
Dua anak manusia tengah berdiri berhadapan di depan rumah kecil, di halaman paving tanpa pohon. Sinar kuning yang hangat seakan ikut membuat pikiran Mereka ikut terang benderang dengan sejuta harapan.
"Tunjukan aku kedua telapak tanganmu, Sayang."
Ya, Rama menangkup dam memegangi kedua telapak tangan mungil, di antara mereka. Rama berusaha mensupport mental sang isteri dengan membangun sebuah keyakinan.
"Semangat, aku cinta kamu, Nita, Istriku, Sayangku."
Nita memeluk Rama erat-erat, dengan dua tangannya di punggung lebar. Dia merasakan kehangatan lengan kekar yang melingkari punggung mungil dan memberi kenyamanan luar biasa. Ditambah sinar kuning matahari pagi yang juga menghangatkan kulitnya.
“Kita bukan penakut. Takut hanya kepada Allah, Sayangku Atha." Rama berbicara lagi dengan penuh kelembutan. Mata biru itu terpejam dan menciumi rambut Nita, dengan menghirup wangi strawberry kesukaannya.
“Nita takut tak bisa melihat Mas lagi …. ”
Pelukan Rama itu terlepas. “Kenapa kau bilang begitu? Katakan!” suara Rama rendah dan penuh antusias.
“Jika Tuan Jefri mengambil nyawa Nita, kamu akan menjaga Musa dan Papa Devan, kan Mas?”
“Hus, apa kamu bilang, sih. Ngelantur. Kita itu akan selamat dan hanya perlu menyetujui kontraknya. Mas takkan biarkan siapapun menyakitimu. Mas janji, Dek."
Nita menatap kesungguhan di mata Rama, di wajah lebam dengan balutan kain kasa putih di atas alis. Dia menganggukkan kepala, berusaha memberikan senyuman termanisnya.
Di sebuah rumah dengan aroma dupa menusuk hidung, Nita menggenggam tangan Rama lebih erat dan tak bisa duduk diam. Kadang membungkuk lalu tegak lagi. Sang suami sibuk menciumi rambutnya, sesekali mengusap, bahkan memeluk Nita karena Rama pun sebenarnya ikutan cemas.
Sebuah suara pintu berderit membuat Nita berdiri mengikuti Rama dan terpaku pada kedatangan Jefri dengan aura mendominasi. Belum apa-apa bulu kuduknya berdiri. Apalagi empat orang pengawal di belakang itu menjinjing senapan laras panjang.
“Tenang, Sayang, semua akan baik-baik saja,” bisik Rama.
Sebuah map diulurkan seorang pria yang jari kelingking itu terputus dan oleh Jefri dipanggil Chen. Nita merapat hingga menempel ke lengan Rama yang hangat. Dia membaca di dalam hati mengikuti Rama yang terlihat begitu seksama membaca kata demi kata di di dalam hati.
“Dua tahun?”
Nita menarik napas panjang , mengimbuhi pertanyaan Rama, “bukankah, suami saya kemarin mendengar anda hanya meminta untuk bermain dalam satu film saja?”
“Ada apa dengan judul ini, ‘Godaan Hasrat Anak Tiri’? Film apa sebenarnya yang anda buat?” tanya Rama dengan nada tidak terima dan menaruh map di atas meja.
Mata Nita membesar dan tangannya gemetar karena kepalan tangan Jefri.
“Kau menaruh map itu tandanya, kau setuju,” balas Jefri lalu mengayunkan tangan mengundang seseorang ke arah pengawal di pintu. Suara pintu berderit, diikuti suara anak kecil yang memanggil dan mengalihkan perhatian Nita. Perempuan itu lantas berlari dengan perasaan campur aduk.
“Berhenti!”
Suara berat Jefri menghentikan Nita. Wanita itu membeku, teringat akan kejadian pertumpahan darah hingga membuatnya menoleh ke belakang pada Jefri yang menodongkan senjata ke arah Rama yang beberapa langkah di belakangnya. Nita bernapas lebih cepat dan memandang tatapan sendu suaminya yang bergerak perlahan untuk kembali menghadap Jefri.
