
Nathan menuju gubuk, tetapi mundur lagi, karena melihat seorang pria tengah masuk ke dalam gubuk. Tidak sampai satu menit, Nita keluar dibantu lelaki yang sepertinya bukan warga lokal. Tampak dari cahaya api, lelaki itu membawa Rama ke sudut lain pekarangan.
Sekelompok orang memegangi Nita. Nathan tidak tahu siapa mereka. Dia akan menguntit, tetapi kepikiran Papa Devan dan Musa. Dia bingung sendiri yang mana yang harus diikuti sampai Pak Darso muncul di dekatnya.
"Biar Nita tanggung jawabku. Ini terlalu berbahaya untuk kamu." Pak Darso menepuk bahu Nathan dan bergegas mengikuti sekelompok orang sangar. Mereka menodongkan senjata ke arah warga, hingga warga tidak ada yang menganggu Nita dan Rama.
Nathan kembali ke Papa Devan dan duduk di samping papa. Musa tengah digendong oleh anaknya Bu Shopia. "Maaf, Pah."
"Di mana adikmu?"
"Sekelompok orang membawa Atha. Mereka bukan warga lokal. Pak Darso akan menangani dan aku yakin mereka takkan menyakiti Atha."
"Kau, pakai acara meninggalkan Rama!" bentak Devan. "Sekarang mereka membawa Atha."
"Papah juga hargai usahaku, dong! Semua ini tidak terduga dan bukan ini yang Nathan inginkan. Papa pikir semua ini mudah?
"Kita masih bisa menyelamatkan Atha. Jadi, kita pergi dulu, ya? Papa percaya kan sama Nathan? Kalau bukan Papa yang percaya sama Nathan, lalu siapa lagi?"
Devan menghambur ke punggung Nathan dengan pasrah. Dia melirik sang cucu yang mulai tertidur. Mereka berjalan menyusuri gelapnya pekarangan, menjauh dari teriakan masa.
"Kenapa mereka menyebut putriku dan Rama, pasangan keji. Jawab!"
Nathan menghela napas kasar karena papa angkatnya yang galak, meski begitu dia mencintai Devan. Nathan mulai menceritakan pernikahan kontrak Nita dengan Sergey. Pegangannya dieratkan saat Devan merosot dari gendongan. Sejujurnya, psikis Nathan begitu lelah. Padahal selangkah lagi keluar dari negara ini.
Devan menelaah bahwa putrinya terlibat cinta lokasi dengan Rama. Namun, putrinya seperti dimanfaatkan oleh Sergey ketika dirinya diculik Jefri. Manipulatif. Tega sekali Sergey, tahu putriku nggak bisa apa-apa, bukannya dibantu, ini malah memaksa putriku untuk menikah..Teman seperti apa kamu, Sergey?
Sekarang Nita dibenci publik. Walau itu mungkin bisa diredakan dengan konferensi pers, tetapi Devan tak bisa melakukannya. Jika dia muncul, Jefri menangkapnya, lalu keberadaan Stefanie terancam diketahui Jefri.
⚓
Setelah mobil melewati perkebunan dan sebuah dusun yang mulai ramai, Mobil yang ditumpangi Nita berhenti di rumah sakit. Nita dipapah, lalu dibaringkan dengan posisi tengkurap di keranjang dorong. Nita dibawa ke ruang khusus, jaket dan kaos yang berlubang karena terbakar, digunting, bahkan br**a itu sudah terputus karena terbakar.
Nita merintih kesakitan, air matanya mengalir menahan perih. Kata perawat terdapat kain yang menempel di kulit yang terbakar. Secara harafiah kulit itu terbakar dengan diameter 5sentian. Setelah diobati dan diplester, Nita kembali dikawal empat pria.
Kini Nita semakin bingung karena seorang pria membukakan pintu di mobil yang berbeda, dimana terdapat Kakek Axel yang duduk tak menoleh. Pengawal itu menyuruh Nita masuk dan Nita duduk dengan ragu dan memangku obat pemberian dokter.
