
"Mas Sergey .... "
Mendengar suara lirih, Sergey berbalik dan melihat Intania duduk dipinggir kasur dengan mata masih mengantuk.
"Aku bukan Sergey, tapi Ergi," gumam Sergey, membeku karena Intania berdiri dengan mata setengah tertutup, lalu memegangi dan memeluk lengannya. Sergey seolah terbius dan menuruti Intania.
"Kamu mau kemana, Mas. Saya merindukan, Mas."
Sergey masih terbius dari mulai Intan menariknya ke tempat tidur, sampai Intania kini terpejam dengan memeluk lengan kanannya.
"Aku kangen baumu ini, Mas."
Sergey tidak bisa berkutik, saat merasakan tertimpa kaki Intania di pahanya. Bisa gawat kalau Intan bangun lalu marah-marah ke wajah Ergi ini. Namun, ada yang aneh. Dia merasa risih dan tidak nyaman dengan belaiaan Intan di dada. Beda dengan dulu yang langsung memiliki keinginan. Sekarang dia justru bergidik.
Setelah menunggu Intania kembali terlelap, Sergey menjauhkan tangan Intan darinya. Dia melangkah selangkah-demi selangkah dengan was-was, takut Intania bangun. Akhirnya, dia kembali ke paviliun saat Lana tidur.
Sergey melepas jam tangan, kaos dan celana training. Dia mengganti celana, dan hanya memakai celana tidur, lantas bebersih kaki muka. Dia tidur dengan begitu menjaga jarak dengan Lana. Lalu melirik dalam diam saat tubuh Lana kini menghadapnya. Baju tidur itu mencetak dada Lana yang tak memakai pakaian inti membuat Sergey menelan Saliva, lalu memunggungi Lana.
Mata Lana terbuka dan pandangannya meredup, melihat tatto wajah Nita di kulit punggung kekar itu. Dia jadi ingin pindah dan keluar dari rumah ini. Rasanya, kini tak nyaman bila melihat suaminya yang sopir-mengantar Nita. Kadang dia berpikir
... Apa spesialnya Nita, dulu bapak dan anak merebutkan Nita. Sekarang juga Ergi yang entah siapa dan datang darimana sebegitunya membela Nita, daripada dia yang adalah sekarang adalah seorang istri.
Lana berguling pelan hingga punggungnya kini menimpa punggung hangat itu. Kemudian Lana terpejam saat merasakan suaminya bergeser dan kini menahan punggungnya.
Tangan kekar itu menelusup ke balik daster, membuat Lana gemetar dan dingin oleh sentuhan yang seolah membawa muatan listrik dalam tegangan tinggi. Dia menggigit pipi bagian dalam sampai lidahnya merasakan rasa besi, mungkin darah. Tubuhnya menahan sensasi geli luar biasa hingga membuat napas turun naik.
Pandangan Lana kian redup, belaiaan diperutnya itu membentuk pola aneh. Dia merasakan endusan pria itu dirambut dan betapa keras kelelakian Ergi yang membuat dia berulangkaki menelan liur perlahan.
Seiring menit berlalu, Lana terus menunggu, dia pikir Ergi akan melanjutkan semacam gerilya panas. Semacam demam yang mengingatkan dia pada malam pertama yang merubah segala hidupnya dan pandangan terhadap sosok Ergi.
Elusan tangan Ergi berhenti saat Lana menangkup tangan Ergi dan perempuan itu sedikit kecewa karena saat itu kelelakian suaminya mulai mengecil.
Sergey mencoba terpejam, tetapi tidak bisa. Dia ingin menunggu calon bayi di dalam kandung Lana. Tak sabar ingin segera berjumpa sang bayi, juga tak sabar ingin berpisah dengan Lana. Lalu bagaimana nanti Lana setelah hidup sendiri, apa akan kembali ke penipu itu?
Sebesit rasa kasian muncul lagi dan membuat Sergey takut bila hal ini akan terus menjeratnya lalu membuat dia rentan pada Lana. Walau hanya sebatas rasa kasian, tetapi terlalu berbahaya bila ini dibiarkan bisa saja perasaan itu merajalela. Jangan sampai, jangan sampai ... dia termakan. Dia tak tahu niat hati Lana padanya, yang mungkin buruk. Lebih ngeri bila anaknya akan dimangfaatkan untuk meminta-minta hal aneh.
