
Rama memiringkan kepala ke kiri dan membeku, dia terpaku pada bentuk bibir, hidung, fitur wajah Nita. Tubuhnya condong ke depan, dengan tangan mengulur ke depan. Lalu menggenggam rambut Nita menjadi dua, dia berusaha membandingkan dengan tampilan si cupu.
“Ada apa lagi, Rama? “Jantung Nita berdebar, karena punggung tangan pria itu menyentuh bahu.
“Tidak mungkin…. ” Lelaki itu lalu menggelengkan kepala sambil menggumamkan sesuatu.
“Apanya yang tidak mungkin, Rama?” Alis Nita berkerut makin dalam.
Tidak mungkin, Si cupu itu bukanlah Nita! Batin Rama, tangannya refleks menjauh dari Nita. Rama mencoba melenturkan jemarinya yang mendadak kaku.
“Kau ingat sesuatu?” Nita tak dapat menahan rasa penasarannya lagi. “Apa kau pernah malam-malam pergi ke toko kue langganan papahmu dua tahun lalu?”
“Apa maksudmu, Nita, Malam-malam? Ada apa dengan malam yang kau sebut itu, sepertinya memiliki makna penting bagimu? ” Rama semakin bingung dan mengepalkan tangan di atas meja.
Rama berpikiran mungkinkah si cupu adalah Nita, yang memiliki jari berbahaya. Sulit sekali di terima dengan akalnya, walau mereka sedikit mirip, mungkin itu hanya perasaannya saja. Lagipula, Rama merasa tak perlu penasaran pada si cupu itu karen perhatiannya kini semua telah tercurahkan kepada Nita.
Nita menggelengkan kepala, dia semakin yakin pria baji*ngan itu bukan Rama. Ya, mana mungkin. “Darimana kamu mendapat kalung ini? Apa ada seseorang yang juga sama memiliki kalung model seperti ini?”
Rama menyunggingkan senyuman. “Kenapa sih? Aku akan memberitahu jawaban itu saat kamu mau keluar denganku, di lain waktu. ” Rama semakin percaya diri dan sikutnya bertumpu di meja. Dua telapak tangan menyangga dagu, bibir itu tersenyum dengan menantang dan tatapan penuh minat pada Nita.
__ADS_1
Nita sedikit menurunkan dagu karena sikap Rama yang berbeda. Perempuan itu memegangi dada kanan yang mendadak berdebar karena tatapan Rama yang kian berbinar. Senyuman menawan penuh arti membuat dia berpikir lain soal Rama, bahwa pemuda itu sebetulnya menarik.
Entah apa. Rasanya sangat aneh bagi Nita. Hatinya terus berdesir. Wajah Nita menjadi sendu membuat Rama kebingungan. Apalagi karena netra emas itu mulai berkaca-kaca.
“Loh, apa aku membuatmu sedih? Apa aku salah ngomong? Tolong, jangan memasang wajah seperti itu,” Nada Rama berubah penuh kelembutan dan syarat akan kekhawatiran.
Nita justru mengelap airmata yang baru lolos dari sudut mata. Rama menyingkirkan tangan mungil itu dan mengusap kedua pipi, hingga tetesan embun bening menyebar ke pipi pucat tanpa riasan, membuat pipi itu sedikit berkilau.
Sial, kenapa aku jadi cengeng gara-gara Rama! Ini pasti gara-gara waktu dulu Rama menolongku dengan membuang cutter dari tanganku. Bahkan tangan Rama sampai terluka saat itu. Batin Nita
Tangan kiri Nita, lalu menggenggam pinggiran tangan kanan Rama dan mata Rama berkedut karena tatapan Nita yang dalam. Mereka saling diam, tanpa berkata-kata dan saling mengamati. Sementara di sudut ruang, Dila yang mau mengantar pesanan, langsung mengurungkan niat dan memilih menyaksikan perilaku aneh mereka.
“Lukamu ini sudah tak berbekas, Ram,” suara Nita parau.
“Luka apa?” Rama meninggikan suara. Dia ingin mendengar suara Nita yang seperti ini, bukan suara yang dingin seolah selalu ada tembok penghalang yang kasat mata diantara mereka. Wanita itu mengangkat dagu dan menyipitkan mata dengan tatapan makin sendu.
Rama tersenyum dengan penuh kasih sayang. Dagunya terayun ke depan. Sentuhan jari-jari itu sama berbahayanya dengan jari si cupu.
“Kau tak boleh sedih sendirian. Sesekali kau juga butuh tempat sandaran. Aku siap loh menjadi sandaranmu.
__ADS_1
Lagipula, Nita, kau hanya perlu menghabiskan kontrak dengan papah. Setelah itu kita kan tidak bertemu?
Jadi, seberat apapun masalahmu, sedekahkan untukku saja? Jika kamu merasa malu denganku. Malu itu untuk apa sih? Karena kita juga tidak akan bertemu lagi setelah lewat tahun ini?”
Bulu kuduk Nita, merinding. Reflek Nita menarik tangan untuk menjauh dari Rama. Dia mengusap tengkuk dengan canggung.
Rama menyipitkan mata dengan tatapan tajam. “Kamu jangan berpura-pura lagi. Aktingmu dan papah selama ini sangat bagus. Tapi, apa tidak terlalu bahaya kedepannya bila kamu terus ‘seperti itu’ ?”
“Seperti ‘itu’…. Maksudmu apa, Ram?” Nita merasakan air liur di dalam mulutnya semakin berproduksi banyak. Mata melebar dan indra pendengarannya semakin menajam.
“Peranmu sebagai istri, terlalu intens di rumah, di depan mataku,” cebik Rama. Dia mengatubkan bibir selama sepuluh detik. Gelas kopi diremas. Urat-urat di kening Rama menonjol pertanda menahan amarah.
“Jangan terlalu mendalami peran dengan Papah, saat di rumah. Lagipula papah sudah cerita soal kontrak bisnis kalian. Kecuali kamu memang sengaja mendekati papahku dengan maksud lain? ”
Nada Rama berubah dingin, di dalam dadanya kembali bergemuruh. Dia bagai ditenggelamkan di lautan cabai yang tengah mendidih. Hatinya seperti terluka, begitu perih, panas dan sakit. “Lalu, papah bisa salah menanggapi aktingmu. Dia menyukaimu.”
Nita menelan saliva dengan kencang. Kata-kata Rama langsung menusuk hatinya, tetapi dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia tak bisa mengontrol perasaan Sergey padanya, karena dia sudah berusaha menjaga sikap dan sudah berlaku sesuai kontrak. Mesra saat di luar dan dia yakin Sergey pun hanya menganggap itu semua, hanya sebatas sandiwara.
“Dan aku cemburu saat kau berakting dengan papah.”
Prang! Sendok piring berdenting melengking.
__ADS_1
Serempak, Nita dan Rama, langsung menoleh ke sumber kegaduhan. Mereka membelalakan mata, dari tadi tidak menyadari kedatangan orang dan tahu-tahu ada orang lain di dekat mereka. Pentol bakso, mendoan, dan pecahan piring berhamburan di lantai, membuat Nita dan Rama langsung berdiri.