Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 55 : RENCANA KAKEK AXEL


__ADS_3

Sekelebat bayangan dibalik pohon ditangkap mata Nita, hingga Nita berdiri dan berjalan beberapa langkah dan mengabaikan Rama. Nita memekik karena kaget dan menghentakkan tangan yang terjerat.


"Nita, ini aku, apa sih?"


Nita mendongak dan kesadarannya kembali. "Rama?" Dia menjadi paranoid dengan segala bunyi dan membuatnya lelah. Nita nyaris merosot dan tertahan tangan Rama dan merasakan celana Rama yang basah, atasan Nita juga jadi basah karena dada Rama.


"Apa, kamu lihat apa?"


"Seperti ada yang mengamati kita." Nita tidak tenang dan menggenggam tangan Rama, saat pria itu melepas pelukannya. Dia berjalan ke arah Musa yang mulai bergerak, pasti akan terbangun.


"Mungkin itu hanya perasaanmu." Rama melepas genggaman Nita, lalu memeluk Nita erat-erat.


Nita menggigit bibir bawah. Apa keputusannya menikah dengan Rama salah. Karena Rama terlihat belum dewasa. Bagaimana nanti Rama akan menafkahinya. Apa dia dan putranya akan terlunta-lunta. Mendadak kepalanya di penuhi pikiran buruk. Nita membalas pelukan Rama, wajahnya makin terbenam di dada Rama, dia tak mau itu terlepas.


"Tenanglah, ada aku .... "


Ada kamu, tapi kamu bisa apa? Apa kamu bisa berkelahi seperti Kak Nathan? Apa kamu bisa pandai mencari uang seperti Sergey. "Bisakah kamu menunjukan padaku caramu bertanggung jawab, jika kau sudah menjadi seorang suami, Rama? Aku ingin tahu rencanamu yang masuk akal."


Rama dengan berat hari melepaskan pelukannya. Alisnya berkerut apa sebegitu tidak yakin Nita kepadanya. "Aku akan berjualan makanan. Aku bisa meminjam uang kalau hanya untuk modal bahan bumbu masakan." Rama dengan penuh keyakinan karena dia pernah kursus sekolah Chef. "Aku bisa bekerja jadi koki bila kepepet atau minta bantuan temanku, tetapi aku lebih senang membukanya sendiri dengan usahaku."


Nita menghembus napas panjang dan sedikit lega. "Mungkin aku akan kerja di toko bunga, atau toko biasa." Nita tersenyum penuh arti dengan mata berkaca-kaca. "Atau menjadi guru les."


"Aku percaya padamu, Sayang." Rama mengatubkan tangan ke telinga Nita. "Aku percaya dengan apapun yang akan kamu lakukan."


"Apa termasuk jika aku mengajakmu terjun ke jurang?" Nita tertawa ringan untuk mengobati kegelisahannya.


"Iya, aku tahu, mungkin kamu menyelamatkan kita dari hewan buas. Siapa tahu dibawah kita menjumpai akar pohon dan aku berusaha menyelamatkan kita dengan bergelantung pada akar. Kita tidak akan mati hanya karena jatuh dari jurang, selama Tuhan belum berkehendak seperti itu."


Rama meraih dua tangan Nita, dia sedikit membungkuk dan mencium punggung tangan Nita, lalu mendongak. "Aku serius dengan kata-kataku. Aku akan selalu belajar untuk membuat kamu percaya kepadaku, karena aku hanya bisa membuktikannya dan aku tak pandai berkata-kata, Sayang."


Embun bening mendesak ke sudut mata Nita dan jatuh ke pipi. Rama mengecup air mata itu dan menatap mata emas dalam-dalam.


"Uh, apa boleh aku memanggilmu Sayang?" tanya Nita dengan suara serak.


Rama tersenyum penuh arti dan mengangguk-angguk. "Harus dong .... Kenapa kamu tak panggil aku Mas atau Kakak?"


"Nggak mau," suara Nita seperti anak kecil. "Bagaimana kalo Adik Rama?" Nita tertawa tertahan karena Rama menjepit mulutnya begitu kencang, ekspresi Rama gemas seolah mau memakannya. "Saakiit.... "


"Biar aku cium, jadi sakitnya hilang." Rama menggaet bahu Nita dia menarik wanita itu lebih dalam ke pelukannya.


Sementara di sudut pohon, anak buah Kakek Axel merekam mereka yang sedang ciu*man sangat lembut dan mesra layaknya pasangan muda yang dimabuk cinta, dengan mode zoom. Dia sedang berpikir bagaimana cara menculik Musa dari sana. Sudah beberapa hari dia mengamati rumah itu, benar ada Rama dan Nita. Di sini tidak ada sinyal, jadi dia tak bisa langsung melapor ke Kakek Axel


Nita melepas kemeja dengan malu-malu saat Rama menghadap ke arah lain, menyisakan tank top dan celana ketat sepaha. Dia sangat malu saat Rama tak berkedip menatapnya. Diberikannya Musa yang sudah bangun ke Rama yang sudah di air.


