Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 35 : SCANDAL VIDEO


__ADS_3

Seminggu berlalu. Patrick menghampiri dua pengawal yang menghalangi Nita di pintu. "Nyonya, anda dilarang keluar."


"Kenapa?"


"Ada banyak paparazi diluar .... Ayo, ikuti saya." Patrick berjalan ke ruang kerja dengan tangan di paha yang terkepal kuat, hingga jari-jari memutih.


"Anda tak boleh keluar karena ini," ucap Patrick, setelah nyonya duduk di sofa ruang kerja sang tuan. Dia menyodorkan tablet dan nyonya langsung terbelalak melihat video ciuman. "Itu baru keluar dari pagi, tetapi paparazi sudah memenuhi di jalanan depan."


"Ini salah paham." Nita meringis kesal. Dia berdiri membawa tablet ke pintu dengan disusul Patrick. Pintu terbuka dan Nita menabrak seseorang yang langsung menangkap pinggangnya. Nita mendongak. Matanya terbelalak dan makin menyembunyikan tablet ke belakang.


"Mau kemana?" Sergey menatap tajam ke mata emas kanan-kiri, dengan banyak pertanyaan di kepalanya. Tangan kekarnya meraih tablet dari tangan Nita. Dia melirik Patrick, lalu menatap tablet dan sekali lagi melihat video tingkah putranya yang nakal.


BRAK!


Nita langsung menjatuhkan pandangan pada tablet yang tak berbentuk, pecahan LCD menyebar di lantai. Nita mendongak lagi saat Sergey melirik Patrick, kemudian Patrick keluar melewatinya. Tangan Nita tertarik ke dalam ruang kerja lagi dan tampak pintu ditutup oleh Patrik.


"Mas ... "


"Athalia .... Aku pernah katakan kepadamu untuk menjauhi putraku, benar?" Sergey memelintir bibir. "Mengapa hal itu bisa terjadi? Kau tak menceritakan padaku semua tentang Rama? Sejak kapan katakan?"


"Apanya?"


"Putraku mendekatimu!" Sergey berteriak dengan nafas cepat tak terkendali. Wanita itu menggelengkan kepala.


"Aku tidak tahu.'


"Kau tahu imbas dari berita ini? Harga saham NASA anjlok dan kita rugi besar! Dan kau juga menyakiti aku, Atha ...?"


Suara Sergey yang berubah-ubah, tinggi-serak-geram membuat Nita makin menyembunyikan wajahnya. Mengapa ini menjadi salahnya? Bukan ini yang dia inginkan, sedari awal Rama yang datang mengganggunya. Ya, dia menyalahkan diri sendiri juga kenapa tidak berlaku lebih tegas pada Rama. Sekarang nama Sergey hancur karenanya, dan itu sulit diperbaiki.

__ADS_1


Tunggu .... Ah, aku sudah masa bodo bila Avian tahu berita itu.


Sergey duduk di samping Nita, tangannya mengangkat dagu Nita dan menatap mata Nita dalam-dalam. "Apa yang tidak aku ketahui? Kau ... dan dia pacaran?"


"Tidak! Kami tidak ada hubungan apapun. Aku akan keluar dari rumah ini, Mas."


"Kenapa? Kau merasa bersalah kepadaku, bukan?"


"Aku tidak melakukan hal yang menurut aku salah, sejauh ini. Jadi, untuk apa aku ... masi harus menanggung beban, merasa bersalah, bahkan si sini, bukan aku yang berinisiatif? Apa aku terlihat menikmatinya di sana? Dan untuk kita .... Bukankah mas sendiri tahu, hubungan kita hanya sebatas bisnis."


"Dan kau merugikan Bisnisku?" Sergey dengan sangat sakit hati, karena dia sendirian yang terbawa perasaan di sini.


"Lalu apa? Semua ini hanya salahku? Ya Salahku! Siapa yang mau merusak bisnis sendiri, apa aku segila itu, Mas?" Tenggorakan Nita begitu panas.


