Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 80 : RAMA MENGUPING DI RESTORAN KOREA


__ADS_3

Lutut mulai gemetar saat Nita menatap mata biru itu yang menajamkan pandangan padanya. Seketika punggung Nita menggigil, ketidaknyamanan menyebar dari ujung kepala sampai kakinya.


Sekali lirikan Sergey memberi kode pada Nathan, lantas pemuda itu keluar dari ruangan, menutup pintu. Detik demi detik kini terasa makin berarti untuk Sergey. Semoga dia masih memiliki kesempatan untuk melihat Nita ke depannya setelah ini.


"Apa yang kamu pikirkan sekarang?" Tanya Sergey dengan lembut. "Aku akan merindukan moment ini, moment sebelum kamu sepenuhnya marah bila tahu siapa aku."


"Pak Ergi .... " Melangkah dengan ragu, Nita makin mendekat ingin melihat tato di punggung secara lebih jelas.


"Pak Ergi, sopir, suami Lana, Sergey .... " Sergey menyebut setiap kata, hati-hati membaca reaksi tubuh Nita, yang wajah ayu itu kini tampak mulai diselimuti kabut penasaran.


"Mengapa anda menyebut nama mertua saya?"


"Atha!" Sergey terkekeh. Sebegitu polosnya Nita atau pura-pura tidak tahu. "Berapa lama aku sudah melewati waktu ya. Aku jatuh dan tenggelam dalam kegelisahan. Kembali masih tenggelam, padahal aku ingin sekali menepi mengiklashkan cintaku ini?"


Wajah Nita berubah suram. Selang-selang otaknya sedang bekerja dan mencerna. "Maksud anda perasaan terhadap Lana ya, bukannya anda tinggal jujur padanya?"


"Bukan Lana, tetapi kamu," ungkap Sergey menggebuu dengan penuh ketulusan. "Kita memiliki banyak masa lalu, tetapi kamu mengakhirinya dan memilih putraku."


Bumi seperti berputar, ya itu didepan mata Nita. Seperti beban berat yang mengguncang pikirannya yang tidak siap dan menolak mendengar lebih banyak. Apa yang dimaksud putra Ergi?


"Sempat mengira Lana bisa menyelamatkan saya. Ternyata, waktu menggelincirkan saya ke dalam pusaran cinta sialan." Sergey memelintir bibir seraya mensejajarkan tinggi dengan Nita. "Kalah dari putraku sendiri, dan kau menikahinya bahkan tanpa putraku meminta restuku dulu, lucu bukan? Kau tidak ingat siapa aku?"


"Apa arwah anda tidak tenang dan merasuki tubuh Pak Ergi?"


Sergey berdecak di depan wajah Nita dan tertawa sampai mengeluarkan air mata saking gelinya. "Kau berpikir begitu? Jika aku arwah, setiap malam aku akan mampir dan menganggu setiap mimpi malammu, bermain di alam mimpi. Menarik! Seandainya bisa begitu itu jauh lebih baik daripada harus menjaga etika dan hukum sialan, di dunia tidak adil ini, ya?"


Nita tersenyum dengan wajah pucat. Pak Ergi kesurupan oleh arwah Sergey? Apa arwah papa mertuanya bisa mendengar suara hati dan pikirannya. Nita berpikir dia sedang bermimpi, tetapi napas panas Pak Ergi di wajahnya itu terasa nyata.


"Kadang aku berpikir bisakah kita berlari ke arah dosa dan memikirkan kesenangan semata?" gumam Sergey dengan melirik penuh minat pada bibir Nita.


"Kukira itu bodoh, maksudku, kita bisa hidup dengan tenang di alam masing-masing." Nita merinding hebat.


Sergey memegangi perutnya yang geli. Tangan lain mengusap pipi Nita yang pucat dengan jempolnya. "Maukah kamu percaya jika aku benar-benar di depanmu karena rindu pada semuanya tentang kita. Seperti saat kita di meja makan, kamar mandi, berkebun. Kupikir itu lebih indah dibandingkan saat kamu dengan Rama?"


Menggigil hebat, Nita tersentak, itu beneran kenangannya dengan Sergey! Lelaki ini betulan kesurupan oleh arwah Sergey! Nita membaca ayat kursi di dalam hati, berkomat-kamit, tetapi masih tidak bisa menyelesaikan dan terus mengulangi membaca dari awal.


"Sssst." Menangkub tangan Nita dengan kedua tangan, Sergey lebih membungkuk dan mengecup kedua tangan Nita yang terasa dingin dan gemetaran. "Jangan panik. Mas tidak mungkin tega menyakitimu, Atha."


"Lepaskan tangan saya dan pergilah ke alam anda! Anda pasti menghukum saya, tetapi seharusnya itu bukan sepenuhnya salah saya. Anda bunuh diri karena kemauan anda, bukan saya yang menyuruh anda. Secara teknis saya tidak mendorong tubuh anda juga."


Mata Sergey melebar, alisnya saling menyatu dan bibir saling memelintir. Jadi, Nita mengganggap dia sudah mati! Ya! Wajar sih, orang tahunya dia sudah dibawa ke pemakaman, kalau tiba-tiba muncul bukannya ini sangat aneh, secara logika.


"Ya, kamu harus mencium Mas dulu baru arwah Mas bisa beristirahat dengan tenang." Sergey menyeringai, wajah Nita sudah seperti melihat hantu.Ya ampun kasian sekali!


"Tidak boleh, ini pasti hanya mimpi, ini dosa! Tidak! Dia mertuaku. Bismillah .... "Nita mulai membaca empat Ayat surat Al-Ikhlas yang paling mudah sampai selesai dan Sergey semakin merasa bersalah karena Nita justru kini mengira sedang bermimpi.


"Atha Sayang." Sergey melepaskan pegangan dari tangan Nita dan mampu membuat Nita mulai memperhatikannya. "Kita berdebat setiap waktu, kamu ingat? Kita terus berkebun membangun kebun mawar. Tiga tahun lalu sebelum kita tahu siapa ayah dari anak yang kamu kandung," ujar Sergey dengan senyum tipis. "Saat itu kita bisa dibilang serasi, aman, damai. Aku mulai menaruh segala perhatianku tanpa kusadari kepadamu."


