
Sergey ikut hadir pada pesta pernikahan Jefri-Stefanie. Sebagai sopir Rama, dia bebas berkeliaran di gedung pesta. Sergey senyum-senyum sendiri saat menaruh sebuah kado tanpa nama, di meja hadiah untuk Jefri.
"Semoga kini hidupmu bahagia, Jef." Sergey terus tersenyum melewati para tamu undangan. Terlihat di atas panggung, sahabatnya itu sangat bahagia di usia 61 tahunan.
Sergey menyesap w*** dengan mata tertuju pada sang putra yang menyalami Jefri. Jefri memeluk putranya di atas panggung. Sergey bersyukur karena Jefri bersikap begitu pada keluarganya dengan tidak menjaga jarak, seperti sikap Jefri pada tamu undangan yang lain. Dia menyadari dari dulu temannya ini memang tulus padanya, tetapi yang tidak tahu pasti mengira sahabatnya itu adalah orang jahat.
Cantik. Baik. Kalem. 1000 kali kata pujian terus terlontar di dalam hati Sergey, saat melihat ke arah Atha yang tengah menggendong Musa dan ikut salaman dengan Jefri. Ledakan kesenangan terasa memenuhi keinginan Sergey tiap kali melihat Nita.
Sungguh Sergey tak tahu bila sehari saja tidak melihat Nita langsung, dunianya gelap dan energinya seolah habis tidak tersisa. Dia sungguh tidak bisa jauh-jauh dan ingin tetap di sekeliling untuk menjaga wanita yang dicintainya itu terutama bila di keramaian seperti ini.
Trauma Sergey adalah akan ketakutan Nita yang dilempari segala barang di restoran milik Lana hingga Nita begitu tak berdaya . DEG dada Sergey terasa dihantam batu kuat, seakan dia melihat Nita tengah ketakutan itu sekarang.
Tidak Sergey, kendalikan pikiranmu. Nita di depan, tidak ada yang menyakitinya ! Sergey menatap lekat-lekat Nita yang turun dari atas panggung dibantu Rama. Matanya terus bergerak ke arah Nita melewati kerumunan.
Sergey dengan setengah berlari menghampiri dan baru tenang saat di belakang Nita dengan melihat sekitar untuk memastikan keamanan. Bau mawar Nita menyeruak ke dalam hidung Sergey, Sergey melirik tengkuk Nita yang berambut dan penuh embun keringat. Dia menelan Saliva dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
Untung Rama minta bantuannya untuk menggendong Musa. Pikirannya kembali waras dan terus menanggapi pertanyaan sang cucu yang sangat ceriwis sambil tangan mungil itu berjoget mengikuti musik.
Rama dan Nita sibuk mengobrol seputar film yang dibintangi Rama, karena masuk ke dalam katagori film terbaik tahun ini. Sergey bangga pada Rama, pasti karena keahlian Rama itu menurun dari darahnya dan Intan, yang sama-sama pemain legend dan diakui di dunia hiburan.
Ketika kembali ke rumah, Sergey melihat sekitar lalu naik ke lantai dua. Dia memang tidak pernah mengunci kamar ketika di dalam rumah utama. Saat keluar dari walking closed Sergey melihat Intan telah berdiri di kamar. Tubuh gagah seketika membeku, lalu berusaha menurunkan ujung kaos, takut Intan melihat tatto dipunggung.
"Sudah kuduga ternyata begini cara kamu mendapatkan sapu tangan Mas Sergey?" Intan menunjukkan sapu tangan Sergey dan mata Ergi tampak terkejut.
"Dan kau berani memakai jas mantan suamiku! Berani sekali memasuki kamar ini, siapa yang menyuruhmu masuk?" suara Intania seperti tercekik.
"Nyonya saya hanya meminjam -"
"Berani sekali memakai barang-barang mendiang mantan suamiku! Sudah berapa banyak kelakuanmu ini sungguh kurang ajar! Pokoknya aku harus bilang Rama, biar kau dipecat!"
"Jangan," suara Sergey begitu dalam, dengan gelengan kepala. "Saya salah dan tidak akan mengulangi lagi, Nyonya."