“Tanda tangani dahulu, baru kau boleh menyentuh Musa. Kau mau memancing kesabaranku?” Jefri membuat semua orang gemetar ketakutan tak terkecuali Chen yang berdiri di samping kursi tuannya.
“Tak ada yang merugikanmu, Atha. Semakin kau tidak mau menurut semakin aku gatal untuk membuat Musa cacat,” kata Jefri dengan sinis.
“Aku akan tanda tangani itu dan Nita juga." Rama mendekat ke Jefri.
__ADS_1
“Mas?” protes Nita tetapi suaminya terus jalan dan menyentuh maps itu saat Jefri kini menodongkan senjata ke arah kepala Rama.
“Sayang, kemari biar ini cepat selesai,” panggil Rama yang seperti tak mau berurusan lebih lama dengan Jefri.
Nita melirik ke arah Musa yang minta digendong. “Sebentar, Musa, sebentar.”
Pasrah dan pasrah, menyerah pada takdir. Nita tidak memiliki pilihan. Dia melangkah cepat dan mulai tanda tangan pada halaman tiap halaman. Baru selesai tanda tangan, Musa telah berjalan dari sisi ujung meja persegi panjang dan langsung memeluknya.
“Cepat keluar! Sebelum aku berubah pikiran.”
Rama langsung menarik Nita setelah mendapat perintah Jefri yang langsung menyalakan cerutu dengan wajah garang. Dia tak mau putra dalam gendongannya, menghirup asap beracun. Lelaki itu keluar dari ruangan bau dupa itu dengan menggenggam tangan Nita yang gemetar dan dingin.
“Seorang penulis dari London, akan datang nanti sore untuk wawancara. Sebaiknya kalian menjawab pertanyaan Nona Maria Jane dengan jujur. Rama, tuanku akan memberimu waktu tiga bulan untuk mengurus kehidupan keluargamu, termasuk restoran. Jadi, sebaiknya jangan membuat ulah atau kalian menanggung akibatnya.”
“Apa kalian sedang memangfaatkan kesusahan orang untuk mencari keuntungan?” balas Rama pada Chen yang mengantarnya.
“Terserah apa pikiranmu, karena Tuan Jefri mau semua beres,” kata Chen, mendesis karena menahan kesal.
“Bisakah kami merubah beberapa adegan bila kami tidak setuju dengan scene nya?” tanya Nita, menatap takut pada Chen yang terlihat bengis.
“Akan ada evaluasi dari pusat. Mungkin kau bisa mencatat dalam draft untuk mendapat persetujuan dari pusat.”
Rama membuka pintu mobil bagian depan, menunggu istrinya duduk, lalu menyerahkan Musa. Rama menatap mata dingin Chen sambil menutup pintu mobil. “Tolong, jangan terlalu kejam pada kami.”
“Kau salah jika berpikir begitu. Ada yang tidak kau ketahui. Kau masih bisa bernasib bagus karena kebaikan tuanku.”
Waktu terus berjalan, naskah tengah digarap oleh penulis dan dua kali seminggu penulis datang ke rumah Nita. Rama dan Nita belajar pendalaman akting dengan bantuan ahli yang didatangkan langsung dari London.
Nita merasa bingung kenapa waktu dia diwawancara harus mengatakan segalanya dengan jujur. Namun, penulisan itu membuat kisah jauh melenceng dari realita hidupnya. Cerita dalam naskah itu sangat bertolak belakang dengannya.
Nita lembur dan membaca ulang naskah dan juga berdebat dengan Rama karena dia tak sependapat. Rama bersikukuh menuruti semua kemauan Jefri demi keselamatan seluruh keluarganya. Lagipula itu hanya film, biarlah publik mau berkata apa, begitulah kata Rama.
