariannya! Apa Nita membaca bukunya! Pantas saja itu hilang. Sergey membaca ketakutan di wajah Nita saat wanita itu langsung meraih buku kuning dan menyembunyikan di belakang pinggang mungil.


"Nyonya .... "


"Diam di situ," suara Nita terdengar tertahan.


Sergey tetap maju, tetapi Nita justru berlari hingga suara gedebuk berbunyi. Pria itu mendapati Nita jatuh setelah tersandung gelas kaca. Karpet abu tercetak noda gelap oleh cairan kopi dan tetesan kental merah hati yang berasal dari darah di kaki putih lecet akibat pecahan gelas. "Nyonya."


"Diam!"


Sergey kebingungan kenapa mata Nita melotot dengan ketakutan dimana tangan mungil itu meraih cepat buku hariannya yang berwarna kuning dan Nita berdiri dengan kesakitan. Sergey mencekal tangan Nita dan wanita itu makin melotot dengan wajah memucat.


"Nyonya, kenapa anda? Lihat kaki anda terluka."


"Lepas! Jangan pegang-pegang saya!" Nita memukul lengan kekar darinya dan pria itu mendorong tubuhnya ke rak hingga Nita terkunci.


"Kenapa anda seperti ini pada saya, Nyonya?" Sergey menatap lekat-lekat mata Nita yang berusaha menghindarinya. Dia menunduk dan meraih buku harian itu.


"Sayang? Kau di sini?"


Suara Rama membuat Sergey terperanjat dan Nita kabur darinya dengan membawa buku harian itu. Sergey loncat ke ujung rak dan menyembunyikan diri. Apa yang Nita ketahui dari buku itu.


Perasaan was-was menyelimuti Sergey, beruntung Rama yang seperti curiga, teralihkan karena kaki Nita yang berdarah, jadi pasangan itu keluar dari perpustakaan.


Bergerak cepat, Sergey keluar dari perpustakaan dan kembali ke rumah sebelah. Dia mondar-mandir, sambil melihat rekaman cctv untuk mencari tahu, sejak kapan Nita membawa buku hariannya.

__ADS_1


Sampai larut malam rekaman cctv terus diulang Sergey dengan ditemani minuman beralkohol. Pertanyaan terus berputar di kepala tentang, apa yang ditakutkan Nita? Pria itu mencoba mengingat sejak kapan Nita mulai sering melamun, lalu selalu menghindari. Apa hubungan buku harian itu dengan Nita takut pada sosok Ergi.


...****************...


Tengah malam, Nita keluar dari kamar saat melihat ada bayangan orang lewat. Dengan ragu diikuti bayangan itu yang ternyata berasal dari bayangan Pak Ergi menuju dapur. Bukan ke dapur, ternyata ke gudang. Nita menunggu lama di sudut lorong dan Pak Ergi tidak muncul-muncul dari pintu gudang.


Dengan rasa ingin tahu , Nita mencoba menekan handle dan melongok ke gudang yang gelap. Tidak ada siapapun. Dia maju lebih dalam dan terpaku pada secercah cahaya, menebak apa itu jendela.


Nita mencari saklar, tetapi tidak ada apapun di sana. Dia mendekat ke ujung cahaya yang dikira ventilasi, tetapi itu berasal dari sebilah papan. Ada cahaya kuning di balik papan.


Nita menarik papan untuk melihat isinya. Papan itu berat jadi digeser dengan mendorong sekuat tenaga. Mata emas membulat kala mendapati sebuah lorong dengan cahaya temaram.


Langkah demi langkah dilewati Nita dengan jantung berdebar kuat di lorong yang terdapat dua lampu kuning. Napasnya makin tertahan saat dia menemukan sebuah pintu yang tertutup rapat. Dia menekan handle pintu, dilihatnya dibalik pintu ada ruangan, lengkap kompor dan meja makan!


