Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
KONFERENSI PERS


__ADS_3

Suasana di pemakaman berjalan khidmat, satu-persatu pela*yat mulai pergi. Rama dan Nita jongkok berdampingan, di hadapan mereka ada Kakek Axel yang mengusap batu nisan dan Intan yang mencengkeram tanah merah dengan menangis tanpa suara.


Kakek Axel dan Intan pergi. Rama pindah ke seberang dan memeluk batu nisan papa. Rasanya seperti ribuan belati tajam menghujani dada. Begitu sakit tak tertahankan.


Air mata Nita sudah kering saat di rumah sakit di depan ruang otopsi. Wajah ayu itu kini sembab dengan kelopak mata teramat bengkak. Nita jatuh dari terjongkok dan duduk tak berdaya di tanah merah.


Di dalam hati Nita akan selalu dipenuhi rasa bersalah seumur hidup Nita. Kenapa Mas mendatangi tidur Nita? Apa yang sebenernya akan Mas katakan? (Nita)


Pah, mungkin Papah akan membenci Rama dan Nita. Tapi perlahan Papa di sana pasti akan mengerti, bahwa Rama harus tetap bertanggung jawab pada kehadiran putraku, cucu Papa.


Rama sudah tegas pada Nita seperti apa kata Papa. Benar, dia mau memberi Rama kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Rama akan jadi seseorang ayah yang hebat seperti Papa. Rama tidak akan menyentuh minuman keras lagi.


Aku tahu, Papa berkorban begitu besar untuk Rama, sampai Papa tidak kuat sendiri karena kehilangan cinta Papa. Tolong, maafkan Putra Papa yang kurang ajar ini. Rama berjanji akan menjadi lebih baik.


Aku mau ucapin terimakasih karena Papa sudah mengajari Rama semua keindahan dunia dan hal-hal istimewa. Kasih sayang dan cinta Papa terbaik bagi Rama. Rama akan menjaga Nita, Kakek Axel, Mama Intania dan Dek Dita. Rama akan melindungi mereka sekuat tenaga. (Rama)


Rama memandangi Nita yang mencengkram bunga taburan, dia tahu istrinya dipenuhi rasa bersalah. "Ayo, kita pulang dan jemput Musa."


Nita mengangguk dengan wajah suram. Dia berjalan beriringan dan menoleh ke belakang melihat kubu*ran yang penuh dengan bunga. Ketika Nita melewati di tengah pema*kaman, bau harum familiar hingga membuat Nita mendongak dan bersitatap dengan Jefri.


"Ayo, Sayang." Rama menarik bahu Nita agar jalan saat Jefri melewatinya.


*


Pulang ke rumah Sergey, Nita tak berani masuk ke kamarnya. Semua kenangan tentang Sergey berputar di kepalanya, terutama di kamar. Dia terus mengikuti Rama, bahkan saat Rama di kamar mandi. Walaupun, jena*sah Sergey tak dibawa kemari, tetapi bau aneh dan suasana suram seakan menyelimuti rumah ini. Tak peduli, walaupun di siang hari, semua lampu kamar dinyalakan, tetapi atmosfer ini membuat tidak nyaman.


Awalnya, Nita ingin melihat ke rumahnya yang telah dijual, atau agar Rama mengantarnya ke rumah Lana. Namun, tidak bisa. Semua orang berkumpul di rumah Sergey, karena nanti sore , Kakek akan memimpin konferensi pers.


Jam 2 siang, semua keluarga dikumpulkan di ruang keluarga setelah makan siang. Mereka semua telah berpakaian rapi serba hitam dan meeting dengan semua memegang kertas yang berisi soal apa saja yang akan mereka sampaikan. Berikut point-poin jawaban yang akan mereka lontarkan dari beberapa pertanyaan yang mungkin ditanyakan media.


Mereka semua berdiri dan Kakek mengundang untuk membentuk lingkaran. Lalu kakek memimpin doa agar dimudahkan semua. Mereka ( Kakek, Rama, Adik perempuan Rama-Dhita, Intan) lalu saling memeluk bahu hingga kepala mereka saling menempel.


Patrick mengembus napas panjang. Dia seperti jadi bintang ke-tiga, setelah Rama dan Nita. Karena dokumentasi Sergey soal perjanjian pernikahan kontrak pura-pura itu akan disiarkan. Dia yang jadi saksi otomatis akan ikut mengklarifikasi kesalahpahaman orang-orang selama ini.


