Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 71 : POT BUNGA MAWAR


__ADS_3

Siang itu, Nita tengah merapikan buku-buku di perpustakaan. Pandangannya meniti deretan buku Filsafat. Hampir satu rak yang mungkin berisi ribuan buku, semuanya soal Filsafat. Sedangkan di rak sebelahnya, puisi.


Nita menyeka keringat, mengamati deretan rak per rak hingga tiba di sudut ruangan. Dia membawa satu buku dan duduk di karpet abu-abu yang lembut. Perlahan dia membaca buku filsafat sampai tak terasa sudah di halaman 25.


Matanya begitu berat, Nita menarik pita merah penanda halaman dan bersandar pada rak buku. Dia tersenyum, rasa mengantuk kian parah. Punggung pegal itu bersandar tepat di tempat, dia dulu duduk dengan Rama.


Sergey muncul di balik rak, setelah melihat cctv yang full diatur dan dipantau olehnya. Sehingga dia takkan terlihat saat dia melewati tiap ruangan. Kini dia duduk di ujung rak, dan sedikit menoleh pada deru napas teratur wanita itu.


"Atha, Mas kangen," ucap Sergey hampir tak ada suara yang keluar. "Apa kau ingat, dulu saat kecil kau bermain dengan Rama di perpustakaan tua ini? Sepertinya aku memiliki foto itu di gudang, biar aku akan mencarinya lain waktu."


Sergey bergeser dan menatap wajah itu lekat-lekat. Raut lelah, terpancar dari wajah pucat itu. Sepertinya, Nita banyak pikiran dan terlihat selalu menyibukkan diri di rumah, hanya saja tak pernah masuk ke lantai dua, di area kamarnya.


"Kebun ku jadi penuh bunga mawar lagi dan terurus, terimakasih, Tha." Sergey mulai memandangi bibir Nita dan menelan saliva berkali-kali.


Tidak Sergey! Kau tidak ada bedanya dengan mesuum Antonio kalau sampai menyentuh menantumu. Bahkan kau akan lebih buruk dibandingkan hewan, pikir Sergey sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


Hanya mencium sebentar tak masalah, kan semua orang mengira kamu sudah mati, dan kamu telah dinyatakan mati, pikirnya lagi semakin berkecamuk.


Sergey kembali duduk menjauh, ke tempat semula dan memandang buku di rak paling atas. Dia berdiri dan menarik itu. Buku kelas tiga SD, yang pernah dikembalikan Devan karena dipinjam Atha, katanya ini buku milik Rama, tetapi dia tak pernah membeli buku dari penerbit ini. Apa ini benar buku milik Rama atau sekadar hadiah dari seorang teman?


Sergey kembali duduk dan meremas buku dalam genggaman. Keinginannya menggebu hebat, dia panas dingin karena ingin. Sergey mengetukkan ujung kakinya yang berkaos kaki ke karpet, menimbang. Apakah dia harus menikahi seseorang untuk mengalihkan energi terpendamnya. Cintanya pada Atha adalah tulus, berpikir mencium bibir saja, seperti dia telah mengotori perasaannya.


Tangan kiri Sergey terkepal. Dia mendekat ke Nita , terpejam dan mengayunkan tangan di depan wajah Nita. "Atha .... " Bibirnya memanggil Nita tanpa suara. Lutut Nita yang tertekuk ke dada, terayun satu ke bawah dan menimpa tangan kiri Sergey yang memegang buku.


Nafas Sergey terhenti dan berkedip pelan, tubuhnya menegang begitu buku yang dibaca Nita terlepas dari pelukan tangan mungil itu hingga membuat kepala Nita terayun ke depan dan Nita langsung tersentak mengangkat dagu dan menarik kaki, saat itulah Sergey refleks menjauh dengan jantung berdebar dan bersembunyi di ujung rak.


Apa dia begitu lelah? (Sergey)


Cahaya LED merah menyala. Sergey menekan jam tangan canggihnya yang menampilkan cctv gerbang. Rama pulang. Sergey maju lagi dan akan mencium bibir Nita, tetapi diurungkan. Dia membawa buku kelas 3 SD dan kembali ke gedung sebelah.


Kenapa dia berkeliaran sebebas ini? Pelayan kebersihan datang tiga kali seminggu untuk membersihkan rumah ini. Sepertinya, anak dan menantunya hidup hemat. Entah, dia tahu padahal Rama memiliki tabungan, tetapi sepertinya, anaknya sangat hati-hati dalam masalah keuangan. Bahkan Musa telah didaftarkan asuransi pendidikan dari SD sampai untuk kuliah.

__ADS_1


Rama masuk ke dalam rumah sambil menggendong Musa yang baru tidur siang. Dia memasukan Musa ke pra sekolah. Baju Rama sedikit kotor karena ulah Musa yang mencipratkan cat kuning hingga mengenai wajah dan baju Rama.


Dibaringkan Musa, di box bayi besar, lalu dia mencari Nita ke seluruh rumah. Ponsel Nita di kamar. "Dia tak pergi, kan?"


Rama menekan lift angka dua dan menuju kamar lamanya. Dia menghirup udara sedikit pengap, lalu membuka jendela dan balkon kamarnya. Rama keluar lagi dan dengan ragu membuka kamar papah dan Nita dulu. Entah, apa yang mereka bicarakan di kamar ini. Kamar papa tak sepengap kamarnya.


Laci demi laci dibuka Rama, kamar ini tak berdebu, meski sudah beberapa lama tak dimasuki. Bau parfum papa, mungkin sisa-sisa juga tertinggal. Dia melirik ke arah meja rias dan melihat parfum papa yang masih setengah. Sebenarnya, ingin sekali memakai parfum papa, tetapi dia tak mau terus dihantui rasa bersalah.


Jendela kamar itu dibuka berikut tirainya. Sebuah kelopak mawar segar diraih Rama di bawah tirai. Dia mencium bau manis setelah kelopak berwarna merah itu diperasnya, dia kira sebelumnya ini bunga plastik, nyatanya ini bunga segar dan otaknya tiba-tiba ngeblank.


Perlahan kakinya bergeser, dan memutar kunci pintu balkon, tetapi tak terkunci. Rama menggeser pintu itu dan matanya terpaku pada sekuntum mawar merah yang pinggirannya coklat kehitaman dan mulai menyusut layu, dengan beberapa kelopak mungkin terbang terbawa angin.


Jantung berdebar, menoleh ke ujung balkon, ada satu pot berisi pohon mawar subur. Dia tersenyum dan duduk di depan pohon mawar, yang terdapat semacam kran mini, yang terdapat layar led bertuliskan tanggal. "Papa peninggalanmu ini awet sekali. Ini sistem menyiram otomatis? Tetapi dimana remotenya? Apa aku boleh membawa mawar ini ke bawah?"


Rama memegangi layar itu dan menekan logo off, lalu mengangkat pot pohon mawar dan memindahkan ke sudut meja dapur, yang tiap pagi ada cahaya matahari masuk ke dalam ruangan. Lokasinya di dekat mesin kopi.

__ADS_1


"Atha pasti senang." Rama tersenyum semeringah, tetapi jangan sampai Nita mengetahui bahwa itu diambil dari kamar papanya. Pasti, Nita akan takut. "Eh, dia dimana, sih? Ah, Taulah, aku mau mandi dulu."


__ADS_2