
Sergey menunggu penerbangan di lounge sambil menatap segelas jus sirsak yang baru dipesankan Nathan. Dia terus melirik ke sisi kanan. "Dia tidak akan datang."
"Atha akan datang." Pedro melirik jam tangan dengan gelisah. Matanya melirik Nathan yang terus melihat ke layar ponsel.
Mana sih? Nathan melihat riwayat chat Nita, tidak ada balasan. Pemuda itu meminta tolong agar Nita datang. Bukan apa-apa, kasihan saja melihat sosok pria paruh baya di depannya.
Nathan temenung teringat kemarin saat itu dia menarik Rama ke samping resto di depan kolam ikan, di parkiran samping, yang hanya ada dua pelayan.
"Apa! Menarik-narikku?" Rama tampak kesal, bingung, sedih semua menjadi satu.
"Kamu duduk disebelah kami, aku tahu kau berdiri tadi! Sampai mana kau mendengar-" Nathan mengerutkan kening, melihat ekpresi Rama yang melirik ke kanan bawah dan bahu itu langsung loyo, Nathan yakin. "Kamu mendengarnya, ya."
"Apa dia benar papaku?"
Suara Rama yang terdengar seperti pernyataan seolah Rama menyadari bahwa Ergi adalah papahnya Rama. "Ya, kamu mendengarnya, kau pasti bisa tahu sendiri. Tapi ada yang lebih penting dari itu. Dia akan ke Swiss dan tidak mungkin kembali. Dia mau memutuskan diri darimu dan menghapus semua masa lalu sebagai Sergey. Aku tidak yakin, tetapi Pedro melihat papamu memesan obat yang yang mampu menghapus memori lama seseorang. Yang terburuk itu juga bisa membuat pemakainya mengalami gangguan mental berat, termasuk skizofrenia."
"Kau mengatakan ... dia bisa gila karena obat itu?"
"Ya .... Memang seperti itu efeknya." Nathan melirik Rama yang menunduk tampak berpikir dengan wajah murung.
Sebuah tepukan mengejutkan Nathan dan pemuda itu menatap datar pada Sergey. Dia berpikir, perlu tidak memberitahu Sergey, bahwa Rama kemungkinan telah mempercayai bahwa Ergi dan Sergey adalah orang yang sama.
"Bisakah kamu menelpon, Atha?" Tanya Sergey.
"Telepon saja dari hpmu sendiri!" gerutu Nathan melongo saat ponselnya direbut. Dia berusaha meraih ponselnya tetapi Sergey terlanjur melihat ke kolom chat dia dengan Nita, yang tidak ada balasan dari Nita. Seketika Sergey memasang wajah muram.
...****************...
"Sebentar lagi giliran kamu take," suara asisten sutradara memberitahu Rama yang sedang di makeup. Matanya terus melihat kanan dan kiri, terpikirkan apa kata Nathan.
Setelah bilang ke toilet, Rama putar arah di sebuah lorong sekolah yang menjadi lokasi syuting. Dia melalui jalan sepi, lalu melipir ke pinggir jalan dan menghentikan angkot. Sampai dia melihat taksi yang berhenti, Rama pindah naik taksi dan pulang ke rumah.
Dia menuju lokasi Nita, yang ketahui dari gps di ponsel istrinya. Terlihat di rumah, Nita sedang sibuk bermain dengan si kembar, kebetulan Musa juga barusan pulang dari sekolah.
"Ikut aku," kata Rama dingin pada Nita. "Biar Helen dan Bunga main sama Mamah dulu."
"Aku ambil ponsel dan tas dulu," kata Nita sambil mengelapi tangan mungil si kembar dengan tisu basah, hingga tangan itu bersih dari belepotan buah pepaya.
"Tidak usah bawa apa-apa, ayo cepet." Rama menggendong Musa, meletakan buku gambar yang dipegang Musa.
"Mau kemana, Ram? Tidak makan siang dulu." Intania curiga tidak seperti biasanya wajah Rama penuh khawatir.
