Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 61 : KEBAKARAN


__ADS_3

"Ading Rama, Ading Nita, Ini Ibu Sophia. Bangun, Ading!" teriak perempuan tua itu bergetar dengan penuh khawatir. "Keluarlah! Ibu tak bermaksud jahat, Ading! Ayo, Ibu tunjukkin jalan!"


*Ading : adik.


Nathan melirik Nita dan menurunkan senapan, menyembunyikan di belakang punggung karena Nita membukakan pintu. Begitu pintu terbuka wajah ibu itu begitu khawatir bahkan berbicara tampak kesulitan.


"Ibu Sophia, kenapa mereka beramai-ramai." Nita memasang telinganya saat mendengar gedoran di pintu depan.


"Mana Ading Rama, kalian cepat pergi lewat belakang."


"Rama tidur, Ibu." Nita berbalik karena suara di pintu depan makin keras. Dia melirik Bu Shopia yang ikut masuk ke dalam kamarnya.


Devan tampak khawatir di kursi roda di kamarnya. "Bagaimana ini? Mana Rama?"


"Papa pergi dulu, ada yang mengurus Rama nanti. Cepat, Pak Darso!" Nathan membantu Pak Darso untuk menggendong Papa Devan.


Papa Devan mulai kebingungan saat Pak Darso sudah melewati pintu kamar putrinya. "Mana Rama? Ayo cepat pergi sama-sama," teriak Devan.


Nita di kamar terus membangunkan Rama


Aneh, masih jam 8, tetapi suaminya sudah lelap tidur tak seperti biasanya. Bahkan saat diguncang keras tak bergerak. Suara teriakan. orang dari luar bahkan sudah membangun Musa.

__ADS_1


Nita terkejut saat Nathan menggendong Musa. "Kakak, biar Musa dengan aku. Kakak bisa gendong Rama?"


"Gendong? Kamu gila? Dia akan aman. Ayo, cepat!" Nathan menarik tangan Nita hingga Nita terseret. "Mereka takkan melukai Rama. Percaya sama aku."


"Tapi suara mereka seperti mau menghakimi." Nita merinding saat gedoran pintu di depan makin jelas. Setelah melewati dapur, di pekarangan belakang tampak ibu Sophia memberi arahan ke Pak Darso agar bersembunyi di tempat yang ditunjuk.


"Kak, Rama!" Nita mencoba melepas cengkeraman tangan yang kencang. "Aku mau bangunin Rama. Nita terus terseret saat memasuki halaman belakang.


"Rama bisa terluka, Nathan," geram Devan saat mereka menerabas pepohonan. Bahkan suara massa masih terdengar sampai sini.


"Tolong, biar aku membangunkan suamiku!" Nita mulai terisak hingga Musa pun ikut menangis dalam kegelapan. Mata Nita terbelalak saat muncul api di atas rumah. "Kak Api! Minggir! Rama di sana!"


Dalam kepekatan asap, jarak pandang Nita terbatas dan matanya terus mengeluarkan embun bening karena saking pedasnya. Dia berhasil masuk kamarnya dengan merangkak karena lantai minim asap. Si*Al dia kesusahan menggendong Rama yang berat saat sekitaran penuh kobaran api, suara letupan kayu dan asap tebal dimana-diman. "Ram! Bangun! hukh uhuk!"


Keringat terus bercucuran dari pelipis Nita karena panasnya suhu seperti di dalam oven. Suara pletak-pletak itu mengerikan dan dadanya mulai sesak. Nita dan Rama terjatuh, saking beratnya Rama, atau karena Nita tidak pernah membawa beban berat. Wanita itu meraih sebuah gombal di laci dan menutupi rambut Rama yang berasap karena kobaran api. Nita menelan Saliva dan dia harus kuat.


Dengan air mata makin berlinang, entah seakan mendapat tenaga dari mana. Nita memapah Rama dengan susah payah melewati kamar, semua sebagian perut ke atas tertutup asap hitam. Nita tak mau mati di sini dan terus membaca doa. Saat melewati pintu kamar Devan sebuah kayu jatuh di depannya dan Nita mundur lagi dengan tangisan putus asa rasanya mau mati karena tak bisa bernapas. Dia melihat sekitar dan hatinya bergetar, tersayat-sayat, jangan sampai Musa besar tanpa ibu, dia harus bertahan.


"Bangun, Rama," Isak Nita. "Ayo, kamu papanya Musa. Jangan mempersulitku. Kita harus selamat, kan bangun." Nita mendudukan Rama dan berlari dalam kegelapan asap dan meraih selimut dari lemari yang belum terbakar. Atap di kamar sudah berkobar dan Nita tertarik sesuatu di kepalanya hingga dia terjatuh tengkurap dan panas tersengat di belakangnya. Nita melumah dan panas membakar punggungnya, dia meraih selimut tadi mengibas-ngibaskan ke belakang, tetapi itu masih panas. Dia berguling dalam rasa perih.


Selimut yang barusan sebagian terbakar dikibaskan ke segala arah untuk menjauhkan api yang meluap-luap disekitarnya. Nita menjauh dari kamar dan menutupi kayu yang terbakar di dekat Rama untuk lewat, ujung selimut lain sudah terbakar saja. Nita tak berpikir panjang dan memapah Rama dan melewati sedikit kobaran api di ruang tengah.

__ADS_1


Di pekarangan, Devan memukul bahu Pak Darso sekuat tenaga. "Kalian berhenti! Tidak lihat putriku masuk ke rumah yang terbakar!"


"Papa, mereka akan selamat," teriak Nathan masih jengkel karena Nita.


"Berhenti-henti! Cepat bawa Nita! Dia adikmu!" Devan menggerakkan seluruh tubuh hingga dia dan Pak Darso terjatuh.


Air mata Devan, mulai berlinang. Lutut tertekuk dan mulai merangkak. Dengan perasaan tak karuan, Devan tak mau kehilangan putri satu-satunya yang bahkan didapatkan dengan susah payah pada proses bayi tabung yang ke 4.


Sikut dan lutut, melewati kerikil-ranting lancip, tak peduli bila itu menyakitkan. Mata Devan terus tertuju pada kobaran api. Apa putrinya begitu bodoh sampai masuk ke sana.


Bahu Devan bergetar ketakutan dan tak bisa membayangkan bila putrinya terluka. Dia bahkan tak bisa mendengar apa yang Nathan katakan. "Apa kau tak mau menolong putri Papa?" keluh Devan dalam isak dengan penuh kekecewaan. Tenggorokan dan matanya panas, tetapi tubuhnya menggigil saat terus mencoba merangkak.


"Aku tahu, aku tahu! Aku akan ke sana!" Kepala Nathan sudah mendidih, bayi itu telah diberikan pada Pak Darso. Dia berlari melewati Devan dengan menjinjing senapan laras panjang.


"Pian, harus disini, jangan menyusahkan Nathan." Pak Darso duduk dan menghalangi Devan terus merangkak. Dia menjadi pusing karena tangisan bayi. "Tolong, cucu Pian, ini tenangkan."


*Pian: Anda.


Devan dengan panik memangku Musa, dia terus menepuk punggung Musa saat bayi itu menangis tersedu-sedu sampai batuk. Air mata Devan terus berlinang dan hatinya sakit, dia tak ingin mengalami situasi seperti ini lagi, terutama putrinya tak boleh menderita lagi. Dalam hati Devan terus berdoa dan menatap nanar ke kobaran api.


__ADS_1


__ADS_2