Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 57 TRAUMA


__ADS_3

Rama melihat ke bawah dan handuknya telah terinjak-injak. Matanya melebar dan langsung menatap sang istri yang mengintip ke arah kelelakiannya. Rama langsung menutup bagian diantara paha depan menggunakan tangan. "Sayang!! Kamu lihat apa?"


Nita melihat pekarangan takut ada orang. "Kenapa handukmu diinjak-injak."


"Aku nggak tahu .... "


"Aku ambilin lagi. Mas jangan lama-lama di luar ntar masuk angin." Nita masih menghindari melihat ke arah suaminya. Tetapi apa yang dilihat barusan membuat merinding.


Ketika Nita kembali, pintu dapur telah tertutup, begitu juga pintu kamar mandi. "Mas, handuknya .... " Nita bernapas sering dan berusaha tetap tenang. Mungkin dia hanya negatif thinking akan ketakutan malam pertama.


Kemudian pintu terbuka dan Nita tak dapat berkutik saat dirinya ditarik masuk ke dalam hingga kini berada di belakang Rama. Lelaki itu memutar 90 derajat kunci pintu berbahan kayu persegi panjang, tanpa menoleh ke belakang. Nita menggigit bibir bawah gugup saat melihat busa sabun di tengkuk Rama. Dia terperangah pada punggung suami, yang menakjubkan baginya dan pantaaat .... Nita terus berkedip dan melongo.


"Sabunin punggung, Sayang. Gatal." Rama menyodorkan botol sabun cair ke samping dengan seringai licik. Tangannya gatal ingin meraih tubuh sang istri sampai dia sakit perut karena menahan keinginan.


Jantung Nita berdebar kencang. Dia belum siap. Matanya terus berkedip takut. Dia dengan ragu meraih botol saat Rama mengintip dari balik bahu. Dia ngeri karena tatapan Rama yang lebih redup tetapi tajam seakan menginginkan dirinya.


Cairan putih dipompa, Nita mengoles sabun cair ke seluruh permukaan tangan dan dengan hati-hati menyebarkan ke punggung Rama yang halus nan hangat. Dia membuat gerakan memutar. Gel licin itu mulai berbusa, Nita merinding sendiri saat menyusuri ke bawah pada pinggang Rama yang ramping, tetapi matanya sering mencuri pandang kebulatan pantaaat yang indah. "Jangan lama-lama, nanti Musa digigit nyamuk, Mas."


Terpaan udara di depan Nita membuat waspada saat Rama berbalik dan langsung menaikan daster Nita. Nita membelalakkan mata dan mulutnya mangap-mangap dengan perlakuan Rama. Matanya terpejam karena baru sensasi menggetarkan hati dan rahimnya yang seperti diremas dari dalam.


"Sayang, kita lakukan di sini, ya? Agar tidak menggangu Musa?" Bisik Rama dan menempel di dada sang istri.


Nita menganga saking tak percayanya. Waktu seperti melambat dan otaknya dapat merekam dengan jelas. Tangannya refleks mencengkeram rambut Rama dan dirinya nyaris jatuh, tetapi tertahan tangan Rama. Nita tak kuasa menahan serangan panik disekujur tubuhnya saat Rama menelusup ke cela*na inti miliknya. Nita mundur kebelakang dan mendorong pintu di belakangnya dan bergetar hebat.


Rama menghentikan aktifitas setelah menyadari tubuh sang istri dibanjiri keringat dingin dan mata emas itu membelalak seperti melihat hantu, wajah Nita sangat pucat hingga Rama harus menurunkan daster dan membilas sabun di tangan Nita. Rama meraih handuk yang tergantung di leher Nita, lalu dililitkan dipinggang sendiri, tak peduli bahwa masih ada sabun ditubuhnya, yang terpenting adalah Nita.


