
Nita membungkuk di tempat tidur. Dia menangkup kepala Musa dengan dua tangan. Putranya rewel sedari sore, kini justru badan itu begitu panas. Dia melirik jarum jam yang menunjuk angka satu. Pagi-pagi orang masih pada tidur.
Turun dari tempat tidur, Nita mencari termometer dan plester demam di kotak obat, tetapi sudah diobrak-abrik, plester tak kunjung ditemukan. “Mbak Jum naruh dimana, sih? apa nggak dibawa.” Nita bergegas menekan interkom dan memanggil mbak Jum.
Dua hari berlalu, Nita masih berada di rumah sakit. Rumah Nita, telah dilakukan penyemprotan, karena Musa terkena demam berdarah. Tubuh Musa mulai timbul bercak merah dan kini dalam fase kritis. Sergey memundurkan pernikahan sampai menunggu Musa sembuh.
Malam itu, Rama melirik jam dan dari ujung lorong mengintip ke arah penjaga. "Sebentar lagi ...."
Setelah sabar menunggu, Rama menyunggingkan senyuman saat seorang penjaga berlari sambil memegangi perut. Penjaga satunya juga ikut menyusul dan meninggalkan kamar perawatan VIP Raflesia, tanpa penjagaan.
Nita yang baru terpejam di kursi, langsung duduk tegap saat mendengar suara pintu berderit. Detak jantungnya semakin kencang karena ada Rama yang sempat berdiri mematung, lalu menutup pintu.
Lelaki itu mendekat dan setiap langkah itu membuat Nita makin hanyut dalam dunianya sendiri. Wanita itu langsung tersadar saat kecupan mendarat di pucuk rambutnya. Nita mendongak dengan masih mengumpulkan nyawa, hidungnya mengendus udara yang beraroma musk.
"Kamu melakukannya lagi!"
"Soalnya, kamu sangat imut, kukira kamu minta dicium." Rama dengan nada menggoda dan aura menawannya yang mematikan.
"Aku kan baru bangun, pastilah bingung." Nita berdiri dengan sempoyongan, lalu menyingkir membiarkan Rama melewatinya. Kenapa juga Rama harus lewat di depannya.
“Sulit sekali untuk masuk ke sini karena pintunya dijaga 24 jam oleh anak buah papah. Masa aku dilarang masuk dari kemarin,” kata Rama sambil memandangi Musa dengan tatapan nanar.
Perlahan Rama membungkuk dan mengamati titik-titik merah di sepanjang tangan mungil itu. Ingin sekali menukar posisi Musa dengannya. Biar dia saja yang sakit, jangan Musa.
"Lah, ini kamu masuk?”
“Aku kasih obat pencahar di makanan penjaga, lalu mereka bolak-balik ke toilet." Rama tertawa dengan jahat, lalu mengecup pipi Musa yang bau minyak telon.
"Kamu nggak kasian sama mereka."
"Mereka yang nggak kasian, masa aku nggak boleh melihat Musa."
Selama 5 detik mereka bersitatap, lalu suasana kembali hening. Rama mengurangi jarak dua langkah dan Nita mundur menjauh. Rama mundur lagi dan melihat sekitar, ada satu sofa. “Kamu tidur saja, aku yang menjaga Musa."
“Lalu nanti bagaimana kamu keluar?” Nita makin waspada saat Rama kembali mendekatinya.
“Kau tidak percaya jika aku memiliki banyak akal?” Rama memandangi tubuh perempuan itu yang kelelahan. “Apa kamu tidak makan, kamu jadi kurusan.”
Nita duduk di kursi sambil mengigit bibir bawah, tidak nyaman pada Rama yang masih mencoba perhatian. "Musa sakit, aku kepikiran dan lupa makan.” Pandangan Nita dijatuhkan ke bawah pada Rama yang tiba-tiba berjongkok dan menyentuh kaki. "Kamu mau ngapain?"
__ADS_1
Rama menggaruk pelipis, dia hampir kelepasan ingin memeluk Nita. Sekarang dia justru berjongkok, entah mau ngapain. Rama berulangkali bermain dengan tangannya antara membuka dan menekuk jari, terakhir mengepalkan tangan dan akhirnya meraih bagian belakang mata kaki wanita itu, dia jadi pernah melihat tukang pijat memijat di daerah ini, lalu membuat gerakan memutar di atas tumit.