Sebuah ruang aula di samping rumah telah penuh dengan wartawan. Kakek Axel pertama-tama berterimakasih atas kehadiran para wartawan di konferensi pers dan juga saat di pemakaman. Ke dua, Axel memohon maaf atas nama Sergey untuk semua kesalahan yang disengaja ataupun tidak. Ketiga, Axel mengalihkan pada Patrick agar meneruskan.


Patrick langsung ikut melihat ke layar proyektor yang baru di play dan meminta para wartawan untuk bersedia melihat video. Di video itu, Nita masih dalam balutan celana jeans ketat, sweater, rambut diikat ekor kuda dan kacamata dengan bingkai kotak, polos tanpa make up.


Rama terbelalak, Nita yang di video persis apa yang dilihat saat malam itu. Ternyata benar, wanita itu adalah Nita. Tampak sekali Papa begitu dingin di video itu, sepertinya saat itu papa juga tampak jijik dengan Nita. Bahkan, di situ, Papa bilang bahwa Nita harus mau berubah penampilan.


Nita menelan saliva karena ini jadi konsumsi publik. Tetapi tadi pagi, Kakek sudah bilang ini adalah cara terakhir. Nita kini menyimak semua penjelasan Patrick. Kata-mata Patrick semuanya jujur.


Selanjutnya, tiba giliran Rama yang menjelaskan soal perasaann yang lambat laun berubah saat sering melihat Nita. Awalnya dia juga risih dengan perasaan pada ibu tiri, tetapi setelah mendengar rahasia papa dan Nita, Rama mulai terus terang kepada Nita.


Intania melanjutkan dengan berbohong, bahwa Nita ke kalimantan menenangkan diri, lalu dia bilang jika Rama diam-diam menyusul, lalu mereka melakukan pernikahan siri.


Ketika sesi bertanya tiba. Wartawati 1 bertanya, "Apa alasan Tuan Sergey melakukan pemberitaan palsu soal penculikan Rama yang dilakukan oleh Nona Athalia?"

__ADS_1


"Putraku saat itu sedang cemburu." Axel mengatubkan bibir dan memilih jujur. "Di tengah jalan, selalu saja ada hal tidak terduga. Putra ku hanya manusia biasa, seperti kita, yang tak tahu ke mana hati akan berlabuh."


"Benar bukan, Nyonya Denise? Apa anda dulu akan tahu bahwa yang akan menjadi suami anda adalah teman sekelas anda?" tanya Axel balik melempar pertanyaan.


Wartawati itu mengangguk dan diikuti anggukan setuju wartawan lain. Denise berkata dengan penuh arti, "kita tidak akan tahu siapa jodoh kita di depan, benar seperti apa yang anda katakan. Cinta datang tanpa kenal permisi.


"Saya memiliki pertanyaan satu lagi. Apakah Rama tidak mengetahui soal perasaan papanya? Apa begitu tega seorang anak merebut seorang wanita yang telah dimiliki papanya. Terlebih sikap Tuan Sergey yang selalu tampak penuh ketulusan pada Nona Atha? Tidakkah Rama mengetahui itu?"


Kakek Axel melirik Ra, dia tahu ini pertanyaan jebakan. Si*alan, wartawati ini dari dulu memang mencari masalah. "Katakan sejujurnya, cucuku. Kami ingin tahu."


Rama melirik Nita, tangannya meremas tangan Nita di atas pangkuan wanita itu. "Papa tahu kenakalan saya , namanya anak muda, siapapun pernah merasakan seperti itu, mengebu-gebu dan ceroboh," kata Rama dengan senyum getir.


"Namun, Papah masih mempercayaiku, mungkin papa kira saya hanya main-main dan saat itu sejujurnya saya juga tidak tahu dengan apa yang dirasa.


"Ini tidak untuk di contoh, tetapi, yaaa semua itu terjadi begitu saja dan kami menikah diam-diam. Papah tentu marah dan .... berpesan padaku untuk tidak jadi pecundang ...." Rama menyeka embun bening yang meleleh.


