
Mimpi indah membuat Nita terbangun dengan perasaan segar. Buku Filsafat dibawanya ke kamar. Nita menengok ponselnya dan menerima pesan masuk dari Lana yang bilang akan kemari.
"Akhirnya, ketemu Lana lagi." Nita menggulir layar ponsel dan melirik ke sudut meja, ada ponsel Rama. Dia pun keluar dari kamar dan menengok kamar Musa dan Musa tidur. Dia keluar mencari Rama ke dapur, tetapi tidak ada.
Sebuah pot bunga membuatnya terperanjat. Itu pot adalah sebuah kado ulangtahun dari Mas Sergey. Nita melihat pohon mawar yang dulu di stek, kini sudah besar dan berbunga lebat.
"Kok bisa, seperti dirawat aja." Mata Nita meredup teringat akan darimana letak pot ini. Kamar Mas Sergey.
"Sayang, kamu rupanya di sini aku cariin kemana-mana, loh." Rama memutar tubuh sang isteri dan menggelitik perut Nita.
"Ich geli tahu, lepas!" sungut Nita sambil berusaha mundur dan dia mentog kena meja marmer. "Mas, dari mana, aku juga nyariin."
"Itu, mas pikir mau ngerubah bentuk taman jadi bentuk love, di tengah love itu ada air mancur. Kita buat jalan kecil yang dibuat melintang di tengah love, jalan setapak bentuk panah. Jadinya gambar hati dipanah."
"Seru juga, Mas, kapan kita mulai?"
"Sekarang aja, mumpung kita ngganggur." Rama menarik Nita keluar ke halaman.
"Air mancurnya dikasi pagar, Mas, biar Musa nggak nyemplung."
"Iya dong. " Rama mengira-ngira ukuran besarnya sambil meminta pendapat Nita.
Sergey dari rumah sebelah tersenyum semeringah. "Lihat mereka bahagia."
Pedro melongok ke tablet milik Sergey yang sudah dipegang. "Minggu depan kau harus menjalani prosedur operasi plastik, nanti orangku jemput kamu."
"Iya-iya."
"Identitas barumu pun baru jadi tiga bulan, kamu jangan macam-macam."
"Aku ingin menggunakan Patrik lagi, dia sangat berkompeten."
"Sebaiknya jangan-"
"Aku takkan buka rahasiaku ke Patrick. Aku juga mau kehidupan baru."
"Pokoknya jangan sampai kau menghubungi Patrick lagi. Ngomong-ngomong kamu sudah pikirkan mau bekerja atau usaha apa?" tanya Pedro sambil membuka laci yang terletak di bawah meja, dia menarik buku dan bolpoin.
"Jual sembakau saja, menurutmu gimana?"
"Memang bisa?"
"Mudah. Aku sewa pegawai satu."
"Boleh juga. Sudah saatnya kamu merakyat." Pedro melirik Sergey dengan heran. "Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?"
"Menantuku cantik." Sergey memandangi tablet sambil mengelus bibir sendiri melihat tengkuk Nita dari cctv luar ruangan yang di zoom.
__ADS_1
"Iya cantik. Aku mengingatkanmu kalau dia sudah jadi menantumu." Pedro dengan suara rendah.
"Enggak, aku masih waras. Tapi aku jadi mau cari darah muda."
"Ingat umur ... kamu ini sudah kepala lima." Pedro dengan sarkasme dan geleng-geleng kepala karena geli.
"Tapi kau tahu sendiri di usia-usia kita ini, butuh pelampiasan." Sergey tertawa dengan suara berat.
"Terserah kamulah." Pedro membalik halaman halaman buku , lalu mendorong buku itu ke samping tablet Sergey.
"Aku dapat bukti baru. Ini sketsa seseorang, yang sering mondar-mandir di sekitar lokasi Devan kecelakaan. Aku dengar dari tukang rumput yang tiap pagi dan sore selalu lewat lokasi katanya ada satu orang yang sampai hari ke tujuh selalu lewat situ dan selalu tidak bersamaan dengan polisi, gelagatnya juga mencurigakan. Tukang rumput itu hafal wajah orang itu, karena memang pakainnya yang bukan tampak dari kalangan bawah. Jadi, anak buatku sudah buat sketsa berdasarkan penuturan tukang rumput itu. "
Sergey menyipitkan mata lantas tercengang saat meneliti sketsa di depannya. Kekhawatiran muncul di wajah Sergey. "Enggak mungkin."
