
Nita membuka mata, begitu pria itu keluar dari kamar. Dia menggigit bibir, betapa perih luka sa**yat di tangannya dan terus meringis setelah dari tadi menahan diri karena begitu terkejut setelah menyadari bahwa bau musk itu adalah Rama. Putra tirinya yang bagaimana bisa masuk ke dalam rumah dan tahu kamarnya.
Apa aku harus pura-pura tak sadar saat bertemu dengannya lagi ?
Ruangan setiap ruangan dilewati Rama dengan penuh waspada saat suara mercon itu bunyi begitu keras. Di luar Rumah, tampak security keluar dari gerbang. Sean mengambil jarak jauh dari dinding, lalu berlari dan berloncat setinggi mungkin dan dua ruas jemarinya berhasil bertahan pada tembok. Sepertinya, mulai dari sekarang dia harus belajar loncat tinggi.
Pegal perih menyakitkan di ketiga jarinya yang terluka diabaikan saat dia mengangkat tubuhnya, lalu melewati tembok. Dia loncat ke tanah dengan sedikit terpleset, tetapi tak sampai jatuh. Mata Rama berkedut pada suara kayu berderit dari rumah tua. Dia lekas menjauh dengan menginjak-nginjak setiap tanah yang akan dipijaki untuk memastikan tidak licin.
Tampak pintu rumah reot di bagian belakang rumah terbuka dengan cahaya remang dari celah pintu. Rama pun berhasil melangkah sampai tepi jalan. Security sudah masuk, Budi menghampirinya dan langsung mundur beberapa langkah.
"Cih! Kamu seperti bau telur busuk!" suara Budi bindeng karena hidungnya dijepit dengan tangan. Temannya saja sudah nyaris mual.
"Jangan sekarang, cepat pergi!" Sean dengan jantung berdebar, tak memiliki waktu lagi. Dia bergegas menyeberangi jalan dan diikuti Budi.
"Unicorn kamu taruh mana? Bohong nih kamu!" Budi mengerutkan kening saat Rama melihat ke tanah dan sekitaran pohon cimplukan.
__ADS_1
"Motormu dimana?" tanya Rama balik dengan bingung. Dia melihat jari Budi yang menunjuk di rumah selisih tiga tempat. "Eh, lah motorku, kamu yang bawa ke sana?"
"Motormu kenapa? Aku belum lihat motormu sejak aku datang. Memang kamu taruh mana?"
"Shi**t! Yuniku Sayang! Dimana kamu?" Kening Rama berkerut dalam. Dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. "Tidak mungkin...." Dia harap dugaannya salah. "Kamu lihat tadi Security bawa motor ku ke dalam, nggak?"
"Enggak! Jangan-jangan, motor mu hilang!" Budi bergidik, dia biza jadi sasaran amarah Rama lagi seperti setahun lalu.
"Apa!? Berani sekali yang mencuri motorku?" geram Rama dengan kepala mau mendidih. Dia berlari ke arah motor Budi.
"Fokus ke jalan , Ram! Jangan kebawa emosi." Budi tahu, siapaun yang berani menyentuh motor Rama pasti langsung mendapat intimidasi dari anak-anak. Shelinan dan Ririn pun tak boleh menyetuh, katanya pamali. Hanya Budi dan Agus yang bisa memegang motor kesayangan Rama.
GPS diperiksa di HP Rama, dia mengabaikan pertanyaan Papah yang mau menghalanginya untuk keluar lagi. "Pah! ini penting untuk hidup dan matiku!" Rama menghempaskan tangan sang papah, tetapi pegangan papa jauh lebih kuat.
"Katakan kenapa lagi itu tanganmu berdarah? Cepat itu obati bisa infeksi." Kekhawatiran Sergey justru mulai terkaburkan saat dia mengenali kain yang untuk membebat. Itu mirip kado ulang tahun- Tangan Sergey terkepal melirik ujung kain dengan inisial NA.
__ADS_1
" Nita.... " Sergey tercekat, tenggorokannya panas. Dia mengikuti Rama ke depan. Tampak Rama membonceng di motor Budi ke luar gerbang. Sementara Sergey mengarahkan mobil dengan kecepatan tinggi ke arah yang berlawanan dengan Rama.
Kali ini Sergey membiarkan putranya. Telepon Nita tak diangkat. Dia baru mendapat jawaban dari security rumah Nita, bahwa kamar Nita tertutup.
"Mengapa kadoku untuk ulang tahu Nita seminggu yang lalu, bisa dipakai putraku." Sergey dipenuhi tanda tanya.
Sesampai di rumah Nita, dia menyipitkan mata curiga pada jejak kotor sepatu saat akan naik tangga. Jejak itu sampai ke kamar Nita. Pintu dibuka, jejak memenuhi kamar Nita. Dia mengerutkan kening saat mendapati cutter dengan noda merah anggur, yang telah menghitam.
"Nita! Hih mengapa selalu saja kau membuatku pusing." Sergey menepuk pipi Nita, yangmana mata itu terpejam.
Nita yang tadi akan bangun, justru mendengar suara pintu kamar terbuka dan suara Sergey hingga dia pura-pura tidur. Tubuhnya terasa melayang, Sergey membawanya menuruni tangga, lalu dia dibaringkan di jok depan.
"Kerjamu tidak bagus! Jangan kau masuk ke dalam rumah, biar Patrick datang 10 menit lagi. Telepon bibi untuk tetap di kamar!" Sergey dengan geram memarahi security saat akan melewati gerbang.
"Patrick!" Sergey dengan nafas pendek cepat begitu terhubung ke panggilan. Darah di tangan Rama dan darah pada tangan Nita. Sapatu Rama yang terlihat kotor dan mengotori rumah Sergey-juga rumah Nita terkotori oleh jejak sepatu. "Masuk dan periksa kamar Nita. Suruh Pak Abie menahan Rama saat putraku pulang, ambil sepatu Rama sebelum masuk kamar dan biarkan apa adanya sepatu Rama!"
__ADS_1
DEG. Gelombang dingin menjalari seluruh tubuh Nita pada setiap kata yang didengarnya. Dia belum pernah mendengar kemarahan Sergey seperti ini.