Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 50 :


__ADS_3

Rama terus melihat sekitar ke arah pintu dengan gelisah. Ayo, siapapun muncullah. Aku tidak mau ken*cing di celana. Nita, benar-benar tak kasihan padaku apa apa. "Hei, siapapun aku mau ke toilet!"


Nita yang melihat cctv di sebuah laptop, lalu bergegas menggendong Musa yang masih tidur. Dia keluar dari kamar yang secara harafiah berukuran 3x2 meter. Nita masuk ke ruangan Rama, dan mengambil kunci dari gantungan kunci.


"Hei, cepat, aku sudah mau mati saja rasanya. Aku ingin sekali ke toilet." Rama dengan kesal dan ingin berteriak.


"Kamu mau ke toilet?" Nita mulai melepas kunci gembok mini, setelah meletakan Musa di kasur.


"Apa aku harus mengompol di sini?" Rama tak menduga jika Nita langsung melepaskan rantai yang menahan tangannya.


Nita memperhatikan Rama yang merilekskan pergelangan tangan yang terdapat bekas merah dan cekungan akibat ikatan rantai. Wanita itu menggendong Musa dan menyusul Rama yang berlari ke pintu, takut bila Rama kabur.


"Dimana kamar mandinya?" tanya Rama tanpa menoleh.


"Mari ikuti aku."


"Nita, bukannya kita akan kabur, mengapa kita berada di kapal, apa kamu mau berencana membuang ku di tengah laut?" tanya Rama saat keluar dari toilet. Dia mengikuti Nita ke ruang pribadi.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa tujuanmu dan actor itu, tetapi jangan asal percaya pada Nathan," gerutu Rama karena merasa ada yang tidak beres dengan Nathan.


.


Tiga hari berlalu ....


Nita membawa makanan dan air mineral untuk Rama. Nita menatap tak tega pada wajah Rama. "Cepat makan .... "


Rama kini disekap, di Kalimantan Selatan di daerah perkebunan. Nita mengangguk dengan canggung lalu duduk di samping Rama.


"Kak Nathan sedang pergi mau menemui orang di luar kota, jadi selama satu minggu takkan ada yang menjaga Musa. Kamu boleh keluar dari ruangan ini asal kamu selalu hibur Musa, karena Musa senang sekali dekat denganmu."


Rama mengecup pipi Nita hingga pipi itu memerah. "Bukankah ini saat yang tepat kamu membayar hutang ciu*manmu, sebelum aku bertemu Musa?"


Nita menyipitkan mata. "Pejamkan matamu, Ram?" Nita tersenyum hangat. Kemudian Rama memejamkan mata dan Nita langsung kabur ke ruangan lain.


"Nita!" Rama menyusul langkah cepat Nita. Tampak Pipi Nita bersemu merah karena

__ADS_1


malu-malu saat menoleh sebentar.


"Akhirnya, aku bisa bebas!" Rama menyusul Nita ke arah belakang rumah, lalu Nita terlihat memancing di kolam mini. "Apa ada ikannya?"


"Ada banyak!" Nita menoleh sebentar dan kembali menatap ujung senar pancing. "Pegangi pancing ini Rama, ini untuk lauk kita."


Setengah jam berlalu, Rama menjauh dari danau mini dan kembali masuk rumah dengan hasil pancingan, dua ikan berukuran sedang. Rama tertegun pada Nita yang terpejam. Dia menelan Saliva dan berusaha mendekat.


"Rama, menjauhlah dari putriku," ucap ayahnya Nita, hingga Rama menjauhkan kepala dari Nita dengan canggung.


"Hehehe ... Om Devan. Aku hanya ingin memindahkan Nita ke kamar." Rama menunggu persetujuan Devan yang duduk di kursi roda.


"Cepat, aku akan mengawasimu bila kau macam-macam, aku akan menghajarmu." Devan menyunggingkan senyum peringatan dan meningkuti Rama ke kamar Nita.


Nita telah dibaringkan dan Rama mulai menyelimuti Nita yang terlelap. Kemudian Rama membawa ayah Nita ke dapur dan meminta Devan agar mengajarinya cara membersihkan ikan.


Devan miring kanan dan kiri karena Rama yang membersihkan sisik ikan, justru sisik itu terbang-terbang ke segala arah. Devan menyunggingkan senyuman, dia tahu Rama dari kecil hanya anak manja, tetapi ini berbeda ...

__ADS_1


__ADS_2