Ketika Sergey enak tidur, dia merasakan sesuatu di pipinya. Dia membuka mata dan mendapati Lana mengecup pipinya. Sergey menahan rasa bergidik. Kasian, mungkin bawaan bayi yang sedang ingin mencium pipinya. Sergey melingkari tangan di pinggang Lana dan menarik hingga perut hamil itu bersentuhan dengan perutnya sementara mata terus menatap mata redup Lana.
"Kau sudah bangun?" Sergey lebih waspada karena kecupan itu mendekat ke sudut bibirnya. Setelah dia menunggu lama, syukurlah Lana tidak sampai mengecup bibirnya.
"Mas .... Aku mau bumbu rujak seperti kemarin sebelum Mas nanti mengantar Musa."
"Iya nanti aku bikinkan." Sergey miring kiri dan mengucek sudut mata, sial ada kotoran mata, membuatnya malu. Lelaki itu kembali menoleh ke kanan untuk melihat Lana dan bibirnya bertabrakan dengan bibir Lana. Seolah ada listrik, pinggul itu refleks menekan ke Lana karena efek aneh pada sensasi yang seperti merayap di tubuh.
"Apa bayiku merindukan papanya?" Sergey mengecup bibir Lana. "Untuk bayiku." Tangan kekar reflek menahan tengkuk Lana saat wanita itu akan menjauh dan mengecup perlahan sekali lagi yang berakibat pada napas mereka turun naik tak beraturan dan saling bertabrakan memberi efek hangat di pipi mereka.
Lana terkejut, dia tak bisa menjauh karena tengkuk ditahan Sergey. Pandangan kian meredup setelah mendapat usapan lembut di tengkuk hingga dia melenguh dengan bibir masih menempel.
__ADS_1
Lana meneguk saliva merasakan kelelakian Ergi yang mulai keras di kaki. "Mas, tanganku lelah," bisik Lana dengan sering menyenggol bibir suaminya yang bernapas cepat.
"Mas, minta boleh?"
"Nggak boleh, nanti Mas telat." Lana refleks menjawab, dia masih kesal karena kemarin ditinggalkan.
"Loh, kalau suami minta lalu ditolak, itu dosa." Sergey dengan nada rendah seolah memberi pengertian.
"Kali ini biar dosa, udah jam setengah tujuh juga dan Mas harus bersiap-siap, nanti Musa telat."
Sergey mendengkus, giliran minta ditolak. Bukan main kecewa rasanya . Dia terlanjur seperti mabuk, bila tidak dikeluarkan maka akan menggangu fokus mengemudi. Bibir Lana ditekan dan rasa aneh pada sensasi kesetrum justru membuat jiwanya bersemangat. Dia tidak tahu bila tangan kiri telah meremaaas pantaat istri yang kini lebih besar karena kehamilan dibanding saat pertama melakukan hubungan suami istri.
Kecupan ringan,dan gigitan Sergey mulai berubah di tengah kegilaan dan kewarasan yang terus berkecamuk untuk tidak mencium Lana, tetapi dia terkejut karena mendapat balasan yang membuatnya semakin melupakan daratan.
Seolah menyalurkan semua emosi terpendam selama tiga bulan ini, Sergey begitu tak menduga pada reaksi Lana yang membuatnya makin dipenuhi peluh. Gaairah yang tak diharapkan seakan muncul dari persembunyian dan mendesak dengan tenaga penuh. Tak ada rasa jijik, melainkan dia menikmati suara rintihan dia dan Lana.
Setengah jam kemudian Lana begitu malu saat Ergi pertama kali menggendongnya ke kamar mandi dan menyabuni kulitnya. Sial, sekali begini, suaminya membuat hati ini meleleh tak ketulungan. Membuat semakin penasaran akan siapa Ergi ini.
Sejak dia dan Ergi mengalami pelepasan tadi , pandanan Ergi yang biasa dingin kini berubah begitu dalam. Apa ini sikap seorang pria, kalemnya sehabis berhubungan. Kalau begitu lain waktu tiap habis berhubungan sebaiknya dia minta sesuatu untuk mempererat hubungannya.