Pria itu berlutut dengan tubuh yang begitu lemas, mencoba berakting. Bibirnya menekuk ke bawah dengan maksimal dan membayangkan hal sedih. "Jika aku dipecat, lalu saya memberi makan apa untuk istri saya? Saya ingin menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab .... Saya harus punya uang untuk biaya kelahiran anak saya."
Intania mengangkat satu alis, tidak tega pada wajah suram itu. Hidungnya mengendus-ngendus bau parfum Sergey. "Anda memakai minyak wanginya juga, yah!"
Mata Sergey berkedut, dia tidak kepikiran sampai situ. "Tidak, Nyonya! Saya cuma meminjam jas! Saya memakai parfum saya sendiri, mungkin baunya sama!" Bisa berabe bila Intania berpikir begitu.
"Mana parfummu, saya mau lihat? Mana bisa sopir sepertimu bisa membeli parfum di atas ratusan juta? Buat biaya kelahiran istrimu saja kau seperti ini." Intania meraih jas dari tangan Ergi.
"Ini harganya di atas seratus juta! Sekarang jadi kena kamu, kotor! Lalu sapu tangan ini!" Intan melempar sapu tangan dari genggaman ke wajah Ergi dengan emosi meledak-ledak. "Lancang! Karena kau sudah memakainya jadi pakai sapi tangan utu setiap hari dan jaga itu, doakan kebaikan untuk mendiang Mas Sergey!"
"Jangan berani-berani memakai barang satupun milik Mas Sergey," tangis Intan pecah. "Kau tidak pantas!" Intania menarik lengan pria itu. "Keluar!"
Sergey berkedip bingung karena Intania mengunci pintu kamar dari luar. Kunci itu di kantongi. Dia si punya kunci cadangan dan bisa lewat balkon. Namun, melihat reaksi Intania yang berlebihan seolah terluka dia jadi kasian.
"Kembali ke kamarmu! Kau dilarang memasuki arena lantai dua!" Intania terus berteriak dan berjalan cepat sambil memeluk jas milik Sergey, melewati Devan, yang entah sejak kapan ada di situ.
"Dan, kau Devan .... Jangan membelanya! Dia tidak pernah sopan di rumah ini!"
...****************...
Enam bulan berlalu ketika Sergey sudah tidak sabar menjelang kelahiran putranya. Dia dengan semangat mengatur kebun. Tidak apa walau dia yang sopir tapi justru disuruh ini-itu oleh Intania sejak kejadian malam itu.
Sergey sempat kena teguran keras dari Rama gara-gara Intan tetap melapor. Sakit hatinya dimarahi anak sendiri yang dibesarkan dengan penuh cinta. Namun, tetap saja Rama tidak tahu bahwa dia ayahnya, jadi Rama pantas marah.
Namun, Sergey tetap menyusup ke ruang rahasia melewati balkon. Itu dilakukan saat genting, dikala dia butuh waktu sendiri.
...****************...
Intania melihat aktifitas sopir dari lantai dua. Hanya karena tingkah laku itu mirip Sergey, masa dia suka pada seorang sopir. Jangan sampai dunia tahu, ini sangat memalukan. Dia mungkin hanya menikmati karena pria itu sangat cekatan dalam segala hal dan tidak pernah membantah atau mengeluh dengan perintahnya.
Bagi Intan, kini sosok Ergi memiliki nilai plus dibandingkan Sergey. Kalau Sergey jelas jarang di rumah dan sibuk pergi sampai larutan malam. Namun Ergi, dia nyaman karena melihat Ergi sering menghabiskan waktu di rumah saat tidak mengantar siapa-siapa.
...*...
Intania ikut Nita ke rumah sakit. Intan memang tidak suka Lana, tetapi jadi ingin tahu dengan apa yang dilakukan Ergi. Apa Ergi senang saat Lana lahiran, ah pertanyaan konyol. Tapi Intan sangat tidak menyukainya.