"Kenapa, apanya yang tidak mungkin.?"
"Ini mirip asistennya adik bungsu Jefri." Sergey mencoba menduga-duga. Adik bungsu Jefri juga bergelut di dunia bawah. Apa mungkin seseorang meminta bantuan adiknya Jefri itu untuk mencelakai Devan.
"Ah! Aku malas berurusan dengan segala hal tentang Jefr." Pedro meremas rambut putihnya.
"Kita cari tahu, mungkin Jefri tidak tahu kalau adiknya ada hubungannya dengan dalang di balik kecelakaan yang dialami Devan." Sergey memotret sketsa di depannya m "Biar aku minta bantuan seseorang."
"Jangan berhubungan deng Patrick lagi."
"Tidak.."
Lana bermain ke tempat Nita ketika menjelang petang. Dia baru saja makan masakan Hongkong ala Chef Rama sampai dia habis dua piring nasi Hainan.
"Rama, masakanmu ini top markotop, ya! Daging angsanya bisa crispy di luar, lembut di dalam. Kamu nggak bikin YouTube saja. Gue tebak itu bakalan rame ya?"
"Sibuk Lan, Musa lagi lincah-lincahnya, apa saja dipegang, kami takut kecolongan lalu Musa terluka," ujar Rama saat Musa masih makan buah naga belepotan ke mana-mana mengotori seluruh kursi khusus balita.
"Iya, Musa lagi nakal-nakalnya. Suka naik-naik lemari pula. Lagipula kami menunggu jadwal syuting mulai," kata Nita sambil tersenyum tipis.
"Oh, gitu. Sayang loh, bisa ngasilin duit. Penggemar Rama kan banyak." Lana meringis membuat Rama dan Nita saling pandang.
"Lana, kamu tidur sini saja ya?" pinta Nita denga tatapan memohon.
"Memang boleh?" tanya Lana. Seolah-olah pucuk dicinta ulampun tiba, dia yang lagi bete dengan tantenya, jadi kegirangan karena tak harus pulang ke rumah dan mendengar ocehan sang Tante.
"Boleh dong, dulu kan kami sering tinggal di tempat mu. Sekarang gantian, ya? Buat dirimu nyaman seperti di rumah sendiri. Kalau bisa tinggal di sini sekalian." Rama tertawa renyah.
Nita mengernyitkan kening. "Dia mau nikah, Mas. Masa tinggal sini?"
"Iya siapa tahu aja mau ngontrak sama suaminya di sini. Ini rumah terlalu besar. Musa juga masih kecil, kasian kesepian."
"Aku boleh mendaftar jadi baby sitter Musa?" celetuk Lana denga mata membulat penuh harap.
__ADS_1
Nita mengernyitkan kening. "Lana, kenapa .... kamu sedang bercanda?"
"Ceritanya, panjang Ram, Nit." Lana menekuk bibir dan menceritakan penipuan yang dilakukan calon suaminya. Semua sertifikat rumah dan ruko, satu mobil dan satu tanah, tanpa sepengetahuannya, sudah dibalik atas namakan si pacar. Pacarnya lantas menjual asetnya, dan kabur. Dia diusir oleh orang yang mengaku telah membayar mahal semua asetnya. Hal itu membuat Rama dan Nita iba.
"Jadi, sebulan ini kamu tinggal di mana?" tanya Nita sembari bangkit dari kursi.
"Aku di tempat Tante, tapi Tante sudah mulai suka nyindir aku sampai kupingku panas."
"Sudah, nggak usah khawatir. Sekarang, kamu tinggal di sini, tanpa perlu menjadi baby sister. Makan juga jangan sungkan. Kita adalah keluargamu sekarang." Rama tersenyum hangat pada Lana di depannya. "Kami juga dulu banyak merepotkanmu, kini kami ingin membantumu balik."
"Terimakasih Nita, Rama, kalian baik banged! Nggak tahu lagi deh, kalau nggak ada kalian aku mau kemana, ya ampun. Aku sambil cari kerja, kalau gitu, karena ijazahku semua dibakar sama dia. Aku harus urus semua itu dulu." Lana memegangi tangan Nita yang kini berpindah duduk di sebelahnya.
"Semangat! Kita akan sukses bersama, Lana!" Nita memeluk Lana erat. Kasian dengan kesusahan yang dialami sahabatnya.