"Itu ada teman Rama, dia bawa anak seumuran Musa. Jadi Rama bawa Musa biar main sama anak ituy selama Rama ngobrol sama temen." Rama beralasan. "Titip Bunga dan Rama, Mah." Rama mencium pipi mama di kanan dan kiri.
"Hati-hati, Ram." Intania melihat kepergian Nita yang ditarik Rama. Semoga tidak ada masalah.
Rama mengemudi mobil saat Nita memangku Musa. Nita terus diam, memikirkan chat Nathan, yang tidak dijawabnya. Wanita itu mengerutkan kening saat Rama menariknya turun dari mobil, ini malah berjalan ke pintu masuk keberangkatan.
"Mas? Kok di bandara?" Tanya Nita bingung melewati banyak orang yang sibuk membawa koper.
__ADS_1
"Mas, jemput teman Mas dulu." Rama berjalan dengan membawa Musa dan Nita kebingungan saat Rama meninggalkannya.
Kakinya terus melangkah, Nita tidak membawa hp, tetapi dia ingat lokasi yang diminta Nathan untuk datang. Menunggu lebih dari sepuluh menit, takut Rama kembali.
Akhirnya Nita mulai mencari lounge seperti difoto yang dikirimkan Nathan. Dari kejauhan dia melihat sosok Pak Ergi. Meski ragu takut Rama tahu lalu salah paham, Nita sudah terlanjur ketahuan Nathan yang mengundang dan menghampirinya. Bisa dilihat wajah Sergey langsung bersinar.
"Lama sekali kamu!" Nathan menarik Nita, wanita itu melirik gelas Sergey yang telah kosong.
"Aku keluar merokok dulu." Nathan mendudukan Nita di hadapan Sergey.
"Saya juga mau ke toilet." Pedro menyusul Nathan.
"Kenapa mereka pergi," gumam Nita lalu menggigit bibir bawah. Matanya terpaku pada Sergey terus tersenyum padanya. Selalu dengan pandangan itu yang begitu penuh arti.
"Terimakasih, telah datang, Tha."
Nita mengangguk, dia sebenarnya tidak akan datang, tetapi karena Rama pas bandara, ya dia ingin lihat Sergey sejenak , eh malah kepergok Nathan. "Kenapa memintaku ke sini?"
"Aku ingin melihatmu yang terakhir kali."
"Maksud anda apa? Seram sekali kedengarannya seperti tidak akan bertemu lagi?" Nita meremas tangan sendiri di pangkuan.
"Memangnya kamu ingin Mas masih menemuimu?" Sergey mengerutkan kening karena Nita hanya menatapnya sendu tanpa menjawab.
"Anda memangnya tidak ingin melihat Mas Rama dan berbicara terus terang?" Nita kembali bersuara setelah lima menit saling diam. Dia ingin membujuk Sergey agar memberitahu kebenarannya pada Rama. "Sampai kapan anda menyembunyikan ini dari Mas Rama, orang yang seharusnya paling tahu lebih awal?"
"Atha, sampai akhir hayat hidup Mas, Mas tidak ingin dia tahu. Mas tidak sanggup melihatnya bersedih untuk ke dua kali karena kematian yang tidak bisa ditolak. Mas kan sudah tua, dan tidak tahu Tuhan kapan menjemput Mas-" Sergey mendorong telapak tangan di atas meja saat wajah Nita makin muram. "Berikan tanganmu."
"Tapi Mas mau kemana?"
"Kamu tidak perlu tahu."
"Apa, Mas akan tetap menelepon Paman Pedro dan Kak Nathan?"
Sergey tersenyum penuh arti dengan tanpa menjawab membuat Nita berpikir bahwa itu hanya akan diketahui dari Paman dan Kak Nathan langsung.
"Benarkah, anda akan pergi?" Nita menekuk bibir dengan wajah yang dia pikir paling murung selama hidupnya. Sergey tidak pernah berpamitan seperti ini, saat berpamitan justru sangat menyakitkan.