"Pelan-pelan." Rama menunggu Nita dan wanita itu dengan penuh tenaga lompat ke danau hingga Musa terciprat air lalu Musa tertawa mungil.


Nita mencak-mencak ke bawah, dan merasakan kakinya tidak mengenai dasar danau. Dia menyelam ke bawah, merasakan dingin segera diseluruh tubuh. Nita dapat melihat dasar danau pada bebatuan tertutup tanah, ada akar pohon dan ikan-ikan berenang saking jernihnya. Kakinya terus menendang dan tangannya membelah air, Nita melihat permukaan dan mendekati Rama. Dia berpegangan pada bahu Rama dari arah belakang dan sang putra tertawa kecil, yang memperlihatkan gigi mungil.


"Airnya lumayan dingin," kata Nita begitu senang. Dia menyeka air di wajahnya dan memeluk bahu Rama.


"Dingin karena masih Asri." Rama merasakan hangat dipunggungnya. Sepertinya, ini ke dua kali Nita menempelkan dada di punggungnya. Rama bertumpu pada satu batu dibawahnya. "Kemari, injak batu ini yang masih cukup untuk berdua, bahkan untuk tiga orang."


"Oh, ya?" Nita mengapitkan kaki ke paha Rama.


"Jangan menggodaku, Sayang." Pandangan Rama meredup, itu terlalu dekat.


"Biarin." Nita dengan tatapan meledek, lalu turun dan menyenggol sepanjang kaki Rama hingga dia berdiri di belakang Rama.


"Biarin? Lihat saja kamu nanti Malam." Rama merasakan Nita berputar dan kini wanita itu di depannya.

__ADS_1


"Kalau berani, lihat saja, apa kau bisa melawan papah?" Satu alis Nita terangkat dengan menantang.


"Aiiishhh menggemaskan. Boleh gigit lagi, Nggak?"


"Boleh ...." Nita tak menolak. Dia Merakan satu tangan Rama meraih pinggangnya, membuat Nita meraih tubuh Musa dan Nita memilih mengecup pipi Musa.


"Curang," kesal Rama. Dia berenang menjauh dan berbalik untuk menciprati air ke arah Nita.


"Rama stop! Kamu kena Musa!" Nita memejamkan mata sesaat karena tetesan air yang melewati mata. Dia meraup air dari wajah Musa, putranya justru meneguk air yang lewat bibir mungil itu. Nita menyesal kenapa tidak membawa pelampung untuk Musa agar putranya bebas belajar. Nita membantu kaki Musa dan mengarahkan kaki itu agar menendang-nendang.


Setengah jam berlalu Rama naik ke daratan dan mengangkat tubuh Musa. Ketika Nita naik


ke daratan, Rama sempat terpaku pada dada Nita, dia menelan saliva. Sayangnya Nita seperti menyadari, jadi wanita itu mengambil Musa darinya dan menutupi bagian dada itu dengan tubuh Musa.


Rama meraih go*lok yang tergantung di sepeda dan menebas pohon pisang. Dia membawa setundun pisang dan membawanya ke dekat Nita. Musa sudah ganti baju kering dan rambut tampak lembab. Sementara Nita sudah memakai kemeja, entah bagaimana cara wanita itu ganti.


Sebuah kayu dan dedaunan kering dibakar Rama. Beberapa buah pisang mentah yang kulitnya masih hijau, dilempar ke api yang berkobar. Setelah punggungnya terasa kering karena api unggun, Rama meraih kaos dan memakainya di samping Nita dan Nita tertunduk sibuk mengeringkan rambut. Rama meraih handuk satunya dan melilitkan di pinggang, lalu melorotkan celana kolor, terakhir dia memakai cela*na inti dan celana panjang dan melepas handuk dari pinggang.


"Kamu bakar apa?" Nita sering bernapas dari mulut saat Rama yang sudah berpakaian lengkap, kini membaringkan kepala di pahanya.


"Kamu tahu itu pisang, kan?"


Nita tertawa dengan aneh, dia tahu itu pisang, kenapa dia harus tanya. "Maksudku kenapa pisangnya dibakar, bukannya ditunggu matang dulu baru dibakar."


"Kalau sudah matang itu digoreng, Sayang. Lagipula pisang di restoran itu dipanggang bukan dibakar. Kenapa mereka salah menamainya?"


"Baik, Chef Rama! Kini aku mengerti. Tapi aku belum pernah melihat pisang mentah dibakar."