Nita berkedip pelan. Soal Kebun mawar dan kehamilan Musa adalah tentang masa kontrak pernikahan dengan Sergey. Sergey yang dulu jarang terbuka soal perasaan, hanya ada intimidasi, perintah dan pemaksaan.


"Aku belum mati, mirip Devan, pemakaman itu palsu. Jika peti kayu milik Devan terisi raga milik orang lain yang wajahnya hancur. Sedangkan, peti matiku diisi boneka silicon oleh Pedro."


Pandangan Nita berkunang-kunang dan sempat tuli. Dia mengamati bentuk kaki, wajah, rambut pria itu. Hanya perbedaan wajah meski bentuknya sama oval, tetapi hidung itu lebih tipis dan lurus dan suara itu jelas berbeda. "Ini tak masuk akal. Suara Mas berbeda jika anda memang Mas Sergey."


Nita melirik bahu kekar yang lewat di depannya dan bau harum musk khas Sergey menerpa hidung membuat dia terpejam, mengapa dia selama ini tidak menyadari bau ini. Kini punggung kekar itu ada tato wajahnya. Hanya Sergey yang selalu melakukan hal gila semacam ini.


"Aku merasa seperti kehilangan akal sejak semua orang bilang aku mati! Aku marah kepada keadaan! Ah, memang si dulu ada niatan aku mengakhiri hidup. Namun, Pedro saat itu bilang dia menangkapku sebelum aku meloncat dari atas gedung-" Sergey meringis saat mendapat tinjuan di perut hingga terguncang hingga meninggalkan jejak merah di perut. "Sakit juga pukulanmu, Atha. Aku belum makan sudah kau pukul-"


"Selama ini Atha terperangkap di dalam penyesalan sendiri karena membuat Mas terpukul! Mas dan Paman Pedro tega sekali dengan Atha dan merahasiakan itu semua dari Atha!" Nita berteriak dengan wajah merah padam.


"Lalu, sekarang apa kamu tidak bersyukur bila aku masih hidup? Atau Mas bunuh diri lagi-" mulut Sergey terbekap dan alisnya makin naik.


"Jangan mengatakan hal mengerikan itu lagi!" Nita berteriak sambil berjinjit. "Mengapa anda bilang seperti itu, saat di luar sana banyak yang ingin sembuh dari segala penyakit dan takut kemat1an? Anda tidak memikirkan perasaan orang lain-"


"Ssssh!" Sergey menahan tangan Nita dan menjauhkan dari mulutnya. "MA'AF, NYONYA ATHALIA."


"Ya sudah." Nita mengangguk ragu, menunduk dan melirik ke atas. "Apa anda Mas Sergey, betulan!"


"Siapa yang bersembunyi di dalam kolong meja kerja Devan, saat kematian palsu Devan?" Sergey memasang wajah lucu dan berhasil membuat wajah Nita memerah.


"Hanya melihat bunga, saya menjadi bahagia. Hanya melihat bunga, saya tahu, betapa indahnya dunia dan alam ini," ucap Sergey dengan percaya diri.


"Anda mengingat itu?" Senyuman Nita merekah pada kata-kata sang mamah yang pernah dia ceritakan ke Sergey dan Rama, walau kalimat itu tak sama persis, inti maknanya sama.


"Kamu cantik saat merangkai bunga di dalam kepingan-kepingan bingkai. Sampai aku merindukan kamu melakukan itu lagi. Namun, sejak kamu hamil Musa di usia lima bulan, lalu kamu mulai meninggalkan hobimu?"


"Itu .... " Nita memperhatikan Sergey, lalu mengurungkan isi hatinya karena saat itu terlalu memikirkan papa.


"Hati ini milikmu," ucap Sergey sambil memegang tangan Nita, setelah berlutut di depan menantunya, saat berikutnya hanya keterkejutan muncul dari mata emas. "Hanya untukmu, kau dengar! Untukmu."


Dada Nita bergetar, bibirnya berkomat-kamit, tanpa bisa mengeluarkan suara. Sergey dan Nita memandang ke punggung tangan Nita yang diusap dengan perlahan. Diam-diam Nita memelototi begitu bibir mertuanya mendarat di punggung tangannya.


Hati wanita itu mengkerut maksimal dengan dada terguncang. KESALAHAN-KESALAHAN! Pandangan Nita meredup, merasakan sesuatu hangat yang mengalir di tangan. Kemudian Sergey terlihat menjauhkan kepala dan punggung tangannya kini basah oleh air mata sang mertua.


"Jangan pergi lagi dan menghindari Mas, seperti yang kamu dulu lakukan. Aku .... mengalah sejauh ini, sulih aku menjauhimu! Tetap bersikaplah biasa dan sembunyikan ini dari Rama, ya."


Lelaki itu berdiri dan memegangi bahu Nita dengan kedua tangan kekar, menarik bahu Atha dengan cepat. Sergey menghirup rambut Atha.


Tersentak, Nita terjebak dalam kehangatan kulit berbau musk yang merengkuhnya. Hidungnya terbenam dalam kulit yang sedikit berkeringat. Dia menjauhkan wajah dan Nita membeku ketakutan saat mendongak demi mengambil napas karena wajah mertua sekilan darinya dan dia terbius. Tangannya mendorong kuat-kuat perut kokoh agar menjauh. Rengkuhan ini seperti lilitan ular pito. Begitu kuat sampai sulit bergeser karena tangan Sergey ikut menahan pinggang belakang dan punggungnya.


Suara senyap di dalam, Rama menekan handle pintu dan mendorongnya. Hatinya seperti ini jatuh ke bumi saat melihat sang istri di dalam dekapan supir yang bertelanjaang dada dengan tangan mungil itu menempel di perut Ergi, begitu dekat. Rama berkedip pelan, mengapa Nita ....


Kelopak mata bergetar, dada terasa mulai mendidih dan naik ke ubun-ubun sampai kulit-kulit di kepala Rama, seperti mau lepas. Tangannya terkepal kuat dan tinju melayang ke pintu besi dan menimbulkan suara hantaman keras.


Sergey dan Nita terguncang, serentak melihat ke asal kegaduhan dengan jantung mereka terasa berhenti sejenak. Sergey memiringkan kepala ke kiri dengan bola mata seperti mau keluar dari tempatnya. Nita ternganga dan beralih melihat ke arah tatapan Rama pada perut Sergey yang tak memakai kain, dia sontak mendorong lagi perut Sergey dan bergeser saling menjauh.