Di dalam ruangan, Lana ngos-ngosan dan mulutnya terasa begitu kering. Mencengkeram genggaman tangan Ergi kuat-kuat, rasanya seperti mau melahirkan semangka raksasa yang mau meluncur keluar dari perut dan sama sekali tidak bisa ditahan saat terus mengikuti instruksi dokter untuk mengatur napas.
Dia melirik kanan pada bunga mawar merah, dan tangan kirinya menjambak rambut Ergi, terengah-engah. Setelah perjuangan antara hidup dan mati, diapun lemas, tetapi terharu saat mendengar tangisan seorang bayi.
Mata Lana memanas dan air mata melesak keluar saat Ergi mencium di pipi-kening-bibir dengan terus mengucapkan terimakasih. Lana terisak melihat Ergi menggendong putranya dengan deraian air mata yang dia yakin karena bahagia.
Bayi itu dihadapkan ke arah kiblat oleh Ergi, lalu suaminya mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri. Lantas bayi itu diberikan di dada Lana dan perempuan itu masih sesenggukan menangis ke arah sang bayi yang menemplok di dada.
"Terimakasih, istriku telah melahirkan Stevan dalam kondisi sehat dan kamu juga sehat," kata Sergey dengan lembut. Tangan kekar menghapus peluh dari kening-pelipis sang istri menggunakan tisu.
Dokter dan perawat sibuk menjahit milik istrinya yang robek. Sergey ngilu bukan main melihat daging lembut itu dijahit. Ngilu, dia sulit membayangkan seperti apa rasa sakit itu. Apa lebih sakit dibandingkan dari saat dia disunaat?
"Mas .... Kenapa bawa bunga?" lirih Lana dengan dua sudut bibir terangkat ke atas dan tersipu malu.
"Itu, Mas yang petik langsung. Tapi cara membungkusnya tidak rapih." Sergey tertawa ringan. "Maaf bentuknya jelek, tetapi ini spesial khusus untuk kamu."
Lana menganggukkan kepala dengan senang. Dia mendapat kecupan di kening lagi dan hatinya makin berdebar karena benih-benih cinta terus bertumbuh. "Wah, Mas membentuk sendiri? Lana sungguh sangat senang!"
"Iya Sayang." Sergey tidak dapat menahan malu dan berkata, "Mas sampai dimarahi dokter karena bunga itu sempat dilarang masuk. Jadi, Mas menyemprot bunga itu dengan antiseptik, lalu ngotot bawa itu untuk semangat istriku ini," suara Sergey makin mengeras dan menatap sang dokter. "Bener tidak, Dok?"
Dokter dengan mata berseri-seri, mengangguk. Walau dokter perempuan itu memakai masker, tetapi jelas sedang tersenyum.
Lana tertawa pelan, tetapi lalu meringis karena ngilu tengah di jahit, dia pasrah. Kembali melihat meja dorong yang di sisi kanan ada buket bunga mawar, Lana menguatkan diri dengan melihat bunga itu.
Ketika Intan melihat Ergi, setelah pindah dari ruangan VIP. Dia dibubuhi rasa cemburu. Apalagi melihat bunga di ranjang dorong di atas kaki Lana. Dia melihat Ergi memetik itu tadi pagi dengan tergesa-gesa.
Seminggu berlalu .... Lana gemetar, tubuhnya seketika demam dan hampir pingsan. Sekarang rasanya dia hancur sehancur-hancurnya, anak masih berusia tujuh hari, tetapi sudah diceraikan suami. Lana menatap mata dingin Ergi, sama sekali tidak sesal dan kesedihan dari sana.
Lana cuma diam dengan mulut terkatub, menahan untuk tidak menangis. Dia melangkah berat dan memutar kunci kamar dengan bahu bergetar, tangannya mendorong handle pintu ke bawah. Dia menoleh ke Ergi yang tak bergeming dengan sang putra di tempat tidur.
__ADS_1
"Untuk apa kamu menikahiku kalau hanya untuk bercerai?" Tanya Lana dengan wajah merah padam.