"Nanti kamu akan tahu rasanya. Kapan kamu ganti celana, aku tak lihat?" Rama terkesiap pada pemandangan wajah Nita dari bawah.


"Saat kamu menebang pohon pisang." Nita menunduk dan menatap wajah Rama yang bening dan menggemaskan. "Rambutmu basah."


Tak berselang lama tangan mungil Musa meneplak pipi Rama. Bahkan Musa menggigit hidung Rama dengan gemas, mana encesnya melipir ke pipi hingga Nita harus sering mengelapinya.


Rama terjaga, dia yakin sempat tidur dan Nita masih bermain dengan Rama. Lelaki itu bangun dari paha Nita.Tampak Nita merilekskan kaki, pasti pegal karen terus menyangga kepalanya. "Berapa lama aku tidur?"


"Mungkin 15 menit."


"Astaga!" Rama bangkit dan berlari ke arah api unggun dan mengeluarkan semua buah pisnag6 yang menghitam. "Kenapa kamu tak bangunkan aku, Atha!"


"Ah, aku lupa, Mas! " Nita mengerutkan kening, pasti tak Anisa dimakan lagi pisang itu. Rama melirik ke rah Nita yang barusan memanggil Mas, di tak jadi marah.


Sebuah daun pisang digunakan untuk alas, Pisang-pisang bakar ditempatkan di atas daun. Rama mulai memotong ujung pisang yang menghitam dan setelah dibelah tampak warna putih dan kuning keemasan.


"Wah, Alhamdulillah, belum gosong didalamnya." Rama berbinar dan tersenyum pada Nita yang menatapnya sangat dalam.


Uh, Rama bukannya dulu tukang mabuk, tetapi lihat sekarang, bahkan aku tak pernah mengucap syukur seperti itu, tetapi Rama ..... Mengapa kamu selalu menghipnotisku? Atau aku sudah melihatmu dengan cara lain? Nggak mungkin kan aku mencintai Rama! Idih enggak! (Nita)


"Lihat warnanya keren, ini pasti enak." Rama sambil meniup potongan daging pisang yang empuk karena dibakar. Dia mengulurkan ke mulut Nita dan wanita itu melahap. "Gimana?"


"Empuk, kaya kentang. Tapi bau angus .... "Nita masih saja protes walau tinggal matang. Dia memegangi tangan putranya dan Rama menjulurkan daging pisang ke mulut mungil, dilihat putranya seolah sedang mengenali rasa.


"Musa lapar. Musa mau mam," kata Musa dengan terus menatap buah daging pisnag yang dipisahkan dari kulit hitam. Dia menganga saat buah kekuningan itu masuk mulut Rama. "Mam!"


Nita tersenyum senang, saat putranya tak sabar. Nita saling tatap dengan Rama dan Rama memberikan buah daging pisang yang telah


terpisah dari kulit angus. Daging pisang bakar itu ditempatkan di atas daun pisang bersih, yang diletakkan di atas tikar.


Musa memakan dengan tangan sendiri, dan Nita juga melahap makanan sederhana tapi manisnya menggunggah selera. Ditatapnya tangan Rama yang hitam karena angus dan Nita tertawa. Namun, menyebalkan karena Rama mengolesi kakinya dengan angus hitam.

__ADS_1


"Diam .... " Rama membentuk gambar Love di kaki kiri. Lalu di kaki kanan. huruf NR - M(Nita Rama- Musa). Dia mengecup kening Nita dan tak sadar menyentuh pipi Nita hingga pipi itu comeng. Rama menahan tawa dan membuat Nita kebingungan.


.


Ketika Rama dan Nita pulang seorang ibu berambut keriting dn pakaian sederhana menyambut kepulangannya. Rama masuk ke dalam dan membuatkan teh hangat untuk Ibu Sofia.


Nita menggaruk telinga. Dadanya panas dingin, merasa malu karena Rama lebih cekatan. Dia kurang peka akan hal seperti ini. Rama sangat ramah pada ibu tua, sedangkan dia hanya bisa diam karena tidak tahu mengobrol apa. Bahkan, ibu itu senang diajak mengobrol, terutama saat diberi setengah tandan pisang. Selama ini hidupnya selalu berkutat di rumah dan dilayani oleh pelayan, begitu juga saat bersama Sergey - dia semakin dimanjakan.


Mata hati Nita seperti baru terbuka setelah sekian lama. Bagaimana seorang Rama yang songong bisa selembut itu dengan orang yang bukan kelasnya. Dia sendiri bahkan kadang mengobrol pilih-pilih dan lebih senang dengan orang kaya, karena dia merasa orang-orang tertentu hanya mendekatinya karena dia kaya, bukan karena ingin berteman tulus dengannya.