Rama menggelengkan kepala saat dua orang itu saling tatap dengan wajah pucat. Dia berbalik seraya berjalan dengan langkah besar penuh kemurkaan.


Ketika tadi Rama mengikuti Nita, dia pikir ada apa dengan Nita yang berjalan ke arah gudang, ternyata di pintu gudang ada Pak Ergi. Sempat berpikir apa yang mereka cari di gudang. Rama menyusul dan menemukan rumahnya berlubang dan bagaimana itu bisa. Karena tidak ada sang istri dan Ergi, Rama lantas memasuki lorong itu dan melihat Nathan ada di rumah ini. Tetapi Rama mengabaikan Nathan dan mencari dimana keberadaan Nita. Ternyata, setelah memeriksa beberapa ruangan, istrinya justru di dalam dekapan sopir yang tanpa memakai baju atasan dan hanya mengenakan celana kolor! Pasti mereka sudah sangat dekat sampai Nita tidak canggung pada pakaian Ergi!


Dari awal, Rama sebenarnya tidak setuju bila pria asing itu di rumahnya, tetapi karena papa mertua, dan terpengaruh omongan sahabat Nita, dia jadi mengiyakan saat Ergi mendaftar jadi sopir.


"Mas-" Nita mengejar Rama, saat Rama terus menyentak tangannya dan mengunci kamar tak mengijinkan Nita masuk meski sudah beberapa kali mengetuk pintu kamar.


Apa yang dilakukan Rama, lebih memilih menyalakan musik dan memasang headset di telinga dengan volume keras. Memeluk Helen di sampingnya. Kenangan buruk meremuk pikirannya tentang berapa lama mereka menjalin hubungan terlarang, mungkinkah selama ini setiap dia diluar kota untuk mencari nafkah untuk keluarganya.


Sakit merayap di dadanya yang terluka oleh bom kasat mata. Rama pikir Nita wanita baik-baik. Dia pikir dugaannya disaat awal-awal bertemu Nita, tentang 'penggoda ayahnya' adalah salah. Nyatanya, sekarang, seorang sopir saja bisa membuat wanita itu berkhianat padanya. Kalau begitu, pantaskah ayah bunuh diri demi orang seperti itu? Tidak pantas!


Sepanjang malam Nita duduk menempel pada pintu kamar. Kepala pusing karena menunggu Rama yang tidak mau mendengarkannya. Ketika pagi pintu terbuka, Nita memegangi tangan Rama. Tampak wajah Rama begitu kusut dan sembab, tetapi mata itu tampak penuh luka.


"Mas, kenapa marah, Nita dan Pak Ergi tidak melakukan-"


"Jelas-jelas kalian berpelukan di rumah orang lain? Sudah berapa lama? Katakan, sejak kapan?"


"Tidak seperti yang Mas pikirkan, tidak ada sesuatu diantara kami. Ini murni kesalahan pahaman. Itu, baru tadi malam-" Nita mengelengkan kepala. Ingin sekali Nita menceritakan bahwa itu papanya Rama, tetapi takut Rama justru lebih salah sangka.


"Maksud kamu kalau tidak ketahuan aku, kalian melakukan lagi? Di belakangku!" Rama menyentak tangan Nita dan pergi ke kamar mandi, meninggalkan Nita yang melamun dan memandangi dua putrinya yang baru bangun.


"Ma'af." Sergey yang baru mengintip, lalu menjauh dari pintu kamar Rama. Ini semakin rumit.


Di dalam kamar mandi, Rama memandangi jendela ventilasi, yang menampakkan langit mulai terang. Namun, tampilan langit itu terdistorsi oleh bayangan perselingkuhan mereka semalam. Pelukan mereka itu terasa terus-menerus menghantam kepalanya.


Rama meninju air yang terus mengalir dari kran ke bathtub. Sumpelan pembuangan yang tidak tertutup membuat air mengalir begitu saja. Baju tidur yang masih lengkap sudah basah. Darah mengalir dari sela buku jari tangan, tetapi tidak ada rasa sakit darinya karena apa yang ada di dalam dada jauh lebih tidak tertolong. Dia tidak memiliki tenaga untuk mandi. Tangannya terulur menutup sumpelan bathtub.


Matanya terus kosong, berpikir apa Nita sudah pernah tidur dengan Pak Ergi. Dia tidak mempercayai Nita sama sekali, sejak tadi malam melihat dua tangan mungil itu menjauh dari perut Ergi. Tangan istrinya itu mau kemana! Apa mau masuk ke dalam kolor! Atau Nita masih memikirkan papa, hingga mengalihkan perasaan itu pada Pak Ergi.


Rama melepas baju dengan kesal saat air memenuhi bathtub. Pipinya telah basah bukan oleh air kran, melainkan oleh air matanya.


Seolah tidak memiliki kekuatan untuk menuangkan bubble bath, Rama berdiri dengan loyo tanpa memakai sabun. Dia berkumur pembersih mulut tanpa sikat gigi. Dikeringkan tubuhnya sambil memandangi. Namun, di mana dia melihat ... disitu bayangan Ergi pada Nita muncul dan terasa membakar dadanya.


Air dingin membasuh wajah tanpa disabun, Rama mencengkeram handuk di westafel dan terlihat sekali di dalam pantulan cermin pada wajah pucat dengan mata panda menghitam, menyedihkan setelah tidak bisa tidur semalam. Bagaimana bisa tidur saat tubuhnya seperti dijatuhkan dari langit dengan kecepatan tinggi. Bernapas pun rasanya begitu sulit.


Rasanya, Rama hanya ingin mengurung diri dikamar seperti anak gadis yang mengambek, tetapi kontrak dengan Jefri seolah menjeratnya, atau nasib keluarganya akan menjadi taruhan. Pikirannya semakin berkecamuk saat melihat Nita menyusuui Helen di tempat tidur. Dia membuang muka seraya berjalan cepat menuju walking closed, dan memakai baju sekenanya.


Anak-anak perempuan yang baru bisa merangkak, merangkak kesana kemari di lantai. Nita meraih jam tangan untuk suaminya dari dalam lemari kaca. Namun, Rama menjauh walau jarak mereka sudah tiga meter, tidak mau melihatnya. Wajah Helen-Bunga diciumi Rama, setelah Rama hanya menyemprot parfum ke baju, tanpa menyisir atau merapikan rambut.


