
"Nyonya .... " Patrick yang baru melangkah dengan senyap lalu mematung. Tampak Rama langsung duduk tegak dan Nita langsung berdiri sambil membawa selimut.
"Pak Patrick." Nita berjalan dengan cepat menyusul Patrick yang meninggalkannya. Dia juga merasakan Rama menyusulnya, tanpa menutup pintu perpustakaan.
"Den Rama, silahkan berisitirahat," kata Patrick dengan dingin tanpa menoleh.
Patrick tahu Rama langsung berhenti dan tidak mengikutinya. Langkah Patrick pun melambat sampai Nita sejajar dengannya. Dia menekan tombol lift dan merasakan kegugupan Nita. Lelaki itu menyilahkan nyonya masuk lebih dulu, kemudian dia masuk dan menusuk angka 2 .
"Ada apa, Pak?" Nita mengernyitkan kening sambil merems selimut di tangannya.
"Tuan Sergey, memanggil Anda. Dia menghubungi saya karena anda meninggalkannya."
Nita menelan saliva dengan gugup. Sejak kapan suaminya menyadari dia tidak ada di kamar. Mata Nita membulat, dia merinding saat melewati Patrick yang baru keluar dari lift. Sergey tak tahu aku masuk ke kamar utama, kan, ya ?
Nita melirik Patrick yang berdiri di luar pintu saat dia akan menutup pintu kamar, lalu menguncinya. Tampak sang suami duduk bersandar di kepala tempat tidur. Itu sangat menakutkan apalagi saat Sergey meliriknya dengan tatapan gelap.
"Darimana saja?" suara Sergey serak. Tangannya mengundang Nita untuk datang.
"Mas, kenapa kamu tidak tidur di tempat tidurmu?" Nita menyeret kakinya dan berjalan dengan ragu. Setengah langkah terasa begitu berat. Dia tak pernah mendekat saat suaminya sedang mabuk.
"Bukankah ini tempat tidurku? Mengapa kau bawa selimut itu keluar. Kamu mau kabur?"
"Kabur kemana?" Nita merasakan sepertinya sang suami tidak terlalu mabuk. Entahlah, tetapi dia membenci tatapan gelap itu. "Mas, ingat dengan janji untuk tidak akan menyentuhku sampai aku siap, kan?" Nita berhenti dengan jarak dua meter.
"Dataaang Nita!"
"Mas janji dulu! Atau aku akan pulang ke rumahku sendiri?"
__ADS_1
Sergey tertawa dengan geram.
...----------------...
Suasana pagi itu terasa canggung khususnya bagi Nita. Wanita itu semakin salah tingkah saat saat Sergey menyendokkan nasi kuning, kering tempe dan potongan telur, diulurkan ke ke dekat mulutnya. Dia melirik Rama yang menghentikan tangan yang akan menyuapi diri sendiri, yangmana mata Rama berkedut. Pandangan Nita beralih ke Sergey yang menunggunya, dan merinding pada tatapan Sergey. Itu kan kena mulut Sergey.
"Mah .... jangan melamun pagi-pagi, nanti kesambet." Sergey dengan suara rendah, tetapi cukup untuk memperingatkan Nita hingga wanita itu tampak ragu melahapnya setelah Sergey menginjak dengan lembut kaki Nita. Wanita itu langsung menunduk dengan wajah memerah.
Ya, Tuhan. Aku sangat malu ! (Nita)
"Kau bisa makan sendiri kan, Putra ku? Apa kau juga ingin disuapi?" Sergey menatap dengan menyelidik karena putranya sering memandangi Nita dengan cara yang aneh.
Patrik terus memikirkan soal tadi malam. Sebentar lagi jadwalnya melapor. Perlukah melaporkan jika tadi malam ada Den Rama yang bersandar di bahu nyonya.
"Apa, sih? Mana coba Yuniku?" Rama menanyakan soal motornya.
"Nanti siang, akan diantar orang bengkel."
"Olahraga? Apa hubungannya dengan motormu?" Nita menyatukan nasi dan kering menggunakan garpu dan sendok, lalu melirik tatapan Sergey padanya yang membuatnya tak nyaman. Dia lagi-lagi mendengar tawa Rama yang renyah.
