
“Kenapa Anda menemuinya, Ibu Tiri?” Rama dengan sangat tidak senang karena Nathan adalah aktor yang banyak dipuja kaum wanita. Dia berpikiran Nita mendekati Nathan dan pasti Nathan akan respect, lalu mempermainkan perasaan wanita itu. Dia mengikuti Nita yang menuju ke meja kasir.
“Kamu kali ini mengikutiku, kan?” Nita dengan penuh keyakinan. Karena saat dia datang, belum ada seseorang di sudut ruangan restoran. Nita membayar bill 1.540.000 menggunakan kartu kredit. Nita melirik Rama karena sudah tidak sabar ingin bertanya soal kalung itu.
“Aku ada janji dengan Budi, kalau kamu mengatakan seperti itu ya, aku juga nggak keberatan kalau dianggap mengikutimu.
Nita hanya melirik dengan lesu. Dia sedang tak ingin terlalu menggubris Rama. Dia mulai melangkah dia ke arah pintu keluar. Dompet dimasukan ke dalam tas Hermes. “Ram, aku ingin berbicara denganmu, nanti malam. Jika kamu ada waktu ... kita mengobrol di tempat dan waktu yang sama, seperti biasa.”
“Kenapa tidak sekarang?” tanya Rama dengan penuh harap. Dia mengikuti Nita ke arah parkiran. Ketika Nita akan memaiki mobil HRV merah, Rama membukakan pintu, mobil ini yang dulu dia tabrakan ke pagar rumah. Dia jadi malu saat mengingat emosinya yang dulu tak terkendali. “Kamu mau kemana, kita kan bisa mengobrol sekarang.”
“Katanya kamu mau menemui seseorang?” Nita menoleh ke arah Rama saat tangan kekar menahan pintu mobil untuknya. Kaki jenjangnya, yang terekspos sampai batas lutut, lalu dengan anggun memasuki mobil.
Hal itu tak luput dari tatapan terkesima Rama, hingga pemuda itu menelan saliva dengan kasar dan makin mencengkeram pintu mobil.“Itu bisa di batalin …. Bagaimana? Mau sekarang?"
Rama menggaruk rambutnya yang jadi gatal karena stress dalam menunggu jawaban. Kenapa dia sangat ingin berduaan dengan Nita. Rasanya, gelap bila dia belum berlama-lama berdua dengan wanita itu.
“Oke. Apa kamu mau gabung ke sini atau ….”
“Boleh?”
“Why not?”
Rama dengan senyuman kecil, dia meraih kabel headshet putih yang menglawer ke pintu.
Tubuh tinggi itu membungkuk dan kepalanya terdorong ke dalam mobil.
Pada waktu bersamaan, Nita merasakan bayang gelap dan udara disekitarnya dipenuhi aroma musk. Nita menoleh ke kanan dan tubuhnya langsung membeku saat mendapati pipi Rama sekilan di depannya. Apa dia akan mencium ku lagi !
Mereka terdiam dalam 12 detik, lalu saling memundurkan kepala hingga dapat bersitatap. Wajah Nita menghangat, Rama tersenyum kaku karena wajah putih Nita yang berubah semu-semu memerah. Lelaki itu menahan napas yang tak terkontrol dan tangan Rama langsung menjatuhkan kabel di dekat tuas operan.
Rama makin terkesima saat Nita menoleh ke arah tuas karena aroma wangi gerakan kepala Nita, yang begitu memabukkan. Dia buru-buru menarik diri ke belakang dan berusaha bersikap normal saat Nita menatapnya, seolah dari tatapan netra emas itu ada banyak pertanyaan di kepala Nita.
“Aku tutup ya, awas kena paha," ucap Rama dengan Gentle. Dia melirik paha Nita yang menjauh dari pintu, lalu Rama dengan hati-hati menutup pintu kemudi.
__ADS_1
Sementara Nita masih terbengong-bengong. Jadi, dia sudah berpikiran buruk. Padahal Rama hanya mau meletakkan headset!