Bulan berlalu susana rumah itu semakin hidup berkat kedatangan Lana. Lana yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh Rama dan Nita dan Musa pun sangat lengket dengan Lana.
Pagi itu suasana heboh saat Nita keluar dari kamar mandi dengan wajah berseri-seri dan membawa stick dengan dua garis merah. Dia memeluk Lana sambil jingkrak-jingkrak, membuat Lana makin kebingungan.
"Aku hamil, aku hamil lagi! Lana!! Lana! Dokter Lana aku hamil lagi!" Nita histeris menunjukkan strip dua garis merah pada Lana, dan Lana ikut memekik kegirangan dan ikut jingkrak-jingkrak.
Rama yang mendengar itu langsung berlari, dan bertanya apa yang didengarnya benar. Begitu dia memegangi test pack itu, Rama langsung memeluk dan menggendong istrinya di depan sambil memutarnya, membuat Nita teriak takut jatuh dan Rama tertawa bahagia.
Lana tersenyum semeringah atas kebahagiaan Nita. Dia ingat dulu, saat Nita hamil pertama. sangat terpukul, tetapi sekarang lihatlah. Tuhan memang sangat baik, dia yakin Tuhan pun akan memberi jodoh yang baik untuknya.
Bulan berlalu damai.
Rumah Sergey ramai dan tampak para tamu pulang setelah acara tujuh bulanan Nita. Devan bersyukur karena Jefri mau memberi keringanan akan jadwal syuting Rama yang tidak terlalu padat hingga Rama masih bisa memperhatikan Nita yang hamil besar anak kembar.
Tiba-tiba berita di TV mengalihkan perhatian seisi rumah. Karena berita tertangkapnya si pelaku percobaan pembunuhan kepada Devan, yang ternyata dilakukan oleh lawan bisnis Devan.
Devan mengira bila kasus itu telah ditutup, ternyata mereka masih berbaik hati menyelesaikan kasus itu. Berita tertangkapnya lawan bisnis Devan, membuat harga saham perusahaan media milik lawan bisnis Devan itu terus mengalami penurunan harga saham dan berimbas pada para pemegang saham yang beramai-ramai menjual saham mereka.
Suatu sore, Devan duduk termangu di depan depan air mancur, di tengah taman mawar. Dia mendapati sang putri yang berjalan kesulitan karena hamil besar itu. Tangan mungil putrinya membawakan nampan yang berisi pisang goreng dan secangkir air putih panas.
"Pah, selamat sore .... " Nita duduk di samping Papah Devan setelah menaruh nampan di atas meja. "Papah sedih yah, karena perusahan media itu diakusisi orang asing? Seandainya, Nita punya uang banyak, ingin Nita beli itu. Maaf Pah, sekarang Nita juga harus mikirin masa depan Musa dan calon adek kembarnya
Lagipula Nita tak punya uang sebanyak itu untuk mengakuisisi perusahaan yang didirikan kakek."
Devan mengelus bahu Nita. "Bohong kalau Papa tak menginginkan perusahaan media itu. Namun, yang terpenting sekarang, keluarga kita sudah utuh. Orang yang mencelakai Papa sudah tertangkap. Sudah itu saja cukup. Lagipula Papa sudah tua. Tak mungkin juga terlalu sibuk mengurus bisnis lagi. Lebih baik Papa main sama cucu-cucu Papa. Pasti mendiang mamamu juga menginginkan seperti ini. Benar, tidak?"
"Makasih Papah. Aku mencintaimu Papah selamanya." Nita bersandar di bahu Devan.
"Papa juga." Devan mengusap bahu Nita. Mereka memandangi air mancur dengan senyuman semeringah.
...----------------...
Lana yang menaruh peralatan tujuh bulanan Nita di gudang bawah, tak sengaja melihat lorong gara-gara sebuah kayu jatuh. Dia masuk ke ruang gelap itu dengan rasa penasaran.Dia tak mengerti mengapa dia berada di sebuah ruangan rumah yang bersih. Apa ini masih rumah Rama.
__ADS_1
Mata Lana membulat, melihat seorang pria dengan tangan berotot yang terdapat tato sepasang sayap di pergelangan tangan. Dia mundur karena orang itu bertelanjang dada dan bergidik karena tato di puggung orang itu yang bergambar wajah Nita.