"Aku enggan melihatmu lagi, besok aku pindah kamar. Kamu perlu menjaga jarak dariku," cebik Rama dengan wajah merah padam saat mencapai pintu dengan tidak melihat Nita.

__ADS_1


"Mas, Mas salah paham. Aku bilang-" Nita benci suara Rama yang terluka.


"Aku akan memecat selingkuhanmu itu, kamu tidak bisa menemui dia lagi," geram Rama sebelum membanting pintu kamar dengan perasaan pedih.


Nita terduduk menangis tersedu-sedu, bahkan itu terdengar oleh Rama saat di luar dinding kamar. Rama menelpon Pak Ergi.


Sepanjang perjalan ke lokasi syuting Rama terus menatap jijik ke supirnya, seakan dengan pandangan itu mampu mengebor kepala sang sopir dari arah belakang.


Sergey mencoba tenang, walaupun rasanya seperti orang gila. Tidak tahu apa yang dikatakan Nita pada Rama. Seluruh tubuh terasa demam akibat terlalu stress sejak melihat tatapan Rama keluar dari rumah. Hingga kini dia yakin tatapan itu, pasti Rama seolah ingin membunuhhnya.


"Jadi, itu alasan anda menceraikan Lana?" Rama tertawa dengan cara merendahkan dan melihat tangan supir itu yang terkepal di stir mobil. "Dasar tidak tahu malu! Pergilah dari rumahku, atau akan melaporkan ke polisi bahwa anda menjebol rumah saya tanpa seijin pemilik rumah hanya untuk BERSELINGKUH dan mengganggu istri orang."


Buku-buku jari Sergey memutih. Dasar anak durhaka! Berani kau tidak tahu terimakasih, apa aku membesarkanmu untuk kau caci maki !


"Siapa sebenarnya anda? seorang sopir .... Sepertinya jauh lebih dari itu? Aku akan mencari tahu rumah siapa itu. Kenapa ada Nathan!" Rama meninju pintu mobil dengan napas tersengal.


"Kami tidaklah sekotor seperti apa yang anda kira, pikiran anda sangat sempit," suara Sergey berat sambil fokus mengemudi.


"Jangan berani menemui istriku dan kembalikan mobil ini setelah mengantarku. Keluarlah dari rumah dan bawa semua barang-barangmu jangan sampai mengotori rumah saya, Sialan!" Rama membuang muka, begitu malu mengapa Nita mengkhianatinya!


"Apa anda berselingkuh di kamar mu itu, paviliun belakang? Berpisah dari Lana adalah alasanmu untuk berdua dengan Nita dan tidur bersama saat saya keluar kota! Menggodanya-"


Dada Rama lalu terlempar, menghantam jok depan setelah suara rem dan ban saling berdecit, hingga kendaraan yang tadi melaju dengan kecepatan 40 km/jam itu berhenti dalam waktu enam detik.


"Sial*n brengs*k kau!" Rama melayangkan tinjuan dan mendarat keras di telapak tangan sang sopir yang ternyata lincah menangkapnya. Ada beberapa jeda beberapa detik saling dorong. Lalu sopir itu mendorong balik tangan Rama dengan kasar dengan tatapan kebencian.


"Anda tidak mempercayai istri anda sendiri?" Sergey terkekeh. Bergidik mengapa dia harus dituduh dengan hal yang tidak dia lakukan. "Jika anda tidak percaya pada nyonya, sebaiknya anda menceraikannya, bukan?"


"Menceraikan? Lalu anda mendekatinya dan memilikinya, begitu pikiran anda sepertinya? Jangan pernah bermimpi!" Rama keluar dengan membanting pintu mobil. Dia memutar untuk menuju pintu pengemudi, lalu membuka pintu dan berjongkok untuk menekan tombol bagasi.


Sergey berkedip dan membuang napas kasar setelah Rama membanting pintu di sampingnya.Dia melirik spion tengah pada Rama yang mengeluarkan tas berisi kostum untuk syuting dan berjalan berlawanan arah, lalu naik angkot.


Putraku naik angkot. Naik angkot! Seorang Rama mau naik angkot yang dianggap menjijikan! Sergey tak bisa melihat wajah Rama karena Rama duduk dengan membelakangi saat angkot itu lewat di sisi kanannya.


Sergey mengacak-acak rambutnya merasa gagal untuk pertamakali dalam hidupnya sebagai seorang ayah.


...****************...


Satu jam setelah kepergian Rama, Nita kedatangan orang-orang yang membawa penampangan plat besi tebal, yang katanya permintaan Rama, itu menurut penuturan security.


Sepuluh pria dengan seragam safety biru, menuju gudang dan mengukur lebar lorong. Mereka mulai mengebor tembok menggunakan mesin bor di sekitar lorong. Plat besi itu di geser hingga menutupi lorong dan mur baut besar mulai menembus besi plat hingga mengunci plat besi pada tembok.


Mereka juga mulai menghancurkan keramik dan mencongkelnya, membuat lubang di sekitar besi plat. Kerangka besi lalu ditanamkan di lubang barusan dan mereka mulai menyiram adonan semen cor kedalamnya. Rama itu mendatangkan truk molen! Mereka mengecor, pada awalnya membentuk dua tiang di kiri kanan lorong


Sorenya, Nita melihat ke gudang lagi, besi plat sudah tidak terlihat karena telah tertutup jajaran kayu blabak yang dia yakin bahwa ada cor semen dibalik kayu.


Nita kembali ke ruang keluarga dan mendapat banyak pertanyaan dari Intania. Dia menjawab tidak tahu dan tidak berani menceritakan soal semalam. Apalagi soal Sergey.


"Pak Ergi kenapa tidak angkat telepon dan dia belum balik, Ini udah sore! Bisa-bisanya mengembalikan mobil dan mengantar Musa sepulang sekolah hanya sampai gerbang. Sebenarnya ada apa rumah ini?" Intania terus berkeluh kesah di depan Nita yang terus melamun sambil melihat si kembar yang duduk bermain bola.


...****************...


Enam bulan terlewati, Nita dan Rama, masih saling menghindar. Nafkah batin tidak didapatkan Nita dan tidak ada lagi aktifitas suami-istri yang menggeloraa. Jangankan itu. Nita kini justru merasa Rama sangat jijik setiap kali berpapasan.