Semua kebahagiaan yang hadir selama masa kehamilan, kini hancur luluh lantah. Lana keluar dari kamar dengan tidak tahu arah melewati malam yang amat dingin. Berharap Ergi mengejarnya, tetapi saja tidak.
Gelombang emosi berputar-putar di dalam dirinya akan impian kebebasan bahagianya yang kini berubah dengan bayangan kesepian hingga kesedihan adalah ketidakpastian tentang masa depan.
Ini seperti kematian, tapi karena hanya dirinya yang memiliki ingatan ini, jadi tidak ada orang yang benar-benar tahu betapa terlukanya Lana.
Malam makin larut, Nita membuat susu hangat. Dia melihat jam dinding pukul sebelas. Belum ada kabar dari Rama. Apa masih syuting?
Ketika melewati ruang keluarga, Nita terpaku pada sosok wanita yang berjalan loyo dari ruang tamu. Pintu rumahnya memang tidak pernah dikunci karena dikelilingi pagar tinggi yang dijaga security.
Nita memanggil Lana, tetapi wanita itu tetap tertunduk. Dia menahan tangan sahabatnya saat berada di ruang cuci setelah menaruh gelas susu di atas mesin cuci.
"Lana kamu kenapa, Sayang?" Tanya Nita sambil memutar bahu sahabatnya hingga kini berhadapan dan tampak mata Lana merah berkaca-kaca.
Lana tidak bisa membendung air matanya saat Nita memeluknya, tangannya terkulai dan dia hampir jatuh tetapi ditahan Nita.
Mereka duduk di lantai, di depan mesin cuci. Lana menyusut, menyembunyikan diri saat Nita memegangi wajah dan berusaha menenangkannya.
"Kamu tenang, Lana Sayang. Ceritakan ada apa, biar aku tahu, Lan? Apa badanmu sakit, di mana yang sakit?" Nita memegangi kening Lana dan memeriksa badan Lana dengan teliti, dengan perasaan kalut karena Lana terdengar begitu kesakitan.
Lana mengelengkan kepala dan batuk-batuk karena tak bisa bernapas. Rasanya bumi menjatuhi kepalanya. Baru dia mulai mencicipi rasa bahagia akan perhatian Ergi.
Mengapa nasibnya semenyedihkan ini. Semua orang meninggalkan dia seperti orang bodoh. Sudah yatim piatu sejak kelas enam SD, ditipu pacar, dipaksa menikah, kini bercerai saat bayinya baru lahir. Lalu dimana dia harus bersandar lagi, setelah dia terlalu berharap pada Ergi.
Intania berjalan ke dapur untuk mengambil minum, dia mendengar sayup tangisan. Jadi batal ke dapur dan memilih memenuhi rasa penasaran dengan mencari asal suara dari ruang cuci. Terlihat Lana dalam pelukan Nita.
Sedikit ditangkap telinga Intan, bahwa Ergi akan menceraikan Lana. Sontak Intan melongo dengan mata melebar, kedua tangan menutupi mulutnya dengan tidak percaya. Intania lantas berbalik dan berlari kembali ke kamar dengan terus berpikir, lalu menyeringai senang.
...****************...
Semakin hari Intan semakin berkeliaran di sekeliling Lana yang sudah semakin kurus, kalau dia sebut mengenaskan. Intan menjalankan segala cara dengan harapan Ergi meliriknya bukan sebagai atasan melainkan sebagai seorang wanita.
Intan jadi rajin ke salon, kalau rambut dan tubuhnya sudah wangi lantas lewat depan Ergi. Dengan sengaja mengayunkan rambut dan mendapat lirikan Ergi. Dia yakin Ergi dapat menghirup aroma rambutnya yang begitu wangi.
Intan semakin percaya diri karena setelah ikut latihan di tempat gym, tubuhnya makin kencang dan singset. Terkadang setelah memakai baju baru, Intan juga minta pendapat Ergi bagaimana soal penampilannya. Ya, walau tampak Ergi semakin dingin, tetapi dia yakin Ergi hanya malu, pasti Ergi sudah terbuai dengannya yang semakin cantik.