Seorang wartawati lain, mengulurkan sekotak tisu yang baru dikeluarkan dari tas. Rama menoleh ke belakang untuk menyembunyikan wajah dari kamera. Kakek Axel berbicara di mic di atas meja, mengambil alih perhatian orang-orang. Namun, banyak pasang mata masih tertuju pada Rama yang menerima uluran tisu dari Patrick yang duduk bersebelahan. Mereka jadi trenyuh melihat Rama yang berusaha untuk tegar, pasti berat bagi Rama menghadapi ini. Mereka berpikir takkan sanggup bila mereka di posisi Rama.


"Saya, Intania Mauliddyah .... memohon dengan sangat pada seluruh masyarakat seluruh Indonesia, agar tidak menghakimi Rama Abimasa, putraku satu-satunya, yang juga seorang kakak untuk Dhita. Kami ... sangat sedih saat mendengar berita tak benar diluar sana." Intania dengan suara bergetar dan beruraian air mata.


"Tidak ada yang ingin berada di posisi Rama, Nita, dan mantan suamiku. Itu sangat sulit. Jelas sulit, saya sendiri merasakan itu, sebagai seorang ibu yang selalu berharap yang terbaik untuk Rama. Tolong, jangan hujat kami lagi, karena kami tak memilih untuk kejadian seperti ini. Tolong juga, maafkan semua kesalahan Mas Sergey. Beliau lelaki terbaik untuk saya pribadi, dan keluarganya. Jangan hakimi kami dengan berita tidak benar. Kalian memiliki keluarga di rumah yang juga ingin kalian lindungi, seperti itulah saya."


Suara tepuk tangan mulai mengema di ruangan. Intania menjauh dari mic. Tangannya langsung menutupi hidung yang penuh ingus. Dia menerima tisu dari Dhita dan mengelap ingus.


Nita membeku dan semakin pucat, "Terimakasih .... " mengatubkan bibir hingga bergetar. Nita menarik napas dalam. Lalu melihat banyak pasang mata, awak media dari sisi kiri ke kanan. "Terimakasih, telah memberi saya kesempatan untuk berbicara yang sebenarnya."


Nita menutupi mulutnya saat dia mulai terisak Selma beberapa detik. Nita melihat ke seluruh ruangan. "Terimakasih, Mas. Mungkin Mas berada di sini. Terimakasih telah menjaga Nita selama ini. Maaf bila Nita sempat berpikir buruk. Nita salah. Tolong maafkan Nita." Nita mengangguk-angguk, lalu condong ke depan dan mengelengkan kepala ke arah Kakek karena tak bisa meneruskan.


"Kakek mohon doa kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk ketenangan Sergey di sana. Dan mohon doa serta meminta restu untuk pernikahan Nita dan Rama, terlepas dari masa lalu. Kakek berharap 'kita semua melihat ke depan.' Terimakasih atas kecintaan kalian selama ini untuk putraku, hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan kalian semua." Axel mengangguk dan mencoba tegar walau dadanya sesak bagai digempur dari segala arah.


*


Setelah acara konferensi pers selesai, Rama, Nita dan keluarga lalu istirahat sejenak untuk persiapan yasinan di rumah Sergey. Begitu Pela*yat pulang, Nita dan Rama keluar dari rumah itu. Nita menginap di rumah Lana, bukan di ruko, di kamar tamu rumah Lana.


Semalaman Nita tak bisa terpejam meski Nita dipeluk Rama, dia terus membangunkan Rama saat Rama tertidur. Nita paranoid dan ketakutan setengah ma*ti saat mendengar suara sekecil apapun. Nita memasang earphone saat Rama tak bisa dibangunkan dan menyetel ayat suci Al-Quran dengan volume maksimal. Matanya terpejam dan seolah merasakan pergerakan di sekitarnya, dia yakin pergerakan itu tidak nyata dan Nita semakin berusaha terpejam.


Ketika habis sarapan pagi, Nita terus menguap karena tidurnya kurang. Dia sampai terkantuk-kantuk menunggu Rama menghabiskan nasi goreng.


"Kau tidak tidur?" tanya Lana yang duduk berhadapan dengan Nita.


"Susah .... " Nita menekuk bibir.


"Sholat, kalian sholat, biar tenang." Lana memperingatkan.


"Kita harus mulai sholat rutin, agar kamu juga tidak takut lagi, Sayang," ujar Rama sambil menaruh sendok garpu.