Mereka saling pandang, Nita dengan tatapan protes berharap Sergey mengurungkan Niat. Sergey dengan tatapan rindu mendalam, tidak kuat bila lebih lama di sekuat Nita hanya membuatnya ingin memeluk Nita dan memilikinya seorang diri. Sementara itu, Rama sudah menduga, Nita akan menemui pria itu.
Rama mengepalkan tinju, teringat semalam ketika bangun tengah malam, setelah buang air seni, dia terpaku ke makanan buatan Nitay di atas meja kamar, yang yang ditolaknya.
Rama melihat Nita yang tidur terlelap. Lalu pria itu melahap daging steak dan rasanya seperti makanan itu baru dikeluarkan dari kulkas, dingin karena AC kamar. Matanya tertuju pada layar ponsel Nita yang berkedip.
Meraih dari atas nakas, Rama melihat riwayat panggilan dari Nathan yang tidak terjawab sampai 25 kali. Tidak ada panggilan dari nomer lain. Mengapa Nita membuat ponsel dalam model Silent.
Ponsel bergetar, ada chat masuk dari Nathan. Ponsel itu dibuat mode pesawat terbang, lalu Rama melihat isi pesan dari Nathan.
-Besok kamu saja yang mengantarkan Musa ke sekolah. Aku perlu bicara denganmu jam 09.30. Urgent. - Nathan
__ADS_1
Rama membuka riwayat chat ponsel itu dengan mencari nama Ergi. Isinya hanya soal jemput antar setahun lalu. Jadi, benar, mereka tidak saling chat. Sedikit rasa bersalah menyelimuti hati Rama.
Lamunan Rama terbuyar saat merasakan tangan mungil terlepas dari tangannya. Dia melihat Musa berlari menjauh. Rama pergi dari dari balik tembok lounge masih saja sang papa memegangi tangan Nita.
Bukan sakit lagi yang Rama rasa, tetapi lebih kecewa kenapa jika itu papanya, papa tidak menghubungi dan justru memilih bertemu Nita daripada anaknya. Rasa Iri menyelimuti hati Rama pada Nita, karena bisa bertemu papanya, sedangkan dia hany hanya tak berdaya mengamati dari jauh.
"Rama .... "
"Nathan," ucap Rama saat Nathan memanggilnya dari arah belakang. Dia melirik ke arah Musa yang ada dalam genggaman seorang pria lansia yang awet muda, pria tua itu seolah memberi isyarat pada Nathan.
"Tidak apa, Musa dengan Paman Pedro." Nathan menepuk bahu Rama. "Akhirnya, kau datang juga. Ku kira setelah aku bilang semuanya kemarin, kau takkan datang. Apa kau tahu Nita kemari-" Nathan terkejut karena Rama mengangguk.
"Aku membawa Nita ke mari, sisanya terserah dia apa mau bertemu papa atau tidak-" Rama menghentak tangan Nathan yang menariknya dengan kuat.
"Aku tidak mau! Lepas sialan!" Sia-sia Rama berteriak karena tenaga Nathan lebih kuat. Security bandara bahkan berjalan kemari karena keributan yang dibuatnya. Entah berapa lama tanpa disadari oleh Rama, Pak Ergi telah berdiri dari kursi dan berdampingan dengan sang istri, melihat ke arahnya dengan wajah terkejut.
Rama membeku karena Pak Ergi justru menjauh dan akan pergi. Bahkan, papanya seperti tidak mau melihatnya pergi. Pergi aja sialan !
"Kejar bodoh! Papamu pikir kau masih menganggapnya Ergi!" Nathan mendorong Rama yang masih saja diam mematung dengan tangan terkepal.
"Kejar, atau tidak akan ada yang tahu dari kita kemana dia pergi, termasuk Nita! Memang dia akan ke Swiss, tetapi bisakah kamu berpikir dia akan pergi ke tempat dan mungkin negara lain tanpa kita ketahui!" Nathan tersenyum miring saat Rama lalu berlari dan mengejar Sergey, pemuda itu tampak meraih tangan Sergey dengan kasar dan melayangkan tinjuan ke pipi kanan Sergey.