Intania semakin gereget dengan Ergi. Apa dia atuh cinta lagi. Seolah itu puber keduanya dengan perasaan menggebu-gebuu tiap kali berpapasan dengan Ergi.
...****************...
Sudah seminggu terlewati, Sergey masih mendatangi kamar Lana setiap selepas kerja untuk menemui bayi. Namun, bila sudah jam enam sore, dia tidak memasuki kamar itu lagi.
Awalnya, Sergey meminta ijin untuk tidur di pos jaga pada Rama. Mungkin, karena Rama mendengar dari Nita soal perceraiannya ... Rama pun memberi kamar kosong yang jauh dari Lana.
Kini Sergey memiliki kamar sendiri di paviliun belakang rumah utama. Itu semakin membuat Sergey bebas berkeliaran karena jauh dari pantauan cctv.
Berulangkali Lana bersikeras menolak perceraian dengan seribu alasan ingin bertahan. Terutama untuk tumbuh kembang bayi. Namun, keputusan Sergey sudah bulat dan bahkan terus menyudutkan pengacara agar mau membujuk Lana agar mau bercerai.
"Aku akan bilang ke Nita soal perasaan Mas! Juga tato dan lorong itu. Kalau berani Mas menceraikanku silahkan saja! Aku akan membeberkan semuanya!" ancam Lana yang berdiri di garis pintu dengan napas turun naik tak beraturan.
Pintu terbanting di depan Sergey yang reflek lompat ke belakang, lalu terdengar pintu dikunci. Disusul terdengar tangisan bayi histeris, entah karena Stevan kaget, atau merasakan emosi dari kedua orangtuanya, atau juga karena dua alasan itu.
Sergey membeku cukup lama. Seharusnya, dari awal tidak bersikap baik kepada Lana, meskipun dia selalu tegas agar wanita itu tahu batasan, tetapi Lana melanggar itu semua.
...****************...
Satu bulan sudah Sergey pisah ranjang. Dia bingung setiap kali mendekat ke Lana untuk membujuk, karena wanita itu selalu menghindarinya.
Tidak berhenti dengan Lana, Nita pun ikutan menjaga jarak darinya . Sergey tahu raut penuh kekecewaan Nita ditujukan untuknya, membuat sedih bukan main, ingin mati. Sejauh ini Rama dan Devan tidak pernah komentar soal niat perceraiannya.
Sergey frustasi karena Nita menjadi bersikap dingin. Dia semakin gila rasanya ingin marah tapi pada siapa. LANA? Ya penyebabnya Lana!
Siang itu Sergey menatap sendu ke deretan kebun mawar merah. Taman ini seperti lautan mawar. Sergey memetik satu bunga di tengah sepoi angin yang seolah menertawakan dirinya.
Mawar yang baru mekar itu diremasnya dan bau manis tercium, seperti bau tubuh Nita. Dia tidak terima dengan sikap Nita. Tidak peduli walau Nita menantunya, atau Nita tidak tahu siapa dia, pokoknya Nita tidak boleh begitu padanya!
Sayup-sayup suara merintih membuat Sergey mencari asal suara, dia mulai berjalan hingga cukup jauh. Tangis kekesalan itu semakin jelas hingga Sergey mempercepat langkah dan memasuki lorong di area bunga melati. Matanya bergetar melihat sosok putrinya yang begitu rapuh duduk meringkuk di bawah pohon melati.
Sergey berjongkok mendengar rengekan sang putri yang belum menyadari keberadaannya. "Non?"
Vira mendongak dengan mata merah dan pipi yang basah. "Pak .... "
Sergey melirik ke ponsel yang dipegangi Vira, pada sebuah kolom chat. Dia pikir itu biang keladinya. "Non, kenapa?" Tanya Sergey lagi dengan nada bijaksana.
"Tunangan saya selingkuh, Pak Ergi," sungut Vira masih memeluk lutut. "Padahal, kami akan menikah, tetapi dia punya perempuan lain!"
DEG. Hati Sergey berdenyut. "Lalu?"