*


Di tempat lain, Kakek Axel masih menunggu kabar anak buahnya. Baron sempat memberi kabar bahwa Baron akan memasuki pelosok dan tidak ada sinyal. Kakek Axel jadi teringat pada saat pernikahan Sergey.


Dia sudah cemas dalam perjalanan dan baru tahu bahwa Sergey ternyata baru akan menikahi Nita. Dalam kebingungan di jalan, dia mendapat kabar bahwa selama ini pernikahan Nita dengan Sergey adalah palsu. Dia menarik napas lega, apa ketakutannya seketika luntur. Namun, kakinya gemetar saat mobil Hummer putih tiba di depan gedung.


Rasanya, dunia akan runtuh. Anak buahnya menghajar semua anak buah Sergey. Sampai Sergey keluar dan menghentikan perkelahian. Kakek Axel masuk ke dalam gedung mengabaikan ocehan sang putra. yang dia pikirkan dimana wanita bernama Nita itu. Dia akan mengusirnya.


"Kenapa buat kekacauan ini, nanti Sergey akan jelasin di rumah, Ayah."


"Dimana perempuan itu?" Kakek Axel melihat sekitar dengan tatapan penuh kebencian. Dia terpaku pada Jefri yang baru memasuki gedung dan membuatnya semakin jengah berada di tempat ini.


"Tuan Nona Nita kabur dari jendela yang kini masih terbuka ..... "


Semua mata beralih ke seorang pengawal perempuan yang membawa kain burkat berwarna biru langit, yang baru datang dan kaki pengawal perempuan itu gemetar.


"Kabur? Kenapa kabur?" tanya Intania yang langsung berdiri dari duduknya.


Sergey melewati kakek Axel dan meremas potongan gaun pernikahan Nita sampai buku-buku jari memutih. Mata Sergey bagai ada kobaran api dan wajah itu merah padam. "Cari ke segala sudut gedung dan segala penjuru kota, sekarang!"


Semua orang ketakutan, kecuali Kakek Axel, Jefri, dan Intania. Kakek Axel mendengar bisikan Baron , bahwa seorang anak buah melihat Rama dimasukkan ke dalam mobil Van. Kakek Axel mengangguk.


"Di mana Rama?" Jefri melihat sekitar dengan penuh antusias.


Sergey menunjuk deretan tamu undangan. "Kalian semua bubar! Tidak ada pernikahan!"


Kakek Axel melihat semua orang pergi dan semua tampak khawatir. "Periksa CCTV."


Setelah mereka melihat rekaman cctv, Kakek Axel bisa melihat pria bule yang membius Rama. Dua orang pria membantu Nita kabur dari jendela toilet. Supir mobil van juga tertangkap cctv.


"Lihat, Ayah. Kedatangan Ayah justru dimanfaatkan mereka untuk kabur dari gerbang belakang! Kalau Ayah tidak membuat keributan, semua anak buahku pasti akan tahu ada yang tidak beres dengan sebuah mobil Van!" Sergey mendesis.


"Ini tidak ada hubungannya dengan saya .... Bagus ... "


"Apanya yang bagus, Ayah?" tanya Sergey dengan tak habis pikir.


"Bagus karena ada cctv, jadi kau bisa melakukan pencarian secepatnya." Kakek Axel menahan diri untuk tidak memberitahu bahwa Musa adalah cucu dari Sergey. Yang terpenting Nita tak jadi menikah dengan putranya. Lebih baik dia mengatur rencana lain untuk menjauhkan Musa dan Nita dari keluarganya. Ini seperti jalan keluar untuk masalahnya.


"Mereka pasti keluar kota. Periksa semua akses ke luar kota sekarang," kata Jefri pada anak buah yang dibelakang.


Ponsel Jefri berdering lalu di speaker oleh Jefri dan Kakek Axel melirik ke belakang pada Jefri yang duduk dengan tenang.


"Tuan, Tuan Muda Nathan dan Tuan Devan menghilang, tidak ada di kamar. Saat saya terjaga, ternyata para penjaga tak sadarkan diri dan Anjing kesayangan anda juga dibius."


Wajah Jefri seketika pucat pasi. Pria itu beranjak dan pergi setelah menendang kursi begitu kasar. "Sergey ... apa mereka saling berkerjasama!"


Lonceng jam dinding yang menunjukkan jam 3 sore membuyarkan lamunan Kakek Axel. Dia merekam suara untuk dikirim ke Baron. Jadi saat Ponsel Baron dapat sinyal, maka pesan suara akan langsung terkirim. "Jika Sergey menggunakan publik, cepat atau lambat mereka akan ditemukan. Baron, kau harus segera memisahkan anak kecil itu. Aku tak peduli itu cicitku, kau harus menjauhkannya dari keluargaku apapun caranya!"


__ADS_1


__ADS_2