Suatu sore sebuah studio di Hongkong, Rama, Nita dan aktor pemeran Sergey, mengelilingi meja bundar. Hal ini dilakukan dalam rangka melakukan proses Reading naskah di depan Sutradara agar semakin mendalami karakter. Tujuannya, untuk mengurangi mispersepsi antara actor dan sutradara.
Berulangkali, Sutradara menegur Nita saat pembacaan naskah yang mengharuskan Nita berbicara genit pada pemeran Sergey bernama Antonia. Rama sadar ini kesulitan untuk Nita, bagaimana bisa wanita itu agresif sedangkan biasanya cuek bebek atau mewek. Berbeda dengan karakter yang menuntut bersikap agresif, genit dan kuat.
Rama menyusul Nita yang ijin ke toilet saat istirahat sejenak karena Sutradara habis kesabaran setelah terus memarahi Nita. Tak elak, Rama pun sempat bersitegang karena bentakan Sutradara. Padahal maksudnya kan bisa memberitahu Nita, tanpa harus berteriak-teriak dan menggebrak meja, tetapi yang namanya Sutradara biasanya memang keras.
Toilet wanita dimasuki Rama karena mendengar sesenggukan istrinya yang terlihat jengkel sambil menyobek-nyobek tisu di tangan dengan posisi berjongkok. Istrinya langsung berlari ke arahnya dan menangis tersedu-sedu di dadanya.
“I…h aku tidak tahu bagaimana harus agresif, Mas!” Kesal Nita sambil menghentak-hentakan kaki dan mencengkeram baju suaminya.
“Coba, kau bayangkan sedang menggodaku ….” kata Rama dengan lembut lalu melepas pelukan Nita. Rama menyipitkan mata, memamerkan bibir yang sedikit terbuka dengan lirikan tajam menggoda dan menggoyangkan kepala dengan elegan. “Seperti ini…”
“Uhc! Kamu mas." Nita merengek dan menepuk lengan Rama begitu gemas. Kedipan satu mata Rama yang terus terlontar membuatnya malah ingin tertawa. “Itu mah kamu makin mempesona daripada agresif.”
“Ayo sayang, lakukan itu padaku. Ini hanya drama, sama seperti pentas di sekolah,” suara Rama dibuat genit, dengan suara ngebas yang feminim dan membuat mata Nita yang tadinya sendu justru membola karena geli dan sekaligus kagum karena humor itu.
“Mas …. “
__ADS_1
“Nita Athalia, istriku, dalam berperan kita harus berakting dengan jujur. Seakan hal itu terjadi pada kehidupan kita. Kalau kamu geli lalu bagaimana kamu bisa menjiwai cerita?” Rama merapikan rambut Nita dengan menyisiri menggunakan jari-jari panjangnya. “Kita harus selesaikan misi demi masa depan kita, ya. ”
“Nita akan berusaha, Mas-” Nita berkedip pelan saat suaminya sudah mendaratkan bibir hangat itu, lalu membelah, menggigit dan menyesap bibirnya.
“Kamu adalah wanita paling luar biasa, kamu pasti bisa, Sayang! Ayo, keluarkan semua pesona, dan bakat kamu yang terpendam. Kau tak boleh takut, kan ada Mas di sampingmu.” Mata Rama menatap begitu penuh arti pada mata emas yang berkaca-kaca.
“Kau segalanya untuk hidupku. Aku minta tolong kali ini kamu harus bisa, ya Sayang. Biar kita bisa berkumpul bersama Musa. Mas tak mau, kalau keluarga kita berkurang lagi hanya karena kita tak berusaha maksimal," imbuh Rama dengan senyuman penghormatan. "Ya Cantik?”
“Pokoknya Atha harus bisa!” teriak Nita dengan suara meledak-ledak hingga membuat Rama tersentak lalu tertawa.
“Harus bisa! Masa 'suami Rama' nggak bisa, sih?” ledek Rama dengan usapan tangan dan mata yang menyipit.
“Istri Rama, Mas!”
“Lah, tuh pintar kan, istriku ….”