Tidak tahu lagi nasib pernikahannya mau dibawa kemana. Lalu Sergey juga tidak pernah menghubungi setelah kekacauan ini. Haruskah dia menyimpan semua ketidaknyamanan ini sendirian?


Nita menepati janji dengan menyembunyikan identitas Sergey. Akan tetapi Rama jadi berpikiran dia berkhianat dengan Pak Ergi!


Ketakutan Nita adalah bila Rama menanggung perasaaan tidak nyaman bila sampai tahu Sergey masih hidup dan memiliki perasaan padanya. Apalagi dengan kondisi Ergi sekarang yang sendiri karena Lana telah menyetujui perceraian itu.


Semua pilihan dirasa akan berakhir buruk bagi Nita.


Membiarkan Rama salah paham dan mengira Nita berselingkuh dengan Ergi.


Atau ...


Memberitahu identitas Ergi pada Rama. Lalu seberapa besar efeknya buruknya?


...****************...


Helen dan Bunga sudah memiliki kamar sendiri.


Rama dengan tidak sabar melepas semua pakaiannya, meninggalkan pakaian inti dan kembali menenggak minuman lalu menyalurkan minuman itu pada bibir istrinya.


Nita yang tidak siap tersedak dan bangun saat berikutnya mulut Rama menyalurkan cairan pahit dan pedas dengan bau kuat. Wanita itu coba menjauhkan mulut Rama darinya.


"Kamu pernah tidur dengan si brengs*k, kan!"


"Tidak Mas! Sudah berapa kali Nita jelaskan, jika Pak Ergi itu-"


"Jangan sebut nama itu di depanku, Jal*Ng!" Sakit dirasakan Rama, marah pada dirinya sendiri karena mengatakan kata-kata jahat itu tanpa bisa di kontrol.


Setiap kali kata-kata jahat itu keluar, maka setiap kali itu Rama tahu Nita terluka. Namun, dia pikir apa yang dirasakan Nita tidak akan pernah sesakit apa yang dia rasakan, bukan?


"Dia tidak sengaja memelukku," suara Nita tercekik saat Rama melepas dengan kasar kancing pakaiannya.


"Kamu bercanda?" Rama tertawa dan menarik baju tidur itu, lalu membuang dengan sembarang. "Apa yang keluar dari mulutmu itu sama sekali tidak bisa kupercaya. Cepat, layani aku! Dan jangan bayangkan si brengs*k itu di kepalamu!"


Tidak ada kenikmatan yang dirasakan, Nita menahan perih setelah miliknya yang kering, dihantam paksa dan mengakibatkan robek di daging luar yang begitu tipis. Lolongan permohonan Nita tak cukup membuat Rama mengakhiri aktifitasnya. Tidak ada kelembutan seperti yang dulu Rama berikan. Bahkan kata-kata tak pantas keluar dari mulut Rama dan begitu melukai harga dirinya sebagai seorang istri.


Nita memahami Rama yang tersesat dan terluka pada keyakinannya sendiri. Dia tahu air mata yang keluar dari mata Rama dipenuhi kebencian yang mengira dia berkhianat. Nita semakin tidak berdaya dan menahan sensasi terbakar menyengat di antara kedua paha.


"Papa mertua." Nita dengan air matanya berlinang setelah disiram cairan kehidupan Rama di rahimnya.


Rama menarik kepala saat miliknya melunak diikuti cairan hangat meleleh keluar dari milik Nita . Rama masih menindih dada sang istri, dia tahu Nita hampir tidak kuat menahan bebannya saat napas wanita itu terdengar berat.


Rama meneliti ke dalam mata emas, dia tidak sepenuhnya mabuk dan mendengar jelas apa yang barusan diucapkan sang istri.


"Papa Mertua masih hidup," Isak Nita makin menjadi. "Dia ... Dia ... Dia Ergi. Papa mertua adalah Ergi. Ergi adalah Papa mertua."


Seakan kepala Rama baru disambar petir. Tubuhnya mendadak gemetar dan meloncat dari tubuh Nita dengan pandangan bingung. "Mengarang cerita? Kamu mengarang? Sekalian saja buat novel dan ceritakan hubunganmu dengan si brengs*k!"


"Percayalah Mas. Nita mengikuti Pak Ergi. Belum sempat Nita bertanya ke Kak Nathan kenapa ada Paman Pedro di san.


Lalu Pak Ergi menyuruh Kak Nathan pergi, meninggalkan kami untuk berbicara berdua. Pak Ergi mengakui. Ah maksudku, Papa Mertua mengakui tentang penyamaran sebagai Pak Ergi. Papa mertua masih hidup, malam itu Nita baru mendengarnya. Nita tidak tahu jika tiba-tiba papa mertua memeluk Nita dan itu saat Mas datang."


Rama tertawa geli. "Pintar sekali karanganmu? Jangan bawa-bawa mendiang papaku untuk menutupi perbuatan kotormu!"


"Aku tidak bohong Mas. Coba tanyakan sendiri-" Nita menggigit bibir bawah karena Rama semakin jijik dan keluar dari kamarnya dengan memakai jubah tidur lantas membanting pintu kamar.


Bebersih diri dengan pikiran berkecamuk dan kepala begitu berat. Nita bergegas menuju walking closet, membawa koper dan memasukan lima pasang baju, lalu pergi ke kamar Helan dan bunga.


Di sana, Nita justru terkejut saat Rama tiduran di lantai, di antara keranjang tidur Helen dan Bunga. Mas kenapa tidur di lantai ! Maafin Nita!


Dalam cahaya temaram, kelopak mata Rama bergetar saat bersitatap dengan Nita. Wanita itu tampak ragu menarik koper dan mulai memasukan pakaian Helen dan Bunga. Dada Rama bergetar, matanya tak berkedip. Sampai ketika Nita memindahkan Helen dan Bunga ke keranjang dorong, Rama merasa bodoh karena tubuhnya terasa kaku dan sedikitpun tidak bergerak.


Hati Rama seolah mati, menyaksikan Nita mendorong dua keranjang bayi dan membawa keluar dari kamar. Nita kembali untuk mengambil koper, lalu mendekatinya.


Rama membeku dan masih tiduran meringkuk semakin tak memiliki tenaga saat tangan dingin Nita menyentuhnya dan mencium punggung tangannya. Tak bisa membedakan tangan dia atau Nita yang gemetar.