"Mas, aku ingin dinner." Lana meringis karena pijatan suami di kaki sedikit mengeras. "Ah, sakit."
"Dinner?" Pijatan Ergi lalu mengendur. Dia mengangkat kaki Lana dan mencium punggung kaki itu yang penuh busa rendaman dengan tatapan sensual karena masih menikmati enaknya olahraga pagi barusan. Mereka berendam di bathtub sudah lima belas menitan. "Lain kali saja, ya?"
"Tapi, inginnya nanti malam. Nggak musti harus sama Mas. Aku mau keluar sendiri." Lana dengan nada kecewa dan menjauhkan kaki dari bibir suaminya. Dia tidak tahu lagi dengan sikap suaminya yang selalu membuat dia seperti dicintai, tetap kadang ditolak mentah-mentah.
"Mas mau menjemput Rama, lalu baru pulang jam 9. Jam segitu mau kemana?" Sergey bangkit dan membilas di ruang bilas. Lana masih belum menjawab.
Ketika Sergey selesai mengeringkan rambut dan membentuk rambut dengan pomade, Lana keluar dengan lilitan handuk. Wanita yang tambah cantik itu berhenti di depannya dengan membawa jas. Sergey membuang napas kasar dan menuruti Lana saat Lana mau membantunya.
"Mas, hati-hati di jalan."
"Cukup, saya tahu. Lain kali tidak perlu pedulikan saya lagi untuk urusan begini, saya bisa sendiri." Sergey tidak nyaman karena nada ketus yang refleks ini. Dia tak mau Lana mengikuti apa yang dulu pernah Nita lakukan padanya, membantu berpakain. Mengingat itu membuat moodnya menjadi jelek, apalagi karena tampang Lana yang kecewa.
"Cepat, kamu siap-siap. Biar aku antar kamu ke rumah sakit sekalian." Sergey menjauh dari Lana untuk memakai sepatu. Sedangkan Lana terlihat memasukan jas dokter ke dalam tas. Dia tersenyum tak menyangka punya istri seorang dokter umum.
Sergey mengantar cucunya ke sekolah, lalu mengantar Lana dengan terus diam dan tengiang-ngiang sosok cantik Lana dengan tanpa busana. Untung istrinya memilki badan yang bagus langsing kencang. Sial, dia tak bisa melupakan racauaan Lana, setelah dia meminta agar Lana tak menahan suara. Sergey semakin frustasi dan dia terjebak pada permainannya sendiri.
...****************...
Sergey tak habis pikir saat Lana mengajaknya dinner nasi kucing di pinggir jalan. Kemudian datang teman-teman Lana yang mengajak mengobrol, mengganggu waktunya dengan Lana. Para Koas pria itu sok dekat dengan Lana.
Sergey mengamati para pemuda itu. Walau mungkin dia yakin lebih tampan, tetapi dia jadi merasa tua. Jangan-jangan, Lana menyadari bahwa usianya sudah tua, walau kelelakiannya justru semakin kuat.
Sepanjang perjalanan pulang, Sergey memilih diam saat Lana ceriwis dan menceritakan kelucuan sifat-sifat temannya. Yang cowok pakai dibahas pula. Dasar perempuan tidak peka. Sudah jadi seorang istri masih saja menceritakan pria lain. Membuat Sergey sedikit minder.
Cowok-cowok manis tadi adalah calon dokter, sedangkan dia orang biasa. Apa Lana tak bangga memilikinya, karena dia hanya orang biasa? Seharusnya, Lana membanggakan dia di depan para teman-temannya, itu, tapi kan dia menyamar jadi sopir, jadi apa yang dibanggakan?
__ADS_1
"Huh!" Sergey membuang napas kasar.
"Kenapa, Mas?"
"Aku lapar, makanan apa itu tadi tidak bikin kenyang. Itu namanya bukan dinner, tapi ... kumpulan. Lain kali kalau minta dinner, tidak perlu panggil-panggil mereka."