Ada-ada saja istriku. Tadi menangis, begitu semangat itu dibakar, langsung melonjak. (Rama)
Dua bulan kemudian …. gladi bersih di depan kamera, lokasinya di Indonesia. Nita kembali kesulitan saat beradu peran dengan Antonio. Entah, hanya perasaannya atau apa, lelaki itu seperti memberi kode atau mencari kesempatan, misal saat adegan peran Sergey memegang pinggang. Nita bergidik karena merasakan usapan yang membuatnya tak nyaman.
Saat scene ada adegan sedikit sensitif, peran Nita digantikan perempuan yang dari segi postur mirip, hanya beda wajah. Wanita itu mendorong bahu Antonio hingga Antionio terlentang di atas sofa dan perempuan itu merangkak di atas Antonio.
“Sayang,” bisik Rama sambil memeluk Nita dari arah belakang. “Kenapa, wajahmu ditekuk begitu?”
“Mas, orang-orang akan berpikir aku seperti itu,” ucap Nita dengan perasaan sedih pada adegan intim mereka. Apa nanti persepsi orang yang mengira dia tidur dengan Sergey, karena film itu. Dalam ending film ini dibuat menggantung pada adegan kematian Sergey. Para penonton mungkin akan kembali membencinya, dia tak siap ... pada kebencian Netijen terutama para fans Sergey dan Rama.
“Apa kamu menyesal melakukan ini demi Musa?”
Nita menggelengkan kepala, lalu tersenyum getir dengan tatapan penuh cinta. “Tidak Mas, aku tidak menyesal. Apapun demi keluarga kita.”
Suara sorak krue film memenuhi ruangan setelah sutradara teriak ‘Cut’ karena Antonio yang berciuman dengan peran pengganti.
Nita tak bisa menghilangkan rasa marah karena adegan ciuman itu, nyatanya dia tak pernah berciuman dengan Sergey, tetapi dia cuma bisa menelan emosi itu dan memendamnya. Nita membeku saat mendapat lirikan tajam beberapa detik dari Antonio saat pria itu berdiri dari sofa sambil mengelap bibir yang basah akibat ciuman.
“Sayang, apa dia membuatmu tak nyaman?” tanya Rama, tangannya menarik dagu Nita agar Nita tidak memandangi actor, yang terkenal nakal dan sering bergonta-ganti gadis muda.
“Iya Mas, aku tak nyaman.” Nita bergidik. “Mas, jangan jauh-jauh, lalu jangan biarin aku di dekat dia.”
“Aku minta kakek mengirim satu bodyguard wanita, ya? Kalau-kalau Mas tak bisa mengikutimu ke toilet." Rama menarik ponsel lalu menghubungi Kakek Axel sebelum Nita menjawab setuju.
Syuting pun berjalan lancar sampai hari ke 30. Hari itu adegan dilakukan di luar ruangan pada scene Antonio dan Nita. Angin berhembus kencang, mendadak langit mendung dan turun hujan. Semua orang pun masuk gedung dan mencari tempat beristirahat masing-masing
Ada yang lesehan ada yang berdiri dan ada yang PDKT sesama pemain pendukung.
Saking ramainya lokasi, Nita kesulitan mencari Rama. Dia melewati kumpulan orang yang adalah para pemain extra yang sedang didandani. Nita masuk ke ruang khusus untuk istirahat para actor ekslusif, tetapi tidak menemui Rama di dalam.
Tubuhnya tiba-tiba terdorong ke dalam ruangan dan dalam waktu singkat mulutnya dibekap oleh sebuah tangan dengan garutan keriput. Nita memberontak, berusaha berteriak untuk meminta tolong karena sapu tangan itu membuat tak bisa bernapas, matanya pun berusaha melihat ke arah belakang.
Belum sempat melihat, pandangannya sudah kabur dan mulai gelap. Tenaga entah hilang kemana, tubuhnya terasa ringan dan merasakan papahan tangan besar dan panas.
__ADS_1