
Nita terjaga di malam hari karena suara tawa Musa di kejauhan. Terasa ada yang janggal, seharusnya suara Musa berada di samping. Dia mencari dari mana asal suara dan terlihat Rama duduk bersandar di jendela sambil bernyanyi dengan pelan. Sedangkan Musa berdiri dan berjoget, sambil mengayunkan boneka yang ada lampunya.
Setiap kali Rama menyelesaikan lagu -burung kakak tua, setiap kali itu pula Musa menyentuh bibir Rama, lalu Rama bernyanyi lagi. Nita terpejam dengan menyunggingkan senyuman. Kenapa putranya terbangun malam-malam dan justru bermain, seperti tidak ada hari lain saja.
Rama tak kunjung pergi. Leher Nita makin kaku setelah bertahan lama pada posisi yang sama. Suara Musa tak lagi didengarnya. Nita masih dalam posisi tidur miring dan tak berani membuka mata, saat merasakan pergerakan di depannya.
Seluruh tubuh Nita merinding, dia merasakan pergerakan di belakang, sepertinya Rama ikut berbaring. Nita membuka mata dan mendapati Musa tidur terlentang dengan diselimuti kain tipis. Tampak anak itu langsung berubah posisi, seolah menyingkirkan selimut dan kini miring menghadapnya. Musa memang tidak bisa bila tidur berselimut, walau ruangan ini sudah dingin seperti di dalam chiler.
Nita merasakan kehangatan yang mengusek-ngusek rambut belakangnya, seperti penampangan wajah. Dia berusaha untuk tidak gemetar, dan mencoba menyingkirkan rasa takutnya karena tubuh pria itu tak sampai menempel, dia harus bertahan.
“Aku tahu bila kamu sudah membaca suratku. Aku sangat ingin mendengar suaramu. Ini sudah 39 jam dari terakhir kali kau berbicara denganku. Ayo, Nita, keluarkan suaramu, kau membuatku patah hati saja. Aku tidak nyaman bila kau terus mengabaikan ku. Sekarang, tidak ada siapa-siapa yang akan menghakimi kita. Kumohon bersuaralah .... " suara Rama menuntut, dia menghirup aroma strawberry rambut Nita.
Nita menahan merasakan cengkeraman tangan hangat di pinggangnya. "Nita sedang tidur."
"Kau dari tadi diam-diam memandangiku. Aku senang." Rama tertawa kecil dan langsung mengecup tengkuk Nita dengan tidak sabar. "Ayo bersuara lagi, atau aku akan menggigitmu."
Rama merambat lebih jauh, menelusup ke dalam celah piyama satin dan meraba perut dengan garutan seperti bekas jahitan, yang langsung ditahan tangan Nita. Rama merasakan remasan tangan Nita, dia menarik perut Nita ke arahnya hingga mereka saling menempel. "Ayo, Nita, bersuara."
Nita refleks menjauhkan leher karena hembusan napas panas yang mengenai tengkuk. "Kamu yang mengganti popok Musa, kemarin?”
Rama membentuk pola aneh di pusar Nita dengan jemari tangan kiri, merasakan kelembutan kulit sehalus beludru. ”Iya kemarin aku mengganti popoknya. Musa kemarin bangun saat aku menulis surat, tadi juga, kenapa anak itu selalu bangun saat aku sedang menulis?"
“Kau tahu cara mengganti popoknya?”
“Aku google.” Rama tertawa pelan di dekat telinga Nita dan menyembunyikan malu.
Nita ikut tertawa ringan sambil menggeser kepalanya untuk menjauhkan telinganya dari tiupan mulut Rama. Rama meniupnya lagi dan Nita menutupi telinga. "Musa, jarang terjaga malam. Seharian dia mencarimu, mungkin dia peka kamu datang. Kau tahu dia memanggilmu apa coba? ... Papa Rama."