"Ahhhgghh!" Nita meringis, rahangnya mengeras karena menahan ngilu.“Kamu kenapa, sih?"
“Aku juga, tidak bisa tidur, memikirkan Musa dan memikirkan kamu.” Rama dengan suara pelan dengan tatapan begitu dalam.
Nita menyingkirkan tangan Rama dari kakinya. "Jangan pegang-pegang, ihh."
"Aku juga bingung mau apa, aku jadi bingung setiap ada kamu disekitarku? Ini refleks .... Saat kau melihatku seperti ini ... aku jadi ingin melakukan sesuatu." Rama dengan ragu mengulurkan tangan ke dekat pergelangan Nita, tetapi tangannya tertahan di udara. "Maksudku, sesuatu untuk mengalihkan rasa maluku saat kau melihatku."
Nita tak percaya bila dia membuat Rama malu, dua sudut bibirnya terangkat dengan sendirinya.. Kini lagi-lagi Rama menyentuh ujung jari, rasanya dia sulit bernapas saat gelombang listrik seperti menyengat saat ujung jari itu menempel.
Rasa hangat dari ujung jari seolah seperti magnet yang membuat Nita sulit melepaskan diri. Jari panas itu langsung diteplak sebagai tanggapan penolakannya.
"Rama, mulai sekarang kamu dilarang keras menyentuhku, jagaa. jarak satu meter." Nita gereget dan berusaha tegas dengan wajah galak.
Suara sepatu Nita terdengar menjauh dan Rama masih terkesima. Dia berpikir memangnya dia adalah kuman sampai Nita begitu enggan disentuh, padahal menyentuh ujung jari adalah hal biasa baginya.
Sekepergian Nita, Rama menaik tempat tidur pasien. Dia memangku Musa yang tampak begitu lemas. Anak itu mungkin merasa terganggu dengan pergerakannya hingga mata biru itu menata matanya tanpa menangis.
Rama menyibak rambut Musa yang tebal dan lembab oleh keringat. Pipi chubby yang terdapat bentol-bentol merah dielusnya. Sungguh malang, Musaku.
Box kopi ditaruh di atas meja, Nita duduk tanpa melihat ke arah Rama. Seperti biasa Nita mulai meminum kopi panas, menyeruput dengan tanpa jeda hingga setengah gelas dengan mata melirik ke Rama yang tampak penuh kasih sayang dalam membelai surai rambut Musa. Seandainya, Sergey seperti itu juga. Rama melirik ke arahnya dan Nita langsung membuang muka.
"Kamu mau?" tanya Nita, sambil menjauhkan cup yang belum disentuh bibirnya. Dia risih karena Rama terus melayangkan tatapan tajam ke arah kopinya. Pria itu menggelengkan kepala. Sontak dua sudut bibir Nita terangkat, membentuk senyuman dan mulai meminumnya sendiri.
"Tunggu, sepertinya itu enak. Berikan kepadaku." Rama dengan senyum simpul.
"Ini udah aku minum."
"Sudah cepat berikan kepadaku."
Nita memutar mata malas, dia melihat kopi yang tinggal setengah gelas, lalu berjalan mendekat ke Rama. "Ini sudah bekasku." Nita terbelalak karena gelas kopinya sudah diambil Rama, tak menyangka itu benar-benar diminta oleh Rama. "Awas, menumpahi Musa."
"Aku akan hati-hati." Rama melirik sedikit bekas merah lipstik di ujung cup, dia meminumnya di sana.
"Kenapa di situ ih," gumam Nita dan pipinya menghangat karena malu. Nita menjadi takut bila hatinya akan goyah dan teralihkan, disaat dia mencoba memfokuskan seluruh dunianya untuk Sergey, demi berkumpul dengan sang papah.
...----------------...
__ADS_1
Setelah sarapan bersama, Sergey dan Rama keluar dari rumah. Sementara Axel melihat situasi rumah, lalu menyuruh anak buahnya untuk mengambil sikat gigi bekas Rama untuk dikirim dan diperiksa.
Sebelumnya, Axel sudah melakukan tes paternitas antara Musa dan Sergey, tetapi yang mengejutkan adalah hasil kecocokannya 23% yang artinya Sergey bukan ayah biologis, tetapi masih ada hubungan kekerabatan.