Mobil mulai melaju, Nita berulangkali melihat ke kanan dan mencium bau cendana dari baju Kakek. "Tuan Axel?"
"Terimakasih, sudah menyelamatkan Rama dari kebakaran itu," kata Axel dengan penuh wibawa sambil menatap Nita dalam semi kegelapan.
"Iya." Nita menggigit bibir bawah. "Dimana Rama?"
"Di hotel." Kakek Axel melihat keluar jendela. Kebenciannya pada Rama luntur saat tadi memeriksa sebagian rambut Rama yang terbakar. Meski wajah Rama penuh angus hitam, tetapi tidak ada yang terluka pada tubuh cucunya. Sesungguhnya, Axel khawatir saat mendengar para warga berduyun-duyun dan bilang akan membakar gubuk itu.
Beruntung Baron datang lebih cepat dan mendapati Nita baru keluar dari pintu rumah gubuk. Mungkin Rama pingsan karena asap pekat menyesakkan. Dia juga tak tahu apa jadinya jika Nita tak menyelamatkan Rama.
Nita menelan saliva dan tak tahu mau memberitahu Kakek Axel mulai dari mana. Padahal, Kakek Axel tahunya dia istri Sergey. "Em .... "
"Tuan Axel, saya dan Mas Sergey hanya menjalani kontrak bisnis. Pernikahan tiga tahun lalu antara saya dan Mas Sergey itu tidak benar-" Nita meremas bungkusan obat dengan perasaan takut dimarahi.
"Kamu sudah seperti itu, lalu kenapa tidak menjauhi putra Sergey?" Kakek Axel mengepalkan tangan. "Seharusnya kamu tetap tahu batasan bahwa kau telah sangat jauh merusak nama baik keluargaku. Putraku sudah sangat baik membantumu dan ini balasanmu, mengacaukan hubungan bapak dan anak, apa kau masih bisa disebut manusia, Nita Athalia?"
"Tapi, Tuan Axel. Nita tidak tahu bila semua akan jadi seperti ini." Nita dengan rasa bersalah.
"Cucuku sangat nakal dan memang seperti itu pada banyak perempuan. Jadi kamu jangan terlalu menganggap dirimu istimewa." Tenggorokan Kakek Axel terasa sangat panas. Dia ingin menyuruh Nita pergi dari kehidupan Rama.
Nita mendongak. Dia percaya Rama sudah tidak nakal. Mungkin Kakek sangat tidak merestuinya.
"Kamu mengacaukan segalanya. Kenapa harus Putra Sergey? l Padahal, kau tahu perasaan Sergey padamu? Dia juga manusia yang punya hati. Aku menjaganya agar dia tidak disakiti orang-orang. Tetapi, kamu orang luar, sungguh .... berani sekali membuat putraku patah hati?"
__ADS_1
Nita menunduk, air matanya jatuh begitu saja ke pangkuan karena aura mendominasi Kakek Alex yang menakutkan. "Saya tak bermaksud seperti itu," katanya berusaha tidak gemetar.
"Bagaimana caramu bertanggung jawab? Mereka keluargaku dan kamu keterlaluan. Kau gelisah karena jauh dari Musa, lalu Aku? Apa aku tak boleh marah padamu karena mereka orang terpenting dalam hidupku, sudah seenaknya kau usik? Jelas kau tak memikirkan perasaan mereka!"
"Saya harus apa? Untuk menebus semua?" suara Nita seperti tercekik, dia begitu tertekan, sampai tenggorokannya terasa sangat sakit.
"Aku sudah bilang belum tadi? Pergi dari Rama. Kau menjijikan .... " Kakek Axel menghembuskan napas panjang dengan marah. Berbicara seperti ini saja dadanya begitu sakit, apalagi dengan Sergey.