"Ehm ... Papa Rama?" Rama mengulangi ucapan Nita, sambil tertawa dalam, rasanya lucu dan menyenangkan dipanggil papah oleh Musa. Dikecupnya bagian belakang telinga Nita dan jantungnya makin berdebar. "Dia memanggilku Papa ... dan dia mencariku seharian, apa karena itu dia bangun saat aku datang?"
"Mungkin .... " Nita menahan tangan Rama di perut agar tidak menjelajah kemana-mana. “Sepertinya, aku sekarang tengah bermimpi .... "
“Mimpi?” tanya Rama tidak paham. Dia mengangkat kepala dan kepala Nita terbaring di kasur. Rama bertumpu pada sikut, kepalanya berada di atas Nita dan menatap mata emas di bawahnya.
Suasana hening selama lima menit dan Rama merasakan kuku-kuku Nita menusuk lengannya. “Jika, ini adalah mimpi. Menurutmu, mimpi ini indah atau mimpi yang buruk?”
“Apa kamu ingin tahu, Rama?” Nita tersenyum ringan.
“Jiakalau, aku menemukan sebuah mesin yang dapat memindai perasaan manusia, maka aku mencoba pertamakali padamu. Aku ingin tahu detail perasaanmu padaku dan perasaanmu pada para pria di sekitarmu."
Nita tersenyum menantang. "Lalu, apa yang kamu lakukan setelahnya? Apa kau juga bisa melawan takdir?”
__ADS_1
“Takdir bisa diusahakan. Apa rencana kamu dan papa yang tidak aku ketahui?”
Suasana kembali hening. Rama meraih tangan kanan Nita dan menempatkan telapak tangan itu di dada kanannya. Dadanya sedikit menyentuh dada Nita, sedangkan tubuh bagian lain tengkurap di samping tubuh Nita yang terlentang.
Nita berkedip pelan dan merasakan detak jantung Rama daru tangannya. “Biar kuberitahu ini saja, mimpiku ini terlalu indah saat bisa bersamamu, Rama.”
“Apa kamu ingin mengatakan sesuatu sebelum aku pulang ?” Rama mengusap pipi yang terasa dingin, dengan gemas. Dia mengerucutkan bibir dan mengurangi jarak.
“Kenapa?” tanya Rama heran. Dia mengecup telapak tangan Nita yang menghalangi bibir mungil itu dari bibirnya.
“Papahmu akan menikahiku secara resmi.”
“Dan kau menolaknya, kan?” Rama dengan penuh keyakinan, dia menyingkirkan tangan yang menghalangi mereka. Dia maju dan Nita membuang muka, hingga bibirnya mendarat di pelipis kanan wanita itu.
“Kau menolak papa, kan?” tanya Rama dengan tenggorokan panas. Jantungnya berdebar kencang kencang. “Aku tak mau kau menikahi pria manapun, apalagi papa. Kamu juga tidak akan setega itu padaku, Tha?” Rama merasakan cengkeraman kuat di pinggangnya. “KAU MENOLAKNYA?”
Lebih sulit bagi Nita mengatakan kenyataan pahit itu di depan Rama, karena dia takut membuat Rama kecewa dan terluka. Dia tak memiliki tanggung jawab untuk menjaga perasaan Rama, kenapa justru perasaan Rama yang dia pedulikan.
Gambaran Rama dan Sergey, hubungan mereka antara anak dan ayah. Cintanya sendiri dan pengorbanan demi mendapatkan papah kembali …. Itu semua berputar-putar menjadi satu di pikiran Nita dan membuatnya mual.
“Aku tak ada pilihan lain.” Nita kembali menatap lesu ke arah Rama. Pria itu duduk dan menunduk, seakan tengah berpikir.
“Tidak Rama.” Nita ikut duduk di samping Rama. “Papahmu tidak memaksaku. Aku sendiri yang menerimanya.”