"Sayang, kamu kenapa?" Rama bingung karena sang istri menitihkan air mata dengan pandangan kosong dan bibir terkatub rapat. Dia membuka pintu dan menggendong sang istri, membawa ke kamar.



Saat Nita terjaga malam, ruangan begitu gelap tak seperti biasanya. Dia merasakan embusan hangat di kepalanya. Seluruh tubuh bagian belakang juga menempel pada sesuatu keras hangat.


Nita mencoba menggerakkan tangan, yang ternyata terkunci. Aroma jeruk membuat Nita menyadari itu bau Rama yang berasal dari sabun mandi. Dengan sekuat tenaga Nita berbalik meraba-raba leher dan wajah Rama, merasakan napas pria itu yang teratur. Dia sedikit mengangkat kepala dan mengecup bibir Rama yang panas, setelah merabanya. Sayang sekali, dia tak bisa melihat wajah Rama.

__ADS_1


Kembali terbaring, Nita mengendus dada Rama dan pria itu masih memeluknya. Nita teringat akan penolakannya di kamar mandi. Dia padahal nyaman bersama Rama, tetapi dia masih takut pada hal seperti itu. Nita menahan napas dan tangannya mulai menyusuri bagian depan tubuh Rama, hingga meramba ke bawah dia meraba celana kolor, sepertinya Rama tak memakai celana inti.


Nita menelan saliva kasar karena tanpa di duga ada yang berubah ukuran. Sontak Nita menarik tangan. Gelombang dingin dan merinding menyelimuti seluruh punggung tangan, kaki. Dadanya mulai terasa sesak. Nita merasakan perpindahan tangan Rama yang mengusap punggungnya, naik ke atas dan berhenti di tengkuknya. Belaian Rama membuatnya merinding, dia tak tahu apa Rama terbangun tetapi detik berikutnya dia merasakan kecupan lembut di pucuk kepala.


"Tidak apa-apa, tidurlah, Sayang. Masih gelap. Aku tidak akan macam-macam sampai kamu siap. Maaf, aku membuatmu tak nyaman," bisik Rama dengan serius dan rasa bersalah. Dia masih dalam keadaan setengah ngantuk, lalu membuka mata dan tak bisa lihat apa-apa.


Akan tetapi satu hal baru, tidur menempel Nita sangat membuat Rama merasakan kenyamanan tak terkira dan melupakan semua Kegelisahannya tentang papa dan mama. Memeluk Nita seperti obat baginya, dia merasa tak hidup sendirian.


"Mas .... "


"HM?"


"Aku mau mencoba .... "


"Apa?" Mata Rama langsung terbuka lebar. Dia menggelengkan kepala dan mulai meraba wajah Nita dan berhenti di pipi Nita yang terasa basah. "Loh, kamu menangis kenapa?"


"Nita mau coba, Mas?" Suara Nita serak dan bergetar, dia ingin melawan ketakutannya.


"Besok saja." Rama menghapus air mata Nita dengan jempolnya. "Aku sayang kamu, Nita."


Rama menghela napas panjang, bagaimana bisa dia mood kalau Nita ketakutan dan berkeringat dingin. Dia mengangkat kepala, tubuhnya di tarik hingga kini sejajar dengan Nita dan mulai mengecup pipi mungil yang masih basah. Rama dapat merasakan air mata Nita yang terus mengalir dan menghancurkan perasaan Rama.


Bukannya semakin mood, melainkan Rama dipenuhi amarah terpendam pada pelaku pemer*kosa itu. Dia jadi teringat saat Nita menangis di dadanya dengan begitu payah di dalam kafe milik Lana. Itu hal terbesar yang menghancurkan Nita, sampai wanita itu menyakiti diri setelah berita kehamilan itu.


"Hkskhs." Nita terisak ketakutan saat Rama di atas tubuhnya. Sang suami menciumi pipi dan kelopak matanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Dia dapat merasakan kasih sayang Rama dan kehangatan tubuh di atasnya, saat lelaki itu bertumpu dengan tangan hingga Nita tak terlalu terbebani dengan tubuh Rama.