"Aku pamit membawa Bunga dan Helen, Mas. Tempatnya akan ku shareloc nanti jika kamu mau menjenguk putri kita. Lalu, Musa karena harus sekolah, jadi kutinggal bersama Mas dan Mama Intan. Aku tetap akan menemui Musa di sekolah. Kupikir kita perlu menenangkan diri dan memikirkan semuanya, dan kejelasan ini mau dibawa kemana."


Rama tertawa teredam bisa-bisanya Nita berbicara seperti itu, padahal di sini siapa yang salah. Pria itu mematung saat Nita keluar dari pintu membawa koper, menutup pintu, suara roda koper dan suara roda keranjang bayi menari-nari di telinganya dan terdengar semakin menjauh.


Kembali Rama tertawa teredam, menatap diantara celah pagar keranjang kayu, pada kasur tipis, alas bayi pilihan Nita. Tidak ada putrinya di sana. Air mata yang dia kira telang mengering, meleleh dan terasa panas melewati pipi.


Rama bangkit dengan sempoyongan, ke arah jendela. Dilihat Nita memasukkan kasur mini dan si kembar ke jok belakang mobil. Satu koper besar dengan susah payah dijinjing wanita itu sampai masuk ke dalam bagasi, berikut keranjang bayi. Bahkan Nita tampak kesulitan memasukan itu semua, hingga bagasi itu tak tertutup sempurna karena tidak muat.


Jam dinding menunjuk pukul setengah dua pagi, Rama mencengkeram tralis jendela. Begitulah, Nita memilih meninggalkannya untuk hidup dengan Ergi?


Pada akhirnya seperti ini, persis seperti pikirannya sejak awal memergoki mereka, satu tahun silam. Mau pergi saja pakai acara mengarang cerita konyol, mana pakai menyebut bahwa Ergi adalah papa. Mana dia percaya. Sungguh Nita kelewatan.


Kebencian semakin berputar-putar di dalam dada. Dia ingin tahu dimana Ergi, lalu membongkar perselingkuhan mereka. Dia sudah menyuruh seseorang untuk memata-matai Lana selama satu tahun ini, tetapi Ergi tidak pernah datang untuk menemui Stevan. Dia ingin memberi pelajaran pada Ergi yang membuat pernikahannya jadi berantakan.


...****************...


Intania bingung bukan kepalang, pagi-pagi sibuk memasak untuk makanan Musa setelah security memberitahu kepergian Nita semalam dengan membawa si kembar. Rama juga pergi jam lima pagi, entah untuk syuting atau apa.

__ADS_1


Setelah mengantar Musa ke sekolah, Intan kedatangan Nita di bawah pohon besar. Intan berdiri dari tempat duduk besi dan menampar pipi Nita di kanan dan kiri sampai meninggalkan jejak merah.


Nita tampak tak bergeming, kelopak mata itu bengkak seolah Nita habis menangis semalaman. Area bawah mata menghitam seolah Nita tidak tidur.


"Dimana Bunga dan Helen?" Tanya Intan dengan tidak ramah. Melihat sekitar di halaman sekolah, terlihat ada dua orang tua murid sedang melihat kemari seolah menonton. Sudah cuaca panas-panas begini di jam sepuluh pagi, ditambah tatapan orang asing itu membuat Intania kesal.


"Mereka dengan baby sister, Mah," suara Nita terdengar tidak bertenaga. "Mas Rama sudah tidak mempercayai Nita lagi, Nita pikir Nita terlalu lelah."


"Kau tidak tahu ya? Setiap malam Rama mendatangi Mama, tidur di pangkuan Mama dengan air mata berlinangan. Dia tidak mau menceritakan apapun dan hanya tidur sebentar di pangkuan Mama, karena setelah itu Mama melihat dia sering tidak bisa tidur.


Mama tahu ada sesuatu, tetapi Mama tidak tahu detailnya karena dia tidak mau terbuka. Kau tahu? Setelah denganmu dia tidak pernah lagi mau bercerita soal masalahnya pada Mama. Kupikir dengan adanya kamu, dia mau cerita padamu. Tapi kau sekarang malah pergi!


Tidak kah kamu memikirkan perasaan dia dengan membawa Helen dan Bunga? Dasar menantu tidak tahu diri!" Intan berkacak pinggang dan ingin membuat Nita mengerti tetapi hanya kebingungan semakin nyata yang muncul dari mata Nita. "Setelah keluarga kami terus membantumu, kenapa selalu masalah yang kau berikan pada keluargaku!"


"Nita tidak bermaksud seperti itu, Mah. Semua di luar kendali Nita-"


"Belajarlah untuk mengalah! Dengarkan apa kata Mama, lelaki gayanya saja sok nggak butuh. Dia sebenarnya lebih lemah dari kita! Kita sebagai istri harus mau merendah, serendah-rendahnya. Pikirkan ulang, ini bahkan tidak sebanding dengan pengorbanan dan lelahnya selama dia menjadi kepala keluarga dan menanggung beban berat, memikirkan seluruh keluarganya! Dia lelaki memang tabiatnya begitu menjaga harga diri,.keras hati, tembok begitu tinggi. Namun, dengan kamu keluar dari rumah, kau telah menginjak-injak harga dirinya sebagai lelaki! Dia pasti terluka dan tidak akan bilang!"


Nita menutup mulut yang mewek. "Nita tidak bermaksud seperti itu, Mah."


"Kembali ke rumah! Jangan Rama terus yang berkorban! Turunkan harga dirimu sedikit, kita diciptakan untuk seperti ini. Lagipula kamu diluar siapa yang mengurusmu? Hidup di luar itu berat dan kau tak usah menambah-nambahi masalah!"


Nita menunduk, saling meremas jari setelah kepergian Intan. Terpikir jika Rama sudah seperti enggan melihatnya. Dia hanya tidak mau menambah pikiran Rama bila terus membuat Rama marah karena melihat wajahnya.


...****************...


Rama pulang dengan loyo. Seorang pelayan membawa kostum sambil mengikuti di belakang. Dia melirik jam dinding di ruang tamu, sudah jam satu pagi.


Terkejut Rama melihat sosok perempuan cantik tiduran di sofa. Dia mengusir pelayan dengan tangannya dan berjalan ke kursi. Berlutut, Rama memandang ke seluruh wajah Nita yang tampak lelah.


Bukannya dia pergi? Apa dia ribut dengan Ergi dan memutuskan kembali ?