"Ya itu, namanya olahraga berpacu dengan waktu," balas Rama.
"Dan bisa membuat nyawamu melayang," timpal Sergey dengan tatapan penuh kasih sayang pada sang putra.
"Papa, itu tidak akan terjadi!" Rama dengan semangat. Dia menenggak segelas air bening, lalu mengelap mulutnya dengan serbet sambil melirik Nita yang tampak begitu anggun seperti Dewi. Lirikan Nita yang tajam itu membuat ... dadanya merasa tak nyaman. Rama mengecup pipi sang papah lalu berlari ke ke arah tangga. "Aku akan ke tempat Budi, Pah."
Sergey tersenyum tipis pada semangat putranya. Dia menggaruk tengkuk, merasa bersalah atas perbuatannya semalam. "Kamu masih, Marah?"
__ADS_1
"Lain kali jangan minum alkohol terlalu banyak." Nita menghindari tatapan Sergey dan terus melihat ke nasi uduk, yang mulai berkurang di piringnya.
"Maaf, semalam aku nggak melakukan aneh-aneh, kan?" tanya Sergey dengan mata penasaran karena wajah Nita langsung memerah.
"Tanyakan saja pada diri Mas sendiri sampai mengingatnya. Aku tidak akan memberitahu. Jika Mas tak mengingat semalam sama sekali, tandanya Mas perlu berpikir ulang setiap akan minum banyak."
Nita meringis Ketika Sergey mencapit rahangnya, hingga dia menghadap ke wajah Sergey yang kini memasang aura menyeramkan. "Mas .... "
Nita bergidik ketika jarak mereka berkurang. Sergey mendekat ke wajahnya. Sekuat apapun Nita terlihat untuk tidak lemah, dia tetaplah wanita yang tetap memiliki rasa takut. Apalagi Sergey adalah teman ayahnya dan 26 tahun lebih tua darinya.
Tak peduli pesona Sergey yang lebih maskulin daripada sang putra. Sergey bagai beruang lapar, dan Rama bagai serigala. Dua-duanya sangat mengusik hidupnya. Dia harus menjauh dari dua orang berbahaya itu di luar kepentingannya.
Sergey menyeringai licik, ketika wajah ayu itu terpejam hingga bahu Nita gemetar. Dari kejauhan di sisi kanan walau tanpa melihat, Sergey tahu sang putra mengamatinya saat turun dari tangga. Sergey miring ke kanan, meniupkan udara panas ke pipi mungil.
Dev, lihat putrimu begitu ranum dan menggoda. Siapa saja yang melihatnya, pasti mana tahan. Termasuk aku yang setiap hari disajikan keindahan seperti ini ?
Apa nggak ada tempat lainb? Rama melengos ke ruang tamu dengan terbayang bagaimana posisi papanya yang pasti mencium dan melahap bibir merah mawar itu. Ini bisa membuatku gila!
⚓
Patrick melaporkan hal semalam tanpa ada yang ditutupi di ruang kerja tuan. Tuannya berhenti dari mengetik dan menatapnya dengan penuh wibawa. "Saat saya masuk ke perpustakaan, saya melihat Nyonya duduk sambil membaca buku dan berselimut sampai batas dada. Posisi Den Rama bersandar pada bahu Nyonya yangmana mata Den Rama terpejam."
"Duduk bersama? Mereka terlalu dekat." Sergey menggeram dan meremas kertas laporan perusahaan yang tengah diperiksa.
"Saya kira masih wajar. Tatapan nyonya tampak tak nyaman, tetapi tidak ada yang mencurigakan di antara mereka."
"Lalu, untuk apa ada selimut?" Sergey jadi mengingat selimut yang dipeluk Nita semalam.
__ADS_1
"Saya tahu dari cctv, bahwa nyonya membawa selimut ke perpustakaan. Lalu Den Rama yang barusan dari ruang gym, sepertinya tak sengaja memergoki nyonya, lalu mengikuti sampai ke perpustakaan. Saya yakin itu tidak direncanakan mereka, karena nyonya terlihat terkejut saat kedatangan Den Rama." Patrik mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sebuah foto.
"Foto kalung berbandul serigala?" Sergey mengangkat satu alis.