
“Toko kue? Mana aku inget,” ucap Rama, suaranya makin mengecil karena sambil mengingat. Dia berpikir keras dengan memilin kepalanya tetapi yang muncul dalam pikirannya justru gambaran Nita saat menyibak rambut ke belakang. Semakin dia akan memikirkan hal lain, semakin senyuman Nita tergambar jelas dalam pikirannya.
Nita mengangguk pelan, menunggu dengan harap-harap cemas. Kemudian Rama menghela nafas cepat, mata itu berbinar.
“Aku sampai lupa dengan itu. Papah suka sekali cheese cake disitu. Malam-malam, papah marah-marah minta beliin itu.” Rama ingat sebenarnya waktu itu, dari sore papah sudah pesan kue, tetapi dia lupa karena hifora kemenangan balapannya. Dia jadi teringat ….
Musik disko menggema di rumah besar budi, kebetulan orang tuanya Budi baru berangkat ke luar negeri. Banyak botol alkohol yang telah kosong, lalu diganti dengan yang baru di atas meja.
Meski suara bising, Rama membuat ponselnya dalam mode bergetar. Begitu melirik ke nama papah di layar, Sergey pergi ke ruangan kedap suara.
“Mana kuenya? Ingat Ram, kamu masih dalam masa hukuman. Kau tidak lihat ini jam 9 malam. Satu jam kau harus sudah di rumah, atau kuceritakan kenakalanmu pada Kakek?”
“Iya-iya, Papah! Rama pulang, sekarang. Huh! Nggak asik.”
__ADS_1
“Kamu mabuk-mabukkan lagi? Kau tidak ingat larangan dari Mamahmu!” Bentak Sergey dengan suara menggelegar di telepon hingga Rama harus menjauhkan ponsel yang dalam mode speaker.
“Rama lagi flu dan sakit tenggorokan, tadi kan hujan.” Rama terkekeh berusaha beralasan. “Aku pulang, sekarang pulang, sudah, ya Pah!”
“Kamu mau pulang sekarang? Nggak seru! Anak Mamih,” celetuk Agus. Teman-temanya yang lain terus bertanya macam-maca, Rama melenggangkan kaki dengan pandangan tampak bergerak, seperti sedang ada gempa.
“Biar kuantar! Kamu mabuk, bahaya bisa nabrak,”
ucap seorang wanita dengan khawatir.
Sesampai di toko kue, Rama berjalan dengan limbung dan bersandar di mobil. Tokonya ternyata tutup. Rama yang saat itu tak bisa berpikir, daripada kena marah papah, dia memutuskan untuk menunggu dan duduk di lantai serambi sambil merokok.
“Biasanya tak tutup? Ada apa, tumben sepi nggak ada lewat motor,”
__ADS_1
gumam Rama. Dia mematikan rokok yang baru tiga kali isaap*an karena sesuatu menganggu dari kejauhan.
“Ya Tuhan! Mana nggak ada taksi!”
Suara melengking wanita itu mengalihkan kepala Rama dan mendapati wanita berkacamata. Rambut sepinggang diikat dua ekor, kucel di bawah sinar lampu kuning. Terlihat bolak-balik gadis itu membenarkan kaca mata, lalu berhenti melangkah, dan mengelapi kacamata berbingkai kotak menggunakan sweater.
Rama menyunggingkan senyuman. Dia menghempaskan diri ke belakang dan mengadu. “Siapapun, tolo..ng …. Tolo..ng aku!”
“Hai ada apa denganmu, Mas!”
Rama merasakan tangan mungil itu menyengat jiwanya. Bahkan disaat pertamakali jari mungil itu menepuk kulit lengan, tepat di atas sikut. DEG-DEG SER. Seumur-umur, baru kali ini dia tersengat oleh tangan seorang perempuan. Satu sudut bibirnya semakin terangkat membentuk seringai licik.
Rama merasakan tiap-tiap kehangatan sentuhan jari mungil seperti listrik berbahaya. Semakin bergesernya waktu, aroma keringat itu menguar. Setiap sentuhan wanita itu baik di dada, punggung atau pinggang begitu membuatnya terlena.
__ADS_1
Terutama saat wanita itu membantunya berdiri. Pikirannya telah melintasi ke keluar angkasa, dia semakin behastr4t dan tak tahan lagi. Badan mungil itu tak kuat menopang tubuhnya hingga tubuh Rama terasa melayang dan mendarat di sesuatu empuk.
Potongan-potongan ingatan yang lama hilang, dan baru diingat Rama, langsung terbuyar karena tepukan Nita. Rama berkedip beberapa kali pada wajah di depannya yang tampak kedua telinga mungil. Wajah kesal itu .... sentuhan ini .....