Kakek Axel masih melihat keluar dan tidak tahu apa tanggapan Sergey nanti. Putranya itu sudah tak sabar ingin segera menjemput Nita sendiri, tetapi dia melarangnya karena takut membuat Jefri curiga. Siapa sangka, Sergey juga mendapat informasi keberadaan Nita, tidak lama setelah dia sampai di Banjarmasin.
Perut Nita sakit begitu mobil memasuki hotel mewah. Kepala Nita celingak-celinguk begitu turun dari mobil Pajero Hitam. Entah, Kakek akan membawa kemana.
⚓
Mata Sergey berseri-seri setelah ditelepon Patrick, bahwa ayahnya sudah memasuki lobi hotel. Sergey berjalan ke depan cermin, meraih pomade dan menuangkan gel ke telapak tangan. Diratakan ke seluruh permukaan tangan, lalu dia merapikan rambut yang telah dicat hitam, dengan bentuk rambut anak muda.
Bibirnya terus bersiul, dia menikmati wajah tampannya. Sebuah botol parfum disemprotkan ke dada, punggung dan pantaatnya. Sergey menggelengkan kepala dengan gagah, a lalu berakting dengan wajah galak dan tatapan mema*tikan.
Dia mengecek bau napas yang bau tembakau, lalu bergegas ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci wajah. "Wah, keren. Untung wajahku awet muda walau tanpa perawatan aneh-aneh."
Sergey dengan happy, keluar dari kamar mandi sembari mengelapi wajah, lalu membuang handuk dengan asal. Ketika sudah mencapai pintu kamar, Sergey memeriksa ke segala penjuru
Dia mengambil handuk kecil yang baru dibuang, lalu disembunyikan di lemari, agar tak memalukan saat Nita masuk kemari.
Sergey menuju kamar ayah dan berusaha terlihat tenang, tetapi jantung berdebar tak karuan. Mata biru cerah Sergey yang ekpresif terpaku pada mata emas Nita. Wanita itu menjatuhkan bungkusan dan mulut mungil itu terbuka lebar karena terkejut.
Kenapa dia begitu terkejut? Apa dia tak berpikiran akan bertemu lagi denganku? berbinar karena melihat Nita dalam balutan atasan tunik kuning dan celana putih. (Sergey)
Ingin Sergey memeluk Nita, tetapi citra diri adalah nomer satu. Masa habis dicampakkan langsung luluh, kan nggak keren, pikirnya. Tubuh Sergey mulai panas dingin, penuh has*rat dan gemas pada wajah Nita.
Langkah demi langkah ditahan Sergey agar tetap lambat. Jangan sampai berlari ke arah Nita yang berjarak 10 meter dari pintu ke sofa. Aku sangat kangen kamu, Nita.
"Mas, kamu di sini." Air liur dalam mulut Nita seolah berproduksi lebih banyak. Dia mengerutkan kening, tak menyangka akan bertemu Sergey, yang paling dihindari.
Nita meyakini Sergey mau memarahi dengan tatapan tajam itu. Perut tiba-tiba mual karena Sergey di depannya. Nita berdiri dan ingin menyelesaikan masalah dengan Sergey.
"Calon pengantinku yang kabur, akhirnya kembali." Sergey mengangguk dan merendahkan.
"Mas .... " Nita bergidik dan tak bisa mundur. Tumitnya telah menempel di sofa, dekat-dekat Sergey yang kini adalah ayah mertua terasa tidak nyaman.
"Mas?" Sergey mengulangi dengan nada meninggi. Panggilan Khas yang dirindukan, akhirnya terlontar dari bibir seksi yang terus menggodanya. Seakan minta digigit.
Sergey membenci rumah yang jadi sepi tanpa Nita, tetapi kali ini Nita tidak akan bisa kabur lagi, karena dia akan menjaga dengan sangat posesif. "Panggil lagi," suara Sergey pelan dengan seringai, membanggakan diri karena apa yang diinginkan akan menjadi miliknya.
