
“Aku sangat bangga padamu, Ram. Kamu selalu membuat Papah bahagia. Lebih bahagia lagi jikalau kamu segera menikah dan memberi Papa cucu."
Rama berhasil memasukan bola ke lubang golf. Dia langsung menoleh pada sang papah sambil mengelap tetesan keringat dari pelipis. Meski dia telah memakai lengan panjang, tetap saja matahari membakar kulit. "Ada Musa yang butuh perhatian besar papah. Masih ingin ditambah kehadiran anak kecil?"
Sergey terkekeh, pasti Rama mengira Musa adalah putra kandungannya. "Tetaplah, beda, Rama. Papa sudah tua, jadi kapan kamu perkenalkan seorang perempuan yang benar-benar kamu seriusi?"
Rama menggelengkan kepala. Dia belum berpikir sampai sejauh itu, apalagi menikah, calonnya saja belum ada. "Papah, nanti kalau sudah waktunya, Rama akan perkenalkan ke Papa. Yang penting papa terus jaga kesehatan.
Sekembali Rama dari golf, dia memasuki tempat spa untuk seluruh perawatan tubuh. Setelah ini dia akan berniat ke tempat Budi.
Di ruang yang lebih dalam, di bangunan yang sama, Nita baru selesai masker dan luluran di seluruh badan. Dia mandi sebentar, dimana rambut itu masih terlapisi krim aroma strawberry yang menyegarkan dan terasa dingin saat dioles, karena krim diambil dari kulkas.
Nita keluar dari kamar mandi dan menuju ruang perawatan rambut, untuk membilas rambut. Dia kembali ke ruang ganti, untuk berganti baju sebelum di blow, tetapi rambut harumnya telah dikeringkan. Namun, semua ruang ganti penuh. Nita lalu diarah ke ruang ganti di bangunan sebelah, dengan melewati lorong paling ujung.
Saat akan masuk ruang ganti, tangan Nita ditarik dan dalam sekejap dia telah besandar pada tembok. Di depannya juga tampak Rama yang memakai jubah putih.
Nita tidak nyaman pada mata Rama yang seolah berapi-api, membuatnya merinding. “Kamu mengikutiku?”
“Bukannya kamu yang mengikuti? Katakan yang sejujurnya, sebenarnya ngefans sama aku kan?” Pandangan Rama makin meredup. Dua tangannya sudah memalang di kanan-kiri kepala Nita, tepatnya menyenggol telinga Nita, hingga wanita itu tak bisa menoleh.
"Kamu terlalu percaya diri."
"Oh, Ya? Aku tak percaya." Rama membungkuk dan menempelkan bibirnya di bibir Nita yang lembut, dia membeku 20 detik karena selalu lupa akan tekadnya untuk melupakan Nita. Dia tak sanggup menahan, entah itu rindu yang tak tahu datang dari mana. Kehangatan tangan kekar menahan kepala Nita, Rama terpejam dan sedikit menahan tubuh Nita yang akan jatuh dengan pahanya.
__ADS_1
Pemuda itu lupa di mana mereka sedang berada. Tanpa sepengetahuan mereka, seorang pengunjung yang tak sengaja akan masuk langsung memvideo perbuatan yang dianggap terkutuk. Cukup merekam dalam waktu 48 detik, lalu orang itu langsung pergi dengan rencana baru di kepala pengunjung itu, untuk menghasilkan pundi-pundi uang.
"Keterlaluan," lirih Nita dengan tatapan tajam, saat Rama baru melepas pagutan. Dia menepis jempol Rama yang mengelapi bibirnya yang terasa basah dan jontor. Jemarinya mencengkeram pinggang Rama, menusuknya dengan kuku yang tak panjang dengan mata berkaca-kaca.
"Kau yang membuatku seperti orang gila. Apa kau tak sadar pengabaian mu justru membuatku gila untuk mengejar mu?"
"Omong kosong. Saya ini ibu tirimu, kau hanya akan menyakiti Papahmu." Nita merasa tergelincir ke dalam jurang. Ini sangat mengejutkannya. Sergey yang belum lama menyatakan ketertarikan dan sang putra itu juga sama-sama gila. "Menjauhlah dariku, atau aku keluar dari rumah, Rama. Ini terakhir kali aku berbicara padamu!"
Perut Rama terayun ke belakang karena pukulan Nita. Bentakan Nita membuatnya bagai terlempar ke luar bumi. Bukan itu yang diharapkannya. "Agr! Si4l, huh! " Rama menggaruk dengan kasar, kepalanya yang terasa seperti mendidih pada suhu 200 derajat.
...----------------...
Nita terus melamun sepanjang perjalanan, hingga dia mendapat telepon dari nomer tidak dikenal. Dia melirik Patrick yang tadi menggumamkan nada lagu lalu langsung terdiam. Nita mengangkat telepon.
"Nita Athalia, aku tahu kau bersama Patrick baru lewat di bawah fly over Tebet ...."
"Temui saya seminggu lagi, lokasinya akan saya bagikan segera. Jangan beritahu siapapun tentang aku. Bye!"
"Apa anda baik-baik saja, Nyonya?" Patrick mencium ada yang tidak beres pada wajah sang nyonya yang memucat.
"Ya, tolong lebih cepat sedikit. Sepertinya, Musa bangun, ini firasat seorang ibu."
...----------------...
__ADS_1
Menjadi semakin tak nyaman saat Nita memasuki pintu ruang tamu rumah besar ini. Dia menjadi was-was dan ada perasaan seperti diawasi dari segala sudut. Tampak Sergey menggendong Musa yang wajah mungil itu masih mengantuk.
Nita langsung mengambil alih Musa, menit berikutnya terdengar suara langkah lain di belakang. Perempuan itu tak mau melihat, dari langkah cepat sneaker, dia yakin itu Rama. Nita langsung menuju ruang bayi saat Sergey mengajak makana Rama.
"Kamu nggak makan, Mah?" tanya Sergey dengan akting mesranya. Sergey tidak tahu bahwa Rama telah mengetahui pernikahan pura-pura mereka.
"Makan dulu saja, Mas. Nita mau beri Musa asi dulu."
Rama melirik lesu pada punggung mungil itu lalu mengikuti Papahnya ke ruang makan. "Pah, Rama ingin pulang ke Australia."
"Mamahmu saja di sini. Untuk apa ke Australia?" Sergey putar balik. "Papah ambil obat darah tinggi dulu. Bi Inem masak rendang. Bisa bahaya."
"Biar aku saya yang ambil." Rama berjalan lebih cepat.
"Laci bawah, samping tempat tidur."
Ketika Rama sampai di kamar, dia kembali teringat kata Papah. "Laci bawah." Dibukanya satu persatu Laci bawah di bagian kiri tempat tidur. Dia bersandar di ranjang, tangannya menarik laci dan keningnya berkerut saat mendapati kalung. "Apa aku meninggalkan kalung di sini saat dulu ambil obat Papah.
Kalung itu dipakai Rama, lalu memutari temoat tidur, di sana lah obat papah di temukan. Rama keluar dari kamar dan berpapasan dengan Nita, dimana Musa asik bermain mainan kunyahan.
"Papah Papah, mam mam," celetuk Musa, mengulurkan kedua tangan. Anak itu ingin sekali dalam pelukan nyaman dewasa itu.
" Kakak Rama, bukan Papah," ucap Nita dan mendongak akan minta maaf. Mata Nita berkedur. "Kalung itu?
__ADS_1
"Ini kalung milikku, kata Rama dengan cepat. "Rama sampai mundur di tangga.
"Milikmu? kau bercanda?"