Pandangan Rama meredup, apa Nita menunggunya pulang? Jari-jarinya maju, menyentuh , mengurai poni yang berantakan. Dia jadi ingat saat melihat Nita pertama kali, wanita yang cupu berkaca mata. Pipi sehalus beludru itu di usap dengan telunjuk sampai bulu mata nan lentik itu bergetar dan bola mata itu bergerak ke kanan kiri, diikuti kelopak mata yang akan terbuka. Rama berdiri dan lekas menjauh karena takut ketahuan.


Ketika Nita terbangun, dia melihat bayangan Rama barusan sebelum hilang dari ruang tamu. Dia langsung berdiri sambil mengucek mata, berlari menyusul.


"Mas ... baru pulang. Mas, mau Nita siapkan air mandi, Nita sudah masakin tapi udah dingin, mau Nita panasin atau-" Nita meringis saat Rama berbalik dan menatap matanya dengan begitu dingin.


Nita menunduk. "Mas, maafin Nita ya, karena selama ini sudah egois. Demi Tuhan, Nita tidak melakukan apapun, termasuk berselingkuh, itu-"


Rama langsung berbalik dan berjalan menjauh. Nita kembali menyusul dengan tidak menyerah karena Rama sempat mau berhenti! Tandanya ada harapan di sana. Wanita itu sibuk menyiapkan air hangat untuk mandi Rama, lalu keluar dari kamar mandi.


"Mas, airnya sudah siap."


Tanpa menjawab, Rama masuk kamar mandi dan mengunci pintu. Pria itu menyentuh air bathub, lalu mencium jarinya yang beraroma wangi. Rama terpejam sempat tersenyum, dan bayangan Ergi seperti setan gentayangan di dalam pikiran, mengejutkannya. Dia membuka mata, menjauh untuk cuci muka dan sikat gigi.


Ketika Rama keluar dari kamar mandi, Nita berjalan ke kamar mandi dan langsung murung karena Rama tidak memakai air hangat yang disiapkan. Dia merasa tersinggung dan sangat kecewa.


Pakaian tidur yang sudah disiapkan Nita, juga diabaikan. Rama memilih sendiri ke pakaian tidur panjang, dan berjalan keluar saat Nita duduk canggung di pinggiran tempat tidur.


Di kamar Bunga dan Helen, Rama menggendong sang putri satu persatu dengan perasaan rindu mendalam. Bersyukur karena dia tidak harus berjauhan dengan para bidadari kecilnya yang berusia 14 bulan dan sedang lucu-lucunya.


Selimut tebal dilipat jadi dua, dihamparkan di atas lapisan busa tipis di lantai. Rama duduk bersandar pada sofa di antara keranjang tidur- Bunga dan Helen. Sampai saat suara pintu terdengar terbuka, Rama memejamkan mata.


Sentuhan lembut dirasakan Rama, kemudian Nita mulai memijat kakinya. Lelaki itu tidak tahu pasti berapa lamadurasi Nita memijat, sampai Rama tertidur. Rama terbangun karena dia kira Nita kelelahan sampai menjadikan kakinya sebagai bantal.


Ditariknya tubuh mungil itu yang terasa makin kurus ke dada bidang. Rama memeluk Nita dan mencoba terpejam setelah menyelimuti Nita dengan selimut bayi untuk sekadar menahan dingin, karena Nita belakangan seperti tidak tahan, dengan suhu rendah.


Tanpa diduga, Nita yang pura-pura tidur tersenyum pada sikap Rama ini. Pelukan hangat mampu membawa Nita tidur terlelap malam itu.


...****************...


Malam terus terlewati, Intania tidak melihat perubahan pada hubungan putranya. Di berinisiatif memesan obat lewat Patrick-mantan asisten Sergey.


Intania terus melakukan berbagai upaya. Salah satunya itu menaburkan obat pemicu sesering mungkin. Dia tertawa merasa menang setiap kali melihat Rama setelah mengonsumsi itu seperti orang menanggung beban berat.


Ini terhitung, malam ke tujuh usahanya. Dia mengantar secangkir teh pada putranya yang tengah menonton televisi, lalu bergegas pergi dan mengintip. Tampak sang putra menghabiskan minuman. Dia juga sudah menaburkan serbuk pemicu pada minuman Nita sebelumnya.


Tidak lama setelah itu Rama kembali ke kamar. Untung beberapa hari ini Rama pulang lebih awal di jam sembilan malam. Semoga hubungan pernikahan putranya lekas membaik.


Satu jam berlalu, disaat Rama begitu kesal, karena tidak ada tanda-tanda akan pelepasan. Dia terhuyung ke samping tubuh polos sang isteri.


Entah ada apa dengan dirinya selama tujuh malam ini, dia yang terus menginginkan istrinya. Mata Rama berkedut, karena Nita naik ke atasnya. Sama, sikap Nita juga aneh. Beberapa hari ini Nita berinisiatif melakukan hal-hal luar biasa.


Wajah Rama terasa sangat panas sampai ke sekujur tubuhnya, begitu juga sang isteri wajah cantik itu telah memerah, padahal AC sudah diatur pada suhu maksimal, tetapi mereka sudah banjir keringat seperti di dalam sauna. Mungkin mau hujan, jadi suhu malam ini sangat panas.


Mereka tak saling bicara sejak saling tatap di kamar, tetapi lenguhan saling bersahutan setelah sentuhan pertama yang tidak disengaja dan menjalar lebih bersemangat.


Racauan Nita justru membuat Rama ingin menyerahkan diri pada istrinya dan pertahanannya hampir runtuh. Kasihan pada Nita, tetapi dia masih tidak mempercayai. Bagaimana bisa, mempercayai istri jika sudah pernah melihat Nita di dalam pelukan lelaki lain yang tidak memakai pakaian atas. Sial, biasanya jika dia berpikir seperti ini, miliknya langsung tidur, tetapi ini benar-benar ada yang tidak beres.


Setelah berjuang berbagai macam cara, Rama dan Nita akhirnya mengalami pelepasan bersama. Tubuh Nita yang wangi dan basah kuyup terkulai di depan Rama yang tidur miring.


Tangan kekar melingkar di atas perut sang istri. Mereka tidur kelelahan setelah Rama mencium pucuk rambut Nita.


...****************...