Dada Nita terasa perih pada setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia mendongak saat Rama berjalan menuju ke meja rias dan memakai jaket dengan tatapan penuh kebencian bahkan Rama tak mau menatapnya. Nita mendekat dengan ragu saat Rama baru selesai menaikan resleting jaket.
“Kau tidak memiliki perasaan untuk papa. Aku tak mau mendengar omong kosongmu.” Rama membanting bahu Nita ke dalam dada, dan dia menunduk, membelah bibir Nita dengan bibirnya dalam gerakan cepat. Menyesap liur manis yang membuat Rama semakin merasa gila, tangannya menahan kepala dan bahu Nita.
“Apa kau pernah mencium papah?” tanya Rama dengan serak disela pagutan mereka. Rama membiarkan Nita mengambil napas dan wanita itu menggelengkan kepala. “Kalian tak pernah melakukan ‘lebih jauh dari bergandengan tangan’? Rama mendapati gelengan dan tatapan polos Nita, dia menghela napas lega bila Nita belum sampai bercin*ta dengan papanya. “Kalau begitu, aku akan minta tolong kakek.”
“Jangan.” Nita menghela napas panjang. Dia tak mau semakin menarik banyak orang ke dalam urusan pelik keluarganya. Dia hanya perlu menikah dengan Sergey.
“Kau percaya padaku? Katakan?”
Nita menatap mata Rama yang seakan dipenuhi keyakinan bisa melawan segala batu penghalang. Memanglah pria seumuran Rama, diyakini Nita, tidak akan mengenal rasa takut karena belum pernah menghadapi sesuatu yang berdampak fatal, sekalipun nyawa itu menjadi taruhan.
Tidak seperti Sergey, yang harus berpikir masak-masak sebelum bertindak. Sergey juga yang tahu lebih dulu, dampak baik-buruk dari setiap keputusan yang diambilnya. Nita tidak mau sampai membawa orang lain ke dalam bahaya, termasuk Rama.
”Rama Abimasa…. Kamu sangat tampan dan baik. Aku percaya, kau akan mendapatkan wanita cantik dan baik hati. Bukan sepertiku."
Nita berusaha tenang. Dia tersenyum getir pada tatapan nanar Rama. ”Kau harus melupakanku, lalu membuka matamu untuk gadis di sekitarmu. Bukankah pada awalnya kau sangat membenciku. Coba kamu ingat ... saat aku merusak motor kesayanganmu .... tetaplah seperti saat itu- kamu harus tetap membenciku.”
__ADS_1
“Kau salah, bukan dari situ. Lebih jauh, saat aku melihatmu di parkiran Starlight dan kau sudah mengalihkan perhatianku sejak itu.” Rama mengecup bibir mungil dan menggigit keras bibir bawah Nita sampai wanita itu mengadu. “Aku takkan menyerah Kau hanya boleh mengikat janji suci itu denganku. Juga, kamu hanya boleh menciumku. Jangan pegang-pegang tangan papah lagi, karena kau akan jadi milikku.”
"Rama .... " Nita mengepalkan tinju karena marah. Apa aku punya pilihan? Tidak. Aku tidak bisa kehilangan papah.
Akan tetapi, sepertinya seberapa banyak Nita menjelaskan, maka Rama tetap tidak tahu akar masalah yang tengah dihadapi Nita. "Itu mustahil, pernikahan kami tetap akan berlangsung."
"Sekarang aku tanya padamu, kau pilih aku atau papah?"
Pertanyaan Rama membuat hati Nita bergetar. Dia harus menerima kenyataan pahit. Dia teringat telah melenceng jauh dari rencana yang sudah di rencanakan sejak 5 tahun lalu bersama papanya. Mimpi memajukan perusahaan rumah produksi NASA, menjadi perusahaan lebih besar, dan saat modalnya cukup, maka mereka akan membeli perusahaan media yang pernah didirikan sang kakek.