"Saya minta putus, dia tidak mau! Dia berjanji takkan mengulangi lagi, tapi saya sakit," suara Vera tercekik menyayat hati Sergey.
"Non, menurut Bapak dengan apa yang kamu lakukan itu sudah tepat. Kamu bisa mencari yang lebih baik. Bayangkan dia belum menikah saja bisa selingkuh, apa jadinya kalau sudah menikah?"
Vira menyusut, dagu bertopang di lutut dengan tatapan sayu. Gadis itu teringat saat dia TK dan mengambek dengan papa dengan bersembunyi di bawah pohon melati, lalu mendiang papah berjongkok seperti itu. "Vira mencintai senior saya, Pak Ergi."
"Senior?"
"Dia senior saya di universitas Hong Kong. Keluarga dia sangat baik dan mendukung hubungan kami-"
"Vira, kalau kamu mau mendengarkan kata Bapak, di dunia ini .... banyak lelaki baik hati yang bersembunyi, juga kebingungan mencari jodoh. Kamu jangan takut, hatimu nanti akan luluh dengan salah satu dari mereka-" Sergey tak meneruskan kalimat yang tak cocok diucapkan olehnya. Dia sendiri masih belum bisa beralih dari Nita.
Sergey jadi berpikir apa ini karma untuknya karena semena-mena pada Lana, lalu anak perempuannya jadi disakiti begini. Akan tetapi dia pikir sudah menjanjikan soal nafkah besar, asuransi pendidikan untuk Stevan. Jadi, dia tidak jahat kan?
Sergey jadi ingat Lana yang menolak saat dia akan mendaftarkan sekolah kedokteran untuk Lana sebelum dia menyebut perceraian. Kenapa Lana tidak membuatnya mudah dan menyetujui perceraian ini?
"Ayo kita beri makan ikan, lupakan kesedihanmu. Lelaki itu tak pantas menerima ini." Sergey berusaha berdiri dengan susah payah di usianya begini dengan terus diamati Vira. Gadis itupun berdiri dan menerima uluran tangan Sergey.
__ADS_1
Entah, Vira sadar atau tidak. Sergey masih menggenggam tangan putrinya menuju tengah kebun mawar, ke air mancur yang ada kursinya. Langkahnya semakin melambat karena dia tidak ingin cepat-cepat melepaskan tangan putrinya.
"Pak Ergi, aku jadi kangen papa. Papa selalu mengganggamku seperti ini kalau kami sedang bersama. Sepertinya aku yang tidak mau terlepas dari tangan papa?" Vira menatap ke depan , seakan dia merasakan moment bersama papahnya, hatinya bergetar oleh kerinduan.
"Bapak juga sering seperti ini dengan putri bapak. Dia cengeng ya ampun! Tetapi Bapak senang tiap kali memberikan pelukan untuknya, karena dia akan diam kemudian ... Dan tertidur." Sergey menoleh karena tangan Vira tersentak dan jantungnya berdebar karena tatapan Vira, apa jangan-jangan Vira akan tahu. Kenapa dia jadi keceplosan seperti ini.
"Vira juga seperti itu .... " Vira tertawa dengan air mata berlinang. "Papa Sergey juga seperti itu!" Vira mengelap ingus dengan punggung tangan.
"Vira!" Sergey berlari mengejar Vira yang berlari ke arah rumah dan langkah Sergey terhenti saat Vira memanggil Rama yang menggendong bayi. Vira menghambur ke Rama hingga Rama bingung dan menatap ke arah sopirnya.
"Kenapa, Pak Ergi?" Rama bertanya pada sang sopir yang baru berhenti di depannya dengan ngos-ngosan. Dia ingin tahu apa yang membuat sang adik menangis.
"Pak Ergi, gendong Bunga, aku mau bicara sama Kakak," rengek Vira dengan tidak mau melepas pelukan dari perut Rama.
"Baik, Non." Sergey mengambil alih cucunya. Bunga- cucunya yang cantik mirip Nita dengan mata emas digendong ke arah taman.
...****************...
