
Sergey mengulurkan ponsel ke Nita. "Kalau kau coba-coba kabur dariku? Lihat sendiri, kau takkan bertemu dengan Musa."
Nita mengangguk mengerti dan keluar untuk meminta tolong Lana, agar membawa Musa dan Mba Jum kemari. Entah, otaknya tak dapat berpikir dan satu-satunya yang dia percayai adalah Lana. Sebuah masukan dari sahabatnya, mungkin membantu.Nita kembali ke kamar, dan mendapati Sergey masih sibuk mengobrak-ngabrik empat tumpukan map di lantai.
Sebuah map tua yang lusuh, diletakkan Sergey di tumpukan map lain yang bagus, lalu kembali diraihnya karena tampak aneh dan beda sendiri. Map itu dibuka, tampak sebuah tas di dalamnya.
Nita menghampiri Sergey. Dia duduk berlutut di samping Sergey. “SURAT PERJANJIAN ADOPSI ANAK?” Nita membaca nama Devano Wijaya dan Carla Atalia di kertas yang dipegang Sergey. “Papa dan Mama mengadopsi Kak Nathan. Aku bahkan baru tahu ini.”
“Pantas …. “ Serge lalu terdiam dan jadi teringat saat Devano sering pergi ke sebuah rumah selama bertahun-tahun. Apa itu rumah untuk tumbuh kembang Nathan?
“Apa yang kaku pikirkan tentang kata 'Pantas' Mas? beritahu Nita. Jika itu benar, mengapa kami tidak tumbuh bersama.”
Sergey membaca tanggal surat, yang dibuat 30 tahun lalu. Saat itu dia belum mengenal ayah Nita. Ah, apa ini yang menjadi penyebab Devano menghilang. Sebenarnya, siapa Nathan?
Jadi, Kak Nathan anak angkat papa, lalu menerima perlakuan istimewa di management. Tak seperti talent lainnya, yang mulai semua dari enol. Tampak sekali papa itu selalu memberi fasilitas dan job yang banyak.
Nita ingat saat papa bertengkar dengan seorang produser terkenal yang menginginkan actor lain dari management NASA. Seperti biasa, papa bersikeras agar Nathan menjadi lakon utama atau kerjasama mereka akan batal.
“Mas, juga belum yakin.” Sergey berdiri dan mengulurkan tangan. “Berikan ponselku, Patrick akan memberimu ponsel yang baru. Telepon rumah ini akan diaktifkan lagi. Jangan kemana-mana.Aku pergi dulu.”
Sergey menatap deretan tumpukan map di lantai, lalu kembali menatap mata Nita, membuat jantungnya berdebar kembali. “Kamu jangan kembali ke rumahku. Ada Intania yang pasti tengah memarahi Rama. Musa akan dibawa kemari.”
"Tetapi aku sudah minta tolong Lana untuk menjemput Musa."
__ADS_1
Sergey dengan lemah mengangguk dan mencoba menatap kedalam netra emas lebih lama dalam diam. Hatinya sedikit menghangat setiap Nita mau menatapnya. “Sejujurnya aku lelah dan ingin tidur saja, tapi aku ingin ini cepat selesai. Kepalaku sangat sakit, apa kamu mau memijatku sedikit?"
Nita memelintir bibir. Ini terasa canggung. Dia menjadi tak nyaman kontak fisik dengan Sergey.
"Aku takkan memaksamu, jika kamu .... "
"Tunggu ... tapi memijat itu seperti itu, nggak sopan, biar Nita panggil security untuk memijat Mas-"
"Kamu sangat mengecewakan. Apa kamu pikir aku mau disentuh tangan security?" Sergey memijat tengkuknya sendiri yang begitu kaku.
"Nita ambil minyak telon, mas tunggu di dekat piano." Nita meloncati tumpukan dokumen dan berlalu pergi.
Dengan perasan takut, Nita meneteskan minyak telon beraroma sereh ke leher Sergey. Nita menyentuh tengkuk itu dengan jarinya, dalam posisi Nita berdiri di belakang sofa. Otot di leher belakang Sergey sangat kaku.
Lima belas menit berlalu, Sergey memutar leher yang lebih enakan. Dia tersenyum pada Nita yang masih berdiri. Sergey pun berdiri. "Terimakasih, Sayang.
Ingat, aku akan mulai mencari Devan setelah kita resmi menjadi suami-istri. Bye, Sayang."
Nita menghela napas panjang karena ini salah dan TERLARANG, baginya. Aku dan Musa, harus pergi meninggalkan Rama dan Sergey, apapun caranya. Apa aku harus menjual rumah ini ke Lana, tetapi papa gimana! apa aku harus mengorbankan masa depanku demi papa?
...----------------...
Di tempat lain, Rama cuma bisa menunduk ketika sang mama marah dengan wajah seperti banteng, yang siap menyeruduk.
__ADS_1
"Nelangsa Mamah, apa Mamah salah mendidikmu? Mabuk-mabukkan, balapan, ya ampun Rama! Kamu membuat kepala Mama seperti mau meledak!"
"Mah .... " Rama menunduk lagi. Dia tak bisa mengatakan knyataan bahwa hubungan papa dan Nita hanya settingan.
"Jangan bilang perempuan yang kamu taksir itu adalah Nita!" Mata Intania melebar, seolah-olah akan keluar dari tempatnya.
Jantung Rama berdebar dan dia mengangguk pasrah. Berbohong pada mamah juga percuma. Detik berikutnya, lengannya mendapat timpukan bantal sofa, hingga Rama hanya diam tak melawan.
"Permisi, Nyonya Intan. Ada tamu, temannya Nyonya Nita. Katanya akan menjemput Den Musa dan Babby Sister, untuk dibawa ke rumah Nyonya Nita."
"Wah, kebetulan. Ya, cepat sana bawa keluar Musa dan jangan sampai dua manusia itu menginjakan kaki ke rumah ini lagi." Intania dengan nada tidak ramah, pelayan itu ijin untuk pergi.
"Tidak, Mah. Musa tidak boleh pergi." Rama berdiri dan berlari ke kamar Musa dengan raut wajah penuh ketakutan. Dia tak mau jauh-jauh dari Musa karena rasa sayangnya.
"Rama! Biar mereka pergi. Cepat kembali sini!" Intania dengan perasaan dongkol, kecewa pada putranya kenapa masih sok peduli pada Musa.
Di ruang tamu, Intania melipat tangan didepan dada dan mengamati si wanita paruh baya yang langsung berdiri dan memberi hormat.
"Tante .... " Lana akan berjalan mendekat, tetapi wanita yang mirip Rama itu datang menjumpai.
⚓
Nita mondar-mandir karena ingin mencari tahu soal Nathan.. Dia tidak punya nomor Nathan apalagi Pedro. Nita menyesal kenapa tidak menghafalkan nomor paman.
__ADS_1
...----------------...