Sergey beralih dari Nita ke Axel. "Terimakasih karena Ayah sudah repot mau menjemput calon menantumu. Tak perlu kukenalkan lagi karena Ayah sudah tahu semuanya." Sergey tersenyum semeringah dan maju dua langkah, lalu memeluk Axel.
"Sergey, duduk dulu," kata Axel dengan hati terluka. Ayah mana yang bisa melihat anaknya terluka. Tangannya mengelus punggung sang putra. Tatapan tajamnya seperti panah yang mengebor mata emas Nita hingga perempuan itu tertunduk dan terlihat gemetar.
"Terimakasih, Ayah. Sudah membawa kelinci kecilku. Dia hidup Sergey," bisik Sergey.
DEG. Rahang Axel hampir jatuh ke bumi. Belum apa-apa tubuhnya sudah lemas dan lututnya kesemutan. "Oh? Duduklah dulu."
Axel terbelalak karena Sergey melepaskan pelukan, lalu duduk di sofa. Sergey menarik pinggang Nita, hingga Nita yang tadi berdiri langsung terduduk di samping Sergey.
"Mas, jangan seperti ini, " kata Nita sontak melepas tangan kekar itu dan bergeser hingga 30 senti.
"Dia malu-malu, Ayah. Sebenarnya mau." Sergey mengedipkan satu mata pada sang ayah.
"Nita telah menikah." Axel mulai memberitahu dan putranya tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1
.
Di kamar sebelah, Rama yang baru mandi untuk menghilangkan kantuk, langsung mengikuti pengawal. Dia mau protes karena tidak ada pengawal yang mau menjawab pertanyaannya, tetapi dia tahu itu pengawal kakek. Dia akan berbicara sedikit saja pada kakek, lalu minta diantarkan ke rumah gubuk.
.
"Mas, Nita serius. Nita sudah menikah." Kedua tangan Nita terkepal di atas paha hingga otot tipis biru terlihat di punggung tangan.
"Kalian sudahlah. Uh kompak banged calon menantu dan mertua. Baguslah." Sergey tersenyum dengan cara menawan dan menatap wajah Nita yang walau pucat tetap saja sangat cantik. "Ya, kan, Sayang?"
Pintu berderit terbuka. Kepala Kakek Axel terasa kliyengan. Malapetaka apalagi ini. Axel merogoh ponsel, lalu menelpon Baron. Dia melirik ke arah Rama yang berseri-seri saat melihat Nita. Hati Kakek Axel begitu sakit. Teleponnya terhubung dengan Baron. "Bawa kemari sekarang," katanya pada Baron.
"Kakek? Sayang? Papah?" Rama memangil semua orang.
"Bawa obatku, cepat," tegas Axel pada Baron, dia sampai telepon untuk ke dua kali. Axel mematikan telepon dengan memandang dua anggota keluarganya, lalu duduk untuk sekadar mengendurkan seluruh otot yang terasa menegang, terutama jantung.
Sergey bangkit dan memeluk Rama. "Papah kangen kamu, Jagoan! Tolong jangan dendam padanya. Dia mungkin sedang khilaf sampai menculikmu." Sergey menepuk-nepuk keras bahu Rama dengan penuh cinta.
"Siapa yang khilaf, Pah?" tanya Rama dengan serius sambil melepas pelukan Sergey.
"Calon istri Papa menculikmu, pasti dia sedang memperingatkan Papa."
Ucapan Sergey membuat Kakek Axel memegangi dada yang mulai sesak. "Tuhan, beri aku petunjuk," gumamnya.
Nita seperti ikan yang mengelepar di daratan, dia bernapas sering dari mulut. Hatinya bergetar dan kesadaran seolah berkumpul sekarang hingga kepala Nita terasa berdenyut saat Rama menatapnya, sontak dia memanggil Rama. "Mas .... "
"Iya?" Jawab Sergey dan Rama, bersamaan, dan menatap Nita serentak.