Kenyataannya sekarang, justru papah saja tak ada bersamanya. Paling tidak, dia ingin mewujudkan mimpi papanya dan memastikan papanya kembali berkumpul, tanpa terluka. Dia tak mau Rama menjadi penghalang mimpi keluarganya. Nita menelan saliva dengan kasar, seolah dia memasukan batu besar ke tenggorokannya. "Siapa yang aku pilih?
JELAS .... Mas Sergey ...."
Rama menekan rahangnya yang mengeras, tangannya terkepal. "Katakan sekali lagi? Mengapa?"
"Jelas, kau lihat dirimu sendiri. Kau hanya tukang mabuk, pembuat onar, suka main perempuan, suka taruhan, tak sayang nyawamu dengan balapan, apalagi, kau hanya membuat orang di sekitarmu jadi susah... apa aku harus mencarinya? Ah, semua itu uang dari jerih payah papahmu, kan?
Ya, kerjaanmu hanya bersenang-senang. Tentu saja, aku memilih Mas Sergey yang sopan dan bekerja keras untuk keluarganya."
Nita memiringkan kepala dan menatap Rama sambil tersenyum. Namun, dalam hatinya menangis, mengapa kata-katanya harus sejahat itu pada Rama. Bila memang itu satu-satunya cara agar Rama membencinya, maka dia harus tetap lakukan, kan?
"Sh*it! Damit! Omong kosong." Rama mensejajarkan tingginya dan menatap mata emas dalam-dalam. "Kamu mengatakan itu, tapi kamu sendiri tak menolak pelukan ku dan tak keberatan dengan ciumanku? Sedangkan saat papahku memegangimu, kau seringkali terlihat tak nyaman."
Nita terperanjat. Dia tertawa getir. Tubuhnya mendadak lemas karena baru menyadari bila Rama selama ini mengawasinya ketika dia sedang bersama Sergey.
"Kamu terlalu baper, Rama? Bagaimana jika, kau hanya hiburanku, sama seperti apa yang kau lakukan pada mereka. Gadis-gadis itu .... siapa, Shelina ...."
Nita dengan tenggorokan panas. Dia bahkan tak bisa mengontrol apa yang keluar dari mulutnya. Kepalanya sudah mendidih dan marah pada dirinya sendiri.
"Kenapa jadi membahas mereka? Kau tak cemburu, kan? Itukah, caramu untuk mengalihkan pikiranku dari topik utama kita, Nita!"
Rama tak tahan lagi, tuduhan manalagi itu. Dia terakhir seperti itu, dua tahun lalu bersama wanita, itupun hanya bercin*ta dua kali dengan Veronica, lalu dengan Shelina hanya pemanasan. Mengapa seolah-olah dia telah memacari seribu gadis!
Rama menarik napas dalam-dalam, tetap saja dia meledak dan tak terima. "Kau mengecewakanku. Pembohong, aku tidak bisa membiarkanmu menyakiti perasaan papahku, karena perasaanmu itu untukku, bukan untuk papah!"
Teriakan Rama yang keras membuat Musa kaget. Anak tak berdosa itu mulai menangis. Rama mengigit bibir bawah begitu kesal karena tangisan Musa yang melengking semakin membuat kepalanya mau pecah. Namun, dia masih disini, menunggu jawaban Nita, tetapi Nita mengabaikannya dengan wajah dingin.
Pria itu meninggalkan kamar dengan hati terluka, juga dipenuhi dendam. Itu tak bertahan lama, setelah dia menuruni tangga, tatapan seperti banteng itu langsung meredup. Dia menjadi tak berdaya dan tak bisa marah, begitu teringat akan Nita yang menggendong Musa dengan wajah kacau dan penuh kebingungan.
Rama ingin marah kenapa Nita tidak mengandalkannya. Kenapa wanita itu memilih repot sendiri. Dia merasa bila Nita sedang menyembunyikan sesuatu darinya, tetapi tidak tahu apa. Ini menyedihkan, dia merasa menjadi lelaki tak berguna. Atau jangan-jangan papah telah mengancam Nita.
__ADS_1