Sudah tiga hari Sergey jatuh sakit hingga dia harus rehat total. Nita mengundang sopir cadangan untuk mengantar Musa ke sekolah. Orang silih berganti menjenguk Sergey. Intan, Nita, Vira, tetapi ....
Pandangan Sergey meredup, Lana tak menjenguknya padahal dia mau melihat wanita itu yang sudah tiga hari tak dilihatnya langsung.
"Keterlaluan sekali, saya kan kangen pada Stevan." Sergey menyerong kiri, memandangi makanan mahal yang diberikan oleh Intania di meja dekat kasur.
"Belakangan ini sikap Intan aneh sering memberikan makanan, padahal dulu hobinya marah-marah."
Sergey beranjak dari tempat tidur dengan badan lemas. Dia pergi ke di paviliun dan mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban. Angin musim kemarau terasa dingin dan cukup kencang, menerpa dia yang kini duduk di kursi. Hp atau jam tangan lupa di bawa, Sergey mengelap keringat dingin di wajah dan menunggu Lana.
Tak ada suara bayi, kemungkinan Lana di rumah utama. Padahal saat di kamar dia tidak memiliki tenaga untuk buka cctv. Anehnya dia sampai kemari yang jaraknya 50 meteran.
Suara tangisan Stevan membuat Sergey terjaga dari tidur. Dia melihat dua meter didepannya ada Lana yang berdiri mematung dan akan berbalik menghindari. Lelaki itu bangkit dan mencekal lengan Lana.
"Kemarikan! Oh Stevan Sayangy kenapamenangis sampai begini?" Satu tangan Sergey menyela di antara ketiak Stevan dan yang lain masih menahan tangan Lana. "Kenapa juga kau tidak menenggokku, Lan?"
Lana menunduk, tidak mau menatap Ergi. "Stevan mungkin tahu bila papahnya sedang sakit, jadi selama beberapa hari terus rewel."
"Lalu kenapa kamu tak membawanya padaku?" Sergey menepuk-nepuk punggung sang putra dengan penuh cinta. Tangan kekar itu menangkup kepala mungil. Jantungnya berdebar dengan pandangan terasa bergoyang.
"Untuk apa aku membawa dia ke seorang papa yang mau meninggalkannya?" Lana terpaksa menatap mata biru Ergi yang sedikit memutih tak sehat.
Tangan kekar itu memeluk Lana, dan wanita itu sempat menolak, tetapi lalu tersadar saat Lana hampir limbung karena menahan tubuh Ergi yang sempoyongan.
"Mas-" Wajah Lana berubah panik. Memeluk pinggang Ergi, lalu menuntun ke kamar yang tidak dikunci. Bayi yang masih sesenggukan diletakkan di tengah kasur saat Ergi duduk di pinggir ranjang. "Berbaring, Mas."
Sebenarnya, Lana tidak tega, tetapi dirinya enggan menjatuhkan harga diri lagi. Segelas air hangat diberikan pada Ergi, dan lelaki itu hanya minum setengah, lalu berbaring di pinggir tempat tidur dengan mata terlihat tidak fokus.
"Perutku mual, Lan."
Lana duduk di ujung tempat tidur. Dia benci keluhan itu, karena jadi khawatir dan ingin membantu Ergi. Sebuah minyak kayu putih milik Stevan ditarik dan diamati lama. Ingin dia membalurkan ke perut Ergi yang dirindukannya, tetapi ... . Tidak, Tidak boleh!
Lagipula, Lana tahu dari Nita, bahwa Ergi rutin minum obatnya karena obat yang diberikan dokter selalu berkurang. Duduk sedikit menengah, Lana ikut pusing melihat kondisi Ergi. Ingin dia bilang 'ayo kerumah sakit'.
"Kenapa kamu tidak menengok saya?"
Suara lirih pria yang terpejam membuat hati Lana bimbang, tadi kan sudah dijawab. Dari kemarin-kemarin dia terus berusaha mengurangi percakapan dengan Ergi.