Dengan langkah cepat dan semangat baru, Rama melewati depan mobil. Pada saat yang sama, ada mobil Livina putih berhenti di samping kanan. Jendela kaca itu mulai turun, Budi lalu mengangkat tangan dan seolah sahabatnya terkejut saat melirik plat mobil milik Nita. Ya, Budi hafal dengan nomor plat mobil milik ibu tiri.
Rama meraih kunci motor Ducati dari dalam saku celana. “Bawa motorku ke rumahmu, Bud. Aku menyusul."
“Rama, kau mau kemana?” Shelina condong ke badan Budi dan mencoba melihat Rama.
“Iya, kamu mau kemana. Kita kan mau meeting buat balap untuk dua hari lagi?” tanya Budi. Rama tidak menjawab dan sudah berjalan ke arah pintu samping-mobil merah.
“Ada urusan penting, sorry!” Rama mendapati Shelina, yang baru keluar dari mobil Budi. Dia bergegas masuk ke dalam mobil dan mengunci pintu sebelah kiri. “Ibu Tiri, cepat kunci semua pintu!”
“Tapi kenapa? Eh bukannya temanmu sudah datang?”
“Cepat, perempuan itu bawa ular di mobil! Kamu mau melihat ular?” Rama menghela nafas panjang, merasa lega setelah Nita menekan tombol kunci, untuk semua pintu. Jantungnya berdebar karena malas berurusan dengan Shelina. Tampak wajah Nita berkerut seolah takut, mungkin karena kata ular.
“Rama! Buka, buka! Kenapa kamu satu mobil dengan-” Shelina dari luar terus menggebrak-gebrak kaca mobil.
Rama langsung menyalakan musik pada volume tinggi sampai Nita terlihat menutupi kedua telinga. Rama tidak yakin, apa Nita mendengar kata-kata pedas dari Shelina. Rama memijit kening karena pusing, lalu menelpon Budi dan berteriak.
“Baik, Ram. Tapi-”
Belum selesai kata-kata Budi, Rama sudah mematikan telepon. Dia tidak mau bila Nita mendengar kata-kata pedas dari Budi. “Ayo, jalan saja, Ibu Tiri.”
Nita mengangguk sambil menarik tuas ke D. Dia tak enak hati saat meninggalkan Shelina yang sempat menggebrak-gebrak dan mencoba membuka pintu mobil. Bahkan dari kaca spion bagian tengah, Shelina dengan sepatu hak tinggi dan rok sebetis berusaha mengejarnya.
Nita mengecilkan volume, sampai musik RnB terdengar mengecil dan berdebar saat bersitatap dengan Rama. “Kasian pacarmu,”celetuk Nita untuk memecahkan kesunyian. Dia mengayunkan stir ke kanan. "Pasti dia sedih."
“Ayo, kiri kosong.” Rama memandang jalan di kirinya, lalu melirik Nita yang fokus menyebrangkan mobil. “Dia bukan pacar, hanya mengaku-ngaku.”
Nita menaikkan satu alis, merasa geli. Bukan pacar tetapi perempuan itu di ajak ke kamar. Apa semua laki-laki berotak m3sum. Untung Mas Sergey tidak seperti itu. Rama menelan Saliva karena aura menawan Rama. “Kita ke kafe temanku, di sana tidak terlalu ramai.”
Jarak tempuh memakan waktu lima belas menit, sampai mobil mereka berhenti di kafe kecil yang tidak ada pengunjung. Rama mengikuti Nita dari belakang dan terus mengamati gerakan anggun Nita saat meraih buku menu sendiri. Nita begitu begitu ramah pada pegawai wanita, yang sepertinya sudah dikenal lama.
__ADS_1
“Minum apa?” Nita melirik Rama sambil memesan minuman.
“Apa kamu ada rekomendasi untukku?” Rama menatap Nita dengan penuh minat, dia tak sadar bahwa pelayan wanita terus mengamatinya.