"Sholat karena Allah bukan karena takut." Lana menimpali.

__ADS_1


"Maksudku seperti itu. Sholat karena Allah. " Rama mengelapi mulut menggunakan tisu.


"Aku akan sholat." Nita mengangguk patuh.


Ketika waktu dhuhur tiba. Rama menjadi imam. Nita dan Lana sebagai makmum. Mereka lalu mendoakan kebaikan untuk Sergey di alam barzakh . Selepas sholat, mereka menuju tempat penjemputan Musa yang dititipkan seseorang.


Nita langsung memeluk putranya dengan kerinduan mendalam. "Mama kangen banged, ich."


Rama memeluk Nita dan bayinya, lalu mengambil alih. Pria itu menciummi Musa yang tertawa seolah geli.


"Maafkan, Papah, Nak." Rama merengkuh Musa dalam gendongan dengan hati bergetar. Dia terus mengecupi pipi cubby Musa dengan perasaan bahagia dan syukur .


*


3 bulan kemudian


Nita dan Rama tiba di bandara Hongkong. Mereka menuju rumah yang telah dipersiapkan sang kakek. Rumah bergaya tradisional dan alam yang indah. Mereka akan menetap di sana dan membesarkan putra mereka.


Rama memandangi danau di depan Rumah dari lantai tiga. Dia teringat saat di makam papa dan memeluk batu nisan papa.


Dari Papa, Rama belajar arti sebuah pengorbanan besar. Dia tak mau meratapi. Meski keputusan papa sangat disayangkan karena bu*nuh diri. Dia teringat kata papa jika dia menghadapi masalah, 'hidup harus berjalan ke depan' tetapi kenapa papa sendiri tak menjalankan itu. Rama hanya bisa berdoa untuk papanya, semoga bahagia di alam selanjutnya.


Ketika satu bulan sudah terlewati, Rama sudah sibuk mengatur restoran bertema makanan Indonesia. Restorannya di Australia dijual ke Budi , lalu uang itu digunakan untuk membuka restoran yang tidak terlalu besar. Rama menjadi chef dan dia mempekerjakan dua orang pemuda asal Indonesia untuk membantunya.


Nita meneruskan hobi mendiang mama Clara dengan fokus mengawetkan bunga , lalu dipajang di galeri seni miliknya. Uang itu berasal dari pemberian kak Nathan dari uang jual rumah milik Papa Devan. Karena biaya pengobatan jantung papa sudah dialokasikan dari uang tabungan kakak saat dulu jadi actor.


Jam menunjukkan pukul satu siang. Nita pergi ke rumah Intania untuk menjemput Musa. Intania minta dibelikan rumah pada Kakek Axel, yang berjarak 4 kilo dari tempat Rama, di pusat kota.


Intania ingin menetap di Hongkong. Apalagi Ditha kuliah di Hongkong. Tak ada alasan lagi untuk di Indonesia karena semua anak-anak Intan berada di HongKong.


Di rumah Intan, Musa berlari ke arah Nita. Tangan mungil mengulurkan gelas berisi es buah ke sang mama yang baru tiba. Gelas plastik itu hanya terisi seperempat gelas, jadi tidak akan tumpah-tumpah.


Nita meminum es buah sampai habis dan cuma tersisa buah saja. Tenggorokan Nita sangat kering, jadi dia bermaksud menjahili sang putra sekalian. "Loh, habis?"


"Mama mimi punya muca. Esna abis!" ucap anak lelaki itu dengan suara kecil.


Nita terkikik dan melihat adik dari Rama mendekat sambil membawa gelas hias berisi es buah. Ditha mengisi gelas Musa. Musa lalu berlari ke arah Intan seperti takut bila es itu akan dihabiskan oleh sang mama


"Buatan mamah Intaniaaa." Dhita mengulurkan es buah miliknya di depan wajah Nita dan sang ipar menyendok dengan sendok bekas dia gunakan.


"Seger bukan main, Dek." Nita merebus gelas itu dan menaruh tas hermes di atas nakas.


"Kak Nita, Erwin melamarku!" Dhita memekik kegirangan sampai membuat Nita yang sedang minum keselek buah semangka.


"Siapa yang melamar!" Intan muncul diikuti Musa yang masih mencoba makan es buah sendiri dari gelas.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2