"Kita tidak perlu sefrontal itu, kan , Sayang. Kita pasti akan ke situ nantinya, tetapi pernikahan tidak melulu tentang itu," bisik Rama di depan wajah Nita. Dia mengelap cairan lengket yang mengalir dari hidung Nita. Dia tak jijik pada ingus istrinya. Dia merasakan hembusan panas dari mulut istrinya. Dia yakin bahwa isterinya meringis menahan luka tak berdarah di dalam hati.


"Aku akan melindungimu dari siapapun dan takkan kubiarkan seseorang pun bisa menyentuhmu. Aku janji. Kita harus utamakan konseling setelah tiba di luar negeri. Apa kamu mau aku mencari tahu siapa Bede*bah itu?" suara Rama bergetar karena marah dan dia merasakan gelengan kepala Nita. Rama terbelalak saat tangan Nita merambah ke bawah ke arah kelelakiannya. Rama kembali ke tempat tidur dan menahan tangan Nita. "Tidurlah, Sayang. Ayo tidur."


"Kenapa kamu tidak mau?" Nita mendesis dengan suara tertahan, dia berusaha membebaskan tangan dengan begitu kesal. "Kamu tidak mau karena aku pernah ...."


"Aku mau aku mau, hanya mana tega aku melihatmu seperti ini," geram Rama. Dia refleks menekan kelelakiannya pada paha sang istri karena dada kenyal itu seperti setrum baginya. Dia tidak tahu lagi berbicara apa pada Nita. Pikirannya pun berkecamuk, Nita menggodanya dan membuatnya menginginkan hubungan suami-istri. Namun, dia lebih tak mau membuat Nita tidak nyaman.

__ADS_1


Rama dengan ragu memegangi kancing pakaian teratas Nita dan Nita menahannya. Lalu wanita itu melepaskan pegangan dari tangan Rama dan membiarkan Rama meneruskan. Rama tahu sebenarnya pasti Nita menolak. Rama terpejam keenakan saat Nita memegang miliknya, tetapi tangan itu tertarik lagi seperti jijik atau apa.


Rama berhasil melucuti semua kancing. Perlahan Rama mengendus kulit perut Nita dan merasakan tangan Nita yang dingin tengah gemetar di tengkuk dan pundaknya. Dengan nafas mulai memburu, Rama menggigiti di seputar pusar Nita, tangannya merasakan permukaan tak rata di bawah pusar, sepertinya bekas operasi cesar.


Mengendus-endus perut Nita, bergantian dengan lidahnya yang menyusuri perut Nita dan naik ke atas. Rama meraih b**Ra dan tangan Nita menghalanginya. Rama menuntun agar tangan itu menjauh. Hidungnya terus menyusuri bongkahan daging yang tak muat di br**a dan naik ke leher jenjang. Rama tak lagi merasakan air mata keluar dari pipi Nita, nafas isterinya makin meningkat walau tubuh wangi strawberry itu masih gemetar.


"Apa kau mau melanjutkan? Bila kau mau kita hentikan saja," bisik Rama dengan napas berisik di depan bibir Nita yang panas.


"Lakukan, Mas," suara Nita bergetar. Perasaannya campur aduk. Demam, takut, tak nyaman, ngeri pada sesuatu keras yang menekan pahanya. Dia yakin semua bulu halus di tengkuk, tangan dan kakinya meremang.


Dengan lembut Rama terlarut dalam ci*man manis dan hati-hati. Dia menyesap bibir Nita yang kenyal dan manis. Suhu tubuhnya seketika meningkat tajam seperti dibakar dalam bara api, begitu panas hingga dia melepas pagutan untuk melepas kaosnya yang mulai basah.