Wajah Lana membeku. Ternyata dari tadi Ergi diam karena tidak suka ada teman-temannya. "Kan, cuma papasan, Mas. Lana nggak undang mereka."
"Lain kali kalau ketemu begitu, kita pindah saja."
"Baik, Mas." Lana jadi sungkan karena wajah suram suaminya. "Mas, mau makan apa?"
"Sate Kambing."
Sepulang dari dinner yang kata suaminya acara dinner itu kacau, Lana justru gelagapan begitu masuk kamar. Sang suami langsung menubruknya dengan penuh gelora setelah pintu tertutup, hingga dia kewalahan. Badan suaminya terasa lebih panas, mungkin karena efek makan kambing.
Lana tersenyum menang ketika berada di dalam pelukan Ergi yang panas sekaligus lembab sisa-sisa peluh mereka berdua yang bau harum. Bahkan mereka belum ke kamar mandi dan memilih tidur berpelukan dengan Ergi yang sudah mendengkur ringan dalam balutan wajah manis, maskulin, tanpa sehelai benangpun dengan aroma pandan begitu kentara di ruangan.
...****************...
Intania beberapa hari tidur di kamar mendiang mantan suami setelah di malam pertama dia bermimpi indah. Yaitu bermimpi bertemu Sergey.
Memanglah sulit menghilangkan sosok Sergey dari hidupnya, ini diperparah dengan kehadiran sopir itu. Dia belakang jadi sering memperhatikan gerak-gerik Ergi yang mirip Sergey. Dari cara memegang cangkir yang elegan, mengemudi yang memperlihatkan sisi karisma, berkebun-Sergey juga suka berkebun, sampai suatu hari dia meminta Ergi membuatkan teh-kopi dan semuanya terasa mirip buatan Sergey.
"Kenapa jadi aku menyama-nyamakan supir itu dengan mendiang Mas Sergey. Menyebalkan, apa efek kelamaan sendiri?" gumam Intan saat memotongi daun menguning di kebun mawar.
Intania melotot saat dia melirik ke belakang pada kehadiran supir itu sambil membawa nampan berisi ....
"Nyonya ....?"
"Kamu bawa apaan?"
"Baklava."
Intania meringis, sial itu juga makanan turki kesukaan suaminya. "Makanan apa itu?" tanya Intania pura-pura nggak tahu.
"Anda mau mencicipi ini?" Sergey tersenyum karena Intania tampak begitu menginginkan ini.
"Tolong tehnya juga untuk saya. Tunggu." Intania melepas sarung tangan setelah menaruh gunting tumbuhan di atas bangku. Dia cuci tangan dan berbinar melihat kudapan di atas meja kaca.
Intania berdeham dan menjaga imange dengan duduk elegan saat Ergi masih berdiri dalam posisi siap seperti pelayan lain. Dengan tak sabaran Intan menggigit Baklava. Betul. Rasany mengingatkan dia dengan buatan suaminya, ditambah teh chamomile.
"Nyonya, mengapa anda menangis?" Sergey meraih sarung tangan dan menyerahkan pada Intan. Dia juga lemah pada tangisan, terlebih Intan ini sudah dianggap seperti adiknya sendiri. "Tidak enak ya, Nyonya?"
"Pak Ergi tidak ada pekerjaan apa? Pergi sana, tinggalkan saya sendiri!"
Sergey tidak mengerti apa yang membuat Intania menangis. Dia menjauh dan sedikit mengintip dari kejauhan saat Intan mengelap air mata dengan sapu tangan miliknya.
__ADS_1
"Aku masih mencintaimu, Mas! Aku kesepian setelah kepergianmu. Tidak ada tempat berbagi keluh. Aku bingung Vira mau menikah. Aku harus gimana, Mas? Gimana itu calonnya Vira- aku tidak yakin, apa aku harus melarang Vira?" rengek Intania kesal dengan melihat ke seluruh taman mawar merah. Lelah dengan pikirannya sendiri pada calon menantunya.
Intan mengerutkan kening, melihat sarung tangan dengan inisial S. Dia pernah melihat ini, dia ingat pernah mencuci ini, milik Mas Sergey. Ini benar-benar milik Mas Sergey, batin Intania dengan 1000 persen keyakinan.