Ketika Rama mencari makan siang di sela waktu syuting, Dia melihat sosok Ergi di pinggir jalan. Rama langsung menepuk sopir -yang adalah kru film, menyuruh berhenti. Rama menoleh ke belakang dan mendapati Nathan dan Pedro keluar dari dalam mobil.


Mengikuti masuk ke dalam restoran Korea. Rama mengintip ke dalam, di tempat yang tidak terlalu jauh. Karena ada sekat tinggi, Rama duduk di samping mereka. Lalu memesan makanan dengan cara berbisik ke pelayan karena tidak mau sampai terdengar mereka.


"Kamu serius mau ke luar negeri?" suara Pedro terdengar tidak terima.


"Disini aku susah bernapas, huh!" suara Ergi.


"Nita menghubungimu?" suara Nathan datar.


"Dia belum menelponku sejak malam itu. Huh, aku nyaris menghancurkan pernikahan mereka. Hanya kehancuran terpampang nyata jika jika aku tidak menjauh dari Nita," suara Ergi terdengar tidak bertenaga.


Tangan Rama terkepal kuat di atas meja, saat seorang pelayan pria itu berusaha menyalakan arang hitam sampai menyala merah di tempat pembakaran di tengah meja. Sampai pelayanan itu ketakutan mengira dia marah pada pelayan.


Jadi, benar ada sesuatu di antara Ergi dan Nita. Sebegitu dalam, Cih. Baguslah pergi saja sejauh-jauhnya kau Ergi. Harusnya kau sadar diri untuk apa Nita menelponmu! Tentu saja Nita sedang sibuk merayuku agar aku mau memaafkannya! Dia pasti menyesal karena mengenalmu, Ergi Sial*n! (Rama)


"Kamu tidak memberitahu apapun pada Rama, menyelesaikan kesalahpahaman. Bagaimana kalau pernikahan putramu hancur," kata Pedro terdengar sambil mengunyah.


Mata Rama menyipit. Oh jadi anak Ergi sudah menikah, apa hubungannya pernikahan anak Ergi dengan aku?


"Rama begitu mencintai Nita. Aku belum pernah melihat anak itu sekukuh itu dalam mempertahankan sesuatu. Tidak mungkin Rama menceraikan Nita. Tetapi kalaupun iya, bukannya itu bagus?" Ergi tertawa dengan cara aneh membuat Rama mengepalkan tinju.


Aku takkan menceraikannya! Pede sekali kamu! (Rama)


"Mungkin aku bisa mengejar Nita setelahnya dan kembali ke Indonesia," suara Ergi dengan serius membuat Rama tanpa sadar menggebrak meja hingga membuat suara orang-orang di sebelah langsung senyap dan pelayan menjauh dari Rama.


Pedro dan Nathan saling pandang karena suara barusan. Sergey tidak menghiraukan suara gaduh barusan, dan sibuk membolak balik irisan daging yang berdesis diatas pan dengan aroma sedap, tetapi dia tidak napsu makan. Buktinya potongan daging itu sudah coklat gelap masih belum diangkatnya dari pan.


"Aku juga tidak mengerti, mengapa Nita tidak mencoba menghubungi ku. Apa semua pengakuanku tidak berarti apa-apa untuknya?" Sergey menghela napas kesal.


Pengakuan ? Rama menganga. Pengakuan apa, apa Ergi menyatakan ketertarikan pada Nita!


"Minimal dia kan bisa malam itu memintaku untuk membantunya menjelaskan pada Rama. Atau menyuruhku menjelaskan identitasku sebenarnya pada Rama. Mengapa Nita seperti tidak peduli?" suara Ergi meninggi.


"Memang apa yang kau inginkan. Agar Nita memberitahu Rama bahwa kamu masih hidup. Lalu kamu kembali ke tengah mereka untuk menjadi mertua Nita. Kamu pikir Nita tidak akan canggung denganmu setelah pengakuan cinta konyolmu itu. Pikirkan juga perasaan Nita!" Pedro mulai kesal pada Sergey.


"Lalu papaku tahu, bahwa sahabatnya masih hidup, dan anda akan terjerat perjanjian yang makin berbelit dengan bos papa. Akhirnya, papaku akan disudutkan karena bos papa, mengira papaku menyembunyikan anda selama ini. Sudah pasti cepat atau lambat papa atau bos papa itu akan tahu kalau anda masih hidup." Nathan menenggak segalas soyu dan menggebrak gelas kaca itu pada meja.


Mata Rama berkaca-kaca, jantungnya berdegup kencang, suara mereka kadang samar kadang jelas.


"Sergey Aiman Abimasa, sekarang terserah denganmu. Tapi, Kupikir kamu harus memberitahu perihal kepergianmu besok. Nathan bisa menelpon Nita agar dia menyusulmu ke bandara. Apa kau ingin aku juga menitipkan sebuah pesan, agar dia mau menemuimu jika dia tetap menolak untuk bertemu," suara Pedro terdengar bijaksana.


Sergey tertawa keras dengan senyuman penuh, tetapi matanya berkaca. "Mana dia mau menemuiku? Sekalipun kau bilang ... aku pergi selamanya dari hidup dia. Atha tidak akan peduli. Ya, hanya ada Rama di dalam pikirannya. Dia menolakku dan takkan- " Sergey berpaling ke kiri ke atas sekat kayu, pada bayangan hitam barusan.


"Kenapa?" Tanya Pedro. Saat Sergey akan berdiri, suara pecahan mengalihkan perhatian Sergey hingga Sergey menoleh ke kanan bawah. Gelas berisi es teh jatuh berceceran.


"Sorry ." Nathan berpikir dalam, apa tidak salah tadi dia melihat Rama. Dia mendongak pada Sergey yang berjalan ke dekat sekat dan melongok ke samping.


"Kenapa?" Tanya Pedro ikut berdiri melongok ke samping, tidak ada orang. Terlihat ada pesanan utuh, ada daging di atas pan dan mau hangus sampai baunya kemana-mana, tetapi tidak ada orang, padahal makanan lain semua masih lengkap.


"Aku sudah tidak tahan, mau ke toilet." Nathan berjalan cepat meninggalkan mereka yang duduk kembali. Dia berjalan ke arah pintu keluar dan terpaku pada daerah yang terdapat tulisan Cashier. Nathan melihat Rama sedang mengulurkan kartu kredit dengan pandang kosong ke pegawai kasir.

__ADS_1


__ADS_2