Kulit perut mereka yang berkeringat saling menempel, terasa licin, lembab dan panas. Napsu Rama sudah diubun-ubun. Lelaki itu melorotkan br**a dan suara napas sang istri makin berisik.


Nita mabuk oleh ketakutannya. Dia makin tak terkendali saat Rama menyentuh dadanya. Jantungnya berdebar kencang dan keringat dingin membanjirinya. Begitu Rama menggigit titik tersensitive dadanya, telinganya mulai tuli dan tak dapat mendengar suara napasnya sendiri. Perasaan marah, bersalah, cemas, sedih, bercampur aduk menjadi satu, menyerang pikirannya.


Nita menangis dengan putus asa yang tidak dapat dijelaskan tetapi dia tak dapat mendengar suaranya sendiri. Nita kehilangan energi dan menjerit ketakutan, bayangan perilaku biadap orang itu muncul dalam benaknya.


Semakin Nita meronta semakin orang itu mencekalnya. Dia menjerit dan bilang sakit tetapi orang itu mengabaikannya dan tetap merebut kesuciannya. Dalam perasaan hancur tak bertenaga, Nita merasakan semprotan kuat di dalam rahimnya dan milik orang itu berkedut di dalamnya. Lalu orang itu melepas kelelakiannya juga melepas bekapan dari mulutnya. Cairan hangat terasa mengalir di miliknya yang terasa perih bukan main. Hingga dunianya seketika menjadi sangat gelap dan sangat menyakitkan, hingga dia tak mau membuka mata lagi dan hanya terisak, bahkan dirinya tak punya tenaga lagi stelah meringkuk dan entah pakaian bagian bawahnya kemana.


"Nita .... " Rama yang barusan memeluk Nita yang meronta-ronta dan histeris di dalam dadanya, kini justru merasakan kepala itu terkulai. Rama menaruh Nita ke tempat tidur, lalu meraba dinding dan menyalakan lampu. Dia terkejut karena Nita pingsan. Piyama sang isteri dikancingkan dengan cepat, menutupi bekas gigitan dimana-mana. Dia mengabaikan bagian br**a yang tak terkancing. Rama memakai kaos dan berjalan meraih minyak telon.


"Aku bilang apa, ih kamu memaksakan diri. Belum apa-apa, kamu pingsan lagi." Rama menuangkan minyak telon banyak ke telapak tangan dan membubuhi ke leher pipi, hidung dan kening Nita. Rama tiduran miring di samping sang isteri.


"Bangun, Sayang. Kamu sudah pingsan dua kali. Maaaaaf maaf maafkan aku seharusnya aku tak mendengarkanmu dan menuruti mu, mungkin kamu takkan pingsan," gumam Rama dengan perasaan khawatir luar biasa. Dia berungkali mendekatkan jari ke dekat hidung Nita untuk memeriksa napas istrinya.


Rama memijati telapak tangan Nita yang dingin, bahkan Musa yang tidur di samping baru bangun dan kelihatan bingung.


"Rama, ada apa?" tanya Devan.


Rama beralih dari Nita dan memandangi Devan yang baru muncul, di garis pintu kamar. Kamar memang tidak dikunci karena kuncinya rusak. Devan kemari tanpa kursi roda dan ternyata mengesot. "Om, Nita mimpi buruk," kata Rama berbohong. Dia tidak mungkin bilang Nita pingsan di malam pertama karena trauma.


Devan dengan cemas mendekat ke ranjang dengan mengesot. Tadi teriakan Nita sangat keras dan memilukan dan bisa membangunkan orang serumah. Devan menunggui Nita saat Rama merebus air.

__ADS_1


"Atha .... mengapa kamu berubah? Ceritakan pada Papah apa yang kamu rasa?" gumam Devan dengan cemas. Devan duduk dipinggir tempat tidur dan makin menaikan selimut hingga batas leher Nita. Wajah Nita terus dibanjiri keringat walau sudah disekanya dengan handuk kecil.



__ADS_2