Apa cuma perasaanku saja. Kenapa tatapan putra tiri mba Nita, sangatlah berseri-seri. Yang liat kan, bisa salah paham. Lalu orang yang nggak tahu, pasti mengira pria itu pacar Mba Nita.
Tetapi, kan seharusnya menjaga sikap di depan umum! Nggak tahu mulut Netijen pada julid. Jangan sampai Mba Nita dikejar paparazi, lalu sampai bersembunyi di tempat ku, seperti dulu kala.
Batin Dila yang adalah pelayan kafe. Dila selesai menulis setiap pesanan. Kemudian pergi berlalu sebelum pikirannya merajalela.
“Jadi, apa kabarmu hari ini?” Nita menarik rambutnya yang menutupi pipi, lalu membawanya ke belakang telinga.
“Baik …” ucap Rama dengan mata berbinar dan tak berkedip.
Nita kembali menjepit rambut sisi kiri, lalu membawa ke belakang telinga. “Kenapa senyum, apa ada sesuatu di rambutku?”
Nita menahan napas karena tangan pria itu menuju ke arahnya dan menyibak bagian rambut kanan milik Nita. “Kenapa?”
“Kupikir kamu beruban.” Rama kesulitan menyembunyikan senyuman. "Ini kayanya efek cahaya lampu."
Rama terkekeh dengan masih memelintir bagian rambut di atas telinga Nita. Jantungnya kian berdebar dan badannya jadi panas dingin. Suara orang batuk-batuk membuyarkan kekaguman Rama, pria itu beralihdan menatap pelayan perempuan yang tengah tersenyum kepadanya.
“Maaf, mba Nita, Ternyata pentol pedasnya sedang kosong. Jadi mau diganti apa, apa mau seblak kesukaan mba?” Dila yang tadi senyum canggung, kini dia jadi merasa keki karena Rama membuang muka. Seolah-olah dia dianggap sebagai pengganggu di antara mereka.
“Boleh, sama mendoan deh!” Nita tersenyum ramah pada gadis seumurannya itu. Lalu beralih memandang Rama yang sedang sibuk dengan ponsel.
...-Sebentar saja, deh. Kamu yang mewakili. Aku ada urusan keluarga-...
Rama mengirim pesan itu ke Budi. Tadinya dia berencana akan bertemu dengan lawan-lawan balapnya. Ternyata justru menemui ibu tiri sedang bertemu pria lain. Rama mendapati sebuah kalung yang baru ditaruh di atas meja dan alisnya berkerut.
“Rama, boleh aku bertanya, darimana asal kalung ini? Kemarin papahmu menyimpan kalung ini, di laci kamar. Lalu aku yang mau mencocokan kalungmu dengan sebuah kalung di dalam laci, menemukan kalung yang berada di laci kamar, sudah tidak ada. Kata papahmu mungkin kamu yang mengambil ini? Intinya kalung ini sama persis, tetapi kalung di laci sudah hilang entah kemana.” Nita dengan wajah datar.
“Aku sempat lupa menaruh kalung itu saat dua tahun lalu. Jadi aku membuat yang baru dan sama persis seperti itu. Lalu semalam aku menemukan itu di laci ... mungkin papah yang menyimpannya. Bagus ya, kalungnya? Kamu suka pasti.”
__ADS_1
Es kopi alpukat diulurkan ke depan Nita oleh Dila. Kopi espresso ditaruh di depan Rama. Dila menggigit bibir bawah. Dia iri dari cara Rama melihat Mba Nita , seolah begitu tertarik. Padahal, kalau dia yang datang, senyuman itu langsung hilang dan wajah tampan itu kembali tak berekspresi. Apa putra aktor itu sangat sombong!
“Rama, dua tahun lalu kamu pernah datang ke toko kue langganan papahmu, di daerah Mampang?” tanya Nita. Jantungnya berdebar tak karuan. Ayo, Ram, Jawab jujur.