Tangisan Stevan mengharuskan Lana duduk di sisi tempat tidur lain, memunggungi Ergi dan menyusuuui Stevan. Bayi itu akhirnya mau minum, setelah dari tadi mengamuk menolak asi. Kehangatan merayap dari tangan kekar ke paha membuat Lana terkejut, karena berikutnya kepala Ergi menempel di pinggang kanan belakang.
Diam membeku, Lana justru makin diliputi amarah yang coba-coba dipendam. Bilangnya minta cerai tetapi kenapa masih dekat-dekat dengan manja.
Lana menoleh kanan, terlihat Ergi terpejam dan dipenuhi bulir keringat terutama di kening, dibawah mata dan diatas bibir. Wajah itu pucat sekali, kulitnya memutih layu dan sangat panas.
"Mas, mau ke rumah sakit?" Pertanyaan dengan nada ke khawatiran mencelos keluar dari bibir Lana yang gemetar. Mata Ergi terbuka, lalu pria itu menggelengkan kepala.
"Kenapa tidak menengok saya ya?" suara pria itu terdengar seperti keluhan anak kecil yang menyayat hati Lana.
"Aku membenci Mas, apa ini kurang jelas?"
"Tidakkah kamu merasa kasihan denganku?" Sergey dengan kuat meremas paha wanita itu. "Lana, kita berpisah baik-baik lalu menjadi teman-"
Teman? Setelah bercerai? Apa itu masuk akal? Itu hanya terus menyakitiku! Batin Lana dengan memelintir bibir.
"Jangan berpisah. Aku tidak peduli jika Nita selalu ada di hati Mas dan aku nggak masalah asal Mas selalu di dekat kami." Lana memandangi wajah putranya yang mulai tertidur.
"Karena itu Mas membuat keputusan ini. Jelas. Mas tidak mau terlalu jauh dan bermain dengan hatimu." Sergey merinding. Buka karena sakit fisik, tetapi karena apa yang dikatakan membuat tatapan Lana semakin terluka.
"Tetapi, Mas justru menyakiti aku dan Stevan, dengan meninggalkan kami. Aku ingin menjadi istri Mas, apa itu tidak bisa Mas pahami? Aku bisa menjaga jarak ... tidak dekat-dekat atau tidak perlu kita saling bicara, asal aku bisa melihat Mas. Maxudku, aku bisa melihat Mas yang baik-baik saja. Aku ingin memastikan," Lana dengan suara mulai berubah serak, menahan kekecewaan hatinya.
"Ma'af." Sergey menahan embun bening yang menggenang dan membuat penglihatan kabur, tetapi air matanya mengalir begitu saja. "Mas tidak bisa membagikan perasaan Mas yang hanya ada untuk dia, Dek."
Sakit tak terkira, hati terasa tercabik-cabik. "Mas tidak perlu membaginya denganku, tidak perlu," suara Lana seperti tercekik menjadi munafik. Air matanya jatuh di pipi Stevan.
"Masalahnya bukan tentang kamu. Tapi saya." Sergey memeluk perut Lana semakin erat. Hiudng mengendus bau minyak telon bayi di belakang Lana. "Saya takut kamu diam-diam mengambilnya. Lalu Mas takkan terselamatkan ..."
Lana menunduk dan melihat suaminya yang tampak putus asa seolah terpenjara di tempat gelap. "Mengambil apa?" suaranya hampir tak keluar.
"Perasan Mas berubah, mulai berubah. Mas kebingungan."
"Mas?"
"Mas mulai menyayangimu. Mas takut itu menjadi dalam, lebih dalam. Mas mau menjaga hati untuk Nita, Lana."
"Mas, apa Mas sudah terobsesi dengan Nita?"
"Diam-" Sergey berusaha bangkit di tengah lemas dengan amarah terpendam. "Kau tidak berhak menilai perasaanku padanya yang suci!"
"Itu bukan cinta, Mas. Tapi Obsesi!" teriak Lana sebelum Ergi menghilang dari pintu meninggalkannya dalam nestapa perasaannya. Kalaulah Ergi benar mula menyayanginya lalu apa yang salah dengan itu? Kenapa itu seolah masalah besar dan terlarang untuk Ergi?
__ADS_1