"Ya, Tuhan. Tolong selamatkan jantungku." Kakek Axel melirik Baron yang baru datang membawa map, di belakangnya diikuti Patrick -asisten Sergey.
Kakek Axel membungkuk dan memilin kening. Dia mengadahkan tangan dan Baron memberikan dua butir obat penenang. Kakek menelan obat itu dan Baron mengulurkan segelas air dari atas meja.
"Pah, biar Rama jelasin." Rama mulai menyadari situasi, lalu mencoba tenang di tengah atmosfer udara yang terasa menyesakkan untuk semua orang. Namun, Papa Sergey begitu tenang, seperti belum tahu soal pernikahannya dengan Nita.
"Sekarang, bukan waktunya kerja, menyingkirlah kalian!" Sergey dengan nada santai dan tatapan meledek. Jari menunjuk Patrick dan Baron, lalu menunjuk pintu keluar.
"Berikan padanya!" Kakek Axel menatap Baron, lalu mengayunkan kepala ke arah Nita.
"Wah, Ayah sudah langsung mau kasih bagian ke calon menantu. Sip, Ayah Axel, memang Ayah terbaik di dunia." Sergey membanggakan Axel, tangannya merangkul bahu Rama saat map itu diberikan ke Nita yang kini kebingungan. "Terima saja, Sayang. Kau akan jadi menantu paling kaya raya dan beruntung."
Tubuh Rama gemetar. Dia sangat menyayangi Papa. Mendengar nada bahagia dari papa, Rama menjadi sakit hati. Punggungnya seperti dihujami tombak beracun, sakit tak berdarah karena dia sadar melukai hati papa.
Suara Rama berhenti di tenggorokan, dia memaklumi papah yang memanggil Nita sayang karena papa belum tahu. "Pah, Nita sudah menjadi istri Rama," katanya bergetar karena takut.
Map terlepas dari tangan Nita karena pengakuan Rama barusan. Kertas dalam map itu sudah meluncur ke ujung kaki Sergey. Kakek Axel ternganga melihat itu.
Axel melirik Baron, tetapi terlambat kertas itu diraih oleh Sergey dan kini Sergey menatap kertas itu, membuat Kakek bergidik dan mendadak mual serta penuh was-was. Padahal, dia ingin Nita membaca lebih dulu.
Patrick kebingungan, sebenarnya dia diajak kemari untuk apa. Mengapa Kakek Axel begitu serius menatap kertas yang baru jatuh, tetapi logo kertas itu seperti sebuah logo rumah sakit yang dikenalnya.
Ya, Patrick yakin, itu sama sekali tak seperti surat penting seperti surat saham yang biasa tebal, atau surat tanah dan rumah yang biasanya bermap hijau, ataupun map perusahaan yang biasanya bermap putih dan berlogo notaris. Mungkin dugaan Tuan Sergey salah, itu tak seperti hadiah dari Kakek Axel.
Mengapa juga sikap Tuan tak terkendali, padahal kata Tuan akan menghukum Nita begitu bertemu. Tuan telah dibutakan dengan cinta. (Patrick)
Ponsel Patrick berdering. Patrick membaca pesan berisi video : gubuk kebakaran di tengah hutan. Itu terjadi dua jam lalu. Ternyata itu video viral tranding topic berjudul 'Babak baru perselingkuhan Rama dan Nita.'
Sub judul : Hubungan Terlarang Anak Tiri dan Ibu Tiri berakhir dengan kawin lari. Gubuk persembunyian tempat melangsungkan akad dibakar warga setempat."
Mata Patrick membesar dan dia menatap tajam ke arah Nita. Tangannya mencengkeram ponsel. Berani sekali Nita mengkhianati sang tuan.. Apalagi menikah dengan anak sang tuan. Ingin rasanya menarik pis*tol di saku celana, laku menem*bak kepala gadis itu. Nita tidak tahu berterima kasih setelah semua pengorbanan sang tuan, malah menghancurkan seperti ini.
__ADS_1