Ya, beberapa hari ini dia sulit tidur karena omongan Netizen, yang mengatakan jangan-jangan Musa adalah hasil selingkuhan dari Rama dan Nita, apalagi wajah Musa yang jauh lebih mirip Rama.
Hasil tes yang menunjukkan adanya hubungan kekerabatan antara Musa dan Sergey membuat Axel ketar-ketir. Jika benar itu anak Rama, maka Axel berniat mengirim Rama keluar negeri, juga Nita harus dijauhkan dari keluarganya, karena ini adalah aib besar dan dia tak sanggup menanggung dosa cucunya yang menjalin hubungan terlarang dengan Nita-menantunya .
Axel sudah dibuat kecewa karenadari awal pernikahan Sergey dengan Nita, dia tak diundang. Meski itu acara tertutup, harusnya dia sebagai ayah-menjadi saksi yang pertama, kan. Putranya, benar-benar seperti sudah tak menganggapnya.
Kini tunggu saja bagaimana hasil kecocokan Musa dan Rama, semoga saja 0%, tetapi kalau bukan anak Rama dan Sergey, anak siapa? dikeluarganya yang pria hanya Sergey dan Rama, dia juga tak memiliki saudara laki-laki.
Ya Tuhan! Axel meremas tongkat di tangannya dan menatap ngeri pada pemandangan taman cantik didepannya. Yang ngeri bukan tamannya, tetapi kisah hidup keluarganya. Sekalinya punya anak laki-laki cuma satu, justru kebanyakan gaya dan banyak membuat masalah.
Ya, dari muda Sergey selain terkenal sebagai actor hebat, juga mengemban status memalukan sebagai pemabuk dan banyak membawa masalah. Harusnya, sekarang sudah punya anak besar (Rama) -sikap itu harusnya sudah dibuang, pantas saja Rama mengikuti jejak Sergey.
...----------------...
Ponsel Nita berdering setelah dokter melakukan kunjungan siang. Dia menerima telepon dari Kak Nathan dan berjalan ke balkon karena takut didengar Mbak Jum yang tengah menjaga Musa. Ternyata Kak Nathan berada di rumah sakit ini, dan memintanya untuk turun ke parkiran.
Setelah menitipkan Musa pada Mbak Jum- baby sister. Nita bilang ke penjaga mau beli kopi panas. Tanpa Nita sadari, anak buah Kakek Axel mengikuti Nita hingga Nita duduk di sudut parkiran. Sedangkan tiga anak buah Axel berpencar dan sedikit menjauh dari parkiran untuk mencari tempat persembunyian.
Nathan turun dari mobil, begitu melihat Nita duduk di bawah pohon. Seperti biasa Nathan memakai masker dan topi, lalu duduk di kursi panjang yang sama dengan Nita, tetapi di ujung sisi lain. Nita menghadap barat, sedangkan dia menghadap timur, jadi bila orang melihat mereka, maka terlihat tidak saling mengobrol.
"Kak .... ? Sayang sekali, aku hanya punya waktu 15 menit." Nita tanpa basa-basi begitu Nathan duduk.
"Aku bisa mengeluarkan Papahmu dari tempat itu. Kamu susah sekali dibilangin. Aku padahal sudah bilang, bawa papahmu keluar negeri. Sergey bukan orang yang bisa menghadapi Jefri. Biar kuberitahu, tinggalkan Sergey, dia bukan lelaki baik dan jangan sampai kau beneran menikah dengannya."
"Darimana kakak tahu semua itu?" Nita melirik wajah Nathan yang begitu tak ramah.
"Kau tidak perlu tahu aku tahu darimana. Apa kamu mau menikah dengan Bapak-bapak?" Nathan geleng-geleng kepala dengan geli. "Kamu masih muda, bisa cari pemuda yang bener-bener tajir, tampan. Atau, minimal 'orang baik'."
"Mengapa kakak jadi ikut campur,aku aku menikah dengan siapa? Kenapa kakak tidak cerita dulu, darimana Kakak bisa mengenal papah? dan seakan peduli dengan papah."
Nathan tertawa lepas, dia mendongak dan memandang dedaunan yang bergoyang dan bergemerisik oleh angin. Teriknya sinar matahari berhasil menerobos di celah dedaunan pohon mangga, hingga mengenai masker kainnya.
"Nita Athalia .... Aku tak perlu panjang lebar. Devano Wijaya juga papahku," suara Nathan terdengar menjadi berat dan penuh penekanan.
...****************...
__ADS_1