Aku juga butuh uang untuk berobat papah! Aku takkan segila itu merugikan usaha papah!


Kring ....


"Tidak, ini di luar bisnis kita."


"Angkat!" Sergey membentak dengan cara menyeramkan.Sergey menekan tombol jawab karena Nita masih menggelengkan kepala dengan tatapan yang tak bisa ditebaknya.


"Hallo, Atha .... Apa kabar mu, wow! Kamu membuat drama apalagi? Hahaha!"


Sergey membelalakkan mata, dia mengenali suara Jefri. Bagaimana temannya bisa memiliki telepon Nita, padahal nomer Nita baru. Sergey melihat Nita yang akan mematikan telpon,tetap dihalangi oleh Sergey.


"Temui saya, Atha. Besok pukul 7 malam. Kalau kau tidak datang, aku akan mendatangi Papahmu sendiri. Gimana?"


Sergey berkedip beberapa kali dan mendapati guratan keterkejutan di wajah Nita. Apa maksud Jefri?Jiwa Sergey seperti menghilang beberapa menit, dia duduk lagi dengan lemas dan menyangga dengan kedua tangan yang terasa tak berpulang. "Jefri?"

__ADS_1


"Mas kenal?" Nita menghela napas panjang dan menaruh ponsel di atas meja. Kekuatan mendominasi yang biasa di tampakkan Sergey kini hilang entah kemana. Lelaki itu menjatuhkan kepala ke sandaran sofa dan mata biru itu memandang ke langit kamar.


"Sejak kapan Jefri dan kamu .... " suara Sergey seperti tak bernyawa.


"Itu pertamakali Jefri menepponku sebulan setelah berita pernikahan kita di rilis ke publik."


"Apa maksud dia dengan mendatangi Papahmu?" Sergey tak bisa mencerna semuanya. "Katakan, Atha .... Kau tahu, Papahmu adalah teman terbaikku."


"Papah masih hidup-"


"HIDUP?"


"Karena itu, aku tak mungkin berani menghancurkan usaha papah. Nita masih membutuhkan biaya perawatan papah, yang besar. Atha sudah tidak memiliki tabungan lagi dari hasil jualan berlian peninggalan mamah."


Sergey langsung duduk dan meraih tangan Nita. "Sejak kapan kau merawatnya?"


"Hampir 3 tahun."


Sergey tertawa getir, bisa-bisanya telah dibohongi seorang anak ya usianya separuhnya. "Sebelum kontrak itu! Hahaha. Ayo, bawa aku, dimana Papahmu!"


Sergey menarik tangan Nita hingga ke halaman dan mendapati Rama yang baru turun dari mobil. Rama dengan mata lebar, berlari dan menyentak tangan sang papah. "Ini bukan salahnya, Pah! Ini salahku! Aku yang memaksanya dan Papa mau bawa dia kemana?"


Nita berkedip pelan, Rama bukan urusannya. Akan tetapi dia sibuk dengan pemikirannya, dengan membawa Sergey bertemu papah, apa tidak apa-apa. Dia belum menjawab jawaban yang masuk akal, tetapi mengapa dia sudah memberitahu bahwa papahnya masih hidup. Dan mengapa Sergey langsung percaya bahwa papahnya masih hidup, apa Sergey tahu sesuatu. Atau Sergey akan menyingkirkannya juga.


"Mas, biarkan aku berbicara dengan Rama?"


"Untuk apa?" Sergey menoleh ke belakang.


"Aku perlu bicara lima menit, lalu baru kita pergi."

__ADS_1


"Kalian mau kemana?" tanya Rama bingung. "Papa mau bawa Nita kemana? Diluar banyak wartawan."


"Aku tunggu di mobil." Sergey masuk ke mobil lebih dulu, dia juga masih sama shock karena sudah dikelabui oleh Nita. Sergey meraih ponsel dari jas dan menghubungi Patrick, matanya melirik ke arah Nita dan putranya. Dia juga bertanya-tanya apa yang mereka akan bicarakan.


__ADS_2