Security kembali menuju ke arah Rama. Sedangkan semua orang yang melihat, terkejut karena ada actor yang sedang naik daun tengah membuat keributan. Segala hal tentang Rama pasti langsung viral. Ada sebagian haters yang menganggap hidup Rama terlalu drama seperti mendiang ayahnya. Pantas buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, pikir mereka.
"Tadi itu untuk kau karena berani memeluk Nita." Rama melayangkan tinju dengan cepat ke pipi kiri yang putih pucat. "Ini, karena kamu berani memegangnya lagi." Rama meninju perut Ergi. "Itu, karena kau papa yang buruk!"
Tinjuan berikutnya tertahan oleh Security yang menahan tangan kanan dan kirinya. Rama berteriak, "KAMU PAPA YANG BURUK!"
Sergey tersenyum tipis, melirik ke kiri pada Pedro dan Nathan yang mengapi tangan Nita agar tidak mendekat kemari. Kembali pandangannya ditujukan pada sang putra yang berwajah merah padam, sampai mata itu pun mulai memerah. Urat hijau menonjol di kening Rama yang tampak ingin sekali menghajarnya. Rasa panas di pipi kanan-kirinya tidaklah sesakit melihat tatapan mata putranya yang terluka.
"Anda mau pergi? Pergi! Dari dulu memang hobinya anda pergi meninggalkan saya dan mama sampai larutan malam. Terus saja pergi. Kenapa tidak ke alam lain sekalian saja seperti yang semua orang duga, kenapa anda masih, di dunia sialan ini dan terus mengganggu saya-"
Panggilan pemberitahuan penerbangan pada pesawat yang akan ditumpangi Sergey menggema, menghentikan teriakan Rama. Sergey menghela napas kasar dan memeluk Rama setelah menatap dua orang security.
"Terdengar tidak tahu diri, tetapi Papa minta maaf, Rama Abimasa. Ada kakekmu akan kembali Ke Indonesia dan Papa tidak bisa berkeliaran lagi di sini. Karena Kakek mulai curiga. Tapi pukulan ini terasa lebih bertenaga dibanding sebelumnya. Papa senang, begitulah menjadi seorang pria harus lebih kuat dari siapapun, kan." Sergey menepuk-nepuk bahu Rama yang gemetar. Wajah putranya tenggelam di dadanya dan dia sanggup merasakan bajunya basah pasti oleh air mata Rama.
"Brengs*k anda tetap masih mau pergi!" Rama memukul punggung papa dengan kebencian. "Mengapa anda pergi saat aku baru tahu sialan!"
"Kasar sekali mulutmu?"
"Bajingan, apa harus sopan kepada orang gila yang mau meninggalkanku! Selalu meninggalkanku, Sialan!"
Sergey tersenyum getir, bisa mengerti kemarahan Rama. "Ma'af Papa harus tetap pergi. Ini terlalu mencolok." Dengan susah Sergey berusaha melepaskan pelukan Rama yang kuat.
Tanpa mereka sadari, seorang paparazi merekam, dalam mode zoom ke wajah Nita yang beruraian air mata dan melihat ke arah Rama yang tampak tidak mau melepaskan pelukan dari sosok pria. Dua orang di samping Nita juga sama-sama beruraian air mata dengan bibir gemetar. Paparazi tahu, Jonatan Pradipta yang bias dipanggil Nathan Pradipta adalah artis terkenal mantan anak buah papanya Nita.
Jadi siapa pria yang diajak ribut Rama?
Seketika kolom komentar dan artikel membanjiri dunia Maya di mana wajah Rama, Nita, Nathan, dan pria yang dihajar Rama bermunculan di media massa
__ADS_1
Tentu saja ada satu orang yang sangat gereget mengetahui berita itu. Siapa lagi? Kalau bukan .... Jefri.