Perempuan itu melewati dapur, celingukan melewati jubin dengan kanan-kirinya ada kolam ikan estetik. Jantung Nita hampir copot mendengar suara langkah seseorang dan suara deheman, dan langkah berat itu terdengar hampir dekat.


Nita melihat sekeliling dan tanpa pikir panjang bersembunyi, berlutut di balik guci besar di samping kursi.


Tampaklah seorang dengan hanya memakai kolor dan menampakkan dada kekar! Wajah itu baru terkena cahaya setelah melewati kegelapan. Mata Nita hampir keluar dari tempatnya saat tahu itu adalah Pak Ergi.


Kenapa ada Pak Ergi! Nita menahan napas, jantungnya mau copot saat Pak Ergi mengeluarkan botol minuman keras dari rak dengan banyak botol dan gelas wine.


Itu Bar! Bar Pribadi! Pak Ergi terlalu santai bila itu bar milik orang. Tidak! Mungkin saja itu bukan Pak Ergi sopirnya. Pasti orang lain.


Mata Nita mendelik melihat tangan kekar itu, saat lewat di dekatnya. Tato sepasang sayap di pergelangan tangan kekar. Matanya menyipit melihat punggung itu juga dipenuhi tato. Nita menelan saliva, dia bertekad melapor ke suaminya. Itu beneran Pak Ergi!


Menunggu cukup lama, Nita tidak tahu kapan harus keluar. Memberanikan diri, kakinya melangkah keluar dari balik guci. Ingin dia pulang, tetapi lebih penasaran ke tempat tadi Pak Ergi pergi.


Hanya ada sofa dan pria itu duduk di karpet dengan bersandar di sofa sambil terus minum. Nita melirik sekitar, apa benar rumah sepi. Pak Ergi berdiri dan Nita siap akan kabur, tetapi diurungkan karena pria itu tampak pergi ke sebuah ruangan lain. Ah, kenapa banyak ruangan!


"Aku sudah memanggil orang untuk besok mulai menutup lorong itu."


Nita maju lagi, karena mendengar suara Pak Ergi. Sepertinya, Pak Ergi mengobrol dengan seseorang. Dia kepalang apa terlanjur ke ruangan yang tadi di duduki Pak Ergi. Semakin Nita mendekati ruang terakhir, Nita mendengar suara yang amat familiar.


"Kenapa, sudah puas main-mainnya?"


Nita mengerutkan kening dalam. Suara bariton itu mirip Paman Pedro. Tidak, tidak mungkin. Dari ruang temaram, Nita mengintip di kejauhan di ruang yang lebih terang dengan dua lampu diatasnya, menampakkan sosok yang sudah lama tidak dilihatnya. Benarkah, Paman! Terakhir kali melihatnya saat Paman Pedro merawat papa yang belum siuman.


Aku ingin menanyakan banyak pada Paman Pedro! Ini rumah siapa? Pak Ergi kenal Paman Pedro juga!


Nita bingung, saat Pak Ergi berdiri hingga tampak punggung kekar bertato wajah perempuan .... Apa itu Lana?


Nita belum sempat melihat semuanya, tetapi Pak Ergi keburu meraih tablet dari atas lemari kaca. Tablet! Kenapa pria itu fasih memainkannya!


"Ada masalah kecil," suara bass Pak Ergi.


"Masalah apa yang kau anggap kecil itu biasanya tidak sekecil dengan yang kupikirkan, Sergey," suara bariton Paman Pedro. Tampak Paman bermain dengan pena di atas meja bundar.


Nita mengerutkan kening. Apa mereka sedang membicarakan Papa Sergey- mendiang mertuaku?


"Ini betulan masalah kecil. Buku harianku." Pak Ergi berbicara dengan tatapan dalam pada paman. "Aku memiliki buku harian yang aku lupa taruh di mana. Namun, aku yakin apa yang ada di tangan Atha tadi siang itu milikku!"


Nita memutar bola mata untuk mencerna percakapan mereka. Buku? Wanita itu semakin tidak mengerti.

__ADS_1


"Buku harian." Paman Pedro terkekeh. "Seorang Sergey yang dikenal kejam, memilki buku harian! Melankolis sekali kau rupanya?"


Hati Nita mulai tidak nyaman. Kenapa mereka terus menyebut nama mertuanya dan buku harian. Bagiamana bisa mereka tahu soal buku harian mertuanya. Apa mereka juga sudah membaca? Wajah Nita menghangat, sekarang dia mengerti mungkin buku tadi siang yang sempat direbut Pak Ergi.


Apa Pak Ergi marah bila tahu aku membaca buku harian mendiang papa mertua! Jadi, Pak Ergi tahu dong kalau Mas Sergey pernah memiliki perasaan padaku. Ini gila, aku malu sekali!


Paman Pedro berdiri dari kursi dan berjalan ke samping Pak Ergi, entah mereka sedang apa. Sama-sama berdiri dan Nita hanya bisa melihat punggung mereka.


Nita terpaku pada tato wanita cantik. Setelah diperhatikan, itu bukan gambar Lana atau itu memang wajah Lana saat masih gadis?


Nita mengerutkan kening, pada bentuk anting bulat kecil di tato itu. Lana tidak suka berlian. Tunggu, Anting bulat itu terdapat gantungan liontin huruf A.


A?


Nita menajamkan penglihatan ke sisi kiri tato itu, pada anting menganggantung huruf N.


N dan A


Nita Athalia


"Itu gambar antingku kan? Uhuukh." Nita terbatuk-batuk tetapi mulutnya langsung terbekap sesuatu dan dia terseret ke belakang oleh seseorang.


"Siapa itu?" Sergey yang sempat bersitatap dengan Pedro langsung berlari ke arah suara dan melongok ke ruang santai.


"Kau mendengar sesuatu, Bang?" tanya Sergey sambil melihat Pedro yang sudah di belakang.


"Yah, aku dengar, orang batuk. Apa itu Nathan?" Pedro menyusul Sergey ke kamar Nathan. Nathan sering datang kemari tanpa sepengetahuan Jefri.


Diketuknya kamar Nathan yang dikunci, Sergey makin tidak sabaran. Pintu lalu terbuka dan sosok pemuda itu keluar dari kamar.


"Nathan?" Sergey menatap tajam pada anak Jefri. "Kau tadi lewat ruang kumpul?"


"Ah, tidak." Nathan keluar dari kamar dan menutup pintu segera.


"Apa yang kau sembunyikan?" Sergey akan meraih gagang pintu, tetapi anak itu menghalangi.


"Tidak ada." Nathan tertawa garing dan berjalan cepat. Dia melirik ke belakang, Sergey mengikuti, tetapi Paman Pedro malah masuk ke kamarnya!


"Jonathan .... " Sergey menggeram dan melirik ke belakang. "Apa yang kau sembunyikan?"


"Nita." Nathan dengan suara seperti tercekik saat meraih botol minuman soda dan membukanya di ruang santai. "Ada Nita!"


"Kau bercanda?" Sergey menarik kaos di dada Nathan. "Dikamarmu ada Nita! Itu maksudmu?" Jantung Sergey terasa meloncat keluar dari tempatnya.


"Iya, cepat panggil Paman! Lelaki itu pasti akan ditanyai Nita seperti dia bertanya padaku 'siapa itu Pak Ergi' dan bertanya ragu-ragu 'kenapa wajahnya ada di punggung mu' !"


Sergey meraih botol kaca dari tangan Nathan dan membanting hingga terdengar suara pecahan keras.


"Aah!" teriakan perempuan berasal dari pintu.


Nathan dan Sergey, bersamaan menoleh ke arah pintu dan Nita berdiri di sana. Lalu, Pedro baru datang seolah mengejar Nita.


Nathan dan Sergey saling melihat. Dunia serasa kiamat